
Mata berwarna biru terang dan indah itu sedang menatap kearah Aileen, dia merasa semakin yakin bahwa gadis kecil itu bukan Putrinya David. Aileen merasa lega, tetapi di sisi dia juga merasa sedih saat melihat kondisi Essie.
Essie sudah sadar dia kini sedang terdiam duduk di ranjang, tatapan matanya terlihat kosong, tersirat sebuah kesedihan yang teramat di dalamnya.
Aileen mendekat menyeka air mata yang mencuat mengalir dari mata biru itu. Entah kenapa dia bisa merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Essie, Aileen berkaca kaca ketika teringat apa yang baru saja menimpa anak kecil itu. Bagaimana bisa dia akan menjalani hidup tanpa seorang ibu di usianya yang masih terbilang sangat membutuhkan kasih sayang yang berlimpah dari Orang tua.
"Di bagian mana tubuhmu yang masih terasa sakit sayang?, , Tante akan bilang kepada Dokter untuk mengobati lukamu" Aileen berucap dengan lembut, mencoba membuat anak kecil itu merasa nyaman saat berada di sisinya.
Essie yang sejenak melamun mulai mengarahkan pandangannya kearah Aileen yang berdiri di sampingnya.
Gadis kecil itu tidak menjawab, dia hanya diam sambil memunjuk ke dadanya.
"Apa??, ," Aileen tertegun apakah Essie sedang memberi tahunya bahwa bagian tubuh yang terluka ada di sebelah sana.
Aileen menggerakkan tangannya menyentuh dada Essie perlahan.
"Apa di sini yang terasa sakit?" air yang sempat tertahan di mata Aileen kini lolos dan jatuh di ujung kepala Essie ketika perempuan itu memeluknya.
♡♡♡
"Baik mah, ,aku akan segera pulang" David tertunduk sejenak, memejamkan matanya rapat rapat. Dia menghela nafas panjang menetralkan perasaannya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.
Tak lama dia meraih gagang pintu dan membukanya, berjalan mendekati Aileen yang tengah memeluk Essie dengan erat.
David meraih pundak Aileen, mencoba meraih bahu perempuan itu.
"Sayang, Mamah menyuruh kita pulang secepatnya. Ada sesuatu yang mendesak. Dia bilang kita harus segera kembali ke Indonesia. Kamu tidak apa apa?" David meraih pipi Aileen membantu perempuan itu mengusap air matanya.
Aileen menganggukkan kepala, melepas pelukannya kemudian. Tetapi Essie masih bertahan memeluk Aileen, seolah tak ingin melepaskan pelukan itu.
Aileen terdiam sejenak, dia merangkup pipi Essie lalu berucap dengan nada lembut.
"Sebentar sayang, Tante harus pulang" Aileen tersenyum.
"Nanti pasti Tante akan kembali lagi ke sini untuk menemuimu. Oke" Aileen mengecup keningnya.
Sementara David terlihat cuek, dia tak bisa begitu saja akrab dengan anak kecil. Memantapkan hatinya untuk hidup berkomitmen saja dia sempat kesusahan apa lagi ketika harus berhadapan dengan anak kecil. David merasa sangat canggung.
Laki laki itu kemudian menoleh ke Ius dan Enrica yang duduk di sofa.
"Urus dia dengan baik"
"Baik PresDir" Ius akhirnya bisa bernafas lega, dia merasa tenang ketika Atasannya ternyata tidak marah dan memecatnya.
David menggandeng tangan Aileen, perempuan itu perlahan melepaskan tangan Essie ketika David menarik dan membawanya melangkah menuju pintu kemudian keluar dari ruangan.
♡♡♡
David melirik ke Aileen, perempuan itu masih diam. Kedua matanya masih sembab.
"Ai, , coba lihat aku" David merangkup dagu Aileen dari arah bawah, menuntun perempuan itu menoleh kearahnya.
