
Beberapa teman Helena nampak datang dan menghampirinya. Mereka berbincang bincang sambi bergurau di sana.
Di sisi lain seorang laki laki terlihat sedang berjalan dengan membawa sebuah gelas minuman, dia menghentikan seorang pelayan yang membawa nampan dan beberapa gelas berisi anggur.
Laki laki itu berbisik kepada pelayan.
Setelahnya pelayan berjalan ke arah Helena dia menawarkan minuman kepada perempuan itu.
Sengaja menghadapkan gelas dari laki laki misterius itu ke arah Helena.
Perempuan itu mengambil dua buah gelas dari atas nampan.
"Kamu mau?" Helena menyodorkan minuman itu ke arah Barack.
Barack menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak minum" ucapnya kemudian.
"Ayolah, hanya sedikit saja" Helena terus memaksa Barack menerima gelas pemberiannya.
"Helena aku tidak bisa minum alkohol!!" ucap Barack dengan penuh penekanan.
"Okee!! kalau begitu biar aku yang minum" Helena mengangkat gelas ke arah temannya sebelum menegug habis dua buah gelas minuman sekaligus secara bergantian.
Sementara Barack hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Helena.
Barack kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah Luna, dan melempar senyum kemudian.
Tak butuh waktu lama, Helena merasa ada yang aneh dengan dirinya. Biasanya dia sanggup untuk menghabiskan berbotol botol minuman. Namun entah kenapa malam itu hanya dengan dua gelas saja dia sudah merasa pusing.
Helena mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyadarkan diri, karena matanya mulai berbayang ketika melihat sekitar.
Tubuhnya sempoyongan hingga hampir terjatuh dan menubruk tubuh Barack.
"Helena!!" Barack yang sedang mengobrol pun nampak kebingungan dengan sikap Helena. Dia meraih pundak perempuan itu untuk membantunya berdiri tegap.
Namun ternyata Helena sudah berada di bawah pengaruh alkohol.
"Kamu mabuk?" Barack berucap untuk memastikan.
Helena nampak tersenyum seperti orang yang kehilangan akal pikirannya.
"Aku mau minum lagi!!, , dimana minumannya" Helena berucap dengan nada tinggi, dia berhasil membuat beberapa orang melihat ke arahnya.
"Helena apa kamu sudah gila!!"
"Aku tidak gila, , aku ingin minum. Dan lagi!! kenapa suara musiknya kecil sekali. Ayo doonk, , keraskan lagi suara musiknya" Helena benar benar sudah mabuk berat.
Barack ingin menyuruh Helena duduk di kursi dan menenangkannya, tetapi sikapnya sudah terlalu mencolok hingga membuat orang berbisik bisik.
Laki laki itu terlihat malu ketika semua orang melihat ke arahnya.
Barack berusaha mencari keberadaan Luna untuk mengajak Istrinya itu mengantar Helena kembali ke kamar.
Kebetulan selama di Indonesia, Helena tinggal dii hotel itu.
Mata Barack menyelidik ke atah rerumunan orang orang. Dia berusaha mencari Luna namun terhalang oleh orang yang berlalu lalang.
Karena Helena semakin tak bisa di kendalikan, akhirnya Barack memutuskan mengantar perempuan itu kembali ke kamar sendiri.
Dia menuntun Helena keluar dari ruangan itu dan berjalan masuk ke dalam lift.
♡♡♡
Barack membiarkan Helena terduduk di lantai, perempuan itu masih bergumam sendiri di sana. Tangan Barack bergerak meraih dompet Helena, membukanya dan mengambil sebuah kartu akses untuk membuka pintu kamar.
Pintu lift terbuka, Helena tak snaggub untuk berdiri. Barack pun merangkul perempuan itu dan memapahnya keluar dari lift.
__ADS_1
Setelah sampai di depan kamar Helena, Barack menggunakan kartu akses untuk membuka pintunya.
Setelah terbuka secara otomatis, Barack menyeret Helena.
