
Davien masih sibuk rapat bersama para pemegang saham yang ikut andil dalam membangun perumahan. Semua tampak fokus ke depan menatap layar tapi Davien mulai terganggu pikirannya.
Matanya melirik ke jam tangan berkali-kali memastikan apakah dia akan pergi menemui Juliet di sekolah sesuai dengan janjinya atau justru mengabaikannya. Tetapi hanya inilah kesempatan Davien untuk memastikan siapa Ibu dari Juliet. ‘Juliet Fladimer! Marvel!’ Dua hal yang tidak mungkin secara kebetulan itu masih membuat Davien tak tenang. Hanya setelah memastikan siapa Ibu dari Juliet maka Davien bisa tahu kejelasannya. Jika mungkin Juliet tidak mengenal Marvel maka Davien tidak akan berpikir bahwa Juliet adalah anaknya Bunga, karena semua orang bisa saja memakai nama itu.
Akhirnya Davien memutuskan untuk meninggalkan rapat dan bergegas pergi ke sekolah menemui Juliet. Mobilnya terparkir di depan sekolah menghadap ke pintu gerbang. Kalau mau Davien bisa saja menunggu Juliet di depan gerbang tapi jika memang benar dugaannya, Bunga pasti akan bersembunyi saat melihat keberadaannya. Maka dari itu Davien memilih menunggu di mobil.
Sekitar beberapa menit kemudian pintu gerbang tampak bergerak terbuka. Terlihat para murid berhamburan keluar. Davien menajamkan pandangannya mengawasi setiap wajah anak perempuan yang keluar dari sekolah.
Punggungnya bergerak maju menyangga dagu di atas tangan yang bertumpu di atas setir mobil agar bisa lebih jelas lagi melihat wajah mereka. Tak terlalu sulit menemukan Juliet karena Davien sudah merekam wajahnya dengan baik. Anak perempuan itu sedang berjalan menuju ke gerbang.
Juliet tengah berhenti di tengah pintu berdiam diri melihat ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. Davien sempat berpikir kalau Juliet pasti menunggu dirinya karena terlihat raut wajahnya yang murung mungkin juga karena tak melihat Davien di sana.
Ragu antara ingin menemuinya atau hanya ingin memastikan siapa yang akan menjemput Juliet tapi Davien tidak tega karena sudah berjanji. Davien akhirnya memutuskan untuk menemui Juliet. Tangannya telah membuka pintu mobil namun saat kakinya akan melangkah Davien melihat sosok perempuan yang berjalan memunggunginya, dan sedang menghampiri Juliet.
Davien terdiam sejenak penasaran dengan wajahnya yang tak kunjung terlihat. Davien akhirnya melangkah keluar. Tapi dia tak langsung menemui mereka, Davien bertahan sejenak berdiri di samping mobil. “Perlihatkan wajahmu, perlihatkan wajahmu!” gumamnya. Tepat saat perempuan itu berjalan ke sisi lain membuka pintu mobil, Davien melihat wajahnya dengan jelas.
Deg!!
Kedua matanya membulat penuh saat menangkap sosok wajah perempuan yang selama bertahun-tahun ini dirindukannya. Tidak salah lagi Juliet adalah anaknya Bunga. Davien berlari menghampiri tak ingin kehilangan kesempatan bertemu dengannya.
“Bunga?!!” Davien meraih tangannya ketika perempuan itu hendak masuk ke mobil.
Mendengar suara lelaki dari arah belakang, langkah kakinya seketika terpaku. ‘Suara itu?’ raut wajahnya sangat terkejut meskipun belum melihat siapa lelaki yang sedang menggenggam tangannya tapi Bunga yakin bahwa dia adalah Davien. Dadanya berdebar kencang merasa tak siap bertemu dengan lelaki itu.
Juliet yang melihat Davien berdiri di luar mobil, seketika melompat keluar. “Paman Davien?” serunya histeris melihat sosok lelaki yang dinanti.
Bunga sempat bergerak ingin menghentikan Juliet namun anak itu terlanjur menghamburkan tubuhnya ke Davien.
“Ooh, My Juliet... paman merindukanmu!” Davien menyambutnya dengan senang hati saat Juliet memeluknya bahkan saat lelaki itu berlutut di depannya, Juliet melingkarkan kedua tangannya ke leher Davien. Seperti seorang anak dan ayahnya yang sedang berbagai cerita selesai pulang sekolah.
