
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, barack terbangun dari tidurnya, dia melihat luna tengah tertidur di sofa.
Lalu barack menyelimuti tubuh luna dengan selimut yang tadi dipakainya.
Suhu badan barack sudah normal kembali, dia merasa badannya lengket karena keringat dingin tadi saat suhu badannya sempat tinggi.
Barack berjalan menuju kekamarnya lalu masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan badannya yang lengket itu.
Beberapa menit kemudian dia selesai mandi dan berganti baju lalu segera keluar menghampiri luna tapi dia masih tetidur pulas.
Barack mencoba mendekati tubuh luna dan mencoba menggendongnya namun tiba tiba luna terbangun dan melihat wajah barack tepat di depannya.
"mau ngapain kamu?"kata luna kaget melihat barack memegangi kaki dan pundaknya bahkan wajah mereka sangat dekat satu sma lain.
"tidak usah mikir yang macam macam, aku cuma mau pindahin kamu ke kamar" kata barack mencoba menjelaskan.
"tapi sekarang aku sudah bangun, jadi bisa tidak tangan kamu minggir dulu" kata luna merasa malu karena dari tadi tangan barack masih di situ situ aja.
Barack langsung menari kedua tangannya kembali.
"owh ya kamu sudah mendingan" tanya luna sambil memegangi pipi barack.
Barack terdiam melihat ke wajah luna yang berada tepat didepannya.
Wajah luna mulai memerah dan malu.
luna langsung menarik kembali tangannya.
"aku sudah baikkan" jawab barack.
"owh ya, kamu pernah lihat flashdick warna putih tidak? punyaku hilang, siapa tahu jatuh di sekitar sini, tapi tadi aku beres beres juga tidak menemukannya sih" kata luna sambil melihat setiap sudut ruang tv.
"aku tidak pernah lihat" kata barack sambil duduk di sofa.
Luna mencoba menyusuri di setiap sudut sofa, siapa tahu flashdiscknya jatuh di bawah sofa, karena beberapa minggu ini dia sering datang ke apartemen barack.
Saat sedang fokus mencari, tiba tiba terdengar bunyi tombol pintu masuk apartemen barack sedang di pencet dari arah luar.
tit tit tit tit tit, , ceklek. bunyi suara pintu terbuka.
Luna dan barack pandangannya tertuju ke arah pintu masuk.
"barack kamu di dalam?" terdengar suara klara dari arah pintu menuju ke ruang tv.
Barack dan luna saling lempar pandang, dan dalam sekejab luna bertingkah seperti maling yang ketahuan tuan rumahnya, dia panik sejadi jadinya.
"klara" bisik luna ke arah barack dia bingung dia mau ngumpet dimana takut kalau sampai klara lihat dia di jam dan waktu yang tidak tepat seperti sat ini. Luna berlari kesana kemari sambil kebingungan sendiri.
"gimana ini? barack!!!" bisik luna ke arah barack.
Barack mencoba untuk tetap tenang namun terlihat sekali di wajahnya kalau dia benar benar panik.
Dia beranjak dari sofa dan menarik tangan luna lalu membawanya ke dalam kamar.
"kamu disini dulu" kata barack kepada luna dan mencoba menata dirinya agar tidak terlihat panik di depan klara.
lalu barack menemui klara.
Terlihat senyum yang sangat lebar di wajah klara bawasannya dia masih memakai tanggal lahirnya untu sandi apartementnya bahkan itu sudah bertahun tahun sampai dan sekarang nggak di ganti.
"kamu masih pakai tanggal lahirku buat sandi apartementmu? berarti sampai sekarang kamu belum melupakanku kan?" tanya klara sambir berjalan masuk apartment.
"kamu lagi ngapain berdiri di situ?" tanya klara yang melihat barack berdiri di dekat bifet.
"e, , tidak papa cuma lagi benerin foto ini, tadi hampir jatuh" kata barack pura pura membenarkan foto yang ada di bifet itu.
Dia terus mencoba menutupi kepanikannya.
"coba tebak aku bawa apa?" kata klara menenteng bungkusan makanan ke arah barack lalu klara berjalan menuju ke arah dapur.
"mm, , apa memangnya?" tanya barack sambil mengikuti klara menuju dapur.
