
Luna melangkah perlahan menuju kearah Dapur sementara pandangan matanya menyelidiki seorang perempuan yang sedang berdiri sambil memunggunginya.
perempuan itu terlihat sedang sibuk memasak hingga tak menyadari bahwa Luna sudah berdiri di belakangnya.
Luna berdehem, sengaja untuk mengagetkan Perempuan di depannya. Seketika membuat Aileen langsung memutar tubuhnya kearah belakang.
Mulut Aileen sedikit terbuka karena terkejut ketika melihat Idolanya berdiri tepat berada di depannya.
Sementara Luna mengangkat kedua alisnya karena tak yakin bahwa Nona cantik yang di maksud si pelayan itu ternyata dia mengenalnya.
"E, , Anda?" Aileen kebingungan, dia menaruh spatula dan segera mencuci tangannya sebelum menyambut Luna dengan mengulurkan tangannya.
Luna tersenyum diselingi terkekeh senang kemudian. Dia menyambut uluran tangan Aileen dengan senang hati.
"Jadi, , kamu si Nona cantik itu?" Luna berjalan semakin mendekat, dia melihat kearah panci yang sudah dipenuhi dengan kepulan asap.
"Oh, Saya pikir Bibi pasti sudah berlebihan dengan memberiku sebutan nama itu" Aileen benar benar tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Luna di sana. Dia merasa sangat malu karena dia merasa terlihat buruk, dia juga belum sempat berbenah diri hingga terlihat berantakan di depan Luna pastinya.
Tangan Luna bergerak meraih sendok, kemudian menggunakannnya untuk mencicipi bubur buatan Aileen.
"Kamu sengaja membuatnya untuk Putraku?" ucapnya setelah mencicipi bubur itu.
Pipi Aileen bersemu dia salah tingkah di buatnya.
"E, , maaf kalau rasanya tidak cocok di lidah Anda"
"Ini sangat lezat!!" Luna tersenyum, kemudian manatap lembut kearah wajah Aileen.
"David belum sadar, bagaimana kalau kita duduk sambil mengobrol??, , aku ingin makan bubur buatanmu. Bolehkah?" Luna mengangkat kedua alisnya kearah Aileen.
"Oh, tentu boleh. Saya memang sengaja membuatnya banyak" Aileen mengambil mangkuk lalu menuangkan bubur kedalamnya.
Sementara Luna menarik kursi dan duduk di sana.
"Mmm, , jangan menggunakan bahasa yang terlalu formal denganku. Anggap saja aku sebagai teman ngobrolmu. Kamu tidak keberatan kan?"
"Iya, ," Aileen meletakkan mangkuk itu di depan Luna. Kemudian dia duduk di samping perempuan itu.
Luna mulai menikmati buburnya, ketika merasa situasi sedikit canggung Luna mencoba untuk memecah keheningan di antara mereka.
"Kamu sudah lama mengenal David?" ucapnya kemudian.
"E, , baru beberapa bulan yang lalu Tan, , maksudku Nonya" Aileen benar benar mati kutu, dia tidak bisa mengontrol perasaannya dengan baik.
"Kamu boleh memanggilku Tante, kalau kamu mau" Luna berusaha membuat suasana hati Aileen lebih nyaman ketika berada di dekatnya dengannya.
__ADS_1
"Iya" Aileen memainkan jarinya, rasa gugup yang menyelingkupi tubuhnya melebihi ketika dia bertemu dengan seorang yang dia suka.
"Kamu menyukai Putraku?" ucapan yang keluar dari mulut Luna hampir saja membuat Aileen tersedak ludahnya sendiri.
"Aku, , e" Aileen tak bisa menjawab pertanyaan Luna, dia merasa bingung hingga kata yang sudah terekam di otaknya seketika tertahan di tenggorokan.
"Kalau kamu menyukainya, kamu harus menjadi wanita yang kuat. Rumor yang menyebutkan bahwa David laki laki playboy di luar sana itu memang benar kenyataannya. Aku sebagai orang tua tidak akan menutupi hal itu. Tetapi" Luna memalingkan wajahnya kearah Aileen. Kemudian dia kembali berucap.
"Kamulah perempaun pertama yang menginjakkan kaki di rumah ini" sejenak Luna berhenti berucap untuk menghela nafas sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Aku tidak yakin apakah David menyukaimu atau tidak, dia sangat tertutup dengan perasaannya. Maksudku perasaan yang sesungguhnya" Luna kembali menikmati bubur yang kini sudah mulai dingin.
"Mmm, , sebenarnya aku dan David belum berfikir sampai kearah sana. Kami belum, , mengambil keputusan untuk" Aileen merasa malu, dia tak sanggup untuk mengatakan kalimat selanjutnya di hadapan Luna.
"Kalian belum berpacaran?" Luna berucap seolah bisa membaca pikiran Aileen.
Aileen hanya tersenyum kecut kearah Luna. Dia tidak tahu harus berkata apa. Baginya situasi ini sangat canggung.
"Anak itu benar benar!!, , sebagai seorang Ibu aku memliki feeling yang kuat terhadap Putraku. Aku yakin dia pasti menyukaimu. Tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Aku harus mengatakan ini sebelumnya kepadamu"
"Ya?"
"Tapi ini bukan apa apa sih, , aku hanya tidak mau melihatmu kecewa karena mendengar hal ini dari orang lain. Sebenarnya sejak David masih kecil waktu dia berumur 7 tahun, aku sudah menjodohkannya anak dari sahabatku"
"Oh, , maaf aku tidak bermaksud untuk merusak" Aileen langsung menciut nyalinya.