"Kenapa kamu masih sedih?, , bukannya aku sudah menjelaskan kalau anak kecil itu bukan darah dagingku?" sesekali David kembali mengarahkan pandangannya ke jalan, dia tidak ingin kehilangan fokusnya dalam menyetir hingga terjadi hal yang tidak diinginkan seperti tadi.
__ADS_1
"Aku sedih bukan karena itu" Suara Aileen semakin sengau, kedua hidungnya tak bisa di gunakan untuk bernafas karena tersumbat efek dari tangisnya.
"Aku kasihan dengan Essie"
"Jangan pikirkan dia, , anak kecil itu akan hidup dengan baik. Aku akan pastikan itu, jadi kamu jangan sedih lagi ya" David mengusap mata Aileen dengan lembut.
♡♡♡
"Mamah mau pergi?? kenapa barang bawaannya banyak sekali?" David yang baru saja masuk ke rumah menyelidik ke koper yang sudah tertata rapih di ruang keluarga.
"Bukan hanya Mamah, tapi kita. Semuanya akan kembali ke Indonesia"
"Kenapa?" David melangkah ke dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air mineral.
"Nenek meminta kita semua untuk pulang, tidak tahu dengan apa yang sedang dia rencanakan tapi Mamah khawatir ini menyangkut tentang kesehatannya yang akhir akhir ini memburuk" Luna menoleh ke Aileen yang baru saja masuk.
Perempuan itu sempat berdiri di luar untuk menenangkan diri sebelum masuk, karena takut akan membuat calon mertuanya khawatir. Dan jelas saja Luna mengerutkan dahinya melihat Aileen dengan kedua mata yang sedikit membengkak
"Sayang kamu kenapa?" Luna menghampirinya, matanya mengamati wajah Aileen dengan lekat.
"Aku tidak apa apah, hanya"
"David!!, , kamu apakan Aileen sampai menangis dan bengkak semua wajahnya??" Luna mengeraskan suaranya.
"Tidak apa apa Mah, , bukan David yang membuat Aileen sedih. Mamah tenang ya?"
"Semua kesalahan ditujukan padaku, salahkan saja terus" David meletakkan botol yang sudah kosong ke atas meja, dia bergerak mendekati Aileen kemudian membawa perempuan itu masuk ke kamar.
"David!! kamar Aileen bukan di sana!!, , cepat kembalilan Aileen ke kamarnya" teriak Luna ketika melihat David membawa Aileen masuk ke dalam kamar.
Di sisi lain Iris keluar dengan membawa koper besar.
"huh, , beratnya" Perempuan itu mengeluh.
"Astaga sayaang, , kenapa barang bawaanmu banyak sekali?? kita hanya beberapa hari di sana. Kenapa kamu seperti akan tinggal di sana selama satu bulan!" Luna menyelidik ke barang bawaan Iris.
"Jaga jaga Mah" Iris membuang senyum kearah Luna.
"Kebiasaan!, , semuanya ingin kamu bawa. Tapi nanti sampai di sana tak ada satu pun yang di pakai karena pasti akan berbelanja dan membeli pakian lagi" Luna menghardik kapada Iris.
"Hihi, , " Perempuan itu hanya meringis memamerkan rentetan gigi ratanya.
Luna mendengus pelan.
"Cepat kembali ke kamar dan beristirahat besok pagi pagi sudah harus ada di bandara"
"Mamah sendiri kenapa tidak masuk kekamar dan istirahat?"
"Mamah masih menunggu Papahmu! dia masih dalam perjalanan menuju pulang" Luna menonton acara Tv sambil menikmati cemilan untuk menghabiskan waktu sambil menunggu Barack pulang kerja.
♡♡♡
David melepaskan ciuman itu setelah beberapa saat dia membuat Aileen terlena dengan sentuhan bibirnya yang lembut. sejenak dia lupa dengan Essie yang selalu mengganggu pikirannya.
