
Tok tok tok!!!
Enrica terlihat sedang mengunjungi seseorang di sebuah rumah. Dia melihat ke arah dalam untuk memastikan apakah ada seseorang di dalam sana atau tidak.
Seorang gadis kecil melihat kearah Enrica dari arah belakang dengan tatapan menyelidik. Anak kecil itu memiliki rambut pirang dengan mata berwarna biru terang, dia kemudian berjalan mendekati Enrica.
"Kamu siapa?" suaranya membuat Enrica yang tengah berdiri sambil mengintip kearah dalam itu terperanjat kaget.
"Astaga!!, , kamu mengagetkanku!!" Enrica membungkuk setengah badan, kemudian berucap.
"Siapa namamu?, Aku datang kemari karena mencari ibumu, dimana dia?" Enrica jarang bertemu dengan Temannya itu, mereka hampir beberapa bulan tidak bertatap muka karena kesibukan masing masing.
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya.
"Essie, Apa kamu temannya Mamahku?"
"Iya" Enrica menegakkan tubuhnya.
"Dia ada di dalam??"
Essie mengangguk, kemudian membuka pintu dan mempersilakan Enrica untuk masuk.
"Mamah ada di kamar sedang istirahat"
Enrica melangkah masuk ke dalam kamar, dia terkejut ketika melihat tubuh sahabatnya terkapar di lantai.
"Raina!!!"
♡♡♡
"Penyakitnya sudah sangat parah, jika dia bisa membaik itu sebuah keajaiban" ucap seorang Dokter yang baru saja selesai memeriksa Raina.
Enrica melangkah masuk ke dalam dengan menggandeng tangan Essie, raut wajahnya terlihat sedih ketika melihat sahabatnya terbaring lemah di ranjang.
Perempuan itu menghela nafas, kemudian melirik ke Essiie yang terdiam sambil menatap Raina.
"Essie, kemarilah" Enrica membawa Essie duduk di sofa.
"Kamu tahu kalau Mamahmu sedang sakit?"
Sejenak Essie terdiam, sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar.
"Aku tidak tahu mamah sakit apa" tatapannya terlihat kosong kedua bola matanya memerah.
"Yang aku tahu, dia selalu minum obat dengan jenis jenis yang berbeda dan itu sangat banyak" gadis kecil berumur sekitar 5 atau 6 tahun itu sangat mengetahui kebiasaan Mamahnya.
Enrica menghela nafas panjang, dia tidak habis berfikir bagaimana gadis kecil itu bisa mengurus dirinya sendiri selama Raina sakit.
"Kamu bisa ikut dengan Tante kalau kamu mau, tante akan menjagamu dengan baik"
Essie hanya diam, dia tak menjawab tawaran yang di berikan oleh Enrica.
"Es, , s, , si" Suara Raina yang terdengar parau, membuat Enrica Dan Essie mengalihkan pandangan kearahnya.
Mereka berdua berlari menghampiri Raina. Perempuan itu terlihat sekarat, sekujur tubuhnya sudah terlihat memutih karena sel darah merah sudah tak bisa di produksi dengan baik oleh tubuhnya. Kondisi Raina akhir akhir ini semakin memburuk karena penyakit itu menggerogoti tubuhnya. Sementara saat ini dia memang mendapatkan tambahan darah, tetapi dalam wkatu beberapa jam darah merah itu akan pecah kembali. Jadi setiap beberapa jam sekali Raina seharusnya mendapatkan tambahan darah. Itulah sebabnya kenapa Saat Enrica masuk ke dalam kamar Raina sudah tak sadarkan diri dengan tubuh memutih dan pucat.
Raina menggerakkan tangannya menunjuk kaerah kalung yang menggantung di leher Essie.
"Buk, buka lah" Dengan susah payah Raina berucap, nafasnya pun terasa sangat berat.
"Kamu, , h, , harus menemui, , laki laki yang, ada di dalam foto itu"
Enrica membantu Essie untuk membuka liontin yang terdapat foto di dalamnya.
Keningnya berkerut ketika melihat foto laki laki yang sempat dilihatnya di depan bioskop saat sedang pergi dengan Ius. David, foto laki laki itu adalah foto David.
__ADS_1
"Jadi selama ini laki laki itu adalah ayah dari Essie??" ucap Enrica seketika.
Itulah sebab kenapa hari ini Enrica menemui Raina karena dia merasa pernah melihat sahabatnya itu berfoto bersama Dengan David. Dan dia ingin memastikan itu sekali lagi. Bahwa orang yang dilihatnya di depan bioskop adalah orang yang sama.
