
"Jangan menikah dengannya!!" gumam Luna. Perempuan itu berucap dengan nada rendah. Menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah dari Barack.
Barack berjalan mendekat ke arah sofa dan duduk di sana dengan menahan tubuh Luna untuk tetap berada di pangkuannya.
Luna menjauhkan sedikit tubuhnya dari Barack, namun laki laki itu malah menarik pinggang Luna agar perempuan itu semakin mendekat bahkan menempel di tubuhnya.
"Barack!" Luna berucap untuk menghentikan laki laki itu.
"Kenapa? Bukannya kamu menyukainya?" Barack menaikkan kedua alisnya dengan cepat. Tangannya melingkar di pinggang Luna dengan kuat agar perempuan itu tidak lari darinya.
Luna tak bisa menyanggahnya, dia memang menyukai perlakuan laki laki itu. Tetapi dengan posisi ini bila tiba tiba ada yang masuk dan melihatnya, benar benar akan sangat memalukan.
Perempuan itu menghindari tatapan mata Barack pipinya pun bersemu merah.
"Itu, , aku, , aku tidak membutuhkan bukti yang kamu maksud. Aku tidak menginginkannya lagi"
Tangan Barack bergerak meraih dagu Luna dan mengarahkan wajah perempuan itu menghadap ke arah wajahnya.
"Kenapa? bukannya kamu getol sekali ingin aku membuktikan bahwa aku tidak berselingkuh dengan Helena"
"Itu dulu!, , kamu tahukan seperti apa rasanya ketika melihat seseorang yang kita cintai tiba tiba berada di atas ranjang dengan orang lain. Saat itu aku benar benar sangat kecewa denganmu. Bahkan aku tidak ingin mendengar suaramu!! sungguh aku sangat membencimu waktu itu!!" Luna kembali menunduk setelah Barack tak menahan dagunya.
"Luna??, , lihat mataku!!" ucap Barack, itu seperti sebuah perintah yang tak terbantahkan.
Perlahan Luna mengangkat wajahnya, menatap mata Barack dengan kedua matanya.
"Jawab pertanyaanku!!, , kenapa kamu tidak memerlukan bukti itu lagi?, ,hmm??" Barack pun memainkan hidung Luna dengan jari telunjuknya. Menyentuhnya dari bagian sebelah kanan, kiri dan bawah hidungnya.
"Karena, karena selama ini kamu mengabiskan waktumu sendirian untuk menyendiri, selalu berjuang sampai saat ini untuk membuatku percaya denganmu. Aku yakin itu tidak mudah. Aku pun juga melewatinya berdua dengan David, sungguh sulit melupakanmu!, , apa lagi denganmu, , . Kamu melewatinya sendiri. Tanpa seseorang di sisimu. Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan saat itu. Ketika aku bisa bangkit kembali untuk David, aku yakin kamu masih terpuruk karena memikirkanku!" mata Luna memerah, terlihat ada kilauan bening di ujung sana.
Barack menggerakkan kepalanya mendekati wajah Luna. Kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kedua ujung mata perempuan itu secara bergantian.
"Air matamu sungguh sangat berharga. Aku harap kamu tak membuangnya lagi untuk hal yang tidak penting"
"Bagiku ini sangat penting!" tangan Luna mengusap air matanya yang mencuat keluar.
"Aku juga minta maaf, karena di saat kehamilanmu. Seharusnya aku berada di sana bersamamu!, aku memang laki laki bodoh. Lemah hingga seseorang bisa memperdayaiku"
"Tidak Barack, , semua ini sudah takdir!! kita tidak bisa mengelaknya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjalaninya dengan baik" Luna tersenyum kemudian.
"Aku senang, ingin rasanya saat ini aku melarangmu berdekatan dengan Adrian, dan kembali ke sisiku lagi, tetapi jika aku melakukannya secara tiba tiba. Laki laki itu pasti akan merasa curiga!, , jadi aku mohon Luna. bersikaplah seperti biasa ketika berada di dekat Adrian"
Barack terlihat sangat frustasi katika mengingat soal Adrian.
"Syukurlah kalau kamu tidak membutuhkan bukti itu lagi, tetapi aku akan tetap mencarinya. Dan kamu harus berjanji. Tidak perlu mencari bukti itu sendiri. Oke!" Barack merasa lega kalau Luna tak akan nekat untuk mencari bukti itu dari Adrian.
