Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#49 Lagi ? dan lagi?


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 3 pagi, terlihat barack telah terbangun dari tidurnya, dia menapakkan kedua kakinya di atas karpet bulu berwarna putih senada dengan sofa yang dia tiduri.


Dia mengusap wajahnya dengan pelan sambil kemudian mengacak acak rambutnya secara bergantian, pandangannya langsung tertuju ke arah luna yamg masih berbaring di atas tempat tidurnya.


Barack beranjak dari sofa itu, dan melangkahkan kakinya untuk mendekati luna.


Dilihatnya tubuh luna yang sedang meringkuk memeluk tubuhnya sendiri seperti terlihat kedinginan karena badcover yang dia gunakan untuk menyelimuti tubuhnya itu telah berpindah tempat dan jatuh ke lantai.


Sedangkan tubuh luna hanya terbungkus oleh kaos berwarna putih bersih yang terlihat sangat kebesaran di badannya itu, kaos dengan potongan leher yang lebar jika di pakai luna membuat kedua pundaknya yang putih bersih itu terlihat, dan panjang kaos itu ketika di pakai luna panjangnya sampai atas lutut dan hanya menutupi sebagian pahanya.


Itu membuat dia terlihat sangat seksi ketika tertidur dengan posisi miring seperti sekarang.


Barack mencoba duduk di tepian bibir ranjangnya sehingga membuat getaran kecil di atas ranjang yang membuat luna terbangun dari tidurnya.


Terlihat luna mulai membuka matanya perlahan dan dilihatnya wajah barack telah berada tepat di depannya.


"Barack?" dengan cepat luna langsung bangun dari tidurnya dan segera mengubah posisinya sehingga sekarang dia duduk di atas ranjang.


Terlihat dengan jelas bentuk di setiap lekukan tubuh barack serta perut yang sempurna seperti roti sobek itu pun, seolah melambai lambai ke arah luna untuk menyentuhnya.


Luna mengangkat tangan kanannya perlahan meraih perut barack yang sedari tadi menarik perhatianya itu.


Terlihat senyum yang sangat lebar di wajah luna setelah berhasil meletakkan tangannya di perut yang keras dan berbentuk kota kotak itu.


Barack meraih tangan luna yang masih terus menyentuh perutnya yang sixpek itu, dia menuntun tangan luna perlahan naik ke atas terus menujun ke dadanya.


Terasa denyutan jantung barack yang menembus kulit telapak tangan luna itu.


Detak jantung barack terasa kencang sekali seperti detak jantungnya saat ini.


Nampak di ke dua pipi luna memerah dan dia mencoba menutupi mulutnya dengan satu tangannya lagi karena merasa tidak percaya dengan semua yang ada di depannya matanya.


Barack membiarkan luna terus menyentuh dadanya sedangkan ke dua tangannya menarik kaki luna sehingga badanya terseret dan semakin mendekat ke badan barack.


Wajah mereka pun semakin berdekatan,


barack menempelkan keningnya ke kening luna, sehingga nafas luna yang kasar karena jantungnya semakin berdetak dengan cepat pun sampai terdengar.


Di raihnya ke dua pundak luna yang tidak terbungkus kaos itu oleh barack.


Dia mencoba mendorong tubuh luna dengan pelan sampai berbaring lagi di atas tempat tidur, namun kali ini barack mengunci tubuh luna dengan badannya, dia meletakkan kaki luna di sela kakinya.


Barack meletakkan kedua tangannya di sebelah pundak kanan dan kiri luna, dia menggunakan tangannya itu untuk menopang badannya yang ada di atas tubuh luna.


Senyum di wajah luna terlihat sekali kalau dia sedang menahan malu, karena barack terus melihat ke arah dua matanya dengan lembut.


Terlihat senyum tipis di wajah barack saat itu.


Perlahan barak mendekatkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di leher luna.


Nampak tubuh luna sedikit menggeliat menahan rasa geli yang di akibatkan oleh barack saat menghujani lehernya dengan ciuman yang lembut.


