
Di saat sibuk menikmati makan malam, pandangan Davien teralihkan ke Bunga yang baru saja kembali dari toilet. Dia merasa ada yang aneh karena raut wajah Bunga berubah, terlihat kesal dan marah.
“Maaf aku terlalu lama” Bunga kembali duduk.
“Tidak perlu meminta maaf sayang, Ibumu juga sering menghabiskan waktu berlama-lama di toilet. Hehe....” Aileen berusaha menghibur Bunga, dia juga bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi padanya.
Davien dari tadi menatapnya khawatir kemudian mendekati Bunga dan berbisik. “Kau baik-baik saja?”
“He?” Bunga terkejut, Davien bertanya seperti itu karena dia yang tak bisa menyembunyikan rasa kesal. “Aku baik-baik saja.”
Davien tak mendengar apa yang Bunga bicarakan, kemudian dia meminta perempuan itu mendekat dengan menggunakan jari yang ditunjukkan ke rahangnya.
“Davien??” Bunga terkejut saat Davien menunjuk pipinya.
Lagi, Davien menunjuk pipinya karena Bunga tak kunjung melakukannya.
‘Yang benar saja, dia memintaku melakukannya di depan kedua orang tua? Hah! Aku akan memukulmu nanti karena sudah membuatku malu!’ batinnya.
Bunga perlahan mendekat ragu, setelah Davien mendekatkan kepalanya perempuan itu langsung mengecup pipinya.
Jelas saja hal itu membuat Aileen dan David terdiam, mereka berdua tersipu malu. “Dasar anak muda, kenapa harus melakukannya di sini... nanti kalau sudah pulang bisa, kan?” gumam David.
“Eh! Kenapa kau men.mencium pipiku?” pipinya langsung memerah, Davien sangat malu karena kedua orang tuanya melihat. Sementara selama ini dia tak pernah terlihat mesra dengan perempuan mana pun.
“Bukankah kau yang memintaku melakukannya?” Bunga mempraktikkan apa yang dilakukan Davien saat menunjuk ke pipinya. “Kau tadi melakukan ini, jelas-jelas itu tanda kalau kau meminta aku mencium pipimu!”
Hahahahaha.... “Aku meminta agar kau berbisik di telingaku, karena aku tidak mendengar apa yang kau bicarakan tadi.”
“Ha? Astaga....” Bunga sanga malu, kenapa bisa salah menangkap tanda yang di berikan Davien. Pipinya langsung memerah padam.
Tetapi saat itu Davien tersenyum mencurigakan, dia terlalu bahagia hanya untuk sebuah kecupan di pipi.
Bunga pun tahu kalau itu hanya akal-akalannya saja. “Kau!! Menyebalkan!”
Davien lagi-lagi merasa menang darinya.
***
Bunga, Davien dan James tengah bersiap siap untuk pergi keluar kota. Mereka berjalan keluar dari lift menuju ke pintu lobby.
Di luar sana mobil berwarna hitam pekat sudah siap mengantarkan mereka ke kota tujuan.
Seketika Davien menghentikan langkahnya dia teringat bahwa ada 1 map yang masih tertinggal di rumahnya. "Ya Tuhan!”
Bunga dan James pun ikut menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Presdir? Apa ada sesuatu yang terlupakan?”
"Aku lupa masih ada 1 map penting yang baru aku selesai tanda tagani semalam" Davien nampak gelisah karena saat ini dia harus mengejar waktu pergi keluar kota.
Sementara dia hanya memiliki waktu sekitar 2 jam. Jika dia harus kembali ke rumah terlebih dulu Davien tak yakin, dia pasti akan terlambat menghadiri rapat kali ini.
"Bagaimana kalau saya kembali untuk mengambil berkas itu sementara Anda dan Nona Bunga pergi terlebih dahulu?" ucap James.
Davien menoleh menatap ke arah Bunga, dia mencoba meyakinkan perempuan itu apakah Bunga bisa melakukannya atau tidak.
"Bagaimana kalau kalian berdua pergi dulu aku akan kembali ke rumah untuk mengambil berkas itu di ruang kerjamu, setelahnya nanti aku akan menyusul" Bunga mengangkat kedua alisnya mencoba untuk meminta Davien mengabulkan permintaannya, bahwasanya Bunga seakan tahu kalau Davien juga ragu dia bisa melakukannya.
