Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#162 Kaset CD


__ADS_3

Dari lobi lantai dua, Barack yang sedang berbincang dengan beberapa staf pendangannya pun teralihkan ke arah Luna yang tengah berjalan sendiri di lobi lantai dasar.


"Maaf, aku harus pergi. Silahkan kalian lanjutkan perbincangan kalian dengan Satya. Asisten pribadiku, dia yang akan menggantikanku sementara aku tidak ada" Barack bergerak cepat menuruni tangga yang langsung menghubungankan ke lantai dasar.


Dia mempercepat langkahnya ketika kakinya berhasil menuruni tangga.


Meraih tangan Luna, membawa perempuan itu keluar dari lobi dan masuk ke dalam mobilnya.


"Barack??" gumamnya, Luna terkejut ketika Barack menariknya secara tiba tiba. Laki laki itu menyalakan mesin dan mengendarai mobilnya keluar dari Perusahaan Dirga.


Luna mengawasi raut wajah Barack yang sedang fokus ke jalan.


"Kamu kenapa tadi terlihat aneh?" Luna memulai pembicaraan, dia merasa aura dingin menyelingkupi tubuh Barack.


"Hmm??" Barack mengalihkan pandangannya ke arah Luna, tangannya bergerak mengusap dengan lembut kepala perempuan itu.


"Aku sedang bekerja Sayang!!, ," Barack kembali melihat ke arah jalan. Dia berusaha untuk tenang di depan Luna. Padahal dia tadi mencoba menghindari Adrian.


"Kalau aku selalu melihat ke arahmu. Aku bisa lepas kendali lagi seperti kemarin. Nggak lucu kan?"


"Iiihh!!!" Luna pun mencubit dada barack.


"Luna!!, , aku sedang menyetir" Barack sempat keluar dari jalurnya ketika tubuhnya menggeliat merasakan geli di dadanya.


Mereka pun tertawa, tawa yang sudah lama tak mereka lihat dari satu sama lain.


Barack pun menarik kepala Luna dan mengecup kening perempuan itu.


Tidak lama setelah itu, barack sengaja menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi, matanya mengawasi arah belakang melewati kaca sepion yang ada di sebelah kanan dan kiri.


"Kenapa berhenti di sini?" Luna berucap karena dia merasa penasaran.


Barack hanya memastikan tak ada orang yang mengikuti mereka.


"Tidak apa apa! aku hanya memastikan mesin mobilku dalam keadaan baik" Barack melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.


♡♡♡


"Kenapa kita kerumahmu??" Luna kebingungan jetika Barack membawanya oulang ke rumah Laki laki itu.


"Aku ingin melihat isi CD yang Adrian berikan padamu!" Barack melangkah turun, dia berjalan ke arah berlawanan membukakan pintu mobil untuk Luna.


Barack menggandeng tangan perempuan itu, mereka berjalan beriringan sampai ke dalam rumah.


"Duduklah" perintahnya. Barack menyalakan pemanas ruangan setelahnya dia berdiri di depan Luna, mengulurkan tangannya untuk meminta CD itu.


"Apa kamu pikir itu bukti kalau dia yang menjebakmu?"


"Jangan bodoh Luna!, , mana mungkin dia membuka kedoknya sendiri dengan mudah, aku hanya penasaran rakaman apa yang dia berikan padamu" Barack memaku tangannya dengan sebuah remot di sana.


"Bolehkah aku melihatnya??" ucapnya sebelum menyalan CD itu.


Luna yang duduk di sofa hanya tersenyum dan mengangguk.


Barack memutar kasetnya, dia berjalan mendekat ke arah Luna dan duduk di sebelah perempuan itu.


Menyilangkan kakinya, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan satu tangan berada di atas sofa.


"Kemari!" ucapnya dengan menepuk dadanya seolah dia meminta Luna untuk bersandar di sana.


Luna menyeret tubuhnya mendekati Barack, menyandarkan kepalanya ke dada laki laki yang bidang itu. Setelahnya Barack mengecup ujung kepala Luna.


Barack terpaku ketika kaset mulai berputar. Dia melihat Luna yangbtengahbterdudukndi ranjang, sepeetinya perempuan itu habis melahirkan, jika dilihat dari jubah serba berwarna hijau dan beberapa perawat, serta seorang bayi yang berada di dekapannya.


Itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Luna memang baru saja melahirkan David. Di rekaman itu, Luna nampak sedang mengusap air mata, air mata bahagia karena telah melahirkan seorang putra dengan sehat tanpa kekurangan satu hal apa pun. Di sana dia melihat Lilis dengan memakai jubah berwarna hijau, jubah yang sama yang di kenakan oleh Luna.