Barack pun kemudian memeluk tubuh luna, hingga akhirnya mereka berguling guling di atas tempat tidur, berguling guling lagi sampai terjatuh dari atas tempat tidur.


bruuugghhh!!! terdengar bunyi badan luna terjatuh dari atas tempat tidur barack.


"Addduuuuhhhh" luna merintih dengan pelan sambil memegangi bagian bawah pinggangnya yang terasa sakit.


Rasa sakit akibat terjatuh dari atas tempat tidur itu membuat luna tersadar dari mimpinya.


"Heh??????" nampak di wajah luna bertanya tanya sambil merasa kebingungan bahwasannya dia benar benar terjatuh dari atas tempat tidur.


"Ya ammpuuuuuunn!!!, , bisa bisanya aku mimpi seperti itu, ya ampun luna! kenapa kamu jadi semesum itu sekarang, , , iiiiihhh" luna merasa jengkel dengan dirinya sendiri, terlihat beberapa kali dia terus menepuk keningnya.


Sinar matahari yang belum sempurna menyinari itu mulai telihat mengintip di sela sela jendela yang berusaha memaksa untuk bisa masuk ke dalam kamar.


Dilihatnya tubuh barack masih tertidur pulas di atas sofa dengan selimut yang membalut tubuhnya. Dia mencoba bangun dari duduknya di atas lantai, kemudian melangkahkan kakinya perlahan menuju ke arah tubuh barack.


Luna menekuk ke dua lututnya di samping sofa itu sehingga dengan mudah dia dapat menatap wajah barack yang masih tertidur pulas, wajahnya terlihat sangat polos.


Luna memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya meraih selimut yang masih menutup dengan utuh tubuh barack.

__ADS_1


Di bukanya dengan pelan selimut itu perlahan, sampai setengah badan barack terlihat.


"Jangan jangan sebenarnya tadi aku tidak bermimpi???" luna mendapati bagian atas tubuh barack tidak memakai baju, makanya dia sempat beranggapan kalau yang terjadi tadi adalah nyata.


Perlahan dengan rasa yang sangat bimbang luna mencoba mayakinkan dirinya dengan menyentuh perut barack yang terlihat seperti roti sobek itu.


Namun kali ini hanya dengan menggunakan ujung satu jarinya, yaitu jari telunjuk.


"Saat menyentuhnya rasanya seperti di mimpiku?, , tapi benar mimpi bukan ya?" kata luna dalam hari.


Saat menyentuh perut barack dengan jarinya, barack pun terbangun dan langsung melihat ke arah luna yang sedang fokus melihat ke arah perutnya.


Luna mnyadari hal itu, makanya terlihat matanya terbelalak dan segera menarik tangannya kembali.


Namun barack terlanjur menahan tangannya dan malah dengan sengaja menempelkannya ke arah dada barack yang bidang itu.


"Kalau mau pegang, pegang saja" ujarnya.


Wajah luna memerah makanya dia mencoba menarik kembali tangannya, namun barack masih memegangnya dengan erat sehingga tangan luna masih terus menyentuh dengan bebas di dada barack.


Jantung luna detakkannya sudah tidak terkontrol lagi makanya sekuat tenaga dia mencoba kembali menarik tangannya lagi.


Namun kali ini barack tidak menahsannya sehingga luna jatuh dan terduduk di atas lantai yang beralaskan karpet bulu itu.


"Aduh!" sekali lagi luna memegangi bagian bawah pinggangnya yang tadinya sudah sakit kini di tambah lagi sakitnya.


Terdengar suara cekikikan dari mulut barack yang sedang melihat luna terjatuh di depannya.


Namun tawa barack saat itu menghilang, dia mulai terlihat salah tingkah sendiri, kini raut wajah barack terlihat memerah saat melihat ke arah luna yang jatuh terduduk dengan ke dua kaki menempel di dadanya, sekilas dan samar samar terlihat celana dalam luna berwarna pink itu menggelitik mata barack.