Bunga tak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan Juliet, pandangannya terlalu fokus kepada ekspresi Juliet yang begitu tampak bahagia, ekspresi yang belum pernah Bunga lihat sejak Juliet dilahirkan. Dadanya semakin sesak, melihat pemandangan mereka berdua. Tapi jika reaksinya terlalu berlebihan akan mengundang kecurigaan Davien. “Juliet?” ucapnya kemudian.
Juliet yang tadinya gembira tiba-tiba berubah muram mendengar Ibunya memanggil seolah itu sebagai tanda peringatan.
“Kenapa Juliet?” Davien juga melihat perubahan ekspresi wajahnya. Davien beranjak berdiri kemudian berucap kepada Bunga karena dia tahu Juliet berubah sedih saat Bunga memanggilnya. “Maaf sebelumnya tapi, bolehkah aku mengajak Juliet bersamaku? Karena kemarin aku sudah berjanji padanya.”
Bunga sesaat terdiam melihat cara lelaki itu berbicara dengannya seperti terlihat santai seakan tak ada beban masa lalu di antara mereka. ‘Benar! Apa yang harus aku sedihkan? Bersikap seolah-olah tak pernah memiliki hubungan di masa lalu sepertinya jauh lebih baik!’
Melihat ketegangan di antara mereka Juliet pun berinisiatif mengenalkan Davien kepada Ibunya. “Paman! Ayo!” Juliet menggandeng tangan Davien mengajak lelaki itu mendekati Ibunya.
Davien dengan senang hati mengikuti keinginannya. Setelah berdiri tepat di depan Bunga, Davien hanya diam menatap matanya. Tetapi Bunga selalu berusaha menghindar.
“Kemarin Juliet berjanji akan mengenalkan paman kepada Ibu. Paman! Ulurkan tanganmu!” perintah Juliet membuyarkan lamunan Davien.
“He? O.ooh i.iya” Davien tampak gugup kemudian mengulurkan tangannya. “Kau... bisa memanggilku Davien!”
Bunga terpaku menatap tangan Davien yang sudah ada di depannya. Tangan yang sudah bertahun-tahun tak pernah menyentuhnya.
“Ibu!! Paman Davien menunggumu!” sahut Juliet.
Bunga tersadar dari lamunan, sama halnya dengan Davien, Bunga juga sangat gugup. Perlahan membalas uluran tangannya.
Deg!
Dadanya berdebar tepat saat tangan mereka bersentuhan. Bunga bahkan nyaris tak sanggup mengucapkan namanya, tapi sekuat mungkin berusaha mengendalikan perasaannya agar Davien tak mengetahui dirinya gugup. “Bunga!” ucapnya pendek setelah itu langsung menarik tangannya kembali, tapi lelaki itu justru sengaja menahannya. “Eh!!” matanya langsung tertuju kepada Davien.
Lelaki itu sengaja menggenggam tangannya erat, setelah melihat reaksi terkejutnya Bunga dan akhirnya perempuan itu membalas tatapan matanya, Davien kemudian melempar senyum dan berucap. “Senang bertemu lagi denganmu! Bunga!” setelahnya Davien melepaskan tangannya.
‘Ekspresi apa itu? Kenapa dia tampak begitu tenang? Dia... bahkan bisa tersenyum seperti itu? Apa selama aku pergi dia tak pernah merasa kehilangan?’
“Ibuuuu!!!” seru Juliet, entah berapa kali dia memanggil.
__ADS_1
“He? Oh iya... kenapa sayang?” Bunga mengalihkan perhatiannya kepada Juliet.
Di saat mereka berbincang Davien selalu memperhatikan wajahnya, wajah Bunga yang tak pernah lepas dari ingatannya sedetik pun. Tak pernah ter bayangkan sebelumnya kalau dia akan bertemu lagi dengan perempuan itu. Davien sempat ingin menyerah karena selama hampir 7 tahun ini tak pernah sehari pun dia melewatkan untuk mencari info tentang Bunga. Kini di saat dia ingin menyerah perempuan itu justru datang lagi.
Jika saja tak ada kebencian di hati Bunga mungkin Davien bisa memeluknya erat untuk mengobati rasa rindunya yang begitu hebat. Tetapi untuk saat ini bisa bertemu dan melihatnya dalam keadaan baik-baik saja sudah lebih dari cukup baginya.
“Semalam kita sudah membicarakan hal ini Juliet, apa kau lupa dengan janjimu? Kau tidak boleh terlalu akrab dengan orang yang baru saja kau temui!”