"makanan kesukaan kita, nasi goreng telur ceplok" kata klara sambil membuka bungkusan nasi goreng itu.
__ADS_1
Barack mencoba menelan ludah dengan susah.
"aku, baru saja makan, gimana kalau kamu makan saja dulu?" kata barack mencoba menolak secara halus.
"kok gitu, ya sudah lah, aku makan dulu ya" kata klara sambil menikmati nasi gorengnya.
Barack saat itu melirik ke arah tas ransel luna yang ada di atas sofa. Diapun berjalan ke arah sofa itu dan mencoba menutupi tas luna dengan selimut yang tadi di pakainya.
"kamu lagi ngapain sih?" tanya klara kepada barack.
"mm, tidak papa, lagi nyari remot tv" barack terus berpura pura mencoba menutupi kepanikkannya.
"kamu tidak bilang mau datang kemari?" tanya barack.
"aku tadi telepon kamu berkali kali tapi tidak di angkat jadi ya aku langsung datang kesini saja" kata klara sambil membuang pandangannya ke arah kerlap kerlip di atas bifet yang menarik pandangannya.
Klara penasaran kemudian dia menaruh sendoknya dan beranjak dari tempat duduk menuju ke sesuatu yang kerlap kerlip itu.
Barack melihat klara sedang berjalan menuju bifet, diapun mencoba menghampirinya.
"kamu mau ngapain?" tanya barack agak cemas
"nggak, aku cuma penasaran sama ini" klara meraih benda yang kerlap kerlip karena terkena pantulan lampu.
Dan barang yang kerlap kerlip itu adalah cincin barack, cincin itu yang waktu kapan hari dia dan luna di paksa untuk pakai saat makan malam. Dimana moment itu di rekam oleh ke dua orang tua mereka.
"ini cincin siapa?" tanya klara sambil memegangi cincin itu.
Barack mencoba menelan ludah kembali.
"cincinku" jawab barack pendek.
Terlihat kernyutan di dahi klara.
"buat aku ya" kata klara sambil memakai cincin itu di jari telunjuknya karena memang ukuran jari manis barack besar, tapi muat di jari telunjuk klara.
Barack hanya diam tidak bisa menolaknya.
Saat itu di dalam kamar barack, luna tengah tiduran di atas tempat tidur barack.
Luna pun beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, karna dia pengen buang air kecil.
Saat di dalam kamar mandi luna tidak sengaja menyenggol keran shower, sehingga air dari shower keluar dan membasahi tubuh luna.
Di dapur klara mendengar suara gemericik air dari arah dalam kamar mandi barack.
"itu siapa di dalam?" tanya klara.
Jantung barack serasa mau meledak.
"bukan siapa siapa, itu keran shower di kamar mandiku rusak, aku sudah panggil tukng kok buat benerin paling bentar lagi datang" kata barack dengan menahan rasa paniknya.
Memang benar semenjak dia dekat dengan luna dia selalu banyak berbohong.
"owh gitu, ya sudah, , , ini udah malem aku pulang dulu ya" kata klara meraih tasnya dan memeluk barack sebentar lalu pergi keluar dari apartemen barack.
Barack menutup pintunya dan menghela nafas panjang.
"hhuuuffft" dia segera berlari menuju kekamar mandi dan mendapati luna sudah basah kuyup bagian atasnya.
"kamu giman ceritanya bisa basah begini" tanya barack.
"tadi tidak sengaja menyenggol keran showernya" kata luna.
"terus kenapa tidak dimatiin?" tanya barack.
"kalo dimatiin ntar dia tahu kalau ada orang di dalam kamar mandi" kata luna.
Barack menatap ke wajah luna yang basah kuyup itu, dan mendaratkan pandangnnya ke dada luna yang terlihat warna branya menembus kaos luna yang basah, karena kebetulan saat itu luna memakai kaos putih.
Pipi barack memerah. Dia pun memalingkan wajahnya.
"tungu disini aku ambil kan handuk" kata barack keluar dari kamar mandi dan mengambil handuk untuk luna.
Barackpun membantu mengeringkan rambut luna. Dia menutupi kepala luna dengan handuk putih itu.
__ADS_1
Tangannya berhenti mengusap usap rambut luna, dia memegangi kepala luna yang berselimutkan handuk itu.