Raina menggelengkan kepalanya perlahan, perempuan itu semkin pucat, padahal dia sedang mendapat tambahan donor darah.
"Jika Aku pergi, , bawa, , Essie pergi, , antarkan dia untuk, , men, emui laki, laki itu" Raina sudah tak bisa membuka mata sepenuhnya.
"Mah??" Gadis kecil itu terlihat sangat tegar, wajahnya memerah karena menahan tangisnya di depan Raina.
"Laki, , laki itu, , ak, , kan men, , ja, , agamu!" Raina menggerakkan tangannya.
"Enric, ca"
"Iya" Enrica meraih tangan Raina, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Set, telah in,ni bawa Essie , , pergi! aku , , tidak ingin, ayahnya yang kasar, , membawa , , Essie" Raina pernah berhubungan dengan David walau pun hanya sesaat. Bagi David Raina seperti wanita pada umunya yang sering berada di sekitar laki laki itu. Tetapi bagi Raina David memiliki tampat tersendiri di dalam hatinya. Dan ketika dia menikah, David pun menghentikan aliran dana ke rekening Raina. Suaminya tahu jika dia masih memiliki perasaan kepada David. Sejak saat itu Suaminya menjadi sangat kasar dan sering main tangan jika marah. Raina memutuskan untuk memilih bercerai secara sepihak. Karena suaminya tak mau bercerai dari Raina.
Di sisi lain ketika pengadilan memutuskan untuk menerima gugatan cerai dari Raina mantan suaminya itu selalu datang dan ingin merebut Essie.
Raina takut jika laki laki itu mendapatkan Essie dan menjadikannya sebagai pelampiasan atas kekecewaan terhadap dirinya.
Raina tahu David laki laki yang sangat baik walau pun dia dulu seorang play boy dia tak pernah menelantarkan semua wanita yang pernah berhubungan dengannya.
Maka dari itu dia yakin, David akan menolong untuk menjaga putrinya dengan baik.
Detik di mana Raina melepaskan tangan Enrica, perempuan itu telah pergi selama lamanya.
"Rai, ? Raina?" nafasnya memburu ketika Raina meninggal tepat di depan matanya Enrica kemudian memeluk Essie yang sedang memeluk tubuh Raina dengan sangat erat.
Gadis kecil itu menangis hingga tak bisa mengeluarkan suaranya, dia terisak isak dalam dekapan Enrica, Essie merasa sangat kehilangan, karena dia tak memiliki siapa pun selain Raina di dalam hidupnya.
♡♡♡
David mengecup pipi Aileen ketika perempuan itu masih tertidur pulas di dalam mobil.
Aileen menggeliat merenggangkan otot otot di tubuhnya yang terasa kaku karena beberapa jam tertidur dengan keadaan terduduk di kursi.
Matanya berbinar binar ketika melihat air pantai melambai lambai dan berkelap kelip memantulkan sinar matahari di sore itu.
Aileen sedikit membuka mulutnya, seperti tak pernah melihat pantai, itulah kesan pertaman setelah David melihat raut wajah Aileen.
Tanpa menghiraukan David yang yang masih duduk di sampingnya, Aileen melepas sandal kemudian melangkah turun. Berlari dengan langkah panjng menuju bibir pantai.
Aileen benar benar seperti anak kecik yang baru saja mendapatkan mainan baru.
"David ini sangat indah" teriaknya sembari meloncat loncat, lalu berputar putar di atas pasir. Seolah tak mau kalah dengan air, pasir itu juga memperlihatkan kilauannya. Seperti mengandung pecahan berlian yang sangat kecil tetapi terlihat begitu indah.
"Kamu menyukainya?" David mendekat, berdiri di samping Aileen yang masih memejamkan mata sambil menikmati terpaan angin yang membelai lembut tubuhnya.
David tertawa lirih melihat ekspresi Aileen, perempuan itu memiliki semua yang di miliki oleh anak kecil. Senyumnya, tawanya, tingkahnya, ekspresinya sangat menggemaskan.
"Ai?" David mengulurkan tangannya.
"Kemarilah"
Aileen menurut, dia meraih tanga David kemudian mengantarkan dirinya ke dalam dekapan tubuh laki laki itu.
David memeluk Aileen dari belakang, ingin sekali memeluknya dengan erat, tetapi tubuh kecilnya itu terlihat sangat rapuh, dia merasa takut jika semua tenaganya, digunakan untuk memeluk Aileen akan membuat perempuan itu merasa kesakitan di sekujur tubuhnya. Jadi David lebih memilih untuk memberi kehangatan di tubuh Aileen.
