
0.1 Akhir dari kisah Davien dan Bunga.
***
Mereka bertiga tertawa bahagia saat mengambil gambar mengabadikan momen itu. Layaknya seperti sebuah keluarga kecil.
Di ruangan itu hanya Bunga yang tidak suka melihat pemandangan itu, sementara yang lain begitu tampak bahagia.
Ceklek! Pintu terbuka, Bunga memilih keluar mencari udara segar menenangkan pikirannya yang kacau dan mendinginkan hatinya yang terasa memanas. Bunga tidak menyangka kalau cahaya dari balik pintu menarik perhatian Juliet karena pada dasarnya ruangan studio lumayan gelap hanya terang di bagian tengah yang digunakan untuk proses shooting maupun pengambilan gambar.
“Ibu?!” seru Juliet.
Langkahnya terpaku seketika, mendengar putrinya memanggil Bunga pun menoleh. Tak hanya Juliet tapi semua orang di dalam ruangan itu tanpa terkecuali, mereka langsung menatap kearahnya. ‘Mengganggu’ mungkin itu yang mereka pikirkan batin Bunga. “Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu proses shootingnya. Sekali lagi aku minta maaf!” Bunga membungkuk beberapa kali saat mengucapkan kata maaf sebagai rasa bersalah.
Davien tahu kalau Bunga pasti melihat momen di mana dia dan Rebecca mengambil foto bersama. Terlebih lagi sempat beberapa kali Rebecca bersandar mesra di dadanya layaknya seperti seorang kekasih yang sengaja mengabadikan momen kebahagiaan mereka berdua. Davien tersenyum karena sempat melihat raut wajah Bunga yang muram, jelas sekali kalau perempuan itu tampak cemburu melihat kedekatannya dengan Rebecca. “Semua lanjutkan shootingnya” sahut Davien sengaja mengalihkan perhatian mereka. “Juliet, paman keluar sebentar untuk menemui Ibu oke?”
“Uhm! Baik paman.”
Davien mengambil langkah cepat keluar dari studio mengejar Bunga. Tapi dia tak melihat perempuan itu di luar sana. “Bunga?!” segera Davien mencarinya ke semua tempat termasuk toilet, teta saja Bunga tidak ada di tempat itu. Sampai pada akhirnya langkah Davien terhenti di halaman lobi karena tak ada lagi tempat yang dituju untuk mencari keberadaannya. “Ke mana dia pergi? Cepat sekali menghilang?!” gumamnya sembari menghela nafas panjang.
***
“Juliet sayang? Ibu minta maaf... tadi Ibu tidak bermaksud meninggalkan Juliet hanya saja tiba-tiba Ibu mendapat panggilan dari kantor!” Bunga menghampiri putrinya yang tengah sibuk menghabiskan camilan sembari menonton acara serial karton di tv.
“Ibu selalu seperti itu, bertanggung jawab dengan pekerjaan memang sangat penting it’s oke... Juliet tidak marah, Bu! Tadi paman Davien sempat mengejar Ibu keluar tapi Ibu terlanjur pergi.”
“Uhm... maaf Ibu tidak tahu” ucapnya sembari mengusap lembut kepala Juliet.
“Oh iya Bu, bolehkah Juliet bertanya? Mmm... apa itu cemburu?”
Bunga nyaris batuk tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Juliet. “D.dari mana Juliet bisa berpikir pertanyaan macam itu?”
“Tadi paman Davien sempat bilang kepada Juliet, kemungkinan Ibu pergi begitu saja tanpa memberi kabar karena cemburu melihat paman Davien foto bersama Aunty Rebecca! Apa itu benar Bu? Lalu cemburu itu apa?”
“Ah... itu sebenarnya bukan seperti itu sayang, mengenai cemburu nanti saat beranjak dewasa Juliet akan mengetahui apa itu cemburu. Sekarang lebih baik kau tidur karena sudah malam oke!” Bunga menyerangnya dengan mencium Juliet di beberapa bagian tubuhnya yang membuat anak itu menggeliat geli.
