Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
92 CEO: Love Romance Kecewa


__ADS_3

Sebuah pesawat mendarat dengan mulus di Bandar Udara Soekarno Hatta.


Mereka berlima keluar dari Bandara, melangkah masuk menuju pintu keluar.


Di sana sudah ada dua mobil yang sengaja menunggu kedatangan mereka.


"Iris!!" David menarik kerah kemeja Adiknya dari belakang, agar mundur, menjauh dari mobil yang akan di tumpanginya.


"Mobilmu ada di depan sama Mamah, ini mobil untuk Kakakmu" David memepersilakan Aileen untuk masuk ke dalam.


"Hiihhh!!, , dasar!!" Iris menggerutu sambil berjalan menuju mobil yang ada di depan.


"Kenapa tidak membiarkan Iris semobil dengan kita, dia bisa duduk di depan" Aileen berucap kepada David yang sudah duduk manis di sebelahnya.


"Tidak perlu, , nanti mengganggu" David menoleh kemudian menyerinagi manis kearah Aileen.


Perempuan itu mendorong tubuhnya ke samping berusaha menjauh.


David terkekeh.


"Tenang sayang, , aku tidak akan melakukan apa pun terhadapmu" dan benar saja apa yang di ucapkan David. Dia tak menyentuh sedikit pun tubuh Aileen sampai mereka tiba di kediaman Neneknya.


♡♡♡


Luna terkejut ketika sampai di depan rumah, dia melihat semua keluarga besarnya telah berkumpul di sana.


"Mamah sedang mengadakan acara?" Barack menyelidik kearah rumah yang sudah sangat ramai. Mereka terlihat berlalu lalang sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.


"Aku juga kurang tahu, Mamah tidak memberi tahuku kalau dia akan mengadakan acara di rumah malam ini"


Barack membantu supir menurunkan koper


dari bagasi, setelahnya dia menggandeng tangan Luna membawanya masuk ke dalam rumah.


Suasana semakin ramai ketika semua keluarga besar berkumpul di dalam rumah.


"Mah, " Luna memeluk Ibunya yang sedang terduduk di kursi roda. Perempuan yang sudah semakin menua itu, kini sudah tak bisa berjalan dengan baik seperti dulu.


Bu cokro menyambut Putrinya dengan sebuah pelukan hangat.


"Diamana Papah mah?"


"Sedang beristirahat di dalam kamar, masuklah, , di mana David dan calon Istrinya" Bu cokro nampak menyelidik kearah luar menunggu kedatangan mereka.


"Masih di belakang" Luna kemudian menekuk lututnya di depan Bu Cokro. Kedua tangannya menggenggam tangan Mamahnya.


"Mamah sehat kan?" Luna sempat menyelidik sekali lagi ke sekitar, untuk melihat suasana di dalam rumah.


"Sebenarnya Mamah ingin mengadakan acara apa?, , kenapa semua keluarga besar berkumpul di rumah?"

__ADS_1


Bu cokro hanya tersenyum sembari membelai kepala Putrinya.


♡♡♡


"Menikah??" Aileen membulatkan matanya kearah Bu Cokro. Suaranya sedikit meninggi karena merasa terkejut. Semua mata tertuju kepadanya.


Luna, Barack, David dan Bu Cokro berada di ruang keluarga untuk membicarakan hal itu. Ketika Aileen menyadari bahwa dia sedang berbicara dengan Orang tua. Aileen menunduk menyesal.


"Maaf nek, aku tidak bermaksud berbicara tidak sopan"


David membelai kepala Aileen, mencoba menenangkan perempuan itu.


Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama, dia selalu menggoda Aileen untuk mengajaknya cepat cepat menikah. Tetapi kenapa sekarang ketika Neneknya sengaja menyiapkan acara untuk pernikahan mereka, David malah terlihat ragu dan tiba tiba rasa gugub yang teramat menyelingkupi tubuhnya.


"Mah, bukannya kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya??, , pernikahan David dengan Aileen akan di langsungkan dua bulan lagi" Luna berucap dengan lembut dan penuh perhatian. Sebenarnya yang akan menikah terlebih dulu adalah Iris. Tetapi karena Iris menginginkan Kakaknya menikah terlebih dulu maka, Luna dan Barack memutuskan untuk menikahkan Putranya dua bulan lagi.


"Kesehatan Mamah semakin memburuk, Mamah takut tidak bisa melihat Cucu Mamah menikah nantinya" ucapan Bu Cokro membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam. Hening seketika.


"Kenapa Mamah berucap seperti itu?, , Luna berharap Mamah akan selalu di beri kesehatan, agar bisa menyaksikan pernikahan semua cucu Mamah nantinya" Luna yang duduk di sebelah Mamahnya, kemudian memeluk tubuhnya dari arah samping.


"Mamah sudah menyebar undangan. Semuanya akan datang menghadiri dan menyaksikan pernikahan David dengan Aileen" Bu Cokro menatap David dengan lekat, berharap laki laki itu tidak aka menolaknya.


David menyadarinya kemudian laki laki itu beranjak berdiri dan menghampiri Neneknya, berlutut, meraih tangannya lalu berucap.


"Nenek akan mendapatkan apa pun yang Nenek inginkan. Aku akan menikahi Aileen sesuai keinginan Nenek. Tapi Nenek harus berjanji, akan selalu bahagia tanpa memikirkan hal buruk nantinya" David meraih pipi Neneknya, dia bergerak mengecup kening kemudian memeluknya dengan erat.


Bu Cokro tersenyum, tangannya menepuk pundak David. Dia merasa senang ketika cucunya akan memenuhi keinginannya.


