Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#35 Teman Lama


__ADS_3

Pagi harinya luna masih terbaring di atas tempat tidur, dia sudah mendengar mamahnya membangunkan dia beberapa kali tapi karena dia benar benar masih ingin sekali menikmati rasa yang sangat nyaman itu dia terus berbaring di atas ranjangnya.


 


 


Bahkan sinar matahari sudah mulai mengintip dan menembus melewati kaca jendela menyentuh langsung ke wajah luna.


Dia mencoba membuka matanya perlahan dan terus menatap ke arah luar jendela memandangi dedaunan yang melambai lambai karena sentuhan angin pagi itu, yang terus dan masih setia menempel di batangnya.


Seketika dia mengingat kejadian semalam di apartement barack, dia pun mencoba menghela nafas perlahan.


Luna mencoba merenggangkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku itu di atas ranjang, rasanya dia ingin terus berlama lamaan di sana.


Namun tidak lama kemudian terdengar suara dari ponsel luna memecah perasaan nyamannya.


tringtring, , tringtring, , bunyi suara ponsel luna menandakan dia mendapat email masuk.


Dengan perasaan yang masih ingin bermalas malasan dia mengulurkan tangannya untuk mencoba meraih ponsel di atas meja yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurnya.


Matanya masih terasa berat kala itu kemudian dia membuka layar ponsel memilih menu email dan membacanya.


"klara collections" kata luna lirih. Tak terlihat aura senang di raut wajah luna saat itu, tangan luna kembali melemah dan terjatuh di atas ranjang dengan ponsel masih melekat erat di tangannya.


Tubuhnya yang masih terlentang di atas ranjang itu menolak mengangkat tanganya yang masih memegang ponsel, dia mencoba mengumpulkan tenaganya untuk membaca isi email dari klara.


Sesekali dia menghela nafas pendek dangan kembali mengangkat tangannya kemudian mulai Membaca isi email itu.


Entah kenapa dia tidak merasa segembira seperti saat pertama kali dia mengetahui bahwa ada lomba event waktu itu.


Email itu berisi pmberitahuan tentang pemenang lomba event perancang gaun malam, bahwa pemenang pertamanya jatuh kepada dirinya.


Dia terus diam dan tidak menghiraukan isi email itu. Raut wajahnya juga tidak terlihat bahagia mengetahui bahwa dialah pemenang lomba event perancang gaun malam itu.


Luna mencoba menyingkirkan ponsel dari hadapannya dan meletakkan di sebelah bantal yang dia tiduri.


Pandangan luna terus tertuju ke langit langit kamar. Perasaannya berkecamuk pagi itu antara terus lanjut atau berhenti di tengah jalan.


Tapi bukan luna namanya kalau dia berhenti di tengah tengah jalan.


Luna terbangun dari rebahannya dan duduk di atas ranjang. Entah dari mana dia mendapatkan semangatnya kembali secara tiba tiba, dia merasa semangatnya bertambah dan semakin menggebu gebu.


"aku pasti bisa, aku tidak akan berhenti sampai disini, aku harus mnyelesaikan yang sudah aku mulai, Aku harus bisa tunjukkan di depan barack bahwa aku bisa lebih dari klara, dan aku juga pantas mendapatkan cintanya!!" kata luna penuh keyakinan dalam hatinya.


Terdengar lagi suara dari arah ponsel luna yang ada di sebelah bantal.


tringtting, , tringtring, , dia mendapat email lagi.


Luna sudah malas sebelum membukannya karena dia berfikir pasti email itu dari klara colletions lagi.


Dengan berat hati dia membuka email itu kembali, dan benar email itu memang dari klara tapi isinya bukan tentang event itu, melainkan undangan makan malam untuknya dari klara secara pribadi.


degdegdeg, , Detak jantung luna berdetak keras sekali. Tidak tau kenapa padahal email itu dari klara bukan dari barack.


