
Barack kembali melihat acara Televisi, menghabiskan waktunya sebelum pergi mandi untuk membasuh bekas keringat dinginnya.
Sesekali dia melirik ke arah Luna yang tengah sibuk mendesain gaun baru.
"Semangat banget bu?"ucapnya, dia berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Mm, , sambil menunggu pak Adrian menyelesaikan urusannya aku harus menyiapkan desain baruku untuk menarik perhatiannya" pandangan Luna terus tertuju ke pada lembaran kertas di tangannya.
"Bahkan kamu berusaha keras untuk menarik perhatian orang asing itu, sedangkan aku yang selalu tertarik denganmu selalu di acuhkan" ucapnya dengan nada jengkel. Matanya kembali melihat ke arah Tv.
Luna memaku tangannya yang sedang mengoles tinta berwarna hitam di lembaran kertas putih itu.
"Maaf, kalau aku membuatmu kecewa!, , tetapi aku akan berusaha keras untuk mengingat semuanya. Sampai saat ini pun aku juga berjuang keras untuk tidak menolakmu.?" ucapnya, raut wajah Luna kini terlihat sangat sedih ketika menyadari keadaan dirinya yang masih belum bisa mengingat kembali semua kenangan manisnya bersama Barack.
"Mm, ,Β maaf aku tidak bermaksud menyalahkanmu luna" Barack berucap dengan lembut, dia menghela nafas panjang untuk menetralkan perasaannya yang baru saja lepas kendali hingga membuat Luna merasa sedih.
"Lupakan, aku tetap akan berusaha untuk tidak menolakmu, tapi tolong beri aku waktu" Ucapnya dengan nada memohon.
Barack merasa sangat bersalah ketika dia tidak bisa mengontrol mulutnya sendiri.
Dia menarik tubuhnya mendekat ke arah Luna menelusupkan ke dua tangannya ke pinggang mungil Istrinya.
Sementara Jari barack bertautan di sana.
Dia mendaratkan sebuah ciuman di kepala Luna setelahnya membenamkan wajahnya di punggung luna.
Deg!!
Tiba tiba Jantungnya berdetak dengan keras darahnya berdesir memanas entah mengapa ada perasaan yang bergejolak di dalam jiwanya.
Barack menarik kembali tubuhnya menjauh dari Luna.
"Kenapa?" ucap Luna saat merasa ada yang aneh dengan Suaminya itu.
"Mm, , tidak apa apa" dia menggeleng pelan.
Luna menatap wajah Barack dengan lekat hingga membuat Barack merasa gugub. Hanya tatapan biasa bagi Luna namun mengapa sangat berbeda di mata Barack seolah tatapan itu terlihat sangat sensual di otaknya.
"Ada apa denganku??"
Otaknya mulai meracau dengan sendirinya. Barack berusaha memejamkan matanya mengusai perasaan aneh yang tiba tiba saja menyerang dirinya.
Sejenak dia memejamkan mata untuk mengontrol emosinya.
"Kamu baik baik saja?" Luna berucap dengan lembut. Dia bergerak mendekat ke arah Barack.
Namun tubuh Barack tersentak saat mengetahui Luna mendekat ke arahnya. Dia kembali membuka matanya dan sudah melihat Luna berada dekat di depannya.
Sementara tangannya sekarang sedang berusaha menyentuh pipi Barack.
Entah kenapa sentuhan tangan Luna membuat sensasi yang sangat berbeda di kulitnya. Seakan sentuhan itu benar benar memberi tagangan yinggi yang teramat di tubuhnya hingga membuat darahnya berdesir lagi.
Kening Luna berkerut tipis.
"Tapi wajahmu kenapa memerah kembali?"
__ADS_1
Barack berusaha mengontrol dirinya, dia menarik tangan Luna yang masih menempel di pipinya.
"Mungkin efek obatnya belum sepenuhnya bekerja, Lupakan!, Oh ya tadi kamu bilang siapa yang sedang menyelesaikan urusannya?. Rekan kerja Aryo itu maksudku?" Barack berucap untuk mengalihkan pembicaraan sekaligus perasaan yang berkecamuk akan hasratnya yang tiba tiba mencuat dari dalam dirinya.
