
Dalam perjalanan pulang menuju rumah luna.
Leo hanya diam, senyum yang dari tadi menghiasi wajahnya tampak tidak terlihat saat itu.
Luna melihat ke arah leo yang masih terdiam, di wajahnya terlihat ada berbagai pertanyaan untuk leo, namun melihat leo yang membisu dan terus fokus ke depan luna merasa tidak enak untuk menanyakannya.
"kenapa?, , kalau ingin bertanya, tanya saja?" Suara leo terdengar lembut di telinga luna. Dan lagi lagi leo tahu apa yang sedang di fikirkan oleh luna saat itu, padahal leo selalu menatap ke arah depan.
"Kenapa malah diam" tambahnya, namun kali ini dia menatap ke arah luna sambil tersenyum tipis, entah kenapa senyumnya itu tidak seperti sebelum sebelumnya.
"Tidak apa apa kok, , " jawab luna dengan nada lirih.
"Oh iya, , besok kita jadi kencan nih?" terlihat wajah luna begitu gembira.
Leo melihat ke arah luna dengan tatapan yang tidak pasti.
"Mmmm, , " leo tidak tidak menjawab.
Wajah luna terlihat agak sedikit kecewa.
"Yah, , tidak jadi, juga tidak apa apa" suaranya sedikit agak berat di telinga leo.
Melihat sikap luna membuat leo tertawa geli.
"Kenapa?? kecewa?, , aku besok ada urusan mendadak jadi" kata kata leo membuat luna semakin tidak bersemangat lagi.
"Kamu yang membuat janji, , kamu sendiri yang mengingkari, terus kamu juga tidak bisa mengantar aku ke galeri klara berarti?" kata luna dengan nada lirih.
Pandangan leo kembali lagi ke arah luna.
"Sorenya aku akan menemui kamu, jangan cemberut begitu donk, , hilang nanti cantiknya" Leo mulai menggoda luna sambil sesekali memperlihatkan senyumnya yang manis itu kembali terlihat di wajahnya.
Di sisi lain mobil barack berhenti di depan galeri klara. Terlihat sekali di wajah barack bahwa dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Pandangan matanya tertuju ke arah lain seolah olah dia lupa bahwa masih ada klara yang duduk di sampingnya.
Tubuhnya memang berada di samping klara namun pikirannya melayang layang jauh entah kemana.
"Mmm, terimaksih" suara klara memecah pikiran barack saat itu.
Barack masih saja terus diam sambil memalingkan wajahnya ke arah klara.
"Kamu istirihat ya, , beberapa hari lagi fashion shownya akan di mulai, , kamu pasti akan sibuk sekali" kata barack dengan wajah yang sedikit terlihat lesu.
Entah kenapa klara merasa suasana hati barack, hari ini tidak seperti biasanya.
"Kamu tidak apa apa kan?" tanya klara sambil melihat ke arah barack.
Barack hanya mengangguk pelan sambil menatap ke arah mata klara. Tatapan matanya seperti ingin mengatakan sesuatu kepada klara, namun tidak tahu harus bagaimana memulainya.
"Mmm, , maaf klara, aku tidak bermaksut apa apa, , hanya saja, bolehkah, , aku meminta kembali , , cincinnya?" kata barack sambil terbata bata, karena takut kalau perkataannya akan menyakiti perasaan klara.
Barack sudah siap ketika klara akan marah besar mendengarnya mengatakan hal itu, namun yang terjadi malah sebaliknya.
Terdengah suara tawa yang sangat renyah keluar dari mulut klara.
"Ya ampuuuun, , hanya karena ingin meminta cincin ini kembali, raut wajah kamu sampai terlihat pucat seperti ini?" kata klara sambil terus tertawa dan memandangi wajah barack yang masih terus terpaku tanpa ekspresi itu.
"Coba lihat wajah kamu ini" kata klara sambil memagangi rahang barack dan di hadapkannya ke arah kaca sepion yang ada di depannya.
"Wajahmu terlihat seperti melihat setan" klara masih terus tertawa.
Namun barack hanya memandang ke arah klara yang mulai berair matanya karena terus tertawa.
"Sebentar, kenapa kamu sampai tertawa sebegitunya? bagian mana yang lucu?" mulai terlihat kerutan di wajah barack.
"Wajahmu, , oke, , aku akan berhenti tertawa" kata klara sambil melepas cincin yang melingkar di jari telunjuknya. Dan kemudian memberikannya kepada barack.
"Ini" klara mengulurkan tangannya yang sedang memagang cincin itu, namun barack hanya diam saja sambil memandangi cincin yang ada di tangan klara.
"Ayo ambil, katanya mau diminta lagi, kenapa malah diam saja" klara memberikan cincin itu ke telapak tangan barack.