Mencoba melawan rasa malasnya luna bergegas pergi ke kamar mandi, melepas bajunya satu persatu dan membuangnya begitu saja ke lantai. Perlahan mengankat tangannya menyalakan keran shower.


"zzzzzzzzzzzs" suara air yang keluar dari shower mencoba berebut berjatuhan ke tubuh luna yang putih dan bersih itu. Terlihat wajahnya benar benar menikmati air hangat yang berjatuhan dari shower terasa seperti menusuk nusuk pelan ke badannya.


Terdengar suara pintu terbuka dari arah pintu kamarnya membuat konsentrasi luna yang sedang menikmati air hangat itu peceh seketika.


Dia mematikan keran showernya, dan terdiam seperti menunggu orang itu berbicara padanya dari balik pintu kamar mandi.


"tok tok tok" terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


"mbak, ada tamu mencari mbak luna, saya suruh dia menunggu di ruang tamu" ternyata itu suara mbak ratmi.


"iya mbak, katakan sebentar lagi aku turun" teriak luna dari arah kamar mandi.


Lima belas menit kemudian luna sudah terlihat rapih dengan bajunya dan bergegas menemui tamu yang menunggunya sedari tadi.

__ADS_1


Dia menuruni anak tangga perlahan, kemudian berjalan menuju ke ruang tamu.


Dilihatnya sesosok laki laki memakai jaket kulit warna cokkat muda dan bertubuh tegap serta punggungnya terlihat bidang dari arah belakang, luna merasa tidak asing dengan punggung itu, laki laki itu sedang berdiri membelakanginya sambil membuang pandangannya ke arah luar dari balik kaca.


"aryo???" luna mencoba menebak nebak.


Laki laki itu membalikkan badannya dan menatap ke arah luna.


"Leo??? " Terlihat senyum yang sangat lebar di wajah luna saat memanggil laki laki yang berdiri di hadappannya itu.


"hay" sapa leo kapada luna.


"aaaaaaaa" Luna berteriak histeris dan berlari ke arah leo sembari membuka tangannya seoalah olah mengisyaratkan meminta sebuah pelukan darinya.


Leo dengan senang hati menerima pelukan luna bahkan sangat erat sekali saat memeluk luna.


"aku kangen, kapan kamu pulang dari ausi?" tanya luna sembil melepas pelukannya dan menatap ke arah leo yang sudah hampir 7 tahun tidak dia temui.


flash back on


Leo adalah teman luna semasa kecil, rumah leo hanya berjarak 3 rumah dari rumah luna. Umur mereka juga hanya terpaut 2 tahun. Bisa dibilang leo adalah kaka kelasnya, mereka sangat dekat, bahkan apapun yang leo punya selalu dia bagi dua bersama luna.


Saat duduk di bangku SD luna selalu di bully oleh teman sekelasnya, dan hanya leo yang selalu membela luna saat itu.


Dan saat duduk di bangku SMP tidak sedikit juga yang membuli luna karena penampilannya, banyak yang mencemooh kalau dia tidak pantas berada didekat leo, bagi murid perempuan, leo adalah panutan mereka disamping pintar dia juga ganteng maksimal.


Tapi Leo tidak pernah ikut andil membantunya saat luna mengejar dan berusaha mendapatkan cintanya aryo waktu jaman mereka SML.


Bagi leo itu masalah pribadi luna dan dia tidak mau ikut campur sampai sedalam itu mengingat mereka sudah mulai tumbuh besar, kecuali memang luna sendiri yang meminta bantuannya.


Mereka berdua pisah saat leo masuk kelas 1 SMA dan luna masih duduk di kelas 2 SMP, dia harus pindah ke ausi karena orang tuannya di pindah tugaskan kesana.


Leo merasa berat hati meninggalkan luna, bawasannya luna tidak akan ada lagi yang mendengarkan keluh kesahnya soal masalah dia dengan aryo, kalaupun leo menyukai luna pada saat itu, yang pasti itu cinta monyet dalam benak leo.


