Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#83 firasat buruk


__ADS_3

Dengan cepat dia langsung kembali berjalan mundur menghindari mobil itu.


Dada luna berdebar debar dengan kencang.


Hampir saja dia tertabrak mobil ketika ingin menyeberangi jalan tanpa melihat kanan kiri terlebih dulu.


Benar benar seperti anak kecil yang tidak sabaran ketika melihat penjual es krim.


Ruang rapat mulai sepi kembali setelah paran founder meninggalkan ruangan itu.


Terlihat barack saling lempar pandang dengan satya yang duduk di sampingnya.


"Begini saja kamu minta tolong aku?, , sepertinya aku salah mengangkatmu sebagai tangan kananku" nada bicara barack terdengar mengejek ke pada satya.


"Jangan gitu donk, , mereka mana mau kakau aku yang menjelaskan semuanya, mereka cuma percaya sama kamu saja" kata satya merendahkan dirinya sendiri.


Nampak kerutan di kening barack, wajahnya terlihat seperti kurang istirahat.


"Kenapa kamu?, , sakit?, apa kelelahan karena semalam?" satya kembali mengejek barack.


"Entah, , perasaanku tiba tiba tidak enak" barack mencoba menghela nafas berusaha menenangkan hatinya yang tiba tiba terasa gusar itu.


"Iya tuh, , kebanyakan kali semalam" satya kembali mngejek barack lagi.


Namun barack hanya diam dan tidak menanggapinya.


"Oh ya, istrimu ikut datang kemari kan? di mana dia?".


Seorang sekretaris masuk ke ruang rapat dengan membawa dua cangkir kopi untuk di suguh kannya kepada barack dan satya.


"Dia di ruang kerjaku, aku menyuruh dia menungguku di sana" jawab barack sambil meraih cangkir kopi yang sudah di letakkan di atas meja.


"Maaf, tapi baru saja saya melhat istri pak barack keluar dari ruang kerja pak" sekretarisnya berusaha memberitahu barack kalau luna telah keluar dari kantornya.


"Kamu tahu dia pergi kemana?" barack merasa khawatir.


"Dia tidak bilang mau pergi kemana tu pak" jawab sekretaris itu, wajahnya nampak merasa bersalah karena tadi ketika melihat istri atasannya itu, seharusnya menanyakan dia akan pergi ke mana.


Dengan cepat barack berlari keluar ke arah ruang kerjanya, dan benar dia tidak melihat luna berada di sana.


Barack bergerak cepat menuju lantai utama, pandangan matanya di arahkan ke seluruh setiap sudut ruang lobi, namun dia tetap tidak melihat luna.


Perasaan cemas semakin menyelimuti wajah dan hatinya.

__ADS_1


Nafasnya berkejar kejaran dengan dadanya yang dengan cepat bergerak naik turun.


"Di mana dia?" tanya barack dalam hati.


Dia berlari menuju ke arah pintu luar, barack berusaha mencari luna di halaman parkir depan gedung kantornya.


Tetapi luna juga tidak ada di sana.


Di seberang jalan luna sudah memegangi kantong plastik berisi es krim kesukaannya.


Dari ke jauhan luna melihat barack sedang berdiri di depan lobi sambil celingukan seperti sedang mencari seseorang.


Dia sadar kalau dia lah yang sedang di cari oleh barack.


"Baraaaakk!!!" luna berteriak memanggil namanya.


Barack membuang pandangannya ke arah suara luna yang sayup sayup terdengar sangat kecil di telinganya.


Wajah barack nampak terlihat sangat lega melihat luna berdiri di seberang jalan sambil melambai lambaikan tangan ke arahnya.


Barack berjalan mendekat ke arah bibir jalan raya.


Luna tidak sabar harus menunggu barack menjemputnya, dengan segera dia langsung berlari ke arah barack.


Di otaknya hanya ada barack dan barack yang sedang menunggunya.


Di tangah jalan sebuah mobil box melaju dengan kencang ke arahnya.


Supir mobil box merasa kaget ketika melihat luna tiba tiba muncul berlari menyeberangi jalan.


tintiiiiiiiiiiinnnnnn, , ,


Supir berusaha mengerem mendadak, namun sepertinya jarak yang terlalu dekat dengan luna di rasanya tidak cukup untuk menghentikan laju kendaraannya yang sangat cepat itu.


Luna merasa sangat syok sehingga dia hanya bisa memaku tubuhnya di tengah tengah jalan sambil menutup ke dua telinganya karena di rasanya suara klakson mobil box itu benar benar bising di telinga luna.


Barack melihat dengan kepala matanya sendiri ketika mobil itu melaju dengan kencang ke arah istrinya.


"Luna awas!!!!!" barack berlari ke arah luna yang berada di tengah jalan.


Dengan sigap supir box membanting setirnya ke arah kiri sebelum berhasil menabrak luna.


Mobilnya berhenti ketika menabrak tiang besi yang berada tidak jauh dari temoat luna berdiri.

__ADS_1


Jantung barack serasa sudah meledak berkeping keping melihat kejadian itu.


Nafasnya benar benar tak terkontrol, di peluknya tubuh luna yang masih memaku di tengah jalan.


Rasa ketakutan menyelimuti wajah mereka berdua, pucat, tatapan matanya kosong, tiba tiba tubuh luna melemas.


Barack segera menuntun luna ke tepi jalan raya dan membawanya kembali ke dalam lobi kantor.


Dia menyuruh orang untuk mengurus supir truk yang mungkin saja terluka parah.


Terlihat sekretarisnya membawakan segelas air mineral dan di berikannya kepada luna yang tengah menggigil karena ketakutan.


Barack meraih gelas itu dari tangan sekretarisnya dan berusaha memaksa luna untuk meminum air itu, agar sedikit memberi rasa tenang di dadanya.


Luna masih terdiam, tangannya terlihat masih bergetar, bagaimana tidak dia baru saja di tantang oleh maut tepat di depan matanya.


Sedikit saja supir itu telat membanting setirnya, maka tubuh luna pasti akan remuk seketika.


Barack menggenggam tangan luna dengan erat, mendekap tubu luna ke dalam pelukannya dan berusaha memberikan ketenangan di hatinya.


"Sudah tidak apa apa, , " barack membelai lembut rambut luna.


Sebenarnya ingin sekali dia memarahi luna karena tidak mendengar perintah barack untuk tetap tinggal di ruang kerjanya.


Namun melihat wajah luna yang sangat ketakutan, membuat dia mengurungkan niatnya itu.


Barack menghela nafas dengan pelan.


"Kita pulang ya" barack beeucap dengan nada menenangkan.


Aejenak luna masih terus diam dan tidak menjawab tawaran barack.


"Maaf" luna berucap sambil terus berusaha mengatur nafasnya.


Barack meraih wajah luna dengan ke dua tangannya.


"Sssshhhh" berusaha meminta luna untuk tidak mengatakan hal itu.


"Jangan pernah meminta maaf lagi ke padaku" tambahnya.


Untuk saat ini barack tidak akan meminta penjelasan dari luna atas perilaku membangkangnya hari ini.


Dia berusaha untuk tetap membuat luna merasa lebih tenang.

__ADS_1


***


__ADS_2