"Kenapa??, , ucapanmu bukan seperti sebuah permintaan. Tapi lebih kepada perintah. Bukannya kemarin kamu yang menyuruhku untuk mencarinya di ruang kerja Adrian"
"Jangan Luna. Aku mohon kamu jangan melakukan itu. Dan kamu tidak perlu menanyakan apa alasannya oke!!" ucapan Barack seperti sebuah perintah saat itu.
"Iya!" Luna masih tidak berani untuk menatap wajah Barack. Dia akan merasa sangat malu jika menatap laki laki itu.
Sementara dari tadi Barack tak pernah mengalihkan pandangannya dari Luna.
__ADS_1
"Lalu, , apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Mendengar pertanyaan Barack, pikiran Luna meracau kemana mana. Dia berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.
Kedua tangan Luna merangkup pipinya sendiri, dia merasa wajahnya memanas seperti sedang terbakar sinar matahari. Padahal cuaca sore itu terasa sangat dingin.
"Kenapa pipimu tiba tiba memerah?" Barack sebenarnya tahu alasannya, tetapi dia sengaja berucap untuk menggoda Luna.
"Aku hanya merasa kedinginan" Luna berusaha menyembunyikan wajahnya di dalam kedua tangannya.
"Benarkah??, , masaakk???. Oh ya. Apa selama kita berpisah kamu pernah berhubungan dengan Adrian?"
Seketika Luna langsung menatap ke arah Barack dengan tajam.
"Apa maksut ucapanmu!" perempuan itu berucap dengan nada tinggi.
"Aku hanya bertanya Luna, , kenapa kamu marah sayang hmm, , ?" Barack berucap dengan nada lembut. Dia berusaha mengimbangi Luna yang langsung tersulut emosi.
"Pertanyaanmu lebih ke arah menuduh! bagaimana bisa aku tidak marah marah!!, "
"Jadi selama ini, kamu tidak pernah berhubungan dengan laki laki mana pun??" Barack sangat antusias, dia ingin sekali mendengar jawaban dari Luna.
"Kamu pikir setelah meninggalkanmu, dengan segampang itu aku bisa mencari laki laki lain untuk menggantikan posisimu?"
"Kamu yakin?"
"Yaalah, , jangan jangan kamu lagi yang udah menggantikan posisiku dengan wanita lain" Luna mulai terlihat cemberut.
"Lupakan!!, , sekarang apa yang akan kita lakukan? kamu belum menjawab pertanyaanku tadi" Barack mengingatkan kembali pertanyaan yang belum sempat di jawab oleh Luna.
"Mmm. Iyaa, , aku dan kamu. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"David??" Luna berucap untuk mengingatkan Barack, bahwa ada David di antara mereka.
"David ada di rumah sayang, yang aku bicarakan adalah kita. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Barack menatap perempuan di depannya itu dengan lembut namun menggoda.
"Aku harus menyelesaikan desain ini?" ketika Luna ingin meraih pensil dan kertas yang ada di sampingnya Barack langsung menjauhkan dua benda itu.
"Ini bukan waktunya untuk mendesain!"
"Tapi aku harus menyelesaikannya!"
"Aku Bos di sini!!, , jadi aku yang akan memutuskan. Apa yang akan kita lakukan sekarang!" Barack menarik salah satu tangannya yang sedari tadi melingkar di pinggang Luna, tangannya kini menyentuh lengan Luna bergerak naik perlahan hingga keleher perempuan itu dan berakhir di tengkuknya.
"Apa kali ini kamu akan menolaknya??" Barack berucap dengan lembut, namun nafasnya terdengar sangat kasar di telinga Luna.
Luna menatap Barack dengan penuh arti, dia menggelengkan kepalanya kemudian.
"Mmm"
Barack tersenyum, dia menarik tengkuk Luna dan mencium bibir perempuan itu. Barack tidak ingin melakukannya dengan tergesa gesa. Dia ingin menikmati setiap sentuhan yang dia berikan kepada tubuh Luna.
Barack mulai mencium bibirnya dengan lembut. Menggerakkan kepalanya untuk mempermudah dirinya menyesap habis bibir Luna.
__ADS_1
Perempuan itu sudah tak malu lagi untuk membuka mulutnya. Dia seolah mempersilahkan Barack ******* habis indra perasanya, menyesapnya dan menariknya.