Sejenak dia menghela nafas panjang setelah berhasil meletakkan tubuh Helena di atas ranjang.
Laki laki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Helena.
"Kamu benar benar menyusahkan!!" gumamnya.
Barack melanglah keluar dari kamar, namun belum sempat dia menutup pintu, seseorang telah memukul bagian tengkuk Barack dengan sangat keras hingga tubuhnya jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.
♡♡♡
Acara pun sudah di mulai beberapa menit yang lalu setelah Barack keluar dari ruangan itu.
"Kamu mau minun?" Adrian menyodorkan sebuah gelas berisi anggur berwarna kuning keemasan ke arah Luna.
"Tidak, aku sedang mengandung. Jadi tidak bisa minum itu"
"Owh, maaf aku lupa akan hal itu" Adrian menarik kembali tangannya, dan memutuskan untuk mengembalikan gelas itu ke pada pelayan yang lewat di depannya.
"Kamu ingin minum apa? aku akan mengambilkannya untukmu"
"Tidak perlu" Luna mencoba menolak dengan halus tawaran dari Adrian.
Luna merasa tidak nyaman karena terlalu lama jauh dari Suaminya. Dia membuang pandangannya ke arah lain untuk mencari Barack.
Hingga di tengah tengah acara Luna tak menemukan keberadaan Barack dan Helena.
Perempuan itu merasa khawatir ketika dia sudah berusaha mencari mereka berdua namun tak menemukanmya di setiap sudut.
"Kamu kenapa?" Adrian berucap ketika raut wajah Luna mulai terlihat gelisah.
"Eee, , aku tidak bisa menemukan Suamiku, , apa kamu melihatnya?" Luna mengalihkan pandangannya ke arah Adrian.
Luna mencoba untuk tetap tenang walau pun sebenarnya kedua bola matanya terus bergerak kesana kemari, menyelidik satu persatu setiap orang di sana.
"Aku akan menyuruh orang untuk mencari mereka, jadi bisakah kamu tenang dan duduk di kursi?" Adrian menenangkan Luna lagi, perempuan itu semakin terlihat gelisah.
"Baiklah" Luna pun mengikuti ucapan adrian, dia duduk di kursi dan mencoba menetralkan perasaannya.
Karena orang suruhan Adrian tak kunjung kembali hingga membuat Luna semakin gelisah, akhirnya Adrian memutuskan untuk ikut turun tangan dan membantu mencari keberadaan Barack
"Kamu tunggu di sini, dan ingat!! jangan kemana mana" Adrian berucap, seolah itu seperti sebuah perintah kepada Luna.
Perempuan itu hanya mengangguk menuruti permintaan Adrian.
♡♡♡
Kening Luna berkerut, hampir setengah jam Adrian tak nampak batang hidungnya.
Dia beranjak dari kursi, lalu berdiri sambil menyelidik ke arah rerumunan orang. Entah keberapa kali dia melakukan hal itu.
Ada guratan kelegaan di wajah Luna ketika melihat Adrian sedang berjalan ke arahnya.
"Apa kamu melihatnya??" Luna merasa tidak sabar ingin segera mendengar kabar tentang Suaminya.
Raut wajah Adrian terlihat murung, dia seakan menyembunyikan sesuatu dari Luna.
"Adrian katakan di mana dia?"
"Ikutlah denganku" Adrian meraih tangan Luna dan menggandengnya, menuntun perempuan itu melewati rerumunan orang di pesta itu.
Adrian mengajak Luna ke sebuah ruangan.
"Kenapa mengajakku ke sini?" Luna merasa kebingungan ketika Adrian membawanya ke tempat yang minin penerangan dan terdapat banyak layar di sana.
__ADS_1
Itu adalah ruang pengawas. Di sana Luna bisa melihat di mana Suaminya berada melewati sebuah kamera CCTV.
Matanya tertuju pada sebuah layar terbesar dari layar lainnya yang ada di sana.