Barack menelan ludahnya dengan susah payah, dia terlihat syok. Karena tak bisa menemani perempuan itu ketika sedang berjuang untuk melahirkan David.


Luna menarik tubuhnya menjauh dari dekapan Barack. Dia menatap Barack kemudian. Seperti dugaannya laki laki itu kini sedang menangis. Tangan Luna bergerak mengusap lembut air yang membasahi pipi Barack.


Laki laki itu terkejut ketika Luna mengusap air matanya.

__ADS_1


"Maaf!!, ," Barack menggenggam tangan Luna dan menghujani kecupan di punggung tangannya.


"Maaf Luna!!" Barack menarik punggungnya. Membungkuk menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di paha untuk menutupi wajahnya yang frustasi.


"Aku laki laki yang tidak berguna!!, , maaf!, ,!" gumamnya.


Luna memeluk tubuh Barack yang sedang membungkuk dari arah samping.


"Aku memaafkanmu" ucapnya kemudian.


Barack mengubah posisinya seperti semula.


Dia memeluk tubuh Luna dengan erat.


Tak lama dia melepaskan pelukannya, tangannya bergerak meraih tengkuk Luna, menarik kepala perempuan itu dan mengcup bibirnya, Barack menyandarkan kepalanya di kening Luna dan berbisik.


"Maaf!"


Luna mengangguk meraih tangan Barack yang ada di pipinya, kemudian menghadiahi laki laki itu sebuah kecupan di telapak tangannya.


Barack pun membalasnya dengan mengecup ke dua punggung tangan Luna berkali kaki. Hingga perempuan itu tersenyum.


Barack berusaha menetralkan perasaan, dia mengusap sisa air mata yang masih mencuat keluar dari ujung matanya.


"Lalu apakah Adrian yang merekam semuanya?"


"Iya?"


Wajah Barack langsung berubah musam.


"Dia saat kamu melahirkan David?"


Luna terkekeh, dia tahu kemana arah pembicaran Barack


"Dia tidak menyaksikan semunya!, , dia hanya merekam setelah aku melahirkan David"


"Untunglah, , " Barack menghela nafas penuh kelegaan.


Barack tersenyum seolah dia tertangkap basar karena sudah merasa cemburu.


"Kalau begitu antarkan aku kembali ke Kantor, aku harus mensurvey tempat untuk acara nanti malam"


"Kenapa terburu buru?" Barack berucap sambil menarik tubuh Luna ke dalam dekapannya.


Barack memposisikan dirinya berbaring di sofa, sehingga kini Luna berada di atas dadanya, sementara kaki Barack melingkar di paha Luna mengunci tubuh perempuan itu.


"Aku harus memastikan kalau semunya sudah selesai. Itu tanggung jawabku. Kalu sampai ada kekurangan, pasti aku yang akan di salahkan" Luna memainkan jarinya dada Barack yang bidang itu.


"Siapa bilang??, , aku sekarang pemilik Perusahaan itu. Jadi tidak akan ada yang berani memarahimu!" Barack menyingkap rambut Luna yang menutupi kening perempuan itu dan menyimpannya ke belakang telinga.


"Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku, aku tidak boleh lari dari tanggung jawab bukan??"


"Iya.iya"


"Nanti malam kita berangkat bersama ya?" ucap Luna dengan penuh harap, dia ingin datang ke pesta ulang tahun perusahaan dengannya.


"Maaf Luna aku tidak bisa. Aku pasti akan datang. Tetapi ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dulu" Barack mengawasi wajah Luna yang mulai terlihat murung.


"Aku tidak mungkin datang kepesta denganmu, ,"


"Bagaiman kalau aku menyuruh supir untuk mengantarmu?"


"Mmm, , tidak perlu!" Luna beranjak dari sofa, dia berjalan menuju ke arah dapur bermaksud ingin mengambil air minum, tetapu di persimpangan perempuan itu menghentikan langkahnya.


Matanya tertuju kepada sebuah ranjang yang menghadap ke arah pantai.


Tentu saja di musin dingin ini, seluruh pantai membeku dan di penuhi salju.


Luna menghela nafas dia mengingat kejadian saat Barack dan dirinya bertemu lagi untuk pertama kalinya di paris. Mereka menghabiskan waktu bermalam di ranjang itu. Dia teringat ketika Barack mencoba menyuruhnya untuk membuka kancing bajunya sendiri.