Kini Barack menggerakkan lidahnya sendiri menari nari di dalam sana hingga menyentuh dinding mulut Luna yang memberikan sensasi tersendiri.
Luna memejamkan matanya dia ingin menikmati ciuman yang sudah lama tak pernah dia rasakan. Ciuman ini yang membuatnya gila, hingga dia menginginkannya lagi dan lagi. Sementara kedua tangannya kini telah melingkar penuh di leher Barack, menahan dan mendorong tengkuk Barack untuk semakin memeperdalam ciuman mereka. Hingga kehabisan nafas pun tak mereka rasakan. Mereka saling berebut oksigen saat itu.
Tangan Barack yang satunya lagi bergerak menelusupi kemeja Luna dari arah pinggangnya.
Perlahan naik ke arah punggung untuk melepaskan pengait yang bertahan dengan kokoh di sana untuk menyangga dada Luna.
Barack sepertinya sudah sangat lihai dalam melakukan hal itu, walau pun sudah lama sekali dia tak melakukannya, namun dia hanya perlu melakukan gerakan sedikit saja dan pengaitnya pun langsung terlepas.
Kini tangannya perlahan berpindah tempat, dari punggung bergerak menuju ke arah dada Luna.
Luna membuka matanya ketika merasakan sesuatu bergerak di bawah sana. Gerakan kecil yang berasal dari tubuh Barack.
Pipi Luna bersemu, dia merasakan bibirnya yang semakin membengkak akibat ulah Barack.
Kini laki laki itu telah melepaskan bibir luna. Dia membiarkan Luna untuk menghela nafas terlebih dulu, sementara Barack sedang sibuk dengan aktifitas lain.
Kedua tangannya mangangakat kemeja Luna hingga ke atas dadanya.
Tangan Luna meremas rambut Barack dengan acak, perempuan itu tak bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Hingga suaranya lolos begitu saja dari mulutnya ketika Barack memainkan ujung dadanya dengan lembut hingga tubuh Luna menegang.
"Aku akan melakukannya!!, , kamu, tidak akan menolakku lagi kan?" Pandangan mata Barack terlihat sudah tak terarah, dia mengigit bibirnya dengan kuat ketika mengangakat tubuh Luna dan membenamkannya di sana.
Nafas mereka saling memburu satu sama lain. Kehangatan dan hasrat yang tertahan selama 7 tahun lebih akhirnya tersalurkan.
Luna melakukan gerakan dengan teratur. Gerakan yang sengaja di perlambat hingga menimbulkan kenikmatan yang teramat, Luna menengadah ketika merasakan tubuhnya seolah mendapatkan puncak kenikmatannya.
Barack tersenyum dia tidak bisa membayangkan jika seseorang melewati ruang kerjanya dan mendengar suara Luna yang sempat beberapa kali lolos dari mulutnya.
Laki laki itu kemudian membungkam mulut Luna dengan bibirnya. Dan bibir mereka saling berpagutan lagi.
Barack menarik tubuhnya ke arah belakang dan bersandar di sandaran sofa. Dia juga menarik tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya.
Mereka berdua menghela nafas panjang bersama setelah melewati kenikmatan bersama.
"Terima kasih?" Barack mengecup ujung kepala perempuan yang tengah tertunduk itu.
"Maaf, , aku melukaimu. Kulitmu yang bersih ini jadi terlihat ada noda karena gigitanku" Tambahnya sambil mengecup lembut pundak Luna yang terluka.
"Mmm, , tidak apa apa. Kamu bisa melakukannya di tempat lain jika kamu mau!" Luna mengangkat kepalanya.
"Kamu mau lagi? Sekarang?"
Luna terkekeh sambil menepuk pelan dada Barack.
Sementara Barack membantu Luna untuk membenarkan pengait yang menyangga dadanya kembali seperti semula dan merapihkan baju perempuan itu yang sempat terlihat menyedihkan akibat ulahnya.
Dia juga membantu Luna menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Kening perempuan itu basah karena keringat hingga membuat anak rambut di sana menempel erat di kening Luna karena aktifitas yang baru saja mereka lakukan.
Barack tersenyum ke arah Luna, dan menghadiahi perempuan itu kecupan lembut di kening, dan kedua punggung tagannya secara bergantian.
__ADS_1
"Terima kasih" Barack menarik tubuh Luna kembali kedekapannya.
♡♡♡