Setelah kepergian leo ke ausi mereka tidak pernah saling berhubungan karena kesibukan masing masing, di situlah dia bertemu dengan cici murid pindahan yang sampai saat ini menjadi sahabat terbaiknya.


Luna mengandeng tangan leo dan mengajaknya duduk di kursi sofa ruang tamu.


Luna terus memandangi wajah leo yang ada di depannya dengan terheran heran, dia tidak menyangka kalau akan bertemu lagi dengan leo. padahal dia juga sudah pindah kewarganegaraan saat itu.


Jadi baginya mana mungkin leo akan balik ke indonesia cuma karena ingin menemui sahabat kecilnya itu.


"kapan kamu pulang?, gimana kabar kamu? kamu sekarang kerja dimana? trus trus ada keperluan sepenting apa sampai bisa membawamu kembali ke sini?, sumpah aku tidak pernah berfikir sampai bisa ketamu sama kamu lagi, bahkan dulu aku pernah coba hubungi kamu tapi aku tidak tau harus hubungi kamu kemana" luna merasa hiasteris sekali dengan kedatangan leo tatapan matanya tak pernah berubah dari wajah leo.


Leo hanya terus memandang ke arah luna dengan senyuman manis yang terus melekat di wajah leo, luna terus berbicara sampai sampai tidak memberikan waktu untuk dirinya menjawab pertanyaan nya.


"ssssshhhttt" leo memberi isyarat kepada luna untuk berhenti berbicara sambil menyentuh bibir luna menggunakan jari telunjuknya.


"kalau kamu bicara terus gimana aku bisa menjawab?" kata leo.


Dari dulu leo memang selalu memperlakukan luna dengan lembut.


"habisnya aku tidak menyangka kamu bakal balik lagi ke indonesia" kata luna sambil memeluk leo dari arah samping.


"lupakan tentang aku, sekarang gimana dengan kamu,? apa sekarang mau berpaling dari aryo dan melabuhkan cintamu padaku?" kata leo menggoda luna.


"aahhhh males, datang datang kenapa bahas dia?" kata luna sambil menyenderkan badannya ke sofa.


"loh, loh, , bukanya dulu kamu seneng banget ngajak aku ngobrol tentang dia dulu? , kenapa sekarang jadi gini?" kata leo.


"itu masa lalu" kata luna sambil memegangi cincin di jari manisnya.


leo melirik ke arah tangan luna yang terus memegangi cincin di jarinya itu.


"tunggu tunggu, ini apa maksutnya yah" tanya leo sambil meraih jari luna.


Senyum manis pun tak pernah hilang dari wajah leo.


"mmmmm, ini?" luna mengangkat tangannya yang terdapat cincin di jari manisnya itu.

__ADS_1


"ini cincin"luna menambahkan.


"aku juga tau lun, kalau itu cincin, tapi masalahnya itu cincin melingkar di jari manismu" kata leo terus berusaha memaksa luna untuk memberitahunya tentang sesuatu yang sedang di sembunyikan luna.


"ini cincin mainan" kata luna sembari menahan senyumnya.


"bohong" kata leo sambil mencoba mendekati luna yang mulai menjauh karena dia tahu leo pasti akan menggelitikinya.


"serius, aku tidak bohong" kata luna sambil melihat ke arah tangan leo yang sudah siap menggelitikinnya.


"stop, berani meju sedikit lagi aku jitak nih" kata luna sambil menahan rasa geli di badannya padahal dia hanya melihat leo menggerak gerakkan jarinya yang belum sempat menyentuh pinggangnya.


"ayo cerita??" kata leo mengancam luna.


"tidaak" kata luna dengan nada tinggi.


"oke kamu yang memaksa aku ya" leo pun menarik kaki luna hingga badannya mendekat berada disamping leo, dengan cepat leo menggelitiki pinggang luna, dia tidak bisa menahan badannya yang menggeliat karena menahan rasa geli hingga akhirnya badannya terbaring di atas sofa itu.