Luna dan barack saling menatap.
Perlahan barack menyilakkan rambut luna yang menutupi matanya, dia mulai menyentuh alis luna, kemudian hidung luna, kemudian jari telunjuk barack berhenti di bibir luna yang terlihat basah dan mungil itu.
Luna hanya diam dia tidak bisa menolak perlakuan barack.
Dadanya berdebar debar, dan aliran darahnya terasa panas dari ujung kaki sampai kepala.
Mata barack terus menatap mata luna dengan lembut. Perlahan dia mendekati wajah luna.
Luna menutup matanya dengan cepat.
Nafas barack semakin terasa mendekat ke wajah luna. sedangkan nafas luna mulai tidak beraturan.
Semakin lama semakin dekat dan semakin dekat, barack sempat berhenti dan kembali menatap luna dari dekat, lalu dia kembali mendekati wajah luna perlahan, perlahan semakin dekat, dan akhirnya bibir barack menyentuh bibir luna, baru menyentuh sedikit sekali barack lalu menghentikannya.
Barack menarik kembali wajahnya menjauhi wajah luna.
", , , maaf" kata barack merasa bersalah.
Luna langsung membuka kedua matanya dan menatap ke arah barack yang sudah menjauhinya.
"apa menciumku itu sebuah kesalahan? sampai kamu harus minta maaf?" kata luna lirih agar barack tidak mendengarnya sambil mengambil handuk yang menutupi kepalanya.
Luna memegangi bibir dengan jarinya.
"apa ini yang disebut ciuman???" tanya luna dalam hati, pasalnya sampai saat ini luna belum pernah berciuman dengan lawan jenis. Berciuman yang sesungguhnya buka karena ciuman kecelakaan.
Barack berjalan keluar dari kamar mandi dan membuka lemari, dia mengambil sebuah kaos lengan pnjang dan memberikannya kepada luna.
"ganti bajumu yang basah" kata barack sambil memberikan baju itu kepada luna dan menutup pintu kamar mandi.
"ngapain juga tadi aku pake acara nutup mata ku coba, , , iih, malu maluin" kata luna pada dirinya sendiri.
Dari balik pintu itu barack hanya terdiam.
"maaf lun, aku hanya belum yakin dengan perasaanku" kata barack dalam hati.
lalu barack keluar dari kamar dan menuju ke arah dapur.
Beberapa menit kemudian luna keluar dari kamar mandi. Dan berjalan keluar menuju dapur.
Saat di dapur tatapan barack dan tatapan luna bertemu, barack pun merasa malu dan pura pura membuka kulkas untuk mencari air mineral.
luna melihat bungkusan makanan di atas piring.
"apa ini?" tanya luna.
"Mmmm , , nasi goreng" jawab barack.
"klara yang membelikan untukmu?" tanya luna.
"Mmm" barack mengangguk.
"dia ini gimana sih? beneran cinta tidak sebenarnya dia sama kamu? kamu tidak bisa makan makanan seperti ini, tapi dia tidak tahu" kata luna sambil membuka bungkusan nasi goreng itu.
"aku sengaja tidak memberi tahu dia" kata barack sambil meneguk air mineral.
"tidak mau tahu dan tidak mau cari tahu, itu dua hal yang berbeda! berhubung kamu tidak boleh makan kaya gini, aku saja yang makan yah" kata luna sambail melahap nasi goreng itu.
Barack hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
Selesai makan barack mengantar luna pulang.
Sampainya di rumah luna, barak menghentikan mobilnya, Saat luna akan turun dari mobil barack memegangi tangan luna.
Luna pun menengok ke arah barack.
"maaf" kata barack.
"aku orang yang cukup sabar kok, jadi tenang saja, bagaimana pun juga aku akan tetap berusaha semampuku, karena aku sudah cukup kebal saat mengejar cinta aryo" kata luna kepada barack seolah olah mengisyaratkan bahwa dia akan terus menunnggunya, kemudian menarik tangannya dari genggaman barack sambil turun dari mobil.
Lunapun berjalan menuju ke arah pintu rumah dengan mata berkaca kaca, sembari menggigit bibir bawahnya karena menahan rasa emosi yang tak tertahankan.
__ADS_1
***