
David berdehem untuk menetralkan perasaannya. Tangannya masih bergerak dengan sangat hati hati mengusap sisa darah yang mengalir di sekitar kaki Aileen.
David benar benar tidak bisa berkonsentrasi karena pemandanngan di depannya. Apa lagi setelah Aileen semakin membungkuk untuk melihat kakinya yang terluka. David tak sengaja melihat belahan dada Aileen.
Pandangan mata David sempat terpaku di sana beberapa detik, sebelum akhirnya dia bergidik untuk menyadarkan diri.
"Ee, , kamu bisa duduk dengan tegak kan?" ucapnya sambil kembali mengarahkan pandangannya kearah kaki Aileen.
"Kenapa?, , aku kan mau lihat seberapa parah lukanya"
"Tidak perlu, duduklah dengan tegak" David mendorong kepala Aileen agar perempuan itu merubah posisi duduknya.
Namun saat itu juga matanya kembali tertuju kearah paha Aileen.
Dengan cepat laki laki itu meraih bantal untuk menutupi paha Aileen.
Tetapi Aileen langsung menarik bantal itu dan membuangnya kearah lain.
Pandangan David teralihkan kearah bantal yang sudah berada di samping tubuh Aileen.
"Kenapa di ambil??"
"Bantalnya menutupi pandanganku, aku juga ingin melihat kakiku"
"Perempuan ini benar benar!"
David menghela nafas panjang, dia berusaha keras untuk kembali fokus dengan luka itu.
Setelah selesai di bersihkan, David meneteskan bagian lukanya dengan antiseptik.
"Au" Aileen mengeluh ketika lukanya kembali terasa perih. Dia bahkan sempat menarik kakinya.
"Sebentar lagi juga selesai, , tahan sedikit ya?"
"Iya iya" dengan sendirinya Aileen mengangkat kaki lalu meletakkan telapak kakinya di atas paha David.
David terkejut hingga seketika dia langsung mengalihkan pandangannya kaerah Aileen.
"Kenapa malah melihatku seperti itu??, , ayo cepat selesaikan" perintahnya dengan galak. Perempuan itu bersikap seolah dia ratu di hadapan David.
Ujung bibir David terangkat, dia tersenyum ketika melihat sikap Aileen yang sok itu. Pandangannya kini mulai bergerak menyapu tubuh Aileen, hingga terpaku di sela sela paha perempuan itu.
__ADS_1
Kaki Aileen yang sedikit terangkat karena berada di atas pahanya itu membuat David salah tingkah. Selama ini dia sering melihat lekuk tubuh para model yang terlihat sangat sexsi. Namun entah kenapa dadanya berdebar ketika itu hanya melihat kaki Aileen yang tak seberapa sexinya jika di bandingkan dengan model modelnya.
David sempat memijat keningnya, dia terlihat sangat frustasi. Namun dia masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Sehingga David bisa melanjutkan memberikan Antibiotik kepada luka di kaki Aileen. Setelahnya dia membalut kaki Aileen dengan Wound Dressing atau pembalut luka.
"Selesai" Perlahan David menurunkan kaki Aileen dari atas pahanya.
"Terima kasih" Aileen terlihat tersenyum ketika lukanya sudah terbalut dengan rapih.
Perempuan mengalihkan pandangannya kearah David ketika laki laki itu terus memandanginya.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Aku menyukai senyummu" ucapnya seketika. Hingga membuat dada Aileen terasa bertedak dengan sangat cepat.
Mereka saling memandang satu sama lain, hingga tanpa sadar David meraih pipi Ailen dan mengusapnya denga lembut.
David menggunakan kedua lututnya yang bertumpu di atas lantai untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aileen yang jauh berada di atasnya.
Laki laki itu tersenyum, kini kedua tangannya telah merangkup pipi Aileen.
"Teruslah tersenyum sepeeti ini" bisiknya, David semakin mendekatkan wajahnya hingga kening mereka saling menempel.
"Tapi perlihatkan senyum itu hanya untukku!!, ," tambahnya.
"E, , David!" Aileen berusaha menghentikan laki laki itu karena tubuh David semakin mendekatinya dan memaksa Aileen untuk membuka kakinya karena takut gerakna tubuh David akan mengenai bagian kakinya yang terluka.
Tetapi laki laki itu telah salah mengartikannya. David mengira Aileen sedang mempersilakan dirinya untuk lebih mendekat.
Kini David telah berhasil mendorong tubuh Aileen hingga terbaring di atas ranjang.
"David!"