Luna terus berteriak memohon agar leo menghentikannya tapi leo malah tertawa dan sangat menikmati melihat luna terkekeh kekeh menahan rasa geli di pinggangnya. leo mendakap kaki luna menggunakan kedua kakinya sehingga leo membungkuk di atas tubuh luna dan masih terus menggelitiki luna seperti anak kecil.


Di sisi lain Barack memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah luna.


Dia membuka pintu dan turun dari mobil kemudian berjalan munuju pintu rumah luna, Dia sempat melayangkan pandangannya ke arah mobil sedan berwarna merah padam yang terparkir tidak jauh dari mobilnya.


Sampai di depan pintu barack mendengar suara luna sedang tertawa asyik yang terdengar tidak jauh dari pintu dimana barack berdiri.


Barack melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah luna yang kebetulan memang pintunya tidak ditutup. Dia membuang pandangannya ke arah luna yang sedang berada di ruang tamu.


Dia melihat luna sedang bercanda asyik dengan laki laki yang terus memegangi pinggang luna dengan posisi tubuh bagian atas luna terbaring di sofa sedangkan kaki luna yang meninjak lantai tepat barada di sela sela kaki laki laki yang membungkuk di atas luna.


"lun?" kata barack lirih dengan sedikit syok melihat kejadian itu, dia mengatur nafasnya yang terengah engah karena menahan emosi.


Luna mendengar suara barack yang memanggil namanya itu dari arah pintu, dia pun membuang pandangannya ke arah pintu masuk.


Mata luna terbelalak melihat barack sudah berdiri di depan pintu, luna kaget karena barack harus melihat kejadian yang memalukan itu bagi luna.


Barack terus menatap ke arah mata laki laki yang sangat asing baginya.


Dengan segera luna mendorong tubuh leo dan mencoba berdiri kemudian membenarkan rambut yang acak acakkan karena tergesek gesek dengan sofa.


Luna merasa bersalah dengan barack karena harus melihat kejadian itu.


Barack mencoba menahan rasa yang berkecamuk di dalam hatinya yang dia sendiri tidak tau kenapa, sampai bisa seperti itu, saat melihat luna dengan laki laki yang asing di matanya.


Luna merapihkan rambut yang mencoba menutupi mata kanannya,


"e, , ini leo" kata luna kepada barack dengan wajah yang merasa bersalah.


"dan, leo, , ini barack" kata luna kepada leo sambil menyenggol lengan leo dengan sikutnya.


Leopun mengulurkan tangannya untuk bermaksut berjabat tangan dengan barack.


Namun barack sebaliknya, dia malah membungkus dalam dalam ke dua tangannya ke dalam saku celana. Sambil menatap ke arah luna seolah olah dia bertanya kepadanya 'siapa laki laki ini'.


"mmmm, oke, sepertinya ini waktunya aku harus pergi dulu, lun, , kamu masih berhutang banyak jawaban padaku, kalau begitu aku pergi dulu" kata leo sambil menarik tangannya kembali. Dan sebelum pergi dia sempat memegang atas kepala luna kemudian mengacak acaknya perlahan. Dan membuang senyum manis ke arah barack yang terus menatap ke arahnya dengan sinis.


Seketika ruangan menjadi hening, sampai sampai suara angin yang berhembus melalui sela sela jendela pun terdengar.


Tatapan barack tidak pernah berubah selalu ke arah luna yang masih diam dan tidak tau mau berbuat apa.


"mmm, kamu duduk dulu, aku buatin minuman" luna melangkah meninggalkan ruang tamu.


"tidak usah" kata barack ketus sehingga menghentikan langkah kaki luna.


"kamu, kesini" luna mencoba bertanya ada perlu apa barack tiba tiba datang tanpa memberi kabar.


"aku kesini menjemputmu karena mamah menyuruh aku dan kamu datang kerumah, tadi aku juga sempat telepon kamu berkali kali untuk memberimu kabar bahwa aku akan menjemputmu, tapi tidak ada jawaban" kata barack menjawab semua pertanyaan luna termasuk pertannyaan yang ada di otaknya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2