
Aryo menuntun Cici duduk di sofa. Setelah itu dia pergi ke kamar untuk mengganti kaosnya.
Bristi berjalan mendekat ke arah sofa dan duduk di sebelah Perempuan yang kini nampak menunudukkan kepalanya karena malu.
"Siapa namamu?" perempuan itu mengeluarkan sebuah korek dan sebungkus rokok dari dalam tasnya.
"Cici" Ujung matanya melirik ke arah dua benda yang sedang di pegang oleh Bristi. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit terkejut saat itu.
"Kamu mau??" ucap Bristi nawarkan rokoknya kepada Cici.
"Mm, terima kasih tapi aku tidak merokok" Cici berusaha menolak tawaran dari Bristi dengan sopan.
"Baguslah" perempuan itu melepar bungkus rokok ke atas meja begitu saja, setelahnya menyalakan korek untuk membakar rokok yang sudah terpasang di mulut. Menyesapnya dan membuang asapnya ke arah lain agar tidak mengganggu Cici.
Cici memalingkan wajah saat Bristi menengok melihat ke arahnya.
Bristi tersenyum, matanya menyapu seluruh tubuh Cici dari kaki hingga ujung kepalanya.
"Sudah berapa lama kamu jalan sama Aryo?"
Cici menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut kaka perempuan Aryo.
"Ee, ? itu. Aku dan Aryo hanya teman"
Bristi mengangkat ke dua alisnya.
"Hah ya Ampuunn!! mana mungkin kalian berteman. Melihat raut wajahmu yang tadi sempat cemburu saja sudah kelihatan" dia menyesap rokonya lagi dan membuang kepulan asap ke arah Cici hingga perempuan itu terbatuk batuk.
Bristi tertawa melihat tingkah Cici.
"Hey Aryo!! dimana kamu menemukan perempuan ini??, dia sangat unik. Berbeda dengan semua perempuan yang pernah dekat denganmu!" teriaknya seketika.
Pipi Cici merona, dia benar benar sangat malu.
"Jangan ganggu dia ka!, , kamu mau coba meracuni otaknya ya!!" teriak Aryo, laki laki itu berjalan menuruni anak tangga dan melangkah ke dapur.
Bristi tersenyum dan mematikkan rokoknya, menekan bagian ujung rokok yang memerah ke asbak.
"Tenang saja aku adalah kakanya Aryo, dia adikku yang paling susah di atur. Kami bertiga bersaudara adikku yang pertama sudah meninggal karena kecelakaan" Bristi menghela nafas panjang.
"Maka dari itu ketika aku mendengar dia sakit, aku langsung terbang dari tokyo ke sini. Aku khawatir dengannya karena tidak ada orang lain yang menjaganya. Tetapi karena sekarang sudah ada kamu, aku merasa sedikit lega"
Cici hanya diam mendengar ucapan Bristi, dia senang karena dirinya merasa sangat penting bagi mereka berdua.
"Kamu tahu Ci?, , Aryo tidak pernah membawa pulang perempuan ke apartementnya. Dia juga tidak pernah memperlihatkan keseriusannya kepada seorang perempuan seperti saat ini. Dia memang laki laki brengsek" ucap Bristi dengan nada santai.
"Tetapi dia laki laki yang bertanggung jawab"
Cici melihat ke arah Bristi, pandangan matanya terlihat penuh rasa keingin tahuan.
__ADS_1
"Aku tahu Aryo sering tidur dengan perempuan yang berbeda beda, walau pun itu hanya untuk sekedar senang senang. Aryo tidak pernah membiarkan perempuan yang pernah tidur dengannya hidup terlantar. Kamu tahu apa maksudku?" Bristi mengawasi ekspresi wajah Cici yang nampak gelisah.
"Tenang saja Aryo tidak pernah berhubungan lagi dengan perempuan yang sudah tidur dengannya. Yaaaa bisa di anggap itu sebagai gift untuk para perempuan atas pelayanannnya. Kalau kamu ingin dekat dengan Aryo, kamu harus tahu semua ini. Biar tidak ada kesalah pahaman nantinya"
Cici terkekeh, tawanya terlihat palsu ketika mendengar ucapan Bristi.
"Iya!! tapi bagaimana pun juga semua yang kamu ucapkan membuat telingaku terasa panas!"
"Aku tahu kalau dia benar benar serius denganmu. Hanya melihat matanya saja aku yakin dia sangat menginginkanmu. Sinar matanya tidak pernah berbohong ketika melihatmu! hanya ada dua perempuan yang bisa membuat Aryo melihat ke arahnya. Kamu dan Luna"
"Kamu"
"Aku tahu semua tentang adikku!" ucapnya memotong pembicaraan.
"Kenapa kamu masih saja mengganggunya?" Aryo berusaha menjadi pengganggu di antara kedua perempuan yang sedang asyik mengobrol.
Laki laki itu membawa dua botol minuman kaleng di tangannya kemudian duduk di sofa tunggal.
Setelah melempar pandang ke arah Bristi kini Aryo melihat ke arah Cici, tatapan mata mereka bertemu di sana.
