Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#128 Dilema


__ADS_3

Luna melangkah keluar dari kamar setelah selesai mandi, berjalan ke arah ruang tv dengan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Barack menepuk pelan sofa dengan tangannya, memberi isyarat kepada Luna agar duduk di sana.


"Biar aku yang melakukannya" Barack mengambil alih handuk yang ada di tangan Luna. Laki laki itu kini sedang membantu Luna mengeringkan rambutnya.


Barack menyimpan rambut yang menutupi bagian leher Iatrinya, kemudian menghadiahi sebuah kecupan di tengkuk perempuan itu.


"Bolehkah nanti malam kita melakukannya?"bisiknya.


"Mmm" Luna mengangkat ke dua pundaknya, seakan dia juga tidak tahu harus menjawab apa.


Perempuan itu tidak berani melihat ke arah Barack, dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena dia tahu kemana arah pembicaraan Barack.


"Apa aku perlu menghubungi Dokter sekarang untuk konsultasi dulu?" Barack memendam wajahnya di pundak Luna. Menikmati aroma tubuh Istrinya yang masih terasa lembab karena sisa mandi.


"Barack ih!!, jangan bikin malu. Lagi pula ini juga sudah malam" yang benar saja masak iya malam malam menelpon Dokter hanya untuk menanyakan hal yang sensitif itu.


Barack terkekeh mendengar jawaban dari Luna.


"Kalu begitu sekalian besok saja saat memeriksa kandunganmu. Gimana?"


"Terserah kamu" tangan Luna meraih lengan Barack yang melingkar di pinggangnya.


Barack mengangkat kepalanya, menyangga dagu di pundak dan memaku hidungnya di pipi Luna. Laki laki itu memainkan hidungnya memutari pipi dan leher Istrinya secara bergantian.


"Kalau malam ini kita lakukan dengan perlahan, gimana? kamu juga menginginkannya bukan?"


Luna hanya tersenyum sementara Barack tidak memerlukan jawaban lagi setelah melihat Istrinya menggerakkan kepala ke arah samping seolah memberikan ruang kepada Barack untuk lebih leluasa mengecup lehernya.


Barack meniup leher Luna, laki laki itu sengaja menggoda Istrinya.


"Tapi aku takut mengganggu calon bayi kita"


"Ya udah! nggah usah" suara Luna terdengar sedikit kecewa. Namun itu malah membuat Barack semakin gemas.


"Kenapa?, , kamu kecewa?" ucapnya, Barack berusaha keras menahan senyumnya.


Luna meraih pisau dan sebuah apel dari atas meja, dia mengupas apel itu tanpa menghiraukan pertanyaan Barack.


"Kapan kita akan mengunjungi mamah?" Luna berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Kapan pun kamu mau, aku akan mengantarmu" Semenjak kecelakaan waktu itu, Barack lebih protective dengan Istrinya, dia sama sekali tidak pernah membiarkan Luna menyetir lagi. Bahkan dia telah membuah SIM milik Luna.


Luna memutar tubuhnya menghadap ke Barack.


"Aaaa" Luna menyuruh Suaminya membuka mulut. Perempuan itu memasukkan potongan apel ke dalam mulut Barack.


Barack meraih buah anggur dari atas meja, mengangkat tangannya dan memaku anggur itu di udara. Barack menengadah untuk memudahkan menggigit anggur dari bagian paling bawah.


Luna meletakkan kembali pisau dan sisa apel ke atas meja. Setelahnya mengambil remote dan menyalakan Tv. Dia menyeret tubuhnya ke arah belakang dan bersandar di pelukan Suaminya.

__ADS_1


Luna menengadahkan kepalanya menatap anggur yang masih di pegang Barack.


Perempuan itu membuka mulutnya seakan menunggu Barack menyuapi anggur itu ke mulutnya.


Laki laki itu tersenyum, Barack menggigit anggurnya mendorong kepalanya ke arah Luna. Dia menyuapi anggur itu ke pada Luna menggunakan mulutnya.


Luna membuka mulutnya dan menerima anggur dari mulut Barack. Namun Laki laki itu tidak melepas anggurnya begitu saja.


Tangn Barack yang merangkul pundak Luna berusaha menahan kepala perempuan itu saat Barack memberikan anggur itu sekaligus melumat bibir Istrinya.


"Manis?" ucapan Barack merujuk pada buah buah anggur, setelah melepas ciuamannya.


"Mm" Luna hannya mangangguk, sementara tangannya mengusap bibirnya yang basah.


"Samar bibirku manisan mana?" laki laki itu benar benar sudah berhasil menggoda Istrinya saat itu, entah keberapa kali Barack melakukannya.


Luna hanya melempar senyum sambil memukul pelan dada Barack.


♡♡♡


"Cici?" Aryo terkejut saat melihat Cici dari kejauhan, laki laki itu mempercepat langkahnya setelah melihat perempuan yang di cintainya tengah berjalan kembali ke arah lift.


Sementara perempuan yang baru saja berdebat dengan Aryo masih duduk di lantai, dia hanya terlihat kebingungan ketika mengtahui Aryo berlari mengejar seorang perempuan.


Cici menekan tombol yang ada luar pintu lift, berharap pintu akan segera terbuka sebelum Aryo berhasil menghentikannya.