♡♡♡


"Iya, , Kak Kenzi tidak marah kan? sebelumnya aku sudah mengatakan kepada Nenek kalau aku ingin Kak David yang menikah terlebih dulu. Makanya Nenek menyiapkan semua ini untuk Kak David" Iris melirik Kenzi yang terdiam.


"Kak??, , kamu tidak marah kan, kalau aku menunda pernikahan kita?"


Kenzi menatap Iris, laki laki itu tersenyum.


"Kita sudah membahas ini sebelumnya, , Aku tahu kamu belum siap dengan pernikahan kita kan?"


Iis menoleh dengan cepat, menatap Kensi dengan lekat.


"Bagimana Kakak bisa tahu?"


"Aku melihat itu di dalam kedua matamu, , aku ingin menundanya. Tetapi aku seorang laki laki, itu pasti akan sangat menyakiti keluargamu jika aku memintanya untuk menunda pernikahan kita. Maka dari itu, aku sengaja menunggu kamu yang nantinya akan mengatakan semuanya" Kenzi menggenggam tanganya, mendaratkan sebuah kecupan di sana.


"Terima kasih Kak, ,kamu selalu mengerti dan tahu apa yang aku inginkan" Iris kemudian mengajak Kenzi untuk masuk ke dalam menemui keluarga besarnya.


♡♡♡


"Ai?"

__ADS_1


Perempuan yang sedang berdiri di teras belakang itu menatap jauh kedepan, memalingkan wajahnya kearah David yang baru saja datang dengan membawa segelas susu di tangannya.


"Minumlah, , mumpung masih hangat. Nenek sendiri yang sengaja membuatnya untukmu" David memberikan segelas susu itu kepada Aileen.


"Terima kasih" ucap Aileen setelah meraih susu itu. Kemudian Dia menegug setengah isinya.


David meraih gelas itu kembali, menghabiskan sisa susu milik Aileen lalu meletakkan gelasnya di atas meja.


"Kemarilah" David menarik lengan Aileen, membawa perempuan itu ke dalam dekapannya.


Aileen menyandarkan kepala, meletakkan tangannya di dada David, mencoba mencari ketenangan di sana.


"Aku takut, ,apa kita bisa melakuannya?"


David terdiam, hanya tangannya yang bergerak mengusap lembut kepala Aileen.


Perempuan itu mengangkat kepalanya, melihat ke wajah David ketika tak mendapatkan jawaban.


"Kenapa kamu diam?" Aileen sedikit menjauhkan kepalanya, mengamati wajah David untuk memastikan sekali lagi, bahwa apak yang sedang dia lihat itu benar adanya. Laki laki itu terlihat sangat gugub.


"David??, , apa kamu gugub?"


Laki laki itu hanya diam, membuat Aileen tertawa kemudian.


"Ssssshhhhtt!!" David menutup mulut Aileen dengan tangannya.


"Jangan keras keras, suaramu akan menarik perhatian semua orang" David berucap dengan pelan. Karena sesaat orang orang yang ada di sekitarnya sempat melihat kearah mereka.


Aileen sangat yakin bahwa David benar benar gugub, dia hanya merasa geli. Laki laki itu sempat getol ingin mengajaknya menikah. Tetapi ketika pernikahan itu ada di depan mata, David mulai menciut nyalinya.


"Aku tidak gugub, hanya, , takut" suaranya melemah di akhir kalimat. Tentu saja, dia yang awalnya tak ingin hidup berkomitmen, kemudian pertemuannya dengan Aileen menyadarkan bahwa dia tak bisa kehilangan, bahkan berjauhan dari perempuan itu. David yakin mengikatnya dengan pernikahan akan bisa memiliki Aileen secara seutuhnya. Tetapi saat ini David sedang di landa rasa bimbang yang hebat di dalam hatinya. Apakah dia mampu membahagiakan Aileen tanpa menyakiti perasaannya jika nanti perempuan itu sudah benar benar menjadi miliknya.


David menghela nafas panjang, untuk sedikit melegakan dadanya.


Perempuan itu masih mendongakkan kepalanya. Aileen menatap David dengan lekat, pipinya bersemu ketika laki laki itu membalas tatapannya, terlebih lagi saat David semakin mendekatkan wajahnya.


Aileen menelan ludahnya dengan susah payah. Hidung mereka kini sudah saling menempel hingga nafas hangat mereka beradu. Sudah terbayangkan di benak Aileen bagaimana rasanya ketika bibir yang sedikit berisi dan lembut itu mendarat di bibirnya.


Wajahnya berseri seakan sudah siap ketika David menciumnya, menyatukan bibir mereka. Namun tiba tiba guratan kekecewaan melekat di wajahnya.


David menarik kepalanya kebelakang menjauh dari Aileen.


"Masuklah ke kamar, kamu harus istirahat" David melepaskan Aileen dari dekapan. Kemudian tangannya mengacak acak rambut Aileen.


Setelahnya laki laki itu melangkah masuk kedalam.


Aileen terdiam, masih mencerna sikap David yang berubah. Dia merasakannya semenjak di dalam pesawat. David memiliki kesempatan besar untuk mencium bibirnya. Tetapi laki laki itu tak menggunakannya dengan baik.


Aileen menyentuh bibirnya, pikirannya mulai terganggu ketika David bersikap tak seperti biasa.

__ADS_1


"Apa aku yang terlalu berharap, kalau dia akan menciumku??" Aileen mengeluh kesal kemudian berdecak frustasi.


__ADS_2