"Aku minta maaf" kata barack kepada klara sambil terus memandangi cincin yang sudah ada di tangannya.
"Kenapa harus minta maaf, aku seharusnya yang meminta maaf, itu pasti cincin keluarga kamu kan?, soalnya sepupu kamu juga punya" yang di maksut klara adalah luna.
__ADS_1
"Ya sudah, aku masuk dulu ya" klara membuka pintu mobilnya dan segera turun dari mobil.
Sedangkan barack mulai menyalakan mesin mobil kemudian meninggalkan klara yang masih berdiri membelakanginya.
Dibaliknya tubuh klara untuk melihat ke arah mobil barack yang mulai sudah menghilang perlahan di gelapnya malam.
Wajahnya mulai terlihat datar tanpa ekspresi, seolah olah menggambarkan bahwa dia seperti mengetahui sesuatu namun masih belum pasti akan hal itu.
Pagi harinya di kamar luna, terdengar suara berisik dari ruang tengah rumah bu cokro membuat luna yang masih tengah tidur pulas membuatnya sedikit sadar dari tidurnya.
Usahanya untuk menutup kembali matanya sepertinya percuna saja karena dia benar benar terganggu dengan suara yang berasal dari ruang tengah itu.
Kebetulan saat itu adalah hari minggu jadi dia berfikir kalau yang sedang berbincang bincang di ruang tamu itu pasti ke dua orang tuanya.
Luna masih merasa malas untuk bangun dari tidurnya, dia mencoba mengedip kedipkan matanya sambil terus mencoba menerawang suara yang mengganggunya itu, soalnya dia merasa mendengar suara orang lain selain ke dua orang tuanya.
Dia terbangun dari rebahannya dengan cepat, dan matanya pun sudah terlihat segar, karena tiba tiba rasa kantuknya menghilang.
Dia melangkahkan kakinya keluar kamar dan berjalan perlahan menuruni anak tangga.
Seperti sedang menguntit seseorang seperti itu pula yang luna lakukan saat memastikan siapa saja yang ada di ruang tamu.
"kenapa suaranya seperti tidak asing ya?" kata luna dalam hati.
Dia terus memastikan siapa saja yang ada di ruangan itu. Saat luna sedang mengendap endap tiba tiba mamahya berjalan ke arah dalam menuju ruang dapur.
Tubuh luna memaku, wajahnya memerah karena mamahnya harus melihat dia seperti sedang mengintip seseorang, memang benar kalau dia sedang mengintip sih.
Mamahnya memandang luna dengan tatapan aneh.
"Kamu sedang apa di situ?" kata mamahnya kepada luna.
"Ee, , aku, , aku sedang olah raga mah" kata luna sambil memeragakan pushUp karena waktu itu luna sedang mengintip sambil merangkak di lantai.
"Tumben?, kenapa disini, sana di halaman belakang" kata mamahnya sambil menunjuk ke arah halaman belakang.
"Oh iya mah, ada tamu siapa?" tanya luna sambil mengikuti mamahnya yang berjalan ke arah dapur. kemudian dia menuangkan air putih ke dalam gelas dan menegugnya pelan.
"Tante bowo, sama pihak WO yang akan mengurus pertunangan mu nanti" kata mamahnya sambil menbuatkan minum untuk tamunya.
"Pelan pelan lun" kata mamahnya sambil melihat ke arah luna.
"Memang cincinnya sudah jadi mah?" tanya luna merasa heran.
"Belum lah, lagi pula kan acaranya masih dua minggu lagi, yang terpenting kita bicarakan dulu sama pihak WO, sudah ya mamah ke depan lagi menemani tante bowo, kamu mandi sana, sudah jam sembilan, perawan bangunnya kok siang" kata mamahnya sambil membawa nampan dengan beberapa gelas berisi air di atasnya.
"Iya mah, lagi pula, apa hubungannya perawan dengan bangun siang???" luna bergumam sendiri.
Luna pun segera pergi ke kamarnya dan bergegas mandi.
Setelah selesai mandi dia barganti baju dengan rapih karena nanti siang ada janji bertemu dengan klara untuk datang ke galerinya mencoba gaun yang akan di pakainya nanti saat fashion show.
Hari itu dia terlihat manis memakai jepit rambut di kepalanya agar rambutnya terlihat rapih.
Dia berjalan menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu.
"Luna, kamu cantik sekali, , mau pergi kemana?" tanya bu bowo yang melihat luna datang dari arah dalam.
"Mmm, , luna janji sama teman mah" kata luna kepada bu bowo.
"Perginya nanti dulu ya, nanti mamah akan menyuruh barack menemanimu, sebentar lagi dia datang ko" kata bu bowo.
"E, , tidak perlu mah, luna bisa naik mobil sendiri kok" kata luna.
