Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#151 Coklat panas


__ADS_3

"Iya, maaf Ayah"


"Tidak David, kamu tidak perlu minta maaf" Barack mengusap air mata David.


Sebalikya, tangan mungil David bergerak merangkup ke dua pipi barack. Mengusap lembut pipi Barack di sana.


"Kamu pasti sangat tersiksa ketika harus menahannya sendiri" Barack menarik tubuh David kedalam dekapannya.


"Jika kamu mengatakan sejak awal, seharusnya aku bisa memelukmu seperti ini. Lalu bagaimana bisa kamu menyiksa dirimu sendiri Sayang??" Barack melepas pelukannya, menghujani Anak kecil itu dengan kecupan di wajahnya bahkan di setiap jengkal tubuhnya. Hingga berakhir di ke dua punggung tangannya. Dan laki laki itu kembali memeluk David.


"David ayo kita pulang!!" Luna berucap dengan nada tinggi. Dia memperlihatkan sikap angkuhnya di depan Barack.


Barack menghela nafas panjang, dia beranjak berdiri sambil menggendong Putranya.


Berjalan ke arah Luna dan memaku langkahnya di sana


"Sampai kapan kamu akan menghukum kami berdua??" Ucapnya sambil berlalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Luna mengusap air matanya, dia ikut melangkah masuk ke dalam.


♡♡♡


Mata Barack terlihat sembab, berapa lama dia tidak menangis sampai seperti itu.


Kini dia sedang duduk di sofa, memangku kepala Putranya dan mengusap lembut kepala anak itu.


David telah tertidur setelah menghabiskan tenaganya seharian untuk beramian dan menangis tentunya.


Barack masih tidak percaya bahwa David bisa melakukan hal di luar nalarnya. Dari awal Anak kecil itu sangat pintar dalam menyembunyikan perasaannya.


"Aku harus membawanya pulang!" Luna berucap dengan angkuh, seolah dia tak perduli dengan keadaan David.


"Jika kamu masih ingin menghukumku atas apa yang dulu terjadi, maka hukumlah aku. Jangan pernah melampiaskannya kepada David" Barack mengalihkan pandangannya ke wajah David yang terlihat sangat polos. Dia mengecup keningnya kemudian.


Luna masih berfikir keras, bagaimana bisa David berhubungan dengan Barack. Bahkan dia tak menyimpan foto atau pun benda yang bersangkutan dengan laki laki di depannya. Kecuali satu, yaitu kalung.


"Terserah, kamu ingin menyakitiku semaumu, , aku terima. Tetapi jangan sakiti David" tambahnya.


"Dia anakku!!" ucap Luna seketika.


"Dia putraku!!" Barack membalas ucapan Luna, dia tak mau kalah dari perempuan itu.

__ADS_1


Luna memalingkan wajahnya dengan jengkel.


"Di bilang ingin menginap di sisni"


"Tapi!!"


"Ingat. Aku juga Orang tuanya!!. aku juga berhak atas David!!" Barack memotong pembicaraan. Dia berucap dengan tegas. Laki laki itu kini menggendong tubuh David dan membawanya masuk ke dalam kamar.


♡♡♡


Luna pun akhirnya mengalah tak ada untungnya juga dia berdebat dengan Barack. Dia juga ingin melihat David bahagia. Malam itu dia mengijinkan David menginap di rumah Barack.


"Masalah David, , biarkan dia yang memilih. Hari ini atau besok dia akan tidur di mana, , biarkan dia yang menentukan. Dia juga berhal mendapatkan kasih sayang dariku!, , tolong jangan biarkan dia menderita lebih lama lagi" Barack berucap dengan nada memohon kepada Luna.


"Besok pagi aku akan menjemputnya, jadi tolong jaga dia dengan baik" luna beranjak dari sofa, dia berjala ke arah pintu keluar. Sepertinya Luna berusaha memenuhi keinginan Barack.


"Kamu menyetir sendiri??" ucapan Barack menghentikan langkah kaki perempuan itu. Dia berjalan mendekatinya.


Laki laki itu kini berdiri tepat di belakang Luna.


Luna merasa gugub, ketika tubuh Barak yang berada di belakangnya memberikan kehangatan yang menjalar di tubuh Luna.