Davien terkekeh mendengar ucapan Bunga yang seolah mengatakan bahwa dia orang yang berbahaya. “Permisi! Kau melarang putrimu dekat denganku karena kita baru saja kenal? Bagaimana denganmu? Bukankah kau lebih tahu diriku? Luar dan dalam bagian tubuhku kau bahkan sangat paham!” Davien kesal sampai harus berucap seperti itu, dia tak terima ketika Bunga menganggapnya seorang jahat.
“Kau?” Bunga menganga mendengar ucapan Davien, tak percaya dia akan berucap begitu lantang di depan Juliet.
Sementara Juliet yang mendengarnya terlihat sedang berusaha mencerna ucapan Davien. “Waah! Jadi paman Davien dan Ibu saling mengenal?” Juliet teramat senang mengetahui hal itu.
“Tidak! Tidak sayang, maksud Ibu kita memang pernah saling mengenal, hanya saja–,”
“Hanya saja Ibumu pergi meninggalkan paman tanpa kabar!” sahut Davien memotong pembicaraan. Dia bahkan sangat menikmati saat mengatakan kebenarannya di depan Juliet.
Bunga mendekat menatap tajam kemudian berucap perlahan memberi Davien peringatan. “Jangan asal bicara di depan Juliet, Davien!! Itu sudah masa lalu!”
Davien tak mau menanggapi ucapan Bunga yang membuatnya jengkel.
“Ayolah Buuuu! Bukankah Ibu sudah janji. Tadi pagi Juliet sudah menghabiskan sayur saat sarapan, setiap Juliet menghabiskan sayurnya Ibu pernah berjanji akan mengabulkan permintaan Juliet?”
Bunga tak bisa mengelak karena dia tak pernah mengajarkan Juliet mengingkari janji, terpaksa mau tak mau akhirnya dia memenuhi janjinya. “Oke, oke.. tapi....” Ujung matanya melirik ke Davien seakan sedang memastikan apakah lelaki itu akan menjaga Juliet dengan baik.
Davien tersenyum sinis tak percaya kalau Bunga meragukan dirinya. “Kenapa? Kau takut aku akan menelantarkan Juliet?”
Bunga tak menepis tuduhannya, dia kembali fokus kepada Bunga. “Juliet, dengarkan Ibu. Kau yakin akan pergi dengan paman Davien?”
“Iya! Tenang Bu, paman Davien pasti menjaga Juliet dengan baik. Oh, ya paman... Ibu tidak percaya kalau Juliet kemarin bisa tidur dengan nyenyak saat di mobil, bisakah paman memberitahu pada Ibu?” pintanya.
“Iya, kemarin dalam perjalanan pulang ke kota Juliet tidur hampir 2 jam di mobil” jelasnya. Melihat reaksi Bunga yang terkejut ketika mendengar hal itu menimbulkan pertanyaan di benaknya.
“Benarkah? Dia tidur nyenyak? Apa dia mengigau tentang hal-hal yang tak masuk akal? Kau mendengarnya?” Bunga sangat antusias mendengar kabar bahwa Juliet bisa tidur dengan lelap.
Jika dilihat dari reaksi dan banyaknya pertanyaan yang Bunga ajukan, Davien bisa mengambil kesimpulan kalau Juliet mengalami kesulitan saat tidur. “Tidak, Juliet... sama sekali tidak mengigau. Sejak kapan dia mengalami hal itu?”
Bunga terdiam dia baru sadar bahwa tak seharusnya membahas masalah itu dengan Davien. “Itu bukan urusanmu! Lupakan!”
Lagi-lagi Davien sengaja dibuat kesal dengan sikap Bunga. Sepertinya perempuan itu belum bisa melupakan masa lalu.
“Baiklah... Juliet harus ingat. Tidak boleh nakal dan harus jaga sikap, oke?”
“Iya Bu!”
“Aku akan meminta Ayahnya untuk menjemput Juliet nanti!” ucapnya pada Davien.
“Oke!”
Sempat Bunga terkejut saat melihat reaksi Davien yang biasa saja saat mendengar dirinya membahas tentang Ayah Juliet. ‘Dia... bahkan tidak terkejut mendengar hal itu? Dia juga sepertinya tak peduli mengetahui aku memiliki seorang putri.’ Bagi Bunga seharusnya Davien mengetahui kalau dia sudah menikah tapi sepertinya lelaki itu terlihat biasa saja, padahal Bunga berharap lebih. Ingin melihat lelaki itu terkejut karena mendengar dia sudah bersuami.
“Kau berencana membawa Juliet ke mana? Aku akan memberitahu suamiku nanti agar dia segera langsung datang ke lokasi.”