“Aaah!! Ampun Bu! Hentikan... ini menggelikan Bu, haha... Iya, iya Juliet akan tidur.”
***
Malam ini pesta pernikahan Marvel dan Keiko diadakan. Mereka mengadakan pesta di kapal pesiar pribadi milik keluarga besar. Acara yang dihadiri para tamu undangan dari berbagai mancanegara khususnya rekan kerja. Suasana sangat ramai dan meriah tapi puncak acara belum dimulai karena Keiko masih berada di ruang make up.
Sebenarnya Bunga tidak ingin hadir tapi tak mungkin baginya mengabaikan undangan itu apa lagi ini pernikahan Marvel sahabat terbaiknya. Mungkin hanya Bunga yang hadir berdua dengan putrinya karena yang lain pasti mengajak pasangan mereka.
“Waaaahh... paman Marvel benar-benar hebat! Ibu bolehkah nanti kalau sudah besar Juliet mengadakan pesta pernikahan seperti paman Marvel?”
Ekspresi wajah Bunga terpaku mendengar pertanyaan Juliet yang tak terduga, tak lama bibirnya tersenyum canggung menanggapi permintaan putrinya. “E... uhm, ya! Tentu saja, tentu saja Juliet bisa melakukannya, tapi nanti saat sudah dewasa!” tidak mungkin Bunga mematahkan keinginan putrinya yang masih polos, bagi Juliet apa pun yang dia lihat tampak terlihat istimewa di matanya meskipun belum sepenuhnya mengerti.
“Ibu, bolehkah Juliet keluar?” tangannya menunjuk ke arah ujung kapal, Juliet melihat kerlip cahaya rembulan yang terpantul di air.
“Mm... iya sayang tapi hati-hati ya jangan terlalu dekat dengan pagar!”
“Siap Bu!” setelah mendapat ijin dari Bunga, segera Juliet melangkah diiringi melompat kecil berulang kali. Tanda sebagai rasa gembira dan tak sabar melihat keadaan air laut dari kejauhan.
__ADS_1
“Selamat atas pernikahan kalian, Kak? Di mana Keiko?” Bunga sempat merasa canggung karena setelah Juliet pergi dia hanya sendirian, menikmati minumannya meskipun ada beberapa kali terlihat seseorang menyapa.
“Dia masih di ruang make up... oh iya, di mana Juliet?” Marvel sangat tampan malam itu, mengenakan setelan jas gelap dengan tatanan rambut ke samping sangat rapi dan berkilau karena bantuan pomade. Keningnya terlihat jelas menambah daya tarik sebagai mempelai pengantin lelaki semakin kuat memikat para tamu yang datang.
“Juliet, tadi dia bilang ingin pergi melihat sekitar! Kau malam ini sangat tampan, Kak! Aku yakin Keiko tidak akan membiarkanmu lepas lagi!”
“I hope so! Haha.....”
“Uhmm... di mana Ibumu kak? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?” Bunga sebenarnya enggan menanyakan hal itu tapi tak melihat keberadaan Laura benar-benar sangat tidak masuk akal mengingat Marvel dan Ibunya benar-benar sangat dekat.
“Well... ada sesuatu yang belum aku ceritakan padamu. Nanti setelah acara selesai kita akan membahas hal ini, lalu bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Entah kenapa aku merasa kau sedang memikirkan sesuatu... apa kau tidak ingin cerita padaku?”
“Jangan gila Kak! Haha... ini hari pernikahanmu, meskipun aku memiliki masalah tidak mungkin aku cerita padamu! Tapi, tenang saja aku hanya sedang banyak pekerjaan akhir-akhir ini!”