Barack tidak bermaksut melihat ke arah situ, namun mau bagaimana lagi, sudah tersaji dengan sendirinya, tapi barack sengaja tidak mau memberi tahu luna, takutnya nanti luna malah salah sangka dengannya.


Terlihat sekali dari wajah barack kalau dia benar benar malu ketika tidak sengaja harus melihatnya.


"Kenapa masih duduk di situ? cepat bangun" perintahnya dengan nada galak.


Dengan segera barack beranjak dari sofa itu dan pergi masuk ke kamar mandi.


Luna hanya diam dan masih terlihat kebingungan dengan sikap barack barusan.


Karena merasa lapar gara gara semalam harus menyeret tubuh barack yang berat itu sampai ke kamar, cacing cacing di perutnya mulai bernyayi, di selingi rasa perih seperti di sayat sayat karena saking laparnya.


Luna membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa macam bahan makanan, seperti telur mentega dan daun bawang.


Dia mulai dengan mencuci beras sampai bersih, setelahnya menakar air dengan menggunakan jarinya untuk mengontrol banyak sedikitnya air yang harus di masukkan ke dalam beras.


Karena niatnya membuat bubur makanya dia sengaja menambahkan airnya berkali kali lipat.


Setelahnya dia meracik bumbu bumbu untuk memberi rasa ke dalam bubur itu, dan yang terkhir dia memasukkan kocokan telur serta daun bawang ke dalamnya.


Luna menghirup kepulan asap yang keluar dari panci kecil itu.


"Hmmmmm" dia sudah tidak sabar ingin sekali rasanya menyantap bubur itu.


Barack berjalan keluar dari arah kamarmya dan mendekat ke arah luna dengan tubuh yang sudah di balut kaos berwarna hitam.


"Buat apa?" tanya barack sambil membuka pintu kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral.


Sambil menahan semyumnya karena merasa malu, luna terus mengaduk pelan bubur yang sudah mulai terlihat letupan letupan kecil di dalamnya.


"Buat bubur" jawabnya pendek.


"Buat siapa?" tanya barack lagi sambil menguk minuman yang sempat di tahan di mulutnya sehingga membuat ke dua pipinya mengembang.


Telihat luna memandang ke arah barack dengan wajah penuh pertanyaan.


"Kenapa tanya buat siapa, yang pasti ya buat aku lah" kata luna sedikit ketus.


Dia segera mematikan kompornya setelah di rasa bubur itu sudah siap untuk di santap.


Barack hanya memandang ke arah luna yang sedang menuangkan bubur yang masih panas itu ke dalam mangkuk.

__ADS_1


Dan benar apa kata luna, bubur itu habis masuk ke dalam satu manhkuk saja dan tidak terlihat ada sisa di panci itu.


Barack meletakkan botol ke atas meja kemudian dia melipat kedua tangannya, sambil menatap mata luna yang masih sibuk dengan buburnya.


"Serius, hanya buat kamu, lalu, , Buat aku mana?" tanya nya lagi.


"Nanti kalau ada sisanya" terlihat sekali luna sedang mengerjai barack, senyum di wajahnya yang terlihat meremehkan itu membuat barack semakin menajamkan tatapannya ke arah luna.


Berhubung meja di depannya itu sengaja di buat oleh barack seperti gaya meja bartender di kebanyakan club, makanya luna tidak menemukan kursi di situ.


Dengan sihap luna langsung naik dan duduk di atas meja yang tingginya sepinggang barack, mungkin lebih tinggi sedikit lagi.


Luna sengaja memakan bubur itu perlahan sambil memperlihatkan kepada barack betapa nikmatnya rasa bubur itu.


Dilihatnya pundak luna yang tidak tertutup kaos yang di pakainya itu, karena bagian leher kaos iti sendiri terlalu lebar hingga jatuh dan menyangkut di lengannya.