"Itu hanya, , yaaaah kamu tahukan, ketika kita punya seorang anak dan sahabat kita juga punya, maka keinginan untuk saling menjodohkan anak kita itu muncul dengan sendirinya. Lagi pula itu juga hanya seru seruan. Tetapi aku tidak pernah memaksakan kehendakku kepada David. Aku menyerahkan semua keputusan kepada Putraku. Mereka juga belum pernah bertemu. Jika memang David lebih memilihmu aku tidak keberatan"
Beberapa saat yang lalu dada Aileen terasa sakit ketika mendengar cerita bahwa David sudah di jodohkan sejak kecil. Namun ketika mendengar bahwa Orang tuanya tak memaksa David untuk menerima perjodohan itu dada Aileen kembali terasa membaik, bahkan seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika Luna mengatakan jika tak keberatan David berhubungan dengannya.
"Aku pikir, Tante terlalu jauh memikirkan hubunganku dengan David. Aku bahkan belum mengetahui perasaan David"
"Yang sesungguhnya"
"Benarkah??, , tapi aku melihat akhir akhir ini sedikit banyak ada yang berubah dalam diri Putraku. Aku sudah tidak pernah melihat berita di televisi yang mengatakan kalau dia jalan dengan seorang wanita. Karena sebelumnya dalam satu minggu pasti berita tentang dia dekat dengan wanita akan selalu muncul. Dan ada juga beberapa sifat dia yang berubah manjadi lebih baik. Aku yakin itu pasti karena dia dekat denganmu" Luna mengalihkan pandangannya kearah Aileen yang sedang tersipu malu.
"Nyonya?" Suara Kepala pelayan yang tiba tiba datang, langsung menarik perhatian Luna dan Aileen hingga akhirnya membuat mereka berdua memalingkan wajah kearahnya.
"Ya?" Luna mengangkat kedua alisnya, menunggu kepala pelayan melanjutkan ucapannya.
"Tuan Muda, , sudah sadar"
"Baiklah aku akan segera kesana" Luna beranjak dari kursi, sebelum melangkah pergi dia melirik kearah Aileen.
"Tante duluan saja, aku akan menyiapkan bubur untuk David"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggumu di sana" Luna melangkah pergi menuju kamar. Sementara Aileen menyiapkan bubur untuk David.
♡♡♡
"Kamu sudah baikkan sayang?" Luna membelai lembut kepala Putranya.
David masih berusaha membuka matanya yang terasa sedikit berat. Laki laki itu mengangguk kearah Luna kemudian.
"Kenapa kamu senang sekali membuat Mamah khawatir?. Kamu sudah besar David, seharusnya bisa menjaga diri dengan baik" Luna berucap dengan lembut dan penuh perhatian kepada Putranya.
"Aku, , akhir akhir ini banyak kerjaan mah, jadi sering telat makan" raut wajah David juga sudah mulai terlihat cerah dan tak pucat seperti sebelumnya. Tetapi dia masih merasakan sedikit nyeri di bagian perut.
"Mamah dengar dari sekretarismu akhir akhir ini setiap jam makan siang kamu selalu keluar kantor dan kembali di sore hari. Kemudian kamu lembur sampai malam. Apa sebenarnya yang kamu lakukan di siang hari?? karena sekretaris bilang tak ada jadwal meeting atau apa pun hari itu"
David tak mungin mengatakan bahwa dia kembali kerumah untuk merawat Aileen. Kemudian dia mencoba untuk membuat alasan lain di depan Mamahnya.
"Ada perjaan lain Mah, tidak semuanya yang aku lakukan Sekretarisku harus tahu kan??"
"Harus!!, , apa pun yang kamu lakukan di luar kantor. Sekretarismu harus tahu, selama itu masih dalam jam kerja. Jadi jika hal buruk terjadi kita bisa mengetahui sumbernya. Ya walau pun Mamah tidak mengharapkan hal buruk itu terjadi"
"Iya Mah" Pandangan David mulai mnyelidik ke setiap sudut kamarnya, dia berusaha untuk mencari keberadaan Aileen.
Luna tahu apa yang sedang di cari oleh David. Perempuan itu kemudian tersenyum.
"Dia ada di dapur, sedang menyiapkan bubur untukmu"
"Perempuan itu masih ada di sini" David terlihat sangat senang ketika mengetahui Aileen tak pergi meninggalkannya.
Ujung mata Luna langsung mengerucut kearah David, hingga membuat Putranya itu salah tingkah
"Kamu menyukainya?"
"E, ,aku" ucapannya langsung terhenti ketika melihat Aileen berjalan masuk dari arah pintu.
"Kamu sudah baikkan?" Aileen merasa cangggung, dia kemudian meletakkan bubur itu di atas nakas.
"Mamah tidak bisa menyuapimu, karena ini audah larut Mamah harus segera pulang. ada Aileen ini yangakan menjagamu. Jadi Mamah sudah merasa lebih tenang sekarang" Luna melirik kearah Aileen yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Benarkan??, , kamu akan menjaganya dengan baik?" ucapnya kepada perempuan itu.
"Mm, ,iya" Tak ada pilihan jawaban lain bagi Aileen selain kata iya.
Sebelum beranjak dari ranjang, Luna mengecup kening David, setelahnya berjalan mendekati Aileen dan berbisisk di sana.
"Aku titipkan Putraku ini kepadamu ok!" perempuan itu tersenyum, lalu melihat kearah David dan mengerjapkan salah satu matanya, kemudian melangkah pergi keluar.
__ADS_1
Ruangan itu terasa hening seketika, membuat David dan Aileen hanya saling melempar pandang sesaat.