Perempuan itu tersenyum geli kemudian.

__ADS_1


Barack melangkah mendekat ke arah Luna, dia memeluknya dari arah belakang.


"Kenapa senyum senyum sendiri?" bisiknya.


Luna menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa apa!, , "


Barack pun melihat ke arah ranjang, di mana tempat itu tempat terakhir yang dilihat oleh Luna hingga perempuan itu tersenyum geli.


"Apa kamu mengingat sesuatu tentang ranjang itu?" Barack membalikkan tubuh perempuan itu agar menghadap ke arahnya.


"Tidak,aku tidak mengingat apa pun!" perempuan itu berusaha mengelak. Pipinya bersemu kemudian.


"Bohong!!, kamu perempuan yang tidak pandai untuk berbohong" Barack memamerkan senyum menggodanya kepada Luna.


"Serius aku tidak mengingat apa pun" Luna mencoba untuk menahan senyumnya.


Barack membungkuk meraih kaki Luna, dia menggendong perempuan itu dan membawanya ke ranjang.


"Barack apa yang kamu lakukan??"


"Setengah jam, beri aku waktu setengah jam. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Sehingga kamu tidak terlambat untuk kembali ke kantor!" Barack meletakkan tubuh Luna yang berusaha memberontak ke atas ranjang.


"Apa maksudmu dengan setenga jam??" Luna bergerak menyeret tubuhnya menjauh dari Barack dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri seolah memberi perisai di sana.


Barack naik ke atas ranjang dengan menekuk kedua lututnya. Dia mulai mendekati Luna yang sudah berada di ujung ranjang.


"Kamu tidak akan bisa lari dariku!" Barack merentangkan tangannya untuk menangkap tubuh Luna yang mencoba untuk kabur.


"Baraaaaacckkk!!!" Luna berteriak ketika laki laki itu berhasil menangkap tubuh Luna dan memeluk perempuan itu ke dalam dekapannya.


Tawa mereka seketika pecah, Barack pun tak menunggu lama untuk melancarkan aksinya.


♡♡♡


Mata Adrian tertuju kepada Luna yang baru saja datang dari arah luar.


Perempuan itu sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Maaf aku ada urusan lain, jadi, , , "


"Tidak perlu minta maaf, masih banyak waktu untuk menyelesaikannya" Adrian mulai mencium aroma wangi dari tubuh Luna yang menyeruak ke dalam hidungnya.


"Kamu pulang hanya untuk mandi?" ya! aroma wangi yang dicium Adrian adalah aroma sabun yang ada di dalam kamar mandi rumah Barack. Sampai saat ini Barack memakai sabun yang sejak dulu selalu di pakai oleh Luna.


"E, , i, iya. Tubuhku terasa lengket dan tidak nyaman, jadi aku pulang untuk mandi sebentar" ucapnya terbata.


"Kamu berkeringat di cuaca sedingin ini?" Adrian berucap untuk memastikan.


"Eee, , mmm. Iya"


Adrian tersenyum kemudian, ketika melihat ekspresi wajah Luna yang terlihat lucu.


"Lupakan!, , ayo??" Adrian mengajak Luna untuk berkeliling ruangan.


"Emmm, , CD itu?? terima kasih. Karena sudah memberikannya padaku"


"Aku sengaja menyimpannya untukmu. Sebenarnya aku ingin memberikan itu sebagai hadiah ukang tahun David 15 Oktober nanti. Di ulang tahunnya yang ke 7" memang benar, Oktober tnggak 15 nanti umur David genap 7 tahun.


"Oh!! ya ampun. Aku hampir Lupa. Iya, , itu masih satu minggu lagi" Luna meraih tangan Adrian dan menggenggamnya.


"Terima kasih Adrian, kamu selalu memperlakukanku dan David dengan sangat baik selama ini"


Laki laki itu tersenyum senang, kini matanya tertuju pada tangannya yang masih di genggam oleh Luna.


Luna tersadar, dia pin menarik kembali tangannya.


Perempuan itu nampak terlihat sibuk memilih warna bunga dan beberapa barang yang akan di gunakan untuk keperluan pesta.


Pandangan mata Adrian tak pernah lepas dari Luna yang tengah sibuk di sana. Dia melihat ke arah Adrian dan tersenyum kepada Laki laki itu ketika mata mereka bertemu.

__ADS_1


Luna menundukkan kepala ke arah Adrian. Dia sadar bahwa laki laki itu selalu menatapnya dari tadi.


__ADS_2