Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
70. Kemunculan Mr.Rodrigo


__ADS_3

Dia terlihat sangat cantik anggun dan elegan, rambut coklat dengan warna mata yang senada di padu dengan dress Moca, Bunga berhasil membuat Davien semakin terpana.


Lelaki itu mengulurkan tangannya, menunggu Bunga menyambutnya.


Dia membalasnya sembari melangkah turun dari mobil.


"Kau baik-baik saja?" Davien melihat guratan gugup di wajahnya. "Tidak apa-apa, orang tuaku tidak suka makan orang."


Bunga tersenyum mendengar candaan yang basi menurutnya.


“Ayolah tersenyum, hiii... sedikit saja.” Davien sampai memperagakan caranya tersenyum hingga terlihat giginya yang rapi.


“Hiiiiiiii....” Bunga dengan sangat lebar meniru senyumnya. “Puas?”


Haha...


***


Mareka kemudian berjalan masuk menuju pintu sebuah restoran ternama di kota itu.


Davien membuang pandangannya ke sekitar mencari keberadaan orang tuanya. Matanya tertuju pada sebuah meja, dia kemudian mengajak Bunga berjalan ke meja di mana Aileen dan David berada.


Di sisi lain di meja yang berbeda Laura bersama suami dan Marvel juga sedang makan malam bersama.


Tanpa sengaja Laura melihat putrinya sedang berjalan beriringan dengan lelaki yang nampak tak asing baginya. Kini pandangannya tertuju kepada suatu meja, Laura yakin Bunga pasti sedang menuju ke meja di mana dia melihat sepasang suami istri duduk di sana.


Laura menghela nafas panjang melegakan perasaannya. Bahkan saking fokusnya dengan Bunga dia sampai tak sadar kalau Marvel sedang mengajaknya berbicara.


"Ibu? Ibu! kau sedang melihat ke nama?."


"Ya, Apa?”


Marvel menolehkan kepala melihat kearah Laura memandang namun dengan cepat perempuan itu meraih pipinya menahan marvel untuk tak menoleh.


"Tidak ada sayang, Ibu hanya seperti melihat teman lama, lupakan kau lanjutkan makanmu."


***


Aileen dibuat terpana dengan perempuan yang berdiri di samping Putranya. "Calon menantu... kenapa cantik sekali" Aileen meraih lengan suaminya.


"Sama seperti dirimu waktu masih muda dulu" David menatapnya dengan lekat.


"Jadi secara tidak langsung kau bilang bahwa aku sekarang tak cantik dan menawan seperti waktu aku muda?”

__ADS_1


"Bukan, bukan seperti itu sayang. Sampai sekarang pun kau masih dan paling yang tercantik!”


"Gombal!" Aileen mencubit pinggang suaminya.


Davien menarik kursi mempersilahkan Bunga duduk di sana. Setelahnya dia pun juga duduk di sampingnya.


"Jadi kau perempuan yang bernama Bunga?" Aileen nampak sangat antusias menyambut calon menantunya.


"Iya Nyonya" ucap Bunga gugup sembari menganggukkan kepalanya kearah Aileen.


"Waaahh... Jangan memanggilku Nyonya, panggil saja Ibu seperti Davien memanggilku."


Bunga merona pipinya bersemu merah. Tak lama David memanggil pelayan untuk menyiapkan makan malam mereka.


Di seberang meja Laura terkadang nampak sesekali mencuri pandang mengawasi putrinya dari kejauhan.


"Davien kau menemukan Bunga di mana?" ucap sang Ayah menggoda putranya.


"Aku menemukannya di tepi jalan” sahutnya dengan wajah sinis menyebalkan.


"Kau pikir aku apa? Kenapa kau bilang menemukanku di tepi jalan!" Bunga tak terima.


"Bukankah memang benar kita bertemu di tepi jalan, kau saat itu sedang melamun dan hampir saja tertabrak mobilku iya, kan?" Davien sedang menceritakan kronologis di mana mereka pertama kali bertemu termasuk secara tidak langsung dia membuka kembali ingatan Bunga.


Laura yang mendengar tawa mereka kemudian beranjak berdiri dari kursi. "Aku akan ke belakang sebentar" ucapnya kepada sang suami dan Marvel. Laura berjalan perlahan melewati meja di mana Bunga berada.


Entah apa yang dia rencanakan, Laura sempat memaku langkahnya. Pandangannya kini tertuju kepada Bunga.


Di sana Bunga sadar merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Dia pun menoleh melihat kearah di mana Laura berdiri.


Bunga terkejut namun berusaha keras untuk tetap tenang karena dia tak ingin merusak suasana malam itu.


Laura menaikkan salah satu alisnya kemudian menggerakkan sedikit kepala miring seakan memberi isyarat kepada Bunga untuk pergi mengikutinya.


Bunga terdiam dia tahu apa yang diinginkan Laura, setelah Ibunya itu pergi menuju ke arah toilet Bunga pun beranjak berdiri dan meminta izin untuk pergi ke belakang. "Maaf aku harus ke belakang sebentar" ucapnya kemudian melangkah menyusul Laura.