“Benarkah?” Marvel tahu bahwa Bunga masih memikirkan Davien, saat itu lelaki yang terlintas dipikirkannya muncul. Pandangannya bergerak mengarah ke Davien yang baru saja tiba, dia tak sendiri melainkan membawa Rebecca menghadiri pesta. “Sepertinya aku tahu apa yang membuatmu muram seperti ini!” bibirnya tersenyum tipis.
“Apa maksudmu, Kak?”
“Lihatlah ke belakang, lelaki yang mengganggu pikiranmu itu datang dengan seorang perempuan” tebaknya dengan benar.
Bunga langsung terserang panik, dia tahu kalau saat itu yang datang pasti Davien. “Tidak! Aku tidak tertarik dengan hubungan mereka!” Bunga enggan menoleh ke belakang, karena tahu itu hanya akan membuat hatinya kesal. Harapannya pesta akan segera di mulai dengan begitu setelah puncak acara selesai Bunga bisa cepat-cepat pergi.
“Maaf Tuan Marvel, Anda harus bersiap... sebentar lagi upacara pernikahan akan dimulai!” ucap salah seorang pengurus.
“Baiklah, Bunga... maaf karena aku harus meninggalkanmu sendiri di sini.”
“Hmm, iya Kak! Tenang saja... kau jangan gugup oke” Bunga tersenyum, menepuk bahu Marvel sengaja memberi semangat.
“Iya presdir!” Rebecca tahu ke mana Davien akan pergi. Melihat tebakannya benar bahwa lelaki itu menemui Bunga yang tengah berdiri sendiri dia pun tersenyum tipis.
“Kau sendirian?” sapa Davien secara tiba-tiba. Mengulurkan tangannya menawarkan sebuah minuman kepada Bunga. “Mau menemani aku minum?”
Bunga yang sejak awal tahu kalau lelaki itu akan datang mendekatinya sama sekali tidak terkejut, dia bersikap santai seolah tak acuh namun dadanya berdebar kencang tak bisa membohongi bahwa dirinya tengah dilanda gugup hebat. “Terima kasih, untuk minumannya!” Bunga meneguk sedikit minuman dari Davien karena sebelumnya dia telah menghabiskan segelas minuman lainnya. “Aku tidak sendiri, aku datang bersama Juliet. Hanya saja dia sedang bermain di deck kapal.
“Kau membiarkannya pergi ke deck sendirian? Bukankah itu berbahaya?” Davien mulai cemas.
“Juliet cukup pintar, aku yakin dia tak akan pergi jauh karena aku sudah memperingatkannya!” ujung matanya melirik Rebecca yang berada di kejauhan, Bunga melihat perempuan itu selalu menatap kearahnya. Bisa di bilang Rebecca seperti sedang mengawasi dirinya dan itu membuat Bunga tidak nyaman. “Apa kau mencemaskanku setelah melihat aku sendirian di keramaian ini? Tenang Davien... cepatlah kembali ke sisinya” ucapnya merujuk pada Rebecca. “Sejak tadi dia selalu mengawasiku, itu membuatku tidak nyaman. Seolah-olah aku akan membawa pergi kekasihnya saja!” Bunga berucap kesal, setelah itu meneguk habis minumannya. “Terima kasih untuk minumannya, maaf aku harus ke toilet!” Bunga memberikan gelasnya yang telah kosong ke Davien kemudian pergi.
“Tunggu, Bunga!” usahanya menghentikan perempuan itu tak berhasil karena Bunga terus melangkah tanpa sekalipun menoleh kearahnya. Davien terkekeh melihat sikap Bunga, jelas-jelas itu sikap seseorang yang sedang cemburu tapi perempuan itu benar-benar tak mau mengakuinya. “Dasar!”
***
“Apa yang sedang kau lihat?” seorang anak kecil mendatangi Juliet yang berada di deck kapal saat anak kecil itu melamun menatap kejauhan.
“Aku... sedang melihat sinar rembulan yang tampak seperti kunang-kunang beterbangan menyebar di tengah laut.” Juliet menjawab tanpa menoleh.