__ADS_1
David menahan Aileen agar perempuan itu tidak menjauh. Menyandarkan kepalanya di kening Ailen, wajah mereka sangat dekat, hidung saling menempel dan nafas mereka beradu.
"Tidur di sini ya?, ," Bisik David, matanya menatap Aileen dengan lekat.
"Nanti"
"Mamah tadi hanya menggertak, dia percaya aku tidak akan melakukan apa pun terhadapmu" David sedikit membungkuk menggerakkan kepalanya, melum** dan menarik bibir Aileen sejenak, sengaja membuat bibir perempuan itu basah. David lalu mengusapnya dengan lembut.
Laki laki itu menarik tangannya yang sempat melingkar di pinggang Aileen, menautkan jari jemarinya menuntun Aileen ke atas ranjang.
David memposisikan dirinya di sana dengan sangat nyaman kemudian menepuk kecil ranjang di sisinya.
"Kemarilah"
Aileen terlihat ragu, dadanya terasa berdesir tak karuan. Dia sudah sangat yakin David tak akan menyentuhnya. Tetapi ketika sedang berdua dengan laki laki itu Aileen salalu merasa jantungan.
"Ayo" David menarik tangan Aileen, membawa perempuan itu naik keatas ranjang.
David merangkup tubuh Aileen, memendam wajahnya di leher, menyerap semua aroma tubuhnya.
"David tubuhku lengket, aku belum mandi" Aileen mengeser sedikit tubuhnya ke samping menjauhi David.
Tetapi lali laki itu seolah tak menghiraukan bau matahari serta sisa angin laut yang melekat di tubuh Aileen. Baginya apa yang ada di tubuh Aileen, dia sangat menyukai semuanya tanpa kecuali.
David menarik tubuh Aileen dan mendekatkan kembali ke sisinya kini dia melingkarkan kakinya di paha Aileen mengunci perempuan itu agar tidak bisa bergerak menjauh.
"David" Aileen merengek.
"Beri kesempatan aku untuk bernafas"
David menarik kepalanya kebelakang, laki laki itu terkekeh ketika melihat Aileen menarik nafas panjang. Seolah dia benar benar telah kehabisna nafas. David merebahkan tubuhnya.
Sementara Aileen menggunakan kesempatan itu untuk beranjak. Tetapi david yang menyadarinya langsung bergerak kambali menarik tangan Aileen membuat perempuan itu meringkuk di samping tubuhnya.
Aileen tertawa ketika David berhasil meraihnya.
David berguling memaksa Aileen menerima tubuhnya yang berat.
Aileen tertawa lahi, dia memeluk tubuhnya sendiri untuk melindungi diri dari David.
Tangannya yang kokoh kemudian memaksa Aileen membuka tangannya, david mencengkeram pergelangan tangan Aileen lalu memakunya di atas ranjang.
"Betapa besarnya kekutan yang kamu gunakan untuk menolakku, aku merasa bahagia karena diciptakan sebagai laki laki yang pastinya lebih kuat darimu" David berucap dengan lembut. Dia menahan punggungnya agar tidak menindih dada Aileen.
"David, , tolong lepas ya??" Aileen masih terkekeh sambil emrengek.
"Aku harus pergi mandi"
"Tidak perlu mandi, aku akan menghujanimu dengan kecupan agar tubuhmu kembali bersih" David menarik selimut, membawa Aileen masuk ke dalamnya.
Aileen terus berulah agar bisa terlepas dari David.
"Aa!!" Aileen menjerit sesaat, ketika David mengecup dititik titik tertentu di bagian tubuhnya. Bahkan tak lupa menggigit kecil dada Aileen yang masih terbungkus rapih.
__ADS_1
"David jangan gila!" suara Ailen tersekat karena tubuhnya di hujam rasa geli yang teramat.
Ketika Aileen bisa membuka selimut dan beranjak bangun, David menarik kembali tubuh Aileen membawanya lagi ke dalam selimut, berulang ulang hingga tawa mereka pecah menggema di setiap sudut ruangan.