Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
40 CEO: Love's Romance Kenzi


__ADS_3

Dret dret!!!


Aileen melirik kearah layar ponselnya yang menyala, di sana dia melihat bahwa Koyoko sedang menghubunginya.


Belum sempat mengangkat panggilan dari Koyoko, David sudah melirik sengit kearah Aileen terlebih dulu. Aileen menyadarinya ujung matanya pun terarah kepada laki laki itu.


"Laki laki ini benar benar membuatku tidak nyaman!"


Aileen berjalan mendekati jendela, dia membuka tirainya sambil menjawab panggilan dari Koyoko.


"Hallo?"


"Hallo sayangkuuuu, , kemana saja kamu!!, , aku sangat merindukanmu. berapa hari kita tidak bertemu coba?. Di mana kamu sekarang?" suara Koyoko terdengar sangat nyaring di telinganya.


"Aku ada di rumah teman" Aileen melirik kearah David yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Kapan kamu pulang?"


"Coba nanti sore ya, , oh ya bagimana keadaan adikmu?"


"Dia baik" suara Koyoko terdengar melemah setelah membicarakan tentang adiknya.


"Terima kasih Aileen"


"Sama sama, , sudah berapa kali coba kamu mengucapkan kata itu. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan adikmu"


"Ggggmmm!!!" David berdehem dengan sangat keras, hingga Koyoko yang di seberang sana bisa mendengarnya.


"Kamu sedang bersama seorang laki laki?" suara Koyoko terdengar sangat histeris ketika mendengar ada seorang laki laki di samping Aileen.


Sebelum merambat kemana mana, akhirnya Aileen memutuskan panggilan.


"Sudah dulu ya, aku masih sibuk. Daaahhh, , muah!" Aileen menghela nafas penuh kelegaan. kalau dia tak menyudahi panggilannya, dia yakin Koyoko pasti akan semakin penasaran.


Aileen berjalan menuju kearah ranjang, dia terlihat ragu ketika ingin berucap.


"Apa kamu sudah merasa baikkan?, , jika iya maka nanti sore aku akan pamit untuk pulang"


David terdiam sementara tangannya masih sibuk mengetik membalas pesan.


Aileen semakin mendekati David karena penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh laki laki itu.


Karena tahu kalau Aileen sedang mengawasinya, David pun menyimpan ponselnya.


"Kamu ingin pulang?" David mengalihkan pandangannya kearah Aileen yang sedang berdiri di depannya.


"Ya, , aku sudah berjanji kepada Koyoko. Kalau akau akan pulang sore ini"


David terdiam, dia juga sadar tak bisa membuat Aileen berlama lama tinggal di tempatnya.


Laki laki itu menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Aileen.


"Yaaa sudah, , kalau mau pulang, pulang saja!!, , sekarang juga bisa kan? kenapa harus menunggu nanti sore?"


"Hiiiihhh!!!, , kalau sekarang aku boleh pulang kenapa tidak menyuruhku dari tadi saja?? dia pasti sengaja menahanku di sini!!


"Ya baiklah!!, , aku akan pergi sekarang!!" baru saja memutar tubuh untuk melangkah menuju pintu, David mengangkat panggilan dari Carol.


"Ya??, , aku baik baik saja!"


Setelah mendengar David berbicara kepada Carol lewat ponselnya, Aileen sengaja memperlambat langkah kakinya. Entah kenapa dia merasa sangat penasaran dengan percakapan mereka.


"Apa aku perlu datang kerumahmu?"


"Tidak perlu, , aku juga sudah mendingan"


"Baiklah kalau begitu, aku juga sebenarnya masih ada di luar kota. Nanti kalau sudah pulang aku akan mengunjungimu. Jaga kesehatanmu"


David melirik ke arah Aileen yang masih berdiri di dekat pintu. Spertinya perempuan itu sengaja bertahan di sana untuk menguping pembicaraan.


David pun tersenyum kemudian dia sengaja memperbesar volume suaranya.


"Oke, , baiklah. Nanti malam aku tunggu ya" David sebenarnya sudah mematikan panggilan dari Carol sejak beberapa detik yang lalu. Namun dia sengaja berucap seperti itu untuk melihat reaksi Aileen.


Tetapi perempuan itu tak menoleh kearahnya, kemudian Aileen melangkah keluar dan menutup pintu.


David pun tersenyum lalu mengalihkan pandangan kearah ponsel di tangannya.


♡♡♡


Setelah turun dari mobil Iris melangkah masuk menuju lobi. Dia berjalan kearah lift untuk menuju kamar Kenzi.

__ADS_1


Ting tong!!