"Ggmmm!!!" Bristi berdehem mencairkan suasan yang membuatnya sedikit merasa kikuk ketika Aryo dan Cici saling melempar pandang. Seketika membuat Cici memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ci, kamu mengerti dengan semua yang aku katakan tadi kan?" Bristi mengingatkan akan kepribadian Aryo yang tidak pernah Cici ketahui sebelumnya.
"Apa yang kamu bicarakan tentangku padanya?" ucap Aryo merujuk kepada kakanya.
"Sialan!! udah deh ka sekarang mending kamu balik ke hotel!!" Aryo beranjak dari sofa menghampiri kakanya yang kini tengah memeluk tubuh Cici untuk mencari pertolongan.
Aryo meraih tangan Bristi agar perempuan itu menjauh dari Cici.
"Ayo cepatlah!" Aryo memaksa Bristi dengan menarik tangannya, namun perempuan itu tak kunjung melepaskan tangannya dari Cici.
Cici tertawa, dia berusaha membantu Bristi dari Aryo.
"Aryo biarkan dia di sini" pintanya.
"Ha!! tidak bisa. Dia sudah menggngguku semalam suntuk, dan sekarang saatnya dia pergi"
"Aryo kamu jahat sekali!! biarkan aku di sini sampai besok!"
"Kamu harus pergi sekarang!" Aryo meraih kaki Bristi dan menggendongnya. Mengangkat tubuh perempuan itu ke arah pintu keluar.
"Aryo kamu memang benar benar jahat!" cibir Bristi, kakaknya berusaha mendramatisir sikap Aryo setelah berhasil turun dari gendongan dan berdiri di depan pintu.
"Ka!" ucap Aryo dengan penuh harap.
Bristi terkekeh kemudian.
"Oke, aku tidak akan menganggu kalian" Bristi tersenyum seolah dia sedang merencanakan sesuatu. Dan benar saja dia mendorong kepalanya melewati Aryo ke arah pintu masuk dan berteriak.
__ADS_1
"Aryo jangan sampai kamu membuat anak orang hamil!" setelah itu Bristi berlari ke arah lift sambil melempar senyum penuh kemenangan ke pada Aryo.
"Tutup mulutmu!" teriak Aryo.
♡♡♡
Aryo berjalan ke arah sofa setelah berhasil mengusir kakanya. Laki laki itu kini duduk di sebelah Cici. Dia membuat sedikit jarak di antara mereka agar terkesan memberi kenyamanan.
mereka berdua terlihat canggung satu sama lain ketika ruang itu terasa sunyi setelah Bristi pergi.
Cici semakin salah tingkah ketika Aryo melirik ke arahnya, perempuan itu menarik tubuhnya ke arah samping sedikit menjauh dari Aryo.
Aryo menarik punggungnya ke belakang menyangga kepalanya dengan salah satu tangan yang bertumpu di sofa dan menghadap ke arah Cici.
Laki laki itu tersenyum kemudian.
"Katakan padaku kenapa kamu sempat marah tadi?"
Cici memalingkan wajahnya ke arah Aryo.
"Aku?? aku tidak marah, , , hanya takut mengganggu waktumu, saat"
"Saat sedang bersama seorang perempuan yang sempat kamu pikir itu adalah selingkuhanku?" ucap Aryo memotong pembicaraan.
Cici membuang pandangannya ke arah lain. Memghindari tatapan mata Aryo yang membuatnya gugub dan malu.
Salah satu tangan Aryo bergerak meraih dagu Cici, berusaha memaksa perempuan itu menghadap ke arahnya.
"Kamu cemburu?" ucapnya setelah beberapa detik sebelumnya menatap mata Cici dengan lekat. Hingga membuat perempuan itu berdebar.
"E, aku, aku sebenarnya kesini untuk memastikan keadaanmu" Cici mengalihkan pembicaraan, tangannya pun berusaha menepis tangan Aryo yang masih bertahan di dagunya dengan lembut.
Cici memastikan suhu badan Aryo dengan tangannya. Perempuan itu menyentuh leher Aryo dan bagian itu adalah bagian tubuh yang lumayan sensitif bagi Aryo.
Aryo meraih tangan Cici dan meggenggamnya. Menahan tangan perempuan itu agar tetap berada di sana.
"Kamu yakin? kamu datang ke sini karena ingin memastikan keadaanku saja?"
Dengan cepat Cici menganggukkan kepalanya.
Aryo mengalihkan pandangan matanya ke arah bibir Cici.
"Bukan karena rindu denganku?" ucapnya kemudian. Laki laki itu tersenyum seakan tahu isi hati Cici.
"Ha?" Cici nampak terkejut. Dia berusaha menarik tangannya dan memalingkan wajah dari tatapan Aryo.
Aryo menarik tengkuk Cici dengan tangan yang sedari tadi menyangga kepalanya. Memaksa perempuan itu kembali menghadap ke arah wajahnya.
Laki laki itu memgecup bibir Cici seketika, hingga membuat perempuan itu tidak bisa mengelak.
__ADS_1