
Setelah berhasil membuka pintu apartementnya Bunga segera berlari menuju ke dalam. Membanting tubuhnya ke atas ranjang, perempuan itu kembali menangis dengan mengepalkan tangan sembari memukuli bantal.
"Bodoh! bodoh! bodoh!" suara tangisnya kambali terdengar.
"Bagaimana bisa ini terjadi denganmu!, kenapa laki laki bodoh itu bisa memperdayaimu Bunga" ucapnya merujuk kepada Roland. Bunga mengutuk dirinya sendiri menyesali telah menjadi perempuan paling bodoh.
Entah apa yang dia pikirkan saat itu, kini Bunga hanya bisa menangis sambil menjejakkan kakinya di atas ranjang.
Di sisi lain Davien tengah melajukan mobilnya dengan kencang. Perasaannya masih belum tenang, terlebih lagi ketika mengingat keadaan Bunga. Kaos robek, bibir memerah rambut acak acakan seolah pikirannya liar membayangkan betapa kasarnya Roland memperlakukan bunga saat itu.
Terlebih lagi ketika mengingat isakan tangisnya, Davien semakin tak bisa membiarkan Bunga sendirian.
Davien melirik ke sepion, memastikan tak ada mobil yang melaju dari arah belakang. Setelahnya membanting stir berbalik ke arah yang berlawanan.
♡♡♡
Bunga mengubah posisinya duduk di atas ranjang, merapihkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Mengusap sisa air mata yang sebelumnya telah membasahi bantal dengan tangannya.
"Tenangkan dirimu!!!" ucapnya kepada diri sendiri. Beberapa kali Bunga terlihat menghela nafas panjang untuk melegakan dadanya yang terasa sakit dan nyeri ketika mengingat Roland menyentuh tubuhnya.
Mungkin dengan mandi Bunga bisa membersihkan sisa sisa bekas aroma tubuh Roland.
Bunga beranjak berdiri dari ranjang, pandangannya terarah ke jaz milik Davien yang teronggok di atas sana.
Tangannya bergerak meraih jaz itu kemudian membawanya. Bunga melangkah menuju almari, membukanya meraih sebuah hanger untuk menyimpan jaz itu kemudian menggantungkannya di dalam sana.
Bunga menghela nafas panjang, entah beberapa kali dia melakukan hal itu. Asal bisa melegakan dadanya mungkin Bunga akan melakukannya berulang ulang kali.
Kini Bunga lebih memilih untuk mandi membersihkan diri. Dua keran telah terbuka sepenuhnya, air panas yang beradu dengan air dingin kini menghujani ujung kepalanya. Bunga memejamkan mata menikmati air yang merambat masuk melewati celah celah rambut yang kemudian menuruni kepalanya mengalir membasahi permukaan kulitnya. Bunga masih mengingat jelas bagaimana Roland memperlakukannya dengan sangat kasar. Bunga membersihkan bibirnya menggunakan jari dan menggosoknya dengan kuat. Mencoba menghilangkan jejak ciuman Roland yang masih terasa di sana.
Merasa seakan tak bisa hilang begitu saja, Bunga menggunakan sabun untuk mencuci bibirnya. Dan ketika ingatan tentang Roland yang juga sempat menciumi lehernya kembali mencuat di dalam benaknya, Bunga menggerakkan tangannya menggosok kasar di setiap bagian sana. Matanya kembali memerah hingga air yang keluar dari matanya mengalir menyatu dengan air yang keluar dari shower.
Beberapa kali Bunga melakukannya, mengulang dari awal. Bahkan Bunga menggosok giginya berulang kali, terus berusaha bagaimana caranya bisa menghilangkan bekas jejak yang di tinggalkan oleh Roland. Tetapi beberapa kali Bunga melakukannya tetap saja dia merasa tak bisa melupakannya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu berjam jam di dalam kamar mandi Bunga melangkah keluar dengan handuk yang membalut sebagian tubuhnya. Lehernya sedikit memerah karena dia menggosoknya terlalu kuat.
Bunga membuka pintu kemudian melangkah keluar. Dan betapa terkejutnya ketika sepasang matanya melihat sesosok laki laki yang nampak tak asing duduk di sofa menghadap ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang, Bunga mencoba menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendapati Davien tengah menyapu seluruh tubuhnya dengan tatapan matanya.
Laki laki itu sudah melepaskan dasinya, dua kancing atas kemejanya pun jugs sudah terbuka. Davien duduk dengan satu kaki yang menyilang di atas satu kaki lainnya. Kemudan salah satu tangannya bertumpu di atas bibir sofa yang menyangga dagu. Davien terus menatapnya tanpa berkedip.
Pipinya merona, ingin mengalihkan pandangan matanya ke arah lain tetapi pemandangan di depan matanya sungguh sungguh sangat indah dan menggoda hatinya. Bunga hanya memakai handuk yang hanya menutup sebagian tubuhnya hingga pundak serta paha kebawah terekspose di depan matanya. Sementara rambutnya yang basah sengaja dinalut dengan handuk yang kemudian dirapihkannya di atas kepala. Davien berusaha keras untuk sedikit menunduk mengalihkan pandangannya, tetapi sekuat apa pun dia mnmenghindarinya, Davien tetap tak bisa melakukannya. Pandangannya sesekali teruh terarah kepada Bunga.