"Aku ada sesuatu untukmu!" David sempat mengecup pundak Aileen sebelum melepaskan pelukannya. laki laki itu kemudian meraih sebuah kalung dari dalam saku.
David membantu mengenakannya. Sementara Aileen membawa rambutnya ke sisi lain untuk memudahkan David memakaikan kalung itu.
Aileen menunduk melihat kearah bandul yang menggantung di kalungnya. Dia melihat cincin yang sebelumnya pernah David berikan kepada Aileen.
__ADS_1
"Cincin ini??" Aileen memutar tubuhnya kebelakang.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu, jangan pernah melepaskan cincin ini. Tetapi kamu malah mengembalikannya kepadaku!" David membantu Aileen merapihkan anak rambut yang menutupi wajahnya kemudian menyimpannya ke belakang telinga.
"Kini aku sudah mengembalikan cincin itu kepada pemiliknya"
"Maaf, , " suara Aileen melemah.
"Apa yang harus dimaafkan?" David menatapnya dengan lekat.
"Karena sudah meninggalkanmu waktu itu, , dan tanpa sengaja membuatmu terluka" Aileen tertunduk menyimpan wajahnya.
David menghela nafas panjang.
"Aku seharusnya yang meminta maaf, ,aku"
Aileen menggerakkan tubuhnya maju, kemudian berjinjit dan naik kearas kaki David. Mengecup bibir lak laki itu kemudian.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi"
David tersenyum menggunakan kedua tangannya untuk merangkup Aileen, mendekap tubuhnya dengan erat dan penuh kasih sayang.
Setelahnya menghujani wajah Aileen dengan kecupan.
"Aku ada sesuatu lagi untukmu" David meraih sebuah kotak kecil berisi cincin yang dia beli waktu itu.
Aileen tertegun, melihat cincin yang sangat indah itu membuatnya sejenak tak bisa bernafas karena dadanya terus berdebar kencang.
"Aku membeli ini ketika aku pergi ke luar negeri, , aku bermaksud untuk melamarmu sebelum kamu akhirnya memilih untuk pergi meninggalkanku" David mengeluarkan cincin itu dari kotaknya.
"Maa"
David menggunakan jarinya untuk menghentikan ucapan Aileen.
"Ssssshhht, , jangan pernah meminta maaf lagi. Sekali pun kamu salah, suatu saat nanti jangan pernah meminta maaf kepadaku. Karena aku yang akan meminta maaf jika aku membuatmu merasa bersalah"
Aileen berkaca kaca, tangannya bergetar ketika David ingin memasangkan cincin ke jarinya.
David terkekeh ketika melihat tangan Aileen terus bergerak kecil, dingin dan basah itu yang sedang di rasakan oleh David ketika memegang tangan Aileen.
"Sayang, kamu bisa menghentikan gerakkan tanganmu??" David belum sempat memasangkan cincin itu karena dia merasa geli.
"Aku tidak bisa, tanganku bergerak sendiri" Aileen menggigit bibir bawahanya untuk menahan rasa gugup yang semakin mendera tubuhnya.
David tertawa riang, dia tak bisa berkonsentrasi dengan baik, dia ingin membuat moment itu menjadi romantis, tetapi sepertinya percuma. Karena Aileen membuatnya geli dan terus ingin tertawa hingga memegangi bagian perutnya.
"Apanya yang lucu??" Aileen menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Kenapa kamu tertawa sampai seperti itu"
"Tunnggu, , " David sedang berusaha mengendalikan diri karena dia masih terus tertawa.
"Apa aku sudah merusak moment ini??, , harusnya ini menjadi sangat romantis, tapi aku malah membuatmu tertawa, , ma"
"Maaf" David memotong pembicaraan, sesuai dengan ucapannya, bahwa dialah yanga akan mewakili Aileen untuk minta maaf.
"Maaf karena sudah membuatmu gugub" David menghela nafas panjang.
Dia kemudian memasangkan cincin itu untuk melingkar di jari manis Aileen.
"Kamu sudah siap menjadi Nyonya David??"
Aileen melompat berusaha melingkarkan lenganya di leher David. Laki laki itu tersenyum lalu mengangkat tubuh Aileen agar perempuan itu tak kesusahan saat memeluk dirinya.
"Kamu benar benar sangat menggemaskan!" David berucap sambil menggertakkan giginya manahan rasa gemas kepada Aileen. Dia mendorong tubuh Aileen untuk semakin merapatkan tubuh mereka,
__ADS_1
David membuat posisi wajah mereka berpasan, lalu saling menatap dengan lekat kemudian berciuman.