Seorang petugas memperlihatkan kepada Luna, rekaman CCTV di depan sebuah salah satu kamar di hotel itu
Matanya membulat, alisnya menyatu untuk memastikan seorang laki laki yang tengah merangkul perempuan dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Petugas membantu Luna dengan memperjelas rekaman itu. Dia memperbesar bagian tubuh laki laki dan perempuan di layar besar. Mata Luna semakin terbelalak lebar ketika Dapat di pastikan bahwa Laki laki itu adalah Barack.
Luna memaku wajahnya. Sementara ujung matanya nampak berkilau karena air yang mencuat keluar dari kelopak matanya.
"Apa sampai sekarang mereka masih ada di sana??" bibir Luna bergetar ketika melontarkan pertanyaan itu kepada Adrian.
Adrian menghindari tatapan mata Luna yang terlihat sangat kecewa.
"Rekaman CCTV tidak menangkap gambar ketika Barack keluar dari ruangan itu, Jadi kemungkinan besar mereka berdua masih berada di sana"
"Antarkan aku menemui mereka!" ucapnya dengan nada lirih.
"Luna?" Adrian berusaha menenangkan perempuan itu.
"Antarkan aku ke sana!!!" Luna menaikkan nada bicaranya. Dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya ketika pikirannya mulai meracau.
♡♡♡
Adrian menyuruh pegawai untuk membuka pintu kamar itu dengan kartu akses cadangan.
Karena merasa tidak sabar setelah pintu terbuka secara otomatis, Luna langsung mendorong kuat pintu itu.
Dia berjalan pelan masuk ke dalam, dia berusaha untuk memantapkan diri dengan apa yang akan dilihatnya nanti. Kakinya terhenti setelah beberapa langkah dari pintu dia melihat kemeja Barack teronggok di lantai begitu saja.
"Lun??" Adrian meraih pundak Luna.
"Lebih baik kita keluar dari sini"
Pandangan mata Luna terlihat kosong, dia menepis kasar tangan Adrian yang berada
di pundaknya.
"Aku harus melihat mereka!"
Luna kembali melangkah lebih dalam, matanya mulai memerah. Genangan air mulai membanjiri ke dua matanya.
Dadanya serasa ingin meledak ketika melihat Barack dan Helena berada di dalam satu selimut.
Tubuh perempuan itu tak tertutup sepenuhnya, pundaknya yang putih bersih terlihat menempel di dada Suaminya. Ya Barack telanjang dada ketika memeluk tubuh Helena di sana.
Nafas Luna memburu, dadanya terasa sesak hingga sulit untuk bernafas. Darahnya mulai memanas dan menjalar ke seluruh tubuh dengan sangat cepat.
Kedua kakinya bergetar hingga tak mampu menopang tubuhnya dengan baik.
Adrian yang senantiasa berdiri di sampingnya pun menangkap tubuh Luna, membantu perempuan itu berdiri tegap di kedua kakinya.
Air yang semula menggenang di mata Luna, kini jatuh menelusuri pipinya. Ekspresi wajahnya tak terbaca ketika melihat Laki laki yang di cintainya tengah tertidur sambil memeluk perempuan lain.
Keining Barack berkerut, perlahan dia membuka matanya setelah mendengar suara bising di dalam sana.
Namun dia kembali menutup matanya rapat rapat ketika merasakan rasa sakit yang teramat di bagian belakang kepalanya.
Dia berusaha membuka kembali matanya, laki laki itu memalingkan wajahnya ke arah Luna yang berdiri jauh di sampingnya.
"Luna??" Barack ingin merubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang, namun tubuh Helena membuatnya tak bisa bergerak. Hingga akhirnya dia mendorong tubuh perempuan itu agar menjauh darinya.
Barack terlihat kebingungan ketika mendapati dirinya tengah telanjang sambil memeluk tubuh Helena.
Kembali dia mengalihkan pandangannya ke arah Luna. dia menatap wajah Istrinya yang sudah nampak tak sanggup menahan air matanya.
__ADS_1
Luna berusaha keras untuk tidak menangis histeris, dia memilih diam namun dalam kediamannya perempuan itu terlihat lebih mengerikan.