Namun seketika, Barack mendorong kepalanya melewati pundak Luna hingga wajah mereka berdekatan. Dia menghentikan tangan Luna untuk membuka pintu, hingga tangan mereka saling bersentuhan di handel pintu. Tangan Barack berada di atas tangan Luna.


Laki laki itu melirik ke arah wajah Luna yang berada tepat di sampingnya. Tangan perempuan itu terasa sangat dingin.


Luna menarik tangannya dengan cepat.


"Jangan pulang!!" ucapnya dengan lembut di telinga Luna.


Tubuh mereka bernar benar sangat dekat, hanya jaket yang di kenakan Luna yang menjadi penyekat di antara tubuh mereka, hingga Luna bisa mendengar suara nafas yang keluar dari hidung Barack.


"Di luar sedang hujan salju, mobil tidak bisa lewat, dan harus menunggu besok pagi setelah salju yang menutupi jalanan di bersihkan. Ini, , juga sudah malam" Barack terus berucap untuk menahan perempuan itu.


Luna merasa semakin gugub dan tidak nyaman, dia menggeser tubuhnya menjauh dari Barack.


"Aku harus ke kamar kecil" ucapnya seolah mengalihkan pembicaraan.


"Kamu pasti masih ingat di mana letak toilet tamu" Barack berucap dengan peneknan di akhir kalimat. Seakan dia memperjelas bahwa Luna di sana hanya sebagai seorang tamu. Diia pasti tidak ingin membuat Luna merasa salah sangka ketika Barack menahannya untuk tidak pulang.


Luna pun melangkahkan kakinya ke arah kamar kecil, dia masih ingat dengan jelas bahkan setiap sudut rumah itu.

__ADS_1


♡♡♡


Barack berjalan ke arah dapur, dia mengambil dua buah cangkir, laki laki itu membuat coklat panas di sana.


Barack duduk di kursi tinggi di depan meja seperti mini bar. Dia memutar kursinya ke arah Luna yang baru saja keluar dari toilet.


"Minumlah" Laki laki itu menggeser secangkir coklat panas menjauh darinya. Di sana masih ada satu kursi kosong. Dia berharap Luna mau duduk di sana.


Perempuan itu masih berdiri, matanya hanya melirik ke arah cangkir di atas meja


"Tenang saja, aku tdak memberimu racun!!" tambahnya.


Luna memalingkan wajahnya, dia akhirnya berjalan mendekat, menarik kursi untuk menjauhkan sedikit dari Barack, kemudian duduk di kursi itu.


Barack tersenyum sinis, seolah tahu perempuan itu berusaha menjauh darinya.


"Setelah ini, kamu tidurlah. Kamu bisa menggunakan kamar itu bersama dengan David, , akau akan berjaga di sini" Barack menyercap pelan coklat panasnya.


Luna tak bergeming dia hanya diam, tangannya meraih cangkir itu. Berharap ingin segera menghabiskannya lalu pergi masuk ke dalam kamar bersama dengan David.


Namun sayangnya coklat itu terlihat masih sangat panas sekali.


Luna meniupnya sebelum mencicipi coklat itu.


Barack tersenyum, mengarahkan tangannya ke arah bibir Luna.


Luna menarik kepalanya menjauh dari tangan Barack, dia menatap waspada ke arah laki laki itu.


Barack mengusap coklat yang tertinggal di bagian bibir atas Luna.


"Aku hanya membantumu membersihkan ini"


Pipi Luna bersemu, dia bingung dengan perasaannya. Bagaimana bisa laki laki yang masih di bencinya ini bisa membuat hatinya berdebar dengan kencang.


Perempuan itu memalingkan wajahnya, menunduk menyembunyikannya dari Barack.


Barack meletakkan cangkirnya. Tangannya bergerak meraih kursi Luna dan menariknya agar berdekatan dengannya.


Luna terkejut dia kembali memalingkan wajahnya ke arah Barack. Seolah dia sedang berfikir apa yang akan di lakukan laki laki itu.


Tangan Barack meraih jaket Luna dan berusaha membukanya.

__ADS_1


__ADS_2