Sedikit dia menarik tubuhnya menggeser menjauh dari Luna.
Mata Luna beralih mengawasi tubuh Barack yang dengan sengaja menjauh darinya. Dia memilih untuk tidak menghiraukannya.
"Pak Ardian, Cici bilang perusahaannya ada di paris. Bukankah bisnis kalian bergerak di bidang yang sama?? apa kamu mengenalnya?" ucap Luna dengan nada menuntut. Kini dia kembali memilih untuk fokus ke lembar kertasnya lagi.
"Adrian?" Barack berucap berusaha mengingat kembali nama itu sambil memijat kecil keningnya.
"Adrian, , , Adrian Saputra Dirga bukan?" ucapnya memastikan. Barack menatap ke arah Istrinya yang sedang menunduk fokus menggambar, dia mendaratkan tatapan matanya ke arah tengkuk Luna yang terlihat sedikit anak rambut bergelayut di sana, bersinar putih bersih seolah sedang meminta dirinya untuk segera mengecup dengan habis hingga meninggalkan bekas di sana.
Tentunya itulah yang ada di pikiran Barack.
Barack kembali menahan perasaannya dia memutar bola matanya dan sesekali menggigit bibir bawahnya seakan dia berusaha keras untuk menahan semua itu.
"Aku tidak tahu nama panjangnya, yang aku tahu dia bernama Adrian" Luna berucap dengan santai, namun suaranya terdengan sangat seksi di telinga Barack.
Barack berulah , dia tidak bisa diam dan selalu bergerak untuk mencari kenyaman di sofa, sesekali dia memegangi daun telinganya yang kini sudah ikut memerah.
Keusilannya membuat Luna mengalihkan pandangan ke arahnya seketika.
"Kamu baik baik saja kan?" entah keberapa kalinya Luna menanyakan hal itu.
Barack membuang pandangannya ke arah Tv. Berusaha mematri matanya di sana untuk tak tergoda agar melihat ke arah Istrinya.
"Aku baik baik saja, kamu kembali fokus saja ke desainmu!" ekspresi wajah Barack terlihat kaku. Seakan dia dengan terpaksa melihat ke arah Tv.
Tangan satunya bergerak merangkup pucuk kepala Luna dan memaksa memutar kepalanya untuk kembali melihat ke arah desainnya, agar Luna tak melihat ke arahnya lagi.
"Iya, Adrian Saputra Dirga, namanya masuk ke dalam 10 besar daftar orang yang berpangaruh di dunia bisnis, termasuk rekan kerjaku yang tadi siang aku temui" Barack kembali berucap. Dia membahas kembali rival bisnisnya itu untuk mengalihkan perhatiannya atas perasaan aneh yang mulai menguasai tubuhnya.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?" sejenak Luna menghentikan kegiatannya menggambar di lembaran kartas. Matanya kembali teralihkan untuk memandang ke arah Barack dengan penuh rasa penasaran.
"Punyaku?? tentunya 5 besar dong. Nomor 2 lagi" ucap Barack mulai menyombongkan diri. Ujung mata Barack tak bisa di tahan untuk tak melihat ke arah mata Luna.
Dia melihat Luna memutar bola matanya dengan malas setelah mendengar ucapannya.
"Ih kok gitu!!, tidak suka kalau perusahaan Suamimu termasuk paling sukses?"
"Suka siiihh, bahkan seneng banget, cuma sombongnya nggak ketulungan" seketika tawa Luna pun pecah.
Barack menikmati tawa Istrinya dalam diamnya. Wajah Luna terlihat sangat bersinar pikirannya mulai nakal hingga matanya hanya fokus ke pada kulit Luna yang putih bersih dan mulus itu. Barack kembali mengarahkan pandangan matanya ke arah layar Tv secara cepat.
Luna berhenti tertawa seketika dia kembali memperlihatkan wajah seriusnya.