"Cici!!" Aryo berseru lagi. Aura wajah laki laki itu nampak gelisah sekarang.


Dan ketika pintu lift terbuka Cici bergegas masuk ke dalam, tangannya langsung menekan tombol agar liftnya menutup kembali.


Dia melangkah masuk ke dalam lift dan mendekat ke arah Cici.


Sementara perempuan itu menggerakkan kakinya mundur ke belakang hingga menabrak dinding lift.


Nafas Aryo terdengar sangat kasar, karena dia harus berlari ketika mengejar Cici.


Cici menatap Aryo dengan lekat, perempuan itu memperlihatkan ekspresi wajahnya yang tak terbaca.


Ruang kecil berukuran tak lebih dari 2 kali 2 meter itu sangat hening, hanya nafas Aryo yang terdengar saat itu.


"Kenapa kamu lari?" ucap laki laki berusaha memecah keheningan yang membentang di antara mereka berdua.


Cici menunduk melihat ke bawah, perempuan itu menghindari tatapan mata Aryo.


"Jangan mendekat!" ucapnya saat melihat gerakan kaki Aryo melangkah maju mendekat ke arahnya.


Cici menggerakkan tubuhnya ke arah samping untuk menghindari Aryo yang semakin dekat dengannya, namun laki laki itu berhasil mengepung tubuhnya dengan ke dua tangan yang bertengger di dinding lift.


Cici terlihat sangat tidak nyaman saat itu.


"Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat!, maaf kalau sudah mengganggu waktumu" Cici membuang senyum getirnya ke arah Aryo.

__ADS_1


Perempuan itu menepis tangan Aryo untuk memudahkan dirinya lewat dan melangkah menuju pintu saat liftnya terbuka.


Tetapi Aryo berhasil menahan tangan Cici hingga perempuan itu memaku langkahnya. Dan saat itu juga pintu Lift kembali tertutup.


Mata Cici membulat ketika merasakan genggaman tangan Aryo yang terasa sangat panas.


"Suhu tubuhnya panas sekali!!, , tapi, , , saat sedang sakit pun bisa bisanya dia melakukan hal itu dengan perempuan lain!!"


"Ikut denganku!" ucap Aryo kemudian


"Aku tidak mau!!" perempuan itu sama sekali tidak menoleh, dia menatap lurus ke arah pintu lift.


"Lepas!" Cici berusaha menepis tangan Aryo yang menggenggamnya dengan erat.


"Aku tidak akan melepaskanmu!!" ucapnya lirih, Aryo menaraik tangan Cici membuat tubuh perempuan itu bergerak mendekat ke tubuhnya..


"Lepas!!! aku harus pergi!! aku tidak ingin melihatmu!!" Cici mendorong tubuh Aryo dan berusaha melepaskan tangan Aryo yang sudah melingkar di pinggangnya dengat erat.


Aryo memaku tubuhnya, laki laki iti tidak bergeming dia lebih memilih menekan tombol agar lift itu membawanya kembali ke lantai semula.


"Apa yang sedang kamu lakukan!!" Cici kini berani menatap Aryo, bahkan dengan sangat tajam seakan dia benar benar menahan amarahnya di sana.


"Diamlah!!" ucapnya dengan nada enteng.


Setelah pintu Lift terbuka Aryo menarik tangan Cici dan membawa perempuan itu berjalan kembali ke arah pintu masuk apartementnya.


Cici terus berusaha menolak dan melepas tangan Aryo namun laki laki itu dengan kuat menahan tangan Cici dan tidak membiarkan Cici pergi dengan keadaan marah.


Sekuat apa pun dia berusaha melepaskan diri dari Aryo, semakin kuat Aryo menahannya.


Cici nampak salah tingkah saat melihat perempuan yang tadi di lihatnya keluar dari apartement Aryo masih berdiri di depan pintu.


"Aryo siapa dia?" ucap perempuan itu.


"Aku sudah bilang berapa kali kalau kamu harus pergi! kenapa masih di sini!" Aryo menekan tombol pasword dan pintunya terbuka secara otomatis.


Tetapi saat itu juga Cici langsung menepis tangan Aryo dengan kasar.


Hingga membuat Aryo memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Cici.


"Kalau pun ada yang harus pergi, itu adalah aku" Cici berucap dengan nada lirih dan terdengar sangat frustasi.


"Kamu tidak boleh pergi!" Aryo meraih tangan Cici kembali.


"Tunggu!" perempuan itu melihat Cici dengan tatapan menyelidik.


"Aryo apa kamu serius dengan perempuan ini??" dia terkekeh mengejek kepada Aryo dan menggeleng tidak percaya.


"Aku tidak pernah melihatmu mengejar seorang perempuan. Kenalkan padaku siapa dia!" perintahnya.


Ujung mata Aryo melirik ke arah perempuan itu.

__ADS_1


"Kak pergilah! aku sedang tidak dalam moodku untuk bertengkar denganmu. Kembalilah ke tokyo!!" Aryo menarik tangan Cici yang terlihat sangat terkejut saat laki laki itu memangil perempuan yang masih berdiri di depan pintu dengan panggilan kakak.


Cici mengikuti langkah kaki Aryo masuk ke dalam apartement, begitu juga dengan Bristi kaka perempuan Aryo.


__ADS_2