"Jangan begitu, sudah punya calon suami, kalo pergi kemana mana ya jangan sendirian, sudah lebih baik sekarang coba lihat ini dulu, ini contoh bunga bunga yang akan di pasang di setiap meja" kata bu bowo sambil memperlihatkan katalog ke pada luna.
Luna sebenarnya merasa malas, namun dia mengikuti kata bu bowo untuk sekedar menghormati keinginannya.
Terdengar suara mobil yang baru saja datang, itu adalah mobil barack.
Dia memarkirkan mobilnya dan kemudian segera turun.
Dia berjalan menuju ke arah pintu masuk rumah luna.
__ADS_1
Luna melihat ke arah barack yang hari itu terlihat tampan sekali.
Sampainya di dalam mata barack langsung tertuju kepada luna yang tengah duduk di samping mamahnya.
Wajah barack terlihat malu dan tersipu.
"Sini sayang, kamu lihat lihat ini dulu sama luna, nanti mau pilih bunga yang mana saja, tinggal bilang sama mbaknya ini ya?" kata bu bowo sambil menunjuk ke arah orang yang mengurus acara pertunangan mereka nanti.
"Ayo duduk disini dekat luna, mamah akan membuat camilan dulu sama bu cokro di belakang ya" kata mamahnya sambil berjalan menuju ke arah dapur.
Kemudian barack duduk di sebelah luna dengan perasaan sedikit canggung.
Tercium aroma dari tubuh barack yang sangat khas di hidung luna, saat barack mulai duduk di sebelahnya.
Pipi luna memerah padam setelah barack duduk di dekatnya.
Detak jantungnya terdengar keras sekali di di rongga telinga luna.
Begitu juga sebaliknya dengan barack.
Dia mulai melihat contoh contoh bunga yang ada di katalog itu, namun kecantikan luna hari itu seolah olah menuntun mata barack menuju ke wajahnya.
Dipandangnya wajah luna dari arah dekat.
Luna menyadari bahwa barack sedang menatap ke arahnya, dia pun membuang pandangannya ke arah wajah barack.
Mata mereka saling bertemu, dan mereka pun saling memandang satu sama lain.
Tapi tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh barack, yang pasti luna menatapnya dengan penuh harap.
"Jadi bunganya mau pilih yang seperti apa mbak, mas?" suara dari pihak WO itu membuat luna dan barack melepas pendangannya dari satu sama lain, mereka merasa malu dan terlihat salah tingkah.
"Bagaimana mas?" tanyanya lagi.
"E, , biarkan dia yang memilih mbak, aku ikut saja" kata barack sambil memperlihatkan senyum tipis di wajahnya.
Tidak lama kemudian mamahnya datang membawa camilan yang sudah jadi.
"Luna kamu tidak jadi pergi dengan temanmu?" tanya mamahnya sambil meletakkan piring berisi camilan di meja.
"Mmm, sebentar lagi mah" jawab luna pendek sambil sesekali melirik ke arah barack.
"Nanti biar di antar sama barack ya" kata bu bowo yang baru saja keluar dari arah dalam.
"Mmm, tidak usah mah, luna bisa sendiri kok" jawab luna.
"Kenapa? lebih memilih di antar sama temanmu itu ya" Kata barack kepada luna dengan nada lirih sekali, sengaja agar orang tuanya tidak mendengar.
"Kenapa memangnya?, karena dia dengan senang hati mengantar aku, kenapa aku harus menolaknya!" jawab luna dengan nada lirih sambil menggeregetkan giginya karena merasa jengkel dengan perkataan barack.
"Tidak boleh, karena aku yang akan mengantarmu!" kata barack dengan nada penuh penekanan.
"Aku tidak mau!, , "jawab luna dengan sewot.
"Kita jalan ke mobil, atau akau akan menggendonmu!" bisiknya kepada luna, barack beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari rumah luna.
Dengan berat hati luna menerima ajakan barack, karena sebenarnya teman yang akan dia temui adalah klara. Makanya dia tidak ingin barack bertemu dengan klara.
Saat di dalam mobil setelah keluar dari halaman pakir rumah luna.
"Mau kemana?" tanya barack kepada luna.
"Ketempat klara" jawab luna dengan nada ketus.
Barack pun melihat ke arah luna dengan tatapan yang sedikit merasa bersalah.
"Semalam aku sudah mengambil kembali cincinnya" kata barack.
"Kenapa harus bilang padaku, waktu dia mengambilnya dari tangan kamu saja,, kamu tidak meminta ijin padaku?" jawab luna dengan nada ketus.
Barack hanya melirik ke arah luna yang raut wajahnya terlihat masam saat itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa bintang 5 dan like.
Seperti hati author yang like like padamu 😂😘😘