Davien mengambil ponsel dari saku jas kemudian memberikannya kepada Bunga.
“Apa ini?” Bunga kebingungan.
“Simpan nomormu di sana, aku akan mengirim lokasi terakhir agar kau bisa menjemput Juliet!”
Bunga ragu harus menyimpan nomornya di ponsel milik Davien, tapi akhirnya dia pun memiliki ide dan menyimpan nomor lain. Saat mengusap layarnya Bunga melihat ponsel itu terkunci. Tanpa berpikir panjang Bunga memasukkan pasword untuk membuka ponsel itu. Tepat saat layar utama terbuka matanya dikejutkan dengan wallpaper yang di pakai oleh Davien. Bunga terpaku melihat foto Davien bersama Keiko, foto berdua menghadap ke kamera tersenyum lebar dengan Keiko yang bersandar dan meletakkan tangan di dadanya, jika dilihat dari posisinya maka Davien yang mengambil foto itu. Ujung matanya bergerak menatap Davien yang sedang berdiri menunggu ponselnya. ‘Kenapa denganku!! Aku yang memutuskan pergi meninggalkannya, tapi aku juga yang kesal!!’
__ADS_1
Davien mengambil ponsel dari tangan Bunga setelah perempuan itu memberikannya, beberapa saat yang lalu Davien sempat melihat raut wajah kesal Bunga ketika menatap layar ponselnya, dia yakin kalau Bunga saat itu pasti sedang melihat foto dirinya dengan Keiko. Davien pun tersenyum tipis. “Kau yakin ini nomormu?” Davien memastikan, karena dia merasa ragu Bunga tidak akan memberikan nomor barunya secara mudah.
“Kau pikir nomor siapa lagi?”
“Oke, kita lihat!” Davien kemudian menghubungi nomornya. Melihat ekspresi wajah Bunga saat ini Davien yakin kalau itu memang bukan nomornya yang asli. Apa lagi setelah mendengar suara Marvel di seberang sana. “Halo Marvel? Oh, tidak! Aku hanya memastikan apakah benar ini nomormu yang lain? Jadi nomormu ada dua? Uhmm... aku mendapatkannya dari dari teman lama! Oke.” Davien memutuskan panggilannya.
Bunga memutar bola matanya malas, dia tak menyangka kalau Davien akan memastikan kebenaran nomor itu.
“Jadi... kau menikah dengannya?” ucapnya merujuk pada Marvel.
“Hmm!” Dengan kesal Bunga menyambar ponselnya lagi dan menyimpan nomornya yang asli di ponsel Davien.
“Aku turut senang mendengar kau bisa melupakan masa lalumu!”
Bunga terdiam, sepertinya Davien sedang menyindir dirinya yang begitu mudah melupakan kenangan mereka. “Kita sama! Aku juga senang kau sudah bisa melupakan masa lalumu!”
Davien terdiam Bunga mengira kalau lelaki itu telah berpaling dan kembali bersama dengan Keiko setelah melihat foto itu.
“Tapi aku berharap, dia tidak merasakan apa yang aku rasakan!” tambahnya, sengaja mengingatkan Davien dengan masalah yang membuat mereka berpisah.
Kali ini Davien tak membalas ucapannya, dia hanya diam menggertakkan giginya menahan kesal.
“Ini! Kau bisa memastikannya sekali lagi agar kau lebih yakin!” Bunga mengembalikan ponsel milik Davien.
“Tidak perlu!”Davien menatap nomor Bunga di layar ponselnya. “Baiklah nanti aku akan mengirim lokasi terakhir ke nomormu, mungkin kau atau suamimu yang akan menjemput Juliet, terserah! Ayo Juliet!”
“Iya, paman. Dadah Ibu!” Juliet melambaikan tangannya.
Bunga membalas namun pikirannya masih tak percaya sikap Davien benar-benar berubah, dia sempat berpikir setelah sekian lama tidak bertemu lelaki itu akan kembali bersikap hangat atau setidaknya memperlakukan dirinya seperti perempuan spesial saat ketika mereka masih bersama. ‘Bodoh! Bagaimana bisa aku berharap hal seperti itu!’
“Oh, ya!” Davien menoleh ke Bunga. “Aku tidak menyangka kalau kau masih menghafal pasword ponselku!” Davien tersenyum lebar kemudian mengerjapkan satu matanya.