Anak kecil itu kemudian mengambil posisi yang sama dengan Juliet, berdiri di deck atas anjungan kapal sambil pegangan besi pagar. “Kau tidak takut di sini sendirian?”
Terlalu fokus dengan rembulan yang bersinar penuh malam itu, Juliet sampai enggan melihat anak kecil yang mengajaknya bicara. “Tidak! Aku tidak takut terhadap apa pun! Di dalam sangat ramai semua orang dewasa sedang menikmati pesta, bukannya aku tidak suka... hanya saja di sini terasa lebih menyenangkan!”
“Aah, aku mengerti. Kalau begitu siapa namamu? Kau bisa memanggilku Juliete!” anak kecil itu mengulurkan tangannya ke Juliet.
Mendengar namanya saat memperkenalkan diri, mengalihkan perhatian Juliet seketika. Tepat saat menoleh menatap wajah anak kecil yang berdiri di sampingnya, Juliet dibuat terpaku. Anak kecil itu tampak tidak asing di matanya. Setelah beberapa saat berusaha mengingat akhirnya Juliet ingat di mana mereka pernah bertemu. Ya, pertama kali mereka bertemu saat di pesta pertunangan Ibunya. “Kau?”
__ADS_1
“Eh? Apa kau mengenaliku?” anak kecil yang memiliki nama sama dengan Juliet itu sepertinya tidak ingat saat pertama berpapasan malam lalu di sebuah. “Maaf, kalau aku melupakanmu. Tapi aku benar-benar tidak ingat!” ucapnya sembari menggaruk kepala kebingungan. “Sampai kapan kau akan membuatku menunggumu menjabat tanganku?”
“Oh, maaf!” Juliet sampai tak sadar kalau anak itu menunggu balasan uluran tangannya. Tetapi baru saja Juliet menjabat tangannya belum sempat memperkenalkan diri, Ibu dari anak kecil itu memanggilnya. “Aku–,”
“Juliete?!! Kemarilah sayang... acara akan segera dimulai!” seru Ibunya dari kejauhan.
“Salam kenal, tapi maaf aku tidak bisa lebih lama menemanimu di sini. Aku harus segera kembali... aku pergi dulu dadah!” tanpa menunggu Juliet memperkenal diri, anak kecil itu bergegas pergi.
“Juliete??” gumamnya, “Kita memiliki nama yang sama... aah! Benar, di dunia ini pasti banyak anak perempuan yang memiliki nama sama dengan Juliet!” tak mau ambil pusing Juliet lagi-lagi mengarahkan pandangannya ke tengah laut.
***
Upacara pernikahan berjalan lancar, sepanjang acara Davien dan Bunga hanya saling mencuri pandangan satu sama lain. Bunga sengaja berdiri jauh dari Davien yang senantiasa berada di samping Rebecca.
Kini tiba acara pelemparan hand bouquet milik pengantin yang akan diperebutkan oleh para perempuan lajang. Mereka histeris saling berebut mencari posisi tepat saat berkumpul di tengah.
Bunga melihat bahwa Rebecca ikut dalam memperebutkan hand bouquet, melihatnya penuh semangat membuat Bunga semakin tak berniat ikut berada di antara mereka. Mungkin pergi mencari Juliet keluar sembari menghirup udara segar jauh lebih membuat dirinya tenang.
“Bunga!! Kenapa kau hanya berdiri di sana? Kemarilah ikut berkumpul bersama para wanita ini. Siapa tahu hand bouquet ini akan jatuh ke tanganmu!” seru Keiko yang berusaha menahan Bunga agar tidak pergi.
“Eh! Uhm... tidak perlu, aku akan membiarkan salah satu dari mereka yang akan mendapatkannya!” setelah berucap ujung matanya melirik ke Davien, Bunga terkejut karena pandangan matanya berpapasan dengan Davien yang juga sedang menatapnya saat itu.
