
Barack menarik tangannya yang menjadi bantalan Luna secara perlahan, berharap tidak melakukan gerakan kasar hingga mengganggu tidur Istrinya.
Namun luna malah melingkarkan tangan dan kakinya untuk mengunci dan memeluk erat tubuh Barack.
Alhasil laki laki itu tak bisa beranjak dari tempat tidur.
"Lun?" ucapnya dengan lembut.
"Mm" Luna masih memejamkan matanya, dia semakin memendam wajahnya di dekapan Barack.
"Aku harus bangun"
"Mmm, , tidak boleh" Luna hanya menggeleng, suaranya juga terdengar sedikit serak.
Barack tersenyum sambil mengecup kening Istrinya.
"Aku harus bersiap siap karena nanti siang harus menemani klien!"
Luna masih tidak mau membuka matanya, seakan benar benar berat dan malas saat harus meninggalkan ranjang yang terasa sangat nyaman itu.
"Penting mana? nemenin aku atau klienmu?" ucapnya dengan nada menuntut.
"Dua duanya" Barack berucap tanpa basi basi sedikit pun.
Seketika mata Luna langsung menbuka lebar. Keningnya berkerut penuh emosi.
"Kok gitu!"
"Kamu dan Klien itu dua hal yang berbeda. kalian sama sama pentingnya. Kamu sangat penting di hidupku dan Klienku sangat penting untuk kehidupan karyawanku. Aku tidak bisa mencampur adukkan keduanya Luna" Barack menatap ke arah mata Istrinya.
"Kamu mengertikan apa makasudku?"
"Iya"jawabnya malas.
"Bukannya kamu juga harus bertemu dengan Adrian?"
"Belum ada kabar lagi dari Cici, entahlah. Hari ini Leo mengajak bertemu katanya ada yang ingin dia bicarakan dengan kita, kamu bisa menemuinya sebentar nanti?" Luna memainkan jarinya di atas dada Barack. Mengukir namanya dan nama suaminya di sana.
"Pukul berapa?" Ucapnya ragu, Barack seakan tidak bisa memenuhi keinginan Luna.
"Kenapa? apa kamu tidak bisa menemaniku?" raut Wajah Luna mulai terlihat sedikit kecewa.
"Bukan begitu, , hanya saja"
"Iya! iya! aku tahu pasti karena Klienmu lagi!" ucapnya memotong pembicaraan.
"Kamu marah?"
"Tidak, tidak salah lagi!"
"Ih kok gitu, ayolah! dia disini hanya satu minggu. Aku hanya ingin memberi servis yang terbaik untuk semua Klienku tanpa pengecualian" ucapnya memperjelas.
"Tanpa pengecualian?" Luna mengulangi ucapan Barack, seakan tahu kalau Kliennya bukan hanya seorang laki laki.
"Apa dia seorang perempuan?" Luna menyangga dagunya di dada Barack.
"Mm" Barack mengangguk pelan.
"Dia seorang Nona?" Luna semakin antusias menghujani Barack dengan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.
Barack terkekeh senang, seakan tahu kalau Istrinya sedang merasa cemburu padanya.
"Mm" Barack kembali mengangguk.
Luna merengek seperti anak kecil sambil menyandarkan kembali kepalanya di dada Suaminya.
"Dia hanya Klienku Luna" Barack berusaha menahan senyumnya.
Sementara Luna hanya memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Aku harus segera bersiap siap" tambahnya dengan nada lembut.
Luna tidak bergeming, dia hanya membalas tatapan mata Barack dengan galak, kedua alisnya pun juga terangkat.
"Tapi, , "
"Tapi apa?" Mata Barack mengerucut ke arah Luna.
"Ada syaratnya!" ucapnya seolah sedang bernegosiasi dengan Barack
"Apa itu?"
Luna menggigit bibir bawahnya sebelum berucap.
"Sekali lagi ya?" pintanya tanpa rasa malu.
Barack menyeringai hanya melihat sikap Luna yang genit dan nakal dia tahu apa syarat yang di ajukan Istrinya itu.
"Kamu mau nambah lagi?"
Luna hanya mengangguk sambil menyembunyikan wajah malunya di dekapan