“He?!!” Bunga terkejut, setelah diingat-ingat memang benar kalau dia memasukkan pasword untuk membuka ponsel milik Davien tanpa berpikir panjang. “Benar juga! Bagaimana bisa... aku masih mengingat paswordnya?!” jelas karena semua ingatan yang berhubungan dengan Davien masih melekat di benaknya. Tapi yang menarik perhatian Bunga saat ini adalah, sampai saat ini lelaki itu tak pernah mengganti paswordnya.
***
Bunga cepat-cepat menyelesaikan semua pekerjaannya agar nanti dia bisa menjemput Juliet ketika Davien mengirim pesan karena mendadak Marvel harus ke luar kota sehingga Bunga terpaksa yang harus menjemput Juliet nanti.
“Presdir... laporan yang Anda minta mengenai rincian pengiriman material ke tempat konstruksi” ucap sekretaris sembari meletakkan berkas di atas meja.
“Baiklah aku akan memeriksanya.” Berkas itu berisi tentang rincian material yang dikirim ke tempat konstruksi pembangunan yang sedang di garap oleh Davien sejak beberapa tahun yang lalu. “Kita mengirim material ke mereka sejak 4 tahun yang lalu? Sampai sekarang bagaimana pembangunannya?”
“Yang saya dengar proyek itu sempat mangkrak sekitar 3 atau 4 tahun Presdir, mereka meminta kita berhenti mengirim karena ada kendala dan permasalahan yang terjadi antara pemegang saham. Saya juga dengar terjadi perselisihan karena salah satu di antara mereka menginginkan pembebasan lahan. Berita ini sempat ramai masa itu di kalangan pebisnis, terlebih lagi kabar yang sempat sangat viral membuat semua perempuan iri ketika salah satu pemilik saham tertinggi menyelamatkan satu rumah agar tidak di ratakan dengan tanah saat kabar menyebar semua orang mencari beritanya dan akhirnya ada yang mengangkat ke media bahwa katanya pemilik rumah itu adalah seorang perempuan. Netizen semakin menjadi-jadi mereka yakin beliau memiliki alasan khusus mempertahankan rumah perempuan itu. Ah! Andai saja saya pemilik rumah tua itu pasti saya akan menjadi perempuan paling bahagia di bumi ini. Sudah sangat tampan, berkarisma, terkenal setia tidak playboy, termasuk orang terkaya di kota ini dan–,”
“Sudahi halumu sekarang juga! Kau harus kembali bekerja!” sahut Bunga memotong pembicaraan. Setelahnya kembali fokus memeriksa rincian itu, tapi apa yang baru saja dia dengar membuatnya berpikir keras. “Pembebasan lahan, menyelamatkan satu rumah agar tidak diratakan dengan tanah!” Bunga teringat dengan rumahnya yang ada di desa.
Di sana hanya rumah tua miliknya yang masih utuh sementara yang lain telah hancur dan dibangun perumahan di sekitarnya. Bunga sempat berpikir kalau yang di ceritakan sekretarisnya adalah rumah miliknya yang ada di desa itu. Karena saking penasaran Bunga memeriksa lokasi konstruksi yang tertera di rincian tersebut.
Bunga baru sadar kalau alamat pengiriman material dan alamat desanya ternyata sama. “Tidak mungkin! Kenapa aku baru tahu kalau alamatnya sama. Jangan-jangan?”
Dreeet! Ponselnya bergetar. Segera Bunga meraih dan membukanya dia pikir itu pesan dari Davien ternyata bukan.
“Kenapa dia lama sekali mengirim lokasinya? Hampir 6 jam lebih menghabiskan waktu bersama... apa yang mereka lakukan?” Bunga sempat ketakutan kalau Juliet akan bercerita tentang hal yang tak seharusnya.
Setelah waktu menunjukkan pukul 8 malam akhirnya Bunga baru mendapat pesan dari Davien. Sempat terpaku melihat nomor Davien tidak berubah sampai sekarang.
‘Sudah sangat tampan, terkenal setia dan tidak playboy’
Teringat ucapan sekretarisnya Bunga jadi berpikir kalau Davien sepertinya termasuk orang yang setia. Mulai dari nomor telepon dan paswordnya saja sampai sekarang dia tetap setia memakainya tanpa mengganti. “Ya! Termasuk perempuan yang dia cintai!! Hanya ada Essie dan tak pernah terganti!”
Bunga kembali melihat pesan yang dikirim Davien untuk memastikan di mana posisi mereka. Matanya membulat bibirnya terasa kaku saat Davien mengirim lokasi keberadaan mereka berdua. “I.ini?” ya! Juliet berada di rumah Davien saat ini.
__ADS_1