Sementara Davien yang tak curiga sama sekali hanya memperhatikan kekasihnya berjalan hingga menghilang di balik pintu.


***


Laura berdiri di depan kaca besar yang membentang di dalam toilet. Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius kini ujung matanya bergerak ke arah bayangan Bunga yang baru saja masuk ke dalam.


Bunga berdiri sengaja memberi jarak antara dirinya dan Laura. Mata mereka saling bertemu di bayangan kaca.

__ADS_1


"Siapa laki-laki itu?" ucap Laura mencoba memulai pembicaraan di antara mereka.


Dengan tenang namun ekspresi wajah menjengkelkan Bunga kemudian berucap. "Apa pedulimu? lagi pula ini tidak ada urusannya denganmu."


"Ingat Bunga sampai kapan pun aku adalah Ibumu, kau lahir dari rahimku!" Laura terlihat sekali bahwa dia benar-benar sangat menahan emosinya. Dia bahkan menggertakkan gigi hingga terlihat urat halus di sekitar pelipis.


"Aku mengikutimu ke sini hanya karena aku tidak ingin kau merusak acaraku. Aku yakin kau tidak akan tinggal diam jika aku tidak memenuhi keinginanmu. Kau tahu aku berusaha bangkit dari keterpurukan masa laluku. Itu sungguh sangat sulit! Kau tidak akan tahu bagaimana perjuanganku selama ini. Dan saat ini, ketika kita bertemu lagi kau ingin merenggut kebahagiaan dariku lagi?" tatapannya semakin menajam ke arah Laura, memperlihatkan bahwa Bunga bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya. Sesaat setelahnya Bunga melanjutkan kalimatnya. "Kau tahu bahwa aku tidak menyukai Marvel, aku sudah menganggapnya seperti seorang kakak. Kenapa kau tidak memperkenalkanku sebagai putrimu di depan mereka?" Bunga sengaja berhenti berucap mencoba memberi waktu kepada Laura untuk menjawab.


Tetapi perempuan paruh baya itu hanya diam menatap jengkel ke arah Bunga.


"Kau ingin menikahkanku dengan kakak tiriku? dan setelahnya kau akan memintaku untuk mengambil alih semua perusahaan dari Kak Marvel? Itukah yang kau rencanakan?”


Laura mengalihkan pandangan sambil terkekeh sinis. "Dari mana kau mendapatkan pemikiran seperti itu" Laura kembali tertawa.


"Kenapa kau tertawa? Pasti karena aku menebaknya dengan benar, kan?" Bunga tersenyum sinis.


Seketika tawa Laura menghilang. "Ya! ternyata kau memiliki pikiran yang picik sama sepertiku, bahkan kau bisa berpikir seperti itu sebelum aku menceritakan apa niat sebenarnya aku menjodohkanmu dengan putraku."


Mendengar ucapan Laura, Bunga merasa tak terima. Dia bukan perempuan licik seperti Ibunya dia hanya menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Laura saat itu. "Kau salah!! Aku tidak pernah punya pikiran licik sepertimu! Aku memiliki darah yang sama sepertimu, itu sebabnya kenapa aku bisa menebak isi pikiranmu. Tetapi bukan berarti kita memiliki sifat yang sama! kau salah!”


Laura menajamkan tatapannya.


"Sekuat apa pun kau memintaku untuk menikah dengan Marvel, sekuat itu pula aku akan melawanmu bahkan mungkin jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan!”


***


Seorang lelaki paruh baya tengah tertidur di ranjang kesakitan di sebuah rumah sakit internasional berkelas VVIP di kota itu.


"Presdir" ucap seorang lelaki muda yang baru saja datang menemuinya.


Lelaki yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang kemudian perlahan membuka mata. "Apa ada perkembangan tentang putriku?" ucapnya dengan suara bergetar dan lemah.


"Kami sudah kembali ke desa itu untuk mencarinya tetapi, sampai saat ini kami belum bisa menemukannya.”


Antonio, nama dari lelaki yang berdiri di sampingnya. Antonio adalah sekretaris pribadi dari Mr.Rodrigo yang kini sedang berusaha keras untuk tetap bertahan hidup.


“Antonio?”


"Ya, Presdir?"


"Kau tahu kondisiku semakin memburuk, aku hanya ingin melihatnya" terlihat bahwa Rodrigo sesekali dengan susah payah mencoba menghela nafas di tengah-tengah ucapannya. "Kau harus lebih berusaha keras untuk segera menemukannya. Aku hanya berharap bisa melihat putriku sebelum aku meninggal."


Antonio terenyak sangat terkejut, tapi kemudian dengan cepat mengendalikan diri setelahnya berucap dengan tenang. "Presdir pasti akan sembuh. Saya mohon... Anda harus lebih kuat. Saya janji saya pasti akan menemukan putri Anda. Itu janji saya kepada Anda." Antonio membungkuk kepada Rodrigo sebagai rasa hormat.

__ADS_1


Rodrigo menganggukkan kepalanya dengan susah payah kemudian kembali berucap. “Aku harap kau bisa segera menemukannya."


__ADS_2