“Kau yakin?” tanya Keiko memastikan! “Yaah... padahal aku ingin kau segera menyusulku menikah!”
Bunga merona karena ucapan Keiko. Akhirnya acara pelemparan hand bouquet pun dilanjutkan. Pada hitungan ketiga Keiko melempar bouquetnya ke belakang. Semua orang menatap kearah bouquet yang tengah terbang di udara. Entah sengaja atau memang Keiko melemparnya terlalu kuat sehingga bouquet itu terlempar jauh melewati para wanita yang sejak tadi menunggu.
Tetapi ternyata bouquet itu justru mengarah ke Davien yang akhirnya dengan mudah ditangkap olehnya.
Waaah!!
Semua orang bersorak ramai, tak menyangka kalau bouquet itu justru jatuh ke tangan Davien, terutama Bunga. Melihat hand bouquet berada di tangan lelaki itu dadanya langsung berdebar cepat tak beraturan. Terlepas dari kejadian itu Bunga yang sempat berharap bahwa Davien akan memberikan bouquet itu kepadanya dibuat kecewa karena ternyata Davien justru memberikan hand bouquetnya kepada Rebecca.
“Untukmu!” ucap Davien disertai senyum manis.
Debaran jantungnya semakin tak karuan, melihat pemandangan itu semakin membuat dadanya berdesir panas bersamaan dengan darah yang mengalir cepat menyebar ke seluruh tubuhnya. ‘Bodoh! Jelas-jelas beberapa hari ini mereka terlihat sangat dekat dan romantis... kenapa bisa aku berharap dia akan memberikan bouquet itu padaku!’ batinnya. Bunga pun memilih pergi menunggalkan pesta, mencoba mencari udara segar di luar agar akalnya kembali sehat.
“Apa yang sedang dilakukan Davien? Ba.bagaimana bisa dia justru memberikan bouquetnya kepada Rebecca?” Keiko tampak kesal melihat sikap Davien, belum lagi dia juga melihat Bunga meninggalkan pesta.
Tetapi Keiko melihat hal aneh lain yang membuatnya tak habis pikir. Marvel justru terkekeh melihat Davien. “Apa yang lucu? Kenapa kau tertawa? Marvel... kau seharusnya menghajar Davien karena membuat Bunga kecewa! Dasar... kenapa kau jadi sama menyebalkan seperti Davien!” Keiko memukul bahu lelaki yang kini menyandang status sebagai suaminya.
“Tenang sayang... kita hanya perlu percaya kepada Davien. Dia jauh lebih tahu apa yang harus dia lakukan saat ini!” ucapnya menenangkan Keiko.
“Apa maksudmu? Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan hubungan mereka!”
“Jahatnya Istriku... haha, percayalah kita hanya perlu melihat dari kejauhan.”
***
“Presdir? Kau... memberikan bouquet ini padaku?” Rebecca tampak gugup, dia yakin kalau pasti ada sesuatu yang salah.
“Benar, bouquet ini untukmu! Aku berharap kau akan menikah dengan lelaki terbaik dalam hidupmu! Anggap saja ini hadiah karena beberapa bulan ini kau membuat nama agensi kita kembali di peringkat atas!.” Davien mengusap ujung kepalanya. “ Terima kasih Rebecca!”
Perempuan itu tersenyum manis, merasa bahagia karena mendapat perhatian lebih dari Davien pemilik agensi yang menampung dirinya. “Kalau begitu, aku juga berharap presdir hidup bahagia. Cepat kejar dia sebelum pergi jauh!” Rebecca termasuk artis baru di agensinya, mungkin baru sekitar 2 tahun dia bergabung dengan D Entertainment tapi dia tahu semua tentang kisah percintaan presdirnya. Dan perasaan yang dia miliki kepada Davien hanya sebatas adik kakak selama ini.
__ADS_1