"Hmmm" laki laki itu yelah menutup matanya. Menikmati aroma wangi tubuh Aileen yang menyeruak ke dalam hidungnya.
Aileen terlihat ketakutan ketika David semakin menekan tubuhnya.
Darahnya berdesir hingga memanas sampai terasa menghangat di bagian pipinya. Mungkin saat ini pipinya sudah terlihat sangat merah.
Nafas David terasa hangat ketika menyaou wajah Aileen, kini David sudah berhasil mengecup bibir Aileen dengan lembut.
Sementara Aileen masih berusaha mencoba menahan tubuh David agar tak menindihnya dengan kuat, tubuh laki laki itu terasa sangat berat baginya.
__ADS_1
Nafas David terdengar semakin kasar, kecupannya kini bergerak menurun kearah dagu Aileen.
"David!!" tangan Aileen melepas kain yang sedari tadi di genggamnya ketika David semakin kehilangan kendalinya. Laki laki itu itu kini sedang mengecup bagian leher Aileen.
Namun perempuan itu berusaha berontak, kedua tangannya dengan kuat mendorong tubuh David agar menjauh. Tetapi David semakin menggila, dia meraih kedua tangan Aileen, menarik, mencengkeram dan mendorong kuat kemudian menguncinya di atas ranjang hingga Aileen tak bisa berkutik.
"David!!!!!" teriak Aileen, dia merasakan sedikit perih di bagian lehernya ketika David sedang mengecup di bagian sana. Ternyata laki laki itu sedang menyesap kuat kulit Aileen yang putih mulus itu bahkan menggigit kecil hingga meninggalkan bekas yang sangat merah sampai kehitaman.
David menggerakkan matanya ke atas untuk mengawasi wajah Aileen, seketika dia memaku tubuhnya saat melihat kilauan bening di ujung mata Aileen. Dia tersadar bahwa baru saja apa yang dia lakukan itu telah menyakiti Aileen.
David menarik tubuhnya sedikit menjauhi Aileen. Tangannya bergerak melepas tangan perempuan itu, dia tak sadar bahwa tangannya mencengkeram tangan Ailen dengan kuat hingga pergelangan tangannya memerah.
David mengatur nafasnya yang memburu agar kembali normal.
"Maaf" dia terlihat sangat menyesal ketika sudah menyakiti Aileen. Raut wajah perempuan itu benat benar terlihat sangat ketakutan.
"Maaf" ucapnya sekali lagi.
David mengecup kening Aileen, setelah itu menyandarkan kembali kepalanya di kening Aileen.
"Maaf, , , maaf" David sempat mengecup bibir Aileen, sebelum dia beranjak menjauh darinya, perlahan David pun melangkah keluar dari kamar.
♡♡♡
Di luar David terlihat sedang duduk sambil menatap hujan yang enggan berhenti membasahi bumi. Seolah hujan sedang bekerja sama dengan alam untuk mengurung Aileen dan David agar lebih berlama lama di tempat itu.
Laki laki itu membungkuk menggunakan kedua tangannya yang bertumpu di atas paha untuk menopang tubuh.
Tangannya kini sedang meremas rambut dengan kuat.
Bahkan dia terlihat memejamkan matanya dalam dalam hingga terlihat kerutan kasar di sekitar matanya.
"Apa kamu sudah gila David!!, , hampir saja dirimu lepas kendali karena tak bisa menahan diri dari tubuh perempuan itu!!"
David merasa jengkel dengan dirinya, seharusnya dia sudah terbiasa dengan wanita yang selalu ada di sekelilingnya, bahkan dia sangat mudah menahan diri ketika para wanita itu sudah bersedia naik ke atas ranjang dengan sendirinya. Namun entah kenapa dia tidak bisa mengendealikan diri dengan baik ketika melihat tubuh Aileen.
"Kamu pasti sudah gila David!!" gumamnya.
Ujung matanya kini teralihkan kearah Pak tua yang baru saja keluar dari arah dalam dengan membawa dua buah cangkir teh panas di tangannya.
Pak tua itu berjalan mendekati David dan meletakkan dua buah cangkir itu di atas meja.
__ADS_1
"Minumlah selagi masih panas. Dan bawakan satu untuk istrimu" ucap Pak tua itu, kemudian dia pergi kembali masuk ke dalam rumah.
David hanya melirik kearah cangkir itu, tatapan matanya terlihat sangat ragu. Dia merasa tidak yakin ketika ingin membawa teh itu ke dalam kamar, David masih merasa bersalah dengan Aileen terlebih lagi dengan apa yang baru saja dia perbuat kepada perempuan itu.