Bunga masih mencoba mencerna pikirannya sendiri. Bagaimana abisa Davien berada di sana sementara pintunya terkunci secara otomatis.
"Davien??, , kamu? bagaimana bisa ada di sini?. Bukankah aku sudah menutup dan mengunci pintunya?"
"Jika memang terkunci secara otomatis, bagaimana bisa aku masuk ke sini?" Davien mencoba mencari pembelaan. Karena merasa Bunga seolah sudah membuatnya seperti seorang tersangka. Dengan menyalahkan Bunga yang seakan dialah yang telah lupa untuk mengunci pintunya.
"Benarkah aku tidak menguncinya?" Bunga beranjak dari tempat semula, kemudian melangkah menuju pintu untuk memastikannya. Tetapi Davien yang beranjak berdiri dari sofa telah terlebih dulu meraih tangannya kemudian memaksa perempuan itu untuk duduk di atas ranjang.
"Tenanglah dan duduk manis di sini. Aku sudah mengunci pintunya!" Davien meraih handuk yang melingkar di kepala Bunga.
"Bagaimana mungkin Davien bisa masuk?"
"Jika tidak memiliki kartu itu, bagaimana mungkin Davien bisa masuk??"
Bunga masih berusaha keras memikirkannya.
"Atau jangan jangan, dia memilikinnya??. Dari mana?"
"Tidak perlu memikirkan hal itu!!" Davien berucap seolah dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Bunga.
"Kenapa kembali lagi?, bukankah aku sudah memintamu untuk pergi?" ucap Bunga dengan lirih. Dia tak mau memusingkan hal itu lagi.
"Beginikah caramu memperlakukan orang yang sudah menolongmu?" Davien berucap seakan menuntut Bunga untuk memberikan kompensasi karena telah mnolongya.
"Benar, aku sudah berjanji akan berbuat baik kepadanya. Tapi bagimana aku harus bersikap??,"
__ADS_1
Apakah Bunga harus menjadi wanita urakan yang bisa selalu menghiburnya?. Dia takut jika melakukannya dan hubungan mereka akan semakin dekat, karena nantinya hanya akan mengundang rasa sakit hati yang teramat ketika tahu bahwa Davien masih selalu mengingat Essie di hatinya.
"Lalu, , apakah aku harus membayarmu!!" Bunga menengadah ke atas menatap Davien yang jauh lebih tinggi darinya.
"Bunga!!" Davien berucap dengan tegas. Memberi peringatan kepada perempuan itu.
"Bersikap baik!!. Bisakah kamu melakukannya?? kamu bisa manis dengan Roland yang sesungguhnya memiliki niat buruk kepadamu. Lalu" Davien sejenak berhenti berucap. Matanya mengawasi ekspresi wajah Bunga yang tak terbaca.
"Kenapa kamu tidak bisa bersikap manis denganku?, ,apa aku terlalu buruk di matamu?"
"Bukan!! , , hanya saja aku tidak suka ketika kamu berlaku baik denganku. Entah kenapa aku merasa kamu selalu menganganggapku sebagai perempuan itu, , , Kekasihmu! lebih tepatnya"
"Tidak!, , hanya saja aku masih melihat Essie di matamu" Bunga menundukkan kepalanya.
Davuin terdiam sejenak, tak lama
senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Apa itu artinya, , ,"
"Aku tidak cemburu!!" sahutnya dengan cepat.
"Apa aku mengatakannya??"
Bunga terpaku, matanya sedikit terbelalak ketika mendengar ucapan Davien. Merasa sangat bersusah payah ketika menelan ludahnya seolah telah tertangkap basah dengan ucapannya sendiri.
Senyumnya semakin lebar. Davien kembali sibuk mengeringkan rambutnya. Davien tidak ingin membuat Bunga semakin terpojok dengan ucapannya, kini dia lebih nemilih untuk mengalihkan pembicaraan
"Sepertinya aku sudah pernah mengatakan bahwa jangan memperlihatkan bagian lehermu" darahnya berdesir ketika Davien bisa melihat permukaan kulitnya yang tak terbungkus handuk. Terlebih lagi ketika mencium sisa aroma sabun yang menyerbak ke dalam hidungnya.
"Kamu tidak pernah mengatakannya. Kamu hanya pernah bilang kalau aku tidak boleh menguncir rambutku" Bunga membiarkan Davien menyelesaikan mengeringkan rambut dengan handuk.
Davien melakukannya dengan perlahan dan sangat hati hati, takut ketika sehelai rambutnya saja nantinya akan tercabut secara tak sengaja.
__ADS_1
"Bukankah itu artinya sama saja?" Davien memaku kedua tangannya. Pandangannya kini tertuju kepada Bunga yang kembali mengangkat wajahnya, hinga tatapan mata mereka bertemu dan saling melihat satu sama lain.
"Memangnya ada apa dengan leherku?, , kenapa aku tidak boleh menguncir rambutku?" Bunga masih menengadahkan kepala menatap matanya.