Dan lagi pahanya yang terlihat sebagian itu membuat barack salah tingkah lagi, sesekali barack meregangkan otot otot lehernya yang di rasa kaku setelah melihat tingkah luna.


Kakinya pun terus di goyang goyangkan seperti anak kecil di bawah meja itu.


Entah sejak kapan barack mempunyai keberanian untuk menatap ke bagian tubuh luna secara mendetail.


Pandangannya beralih ke bibir mungil luna berwarna pink muda yang terlihat basah dan sedang meniup bubur di sendok yang masih mengeluarkan kepulan asap panas itu.


Terlihat jakun barack bergerak naik turun saat melihat luna melahap bubur itu terus menerus, hingga akhirnya sampai habis tidak tersisa, bahkan di mangkuknya saja sampai bersih.


"Upsss, , sudah habis, jadi maaf tidak ada sisanya" luna mengarahkan mangkuknya yang sudah kosong itu ke arah barack.


"Masih ada kok sisanya" nada bicara barack terlihat sedang menantang luna.


Mendengar kata kata barack dia terus melihat ke arah mangkok yang ada di tangannya.


"Mana?" jawab luna dengan wajah yang terlihat mengejek ke arah barack.


Barak berjalan mendekati luna bahkan dia sengaja menyenderkan pinggang depannya ke meja di antara sela sela kaki luna.


Luna terperanjat kaget sehingga dia dengan sendirinya menarik mundur tubuhnya hingga menjauhi tubuh barack yang barada tepat di depannya.


"Kamu mau ngapain?" wajah luna sudah mulai memerah, jantungnya juga sudah berdebar debar lagi.


Diraihnya mangkuk yang ada di tangan luna itu, lalu barack meletakkannya di sebelah paha luna yang ada di atas meja itu.


Barack mulai memegang pinggang luna yang kecil dengan ke dua tangannya itu, dan segera mendorongnya agar lebih dekat ke arah tubuhnya, bahkan sangat dekat sekali.


Dia mendongakkan kepalanya agar dengan mudah melihat wajah luna yang sedikit berada lebih tinggi darinya.


"Mau apa kamu?!!" luna bartanya lagi untuk memastikan sambil mendoyongkan badanya ke arah belakang.


Namun barack dengan kuat menahan tubuh luna agar tetap dekat dengannya.


"Katanya aku dapat sisanya, makanya sekarang aku akan mamakannya" kata barack, diapun langsung mengecup bagian bibir luna yang masih terdapat sisa bubur di sana.


Mata luna terbelalak, dia merasa hampir tidak pecaya barack melakukan hal itu kepadanya.


Di titupnya mulut luna menggunakan tangannya, naun barack yang melihat itu langsung menarik dan menahan tangan luna itu.


"Kenapa di tutupi, bukannya kamu yang manyuruh aku untuk memakan sisanya?, itu di bibir mu banyak sekali sisa sisa buburnya, di sini" barack pun mengecup bibir luna lagi.


"Di sisni" lagi, barack menecup bibir luna bagian lainnya.


"Dan di sini" lagi lagi barack mengecup di bagian bibir yang belum di kecupnya.


Tubuh luna memaku, saat menyaksikan barack menghujaninya dengan kecupan yang membuat dia jantungnya berlompat lompat ke sana ke mari.


"Kenapa malah diam, , ??" pertanyaan barack itu dirasanya tidak membutuhkan sebuah jawaban.


"Kencan yuk" sambungnya lagi, kata yang keluar dari mulut barack barusan itu terdengar lirih di telinga luna, namun begitu menusuk ke gendang telinganya, pendek namun langsung kepada intinya.


Luna tidak bisa berfikir lagi harus menjawab apa.


Sat barack menghujaninya dwngan ciuman saja dia tidak bisa berbuat apa apa, bahkan dia belum bisa membuat detak jantungnya itu kembali normal, apa lagi ini di tambah dengan saat dia melontarkan kata katanya yang barusan.

__ADS_1


jantungnya seperti sudah meledak di dalam dadanya.


***


__ADS_2