"Tunggu rekan kerja yang menyebabkan radangmu kumat itu juga 10 besar? seharusnya mereka tahu daftar riwayat hidup sesama rekan kerjanya sebelum saling bertemu. Apa yang tidak boleh di makan, apa kesukannya, dia punya riwayat penyakit apa, harusnya mereka punya daftar itu" Luna berucap dengan nada setengah emosi hingga nafasnya terengah engah karena terus nerocos berbicara.
"Iya, , lagi pula itu bukan semua kesalahannya. Dia datang juga karena mewakili Ayahnya karena alasan tertentu. Dia bilang ayahnya sedang sakit"
"Kamu membelanya?"
"Bukan begitu!, , tunggu!" Barack tak bisa menahan untuk tak kembali melihat ke arah Luna yang kini raut wajahnya terlihat ada sedikit guratan kecemburuan di sana.
__ADS_1
"Apa kamu cemburu" tambahnya, matanya kini mengerucut ke arah Luna.
"Kenapa harus cemburu" Luna memalingkan wajah dia memilih untuk kembali meneruskan desain gaunnya.
"Ayolah, akui saja kalaukamu tidak cemburu" Barack berusaha menggelitikkan jarinya ke arah pinggang luna.
"Barack!, hentikan" Luna menahan tawanya. Tubuhnya mengeliat merasakan geli yang di akibatkan oleh jari Suaminya.
Seketika Barack berhenti menggelitikki Istrinya, dia menarik tubuhnya kembali.
Dadanya kembali berdebar saat menyentuh pinggang Luna.
Darahnya berdesir tidak karuan entah untuk yang keberapa kalinya saat itu.
Barack memendam tubuhnya di dinding sofa dan mengalihkan pandangan matanya ke arah Tv algi.
Luna merasa heran saat melihat raut wajah Barack.
Kini wajahnya sangat merah bahkan lebih merah dari sebelumnya.
"Aku baik baik saja" Barack berucap seolah dia tahu arti tatapan Istrinya itu walau pun tanpa melihat ke arahnya.
Kini Barack berulah lagi, dia mengibas kibaskan kaos yang menutupi tubuhnya seakan merasa kepanasan di sana.
"Apa kamu merasa panas?"
Luna menggeleng pelan.
"Panas?" Luna kembali bertanya untuk memastikan.
"Bahkan ACnya saja menyala" dia meraih remot AC yang ada di atas meja dan memastikan kalau ACnya memang sudah benar benar menyala.
Luna kembali mendekat ke arah Barack hingga dadanya menempel di lengannya saat itu. Barack melihat ke arah lengannya. Tubuhnya pun langsung menegang seketika.
Barack berusaha menahan Lenguhan dengan menggigit bibir bawahnya saat tangan Luna bergerak menyentuh lehernya untuk memastikan suhu tubuh Suaminya.
Baginya sentuhan tangan Luna seperti memberi kesejukan di tubuhnya yang kini mulai terasa sangat panas dan tidak nyaman.
"Sudah tidak terlalu panas!! tapi kenapa wajahmu sangat merah seperti udang rebus. Kita harus ke Dokter. Aku akan bersiap bersiap" ucapnya menuntut sambil beranjak dari sofa.
Namun Barack menahan tangannya.
"Apa kamu akan memaafkanku jika aku tidak bisa mengendalikan diriku?" suara Barack terdengan sangat parau saat itu. Bola matanya mulai bergerak melihat ke arah Luna dengan tatapan sesualnya.
Luna memaku tubuhnya kemudian dia melihat ke arah Barack dengan tatapan mata tanpa ekspresi apa pun.
***Sabar ya readers, semua butuh proses. Obatnya juga baru bekerja setengah belum sepenuhnya bereaksi πππππ.
Nikmati saja prosenya dulu.
Selanjutnya entah gimana nanti author juga sedang memutar otaknya sambil jungkir balik nggak karuan karena nulis sambil ketawa sendiri.
Auto tepuk jidat langsung ini mah!!
*Jangan lupa baca juga novel baru author "My Soul" woke woke!!
__ADS_1
Kiss kiss jauh dari authir untuk kalian πππππ
Kalian luarrr biasaβ€π**