Dari arah dalam Kenzi yang sedang bertelanjang dada langsung membukakan pintunya. Dia mengira itu adalah room service.


"Ya?" ucapnya setelah berhasil membuka pintu.


Matanya langsung membulat ketika melihat Iris berdiri di sana.


Sementara Iris terdiam mematung setelah melihat pemandangan di depannya. Laki laki itu nampak indah, rambutnya yang basah setelaha mandi terlihat berantakan hingga menimbulkan kesan sexi bila di padu dengan dadanya yang terekspose itu.


"Maaf!!" Kenzi menggunakan kedua tangan untuk menutupi dadanya. Kemudian dia berjalan mundur menjauh untuk mengambil kaos.


"Tunggu!!, ,aku akan memakai pakaianku dulu, , bertahanlah di sana sebentar"


Pipi Iris bersemu, dia pun tersenyum.


"Kenapa aku yang malu?" gumamnya.


"Kamu boleh masuk sekarang" ucap Kenzi setelah selesai memakai kaosnya.


♡♡♡


"Jadi kamu sahabatnya Aileen??" Kenzi membuka minuman kaleng lalu memberikannya kepada Iris.


"Terima kasih" ucap Iris setelah menerima minuman itu.


"Iya aku sahabatnya, , kita satu kampus"


Kenzi duduk di kursi seberang meja. Mereka saling berhadapan sambil menikmati pemandangan kota dari balik kaca.


"Dia bilang dia tidak bisa menemuiku, apa dia sedang sibuk?" Kenzi menegug minumannya.


"Dia hanya sedang mengurus masalah kecil. Nanti setelah selesai pasti menemuimu" ujung mata Iris melirik kearah Kenzi untuk mengamati ekspresi wajah laki laki itu.


"Setelah mendapat pesan itu kamu langsung datang kemari, , kamu pasti sangat mengkhawatirkan keadaannya"


Kenzi terdiam, dia menatap wajah Iris dengan lekat.


"Pesan??" Kenzi hanya kebingungan, ketika bertanya kepada Aileen tentang pesan itu dia tak mengetahuinya. Tetapi kenapa malah Iris yang mengetahui tentang pesan itu.


"Kamu yang mengirim pesan singkat itu?" itulah yang sedang di pikirkan oleh Kenzi


Iris hampir tersedak minuman yang baru saja di tegugnya.


"Ee, , sebenarnya aku hanya" Iris merasa tidak enak sekaligus malu terhadap Kenzi.


"Aku tidak marah" Kenzi meletakkan minuman kaleng itu di atas meja. Kemudian kembali menatap Iris.


"Benarkah??" Iris merasa sangat senang ketika mengetahui Kenzi tak terganggu dangan hal itu.


"Benar juga, kamu bukan tipe laki laki yang mudah marah"


"Apa Aileen mengatakan hal itu kepadamu??"


Iris terpaku, dia yang tertunduk kemudian mengangkat kepala menghadapkan wajahnya ke arah wajah Kenzi.


"Iya. Ceritakan kepadaku seperti apa hubungan kalian?"


Kenzi mengulas senyum, dia terlihat malu ketika ingin menceritakan perihal hubungan dirinya dengan Aileen.


"Apa ini??, , kenapa senyum itu aku juga melihatnya ketika Aileen ingin menceritakan tentang kak Kenzi??


Iris sedikit merasa kecewa, namun dia tetap tersenyum kearah laki laki itu.


"Aku sudah mengenalnya cukup lama, kami dulu sering menghabiskan waktu bersama ketika duduk di bangkuk SMA. Sperti anak muda kabanyakan, makan, nonoton, pergi ke tempat tempat yang sedang In" laki laki itu tersenyum lagi. Dan Iris pun melihatnya.


"Kak Kenzi, , menyukainya?" pertanyaan Iris membuat Kenzi seketika mengalihkan pandangan kearahnya.


Laki laki itu terkekeh, ada guratan kecewa di raut wajahnya.


"Aku tidak mempunyai kesempatan untuk menyukainya, , . Dia, , " Kenzi seketika terdiam, raut wajahnya berubah dan terlihat datar.


"Dia tidak memberiku kesempatan untuk menyukainya. Dia bilang aku sudah seperti Kakak laki laki baginya"


"Apa dia sedang mengakui kalau cintanya bertepuk sebelah tangan??"


Iris menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya.


"Lalu, , kenapa aku meresa kecewa!! dadaku juga terasa nyeri"


"Lupakan kita bahas masalah yang lain" Iris berusaha mencairkan suasana yang sempat membuatnya tak nyaman.