"Baiklah Bunga, aku dan James akan berangkat terlebih dulu. Aku akan menyiapkan sopir, kau hati-hati di jalan" Davien mendekat, meraih ujung kepalanya kemudian mengusap dengan lembut.
Setelahnya sebelum masuk ke mobil Davien menyempatkan untuk mengecup kening kemudian bibirnya. Bunga menganggukkan kepala ketika lelaki itu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkannya.
Tak lama sebuah mobil datang mengantar Bunga kembali ke rumah. Setelah mobil berhenti tepat di depan rumah, Bunga melangkah turun.
Dia mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah berlari menuju ke ruang kerja milik Davien.
Setelah menemukan berkasnya dia bergegas keluar kembali menutup pintu namun seketika Bunga terpaku menoleh ke arah kamar, di mana kamar itu sampai saat ini membuat Bunga sangat penasaran.
Berhubung Davien sedang menuju ke luar kota maka pikiran nakal pun mencoba menggerayangi benaknya. Perlahan Bunga berjalan mendekati kamar itu. Wajahnya terlihat tegang dia tidak yakin bahwa itu adalah gudang, rasa penasarannya semakin tinggi ketika dia berhasil meraih gagang pintu.
Ternyata itu bukan gudang, itu adalah sebuah kamar bernuansa pink yang sangat indah serta terlihat megah terpampang nyata tepat di depan matanya. Bagaikan kamar barbie, kamar bernuansa pink itu dihiasi dengan furnitur mahal bahkan untuk hiasan dindingnya saja harganya mencapai puluhan juta setiap picisnya.
Bunga dibuat menganga melihat isi kamar. Namun ekspresi wajahnya seketika berubah kecewa. Perasaan tak enak langsung bergelayut di hatinya. "Ini? Kamar siapa?" gumamnya dalam hati.
Bunga membuka pintunya semakin lebar, melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan perlahan sementara pandangannya nampak menyapu setiap sudut ruangan. Bunga serasa masuk ke dalam dongeng di mana kamar itu seakan menghipnotisnya menjadi seperti Barbie.
Bunga seakan lupa dengan misinya untuk kembali ke rumah, kini pandangannya tertuju kepada sebuah foto yang ada di atas nakas. Dia melihat foto seorang gadis berambut panjang terpajang di sana.
Deg!!!
Seketika jantungnya berdetak dengan sangat cepat bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bunga mendekat menggerakkan salah satu tangannya meraih foto yang ada di atasnya. Perempuan di dalam foto itu terlihat sangat manis tetapi Bunga tidak tahu siapa perempuan itu. Bahkan senyum tipis sempat menghiasi wajahnya ketika menatap mata indah di foto itu.
Tak lama Bunga membalikkan bingkai foto, dia melihat ada ukiran nama Essie di belakangnya. Jantungnya seperti terjun dari roller coaster. Sakit namun tak berdarah itulah yang sedang dirasakan oleh Bunga.
Cemburu? Itu pasti. Bunga duduk di ranjang yang ada di belakangnya kemudian menghela nafas panjang mencoba melegakan dadanya yang terasa sesak ketika hanya untuk sekedar bernafas.
‘Essie?’ gumamnya dalam hati. Bunga ingin marah tetapi dia merasa tak punya hak untuk itu karena Essie sudah menjadi bagian dari masa lalu Davien.
Bagaimana pun Bunga mencoba menghapus ingatan perempuan itu dalam hidup Davien tetap saja dia tak mampu untuk melakukannya. Yang membuat dia semakin kecewa adalah kamar itu masih tertata rapi bahkan seolah-olah barang sekecil apa pun masih tetap utuh berada di tempatnya, sampai detik ini bahkan setelah kepergian Essie bertahun-tahun yang lalu.
Itu menimbulkan pikiran di benaknya bahwa Davien benar-benar masih sangat mencintainya dalam arti lelaki itu belum sepenuhnya bisa melepaskan Essie. Bunga sadar masa lalu tetaplah masa lalu tetapi yang membuat dia kecewa kenapa dia tak menceritakan soal kamar ini, yang ada lelaki itu justru malah seolah menutup semua darinya.
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba ujung matanya berair hingga kilauan bening itu mengalir. Bunga mengusap pipinya yang basah setelahnya menghela nafas kasar.
Bunga bangkit berdiri dari ranjang meletakkan kembali bingkai foto di atas nakas. Bunga semakin yakin bahwa Davien sepertinya tak bisa melupakan Essie sepenuhnya.
Egois memang, tetapi menjadi seorang perempuan dia ingin menjadi satu-satunya perempuan yang ada di dalam hati bahkan di pikirannya.
Jika memang sudah menjadi mantan kenapa harus mengingat bahkan menyimpan barang peninggalannya karena itu hanya akan semakin membuat pasangannya sakit. Bunga sangat kecewa tetapi tak banyak yang bisa dia lakukan.
Perempuan itu kini lebih memilih keluar dari kamar dan menyimpan rapat-rapat dengan apa yang dilihatnya tadi. Setelah teringat bahwa dia dikejar-kejar waktu Bunga memilih untuk meninggalkan kamar.
Dia berlari menuju mobil meminta sopir untuk mempercepat laju mobilnya.
***
Di suatu sisi Devien yang sudah sampai di tempat tujuan terlihat beberapa kali menoleh ke arah jam yang melingkar di tangannya.
Dia mengetuk-ketukan ujung jarinya ke meja, terlihat begitu gelisah bahkan khawatir dengan Bunga.
"Tenang presdir Nona pasti bisa melakukannya. Dia pasti akan sampai sebelum waktunya" James berucap dengan perlahan mencoba membuat Davien tenang.
Karena merasa tak sabar Davien mencoba menghubungi Bunga namun tak ada sahutan bahkan Bunga tak mengangkat panggilannya. Lagi Davien menghubunginya dan hal yang sama pun terjadi Bunga tak mengangkat panggilannya.
Di sisi lain di dalam mobil Bunga masih menatap terus ke arah layar dia melihat beberapa kali Davien mencoba menghubunginya. Mungkin saat ini hatinya dalam keadaan tidak baik, Bunga lebih memilih untuk diam dan mengabaikan Davien.
Di ruang rapat Davien terlihat kebingungan dia bertanya-tanya kenapa Bunga tak mengangkat ponselnya. "Kenapa dia tidak mengangkat teleponnya?" gumamnya.
James yang mendengarnya mencoba kembali menenangkannya lagi. "Tenang presdir, saya sudah mencoba menghubungi sopir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke mari" James menyodorkan segelas minuman kearahnya.
Davien terdiam, entah kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tak karuan. Dia pun mencoba untuk mengirim pesan singkat kepada Bunga. "Kau baik-baik saja?" isi pesan singkat itu.
Davien tersenyum ketika melihat notif Bunga telah membaca pesannya tapi tak lama senyumnya memudar ketika dia tak mendapatkan pesan balasan.
Davien menghela nafas panjang mencoba menetralisir perasaan. Pandangannya terlihat kosong menatap jauh ke depan hanya berharap tak ada sesuatu yang terjadi dengan Bunga.
Beberapa menit kemudian rapat pun dimulai dan saat itu juga Bunga belum sampai di tempat itu. Di tengah-tengah rapat Davien menoleh menatap ke arah pintu saat sengaja dibuka dari arah luar.
Wajahnya terlihat bercahaya melihat Bunga muncul dari balik pintu. Perempuan itu mempercepat langkahnya mendekati Davin. "Maaf sudah membuat kalian menunggu lama" tanpa menjawabnya Davin langsung menyambar tangan Bunga menggenggamnya dengan erat.
"Kau baik-baik saja, kan?" ucapnya dengan lembut dan berbisik. Wajahnya terlihat sangat gelisah saat menunggu kabar dari Bunga.
Tetapi perempuan itu tak menjawab dia hanya menoleh kemudian tersenyum tipis setelahnya memalingkan wajah mengalihkan pandangannya ke depan melihat salah satu pegawai yang sedang mempresentasikan materinya.
Davien merasa diabaikan, dia yakin ada yang tidak beres. Terlebih lagi ketika Bunga perlahan menarik tangan dari genggamannya. Seketika Davien mengalihkan pandangannya menatap mata Bunga dengan lekat.
Sikapnya yang berubah secara tiba-tiba membuatnya tak bisa mengikuti rapat dengan baik karena konsentrasinya pecah. Pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui hingga membuat sikapnya berubah, menghindar tanpa ada kejelasan.
__ADS_1