__ADS_1


"Bagaimana??, , kalau kita sekarang mulai berpetualang?" Iris beranjak dari kursi, dia kembali penuh semangat untuk segera mengajak Kenzi keliling kota Paris.


♡♡♡


"Aileennn aku merindukanmu!!" Koyoko menyambut Aileen yang baru saja masuk rumah dengan sebuah pelukan.


"Koyoko aku tidak bisa bernafas!! lepaskan tanganmu!!"


"Kamu jahat sekali!!, , hampir satu minggu tidak bertemu. Kamu sudah tidak memperbolehakn aku memelukmu!!, ," Koyoko menyipitkan matanya kearah Aileen yang sedang berjalan menuju dapur.


"Apa ini karena laki laki yang aku dengar suaranya ketika aku menghubungimu?"


"Koyoko!!, , jangan suka ngawur" Aileen batu tersadar kalau sahabtanya itu sudah terlihat sangat rapih.


"Kamu mau pergi kemana??, , baru juga aku pulang kamu sudah mau pergi??"


"Aku sudah ada janji dengan seseorang!" Koyoko berucap dengan lirih karena merasa malu.


"Apa kamu akan pergi dengan laki laki itu??" ucapan Aileen merujuk kepada laki laki yang pernah dilihatnya waktu itu.


Koyoko pun mengangguk dengan perlahan.


"Kenapa??, , kenapa kamu melihatku seperti itu??"


Aileen menghela nafas, kemudian tangannya bergerak membuka kulkas dan mengeluarkan air mineral dari sana.


"Aku merasa khawatir dengan hubungan kalian"


"Tenang saja, , aku bisa menjaga diriku dengan baik!!"


"Yakin kamu tidak akan menyulitkanku??"


"Heeii!!, , kenapa kamu bicara seperti itu. Bukankah itu gunanya teman?, , saling menyulitkan satu dama lain!"


"Sialan!!" Aileen melempar tutup botol kearah Koyoko. Namun perempuan itu menghindar sambil tertawa


Tin tiinn!!!


Setelah mendengar suara klakson mobil dari arah luar, Koyoko berlari kecil menghampiri Aileen.


"Aku pergi dulu, kamu jaga rumah ya" ucapnya kemudian mengecup pipi Aileen.


Koyoko pun berlari kearah keluar untuk menemui Jacq


Sementara Aileen masih terdiam melamun, dia merasa khawatir dengan sahabatnya itu


♡♡♡


Menjelang sore hari Iris dan Kenzi terlihat menaikki bus dan duduk di deretan bangku bagian belakang. Mereka sengaja tidak naik mobil karena ingin lebih menikmati suasana kota Paris. Terlebih lagi bagi Kenzi yang sudah lama tak menginjakkan kakinya di kota itu.


Iris yang duduk di sebelah Kenzi hanya memandangi laki laki itu dari arah dekat. Dari beberapa tempat yang sudah mereka kunjungi, sepertinya Kenzi tahu betul seluk beluk tempat itu. Akhirnya Iris memutuskan untuk melontarkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


"Apa sebelumnya Kak Kenzi pernah kemari??"


"Kenapa??" Kenzi menoleh, mengalihkan pandangannya kearah Iris.


"Aku hanya merasa kalau Kakak sangat mengenal tempat ini" Iris mengerutkan dahinya.


Laki laki itu tersenyum, kemudian berucap.


"Iya, , aku lahir di Paris. Kedua orang tuaku tinggal di sini"


Kedua alis Iris terangkat, dia tak menyangka akan hal itu.


"Tetapi semenjak aku berumur 10 tahun, aku pindah ke Tokyo. Di sana aku tinggal bersama Nenekku. Tapi dia baru meninggal beberapa bulan yang lalu"


"Oh, , maaf. Aku turut berduka!"


"Tidak apa apa"


"Kenapa Kakak pindah ke Tokyo??"


"Kedua orang tuaku sering bepergian keluar negeri. Makanya aku memilih untuk tinggal bersama nenek, itung itung di sana aku sekalian menjaganya. Saat aku kelas 3 SMA Ayahku membuat cabang perusahaan di sana. Dan setelah aku menyelsaiakn kuliah, Ayahku memintaku untuk mengambil alih perusahaannya"


"Ooh, , "


"Aileen tidak menceritakan hal itu kepadamu?"


"He??, , mmm. Dia tidak menceritakan tentang hal itu kepadaku"


"Semalam Orang tuaku bilang mereka sedang ada di Paris. Apa kamu keberatan kalau ikut denganku untuk menemui mereka??"

__ADS_1


"Menemanimu menemui kedua orang tuamu???" Iris terkejut dengan tawaran yang diberikan oleh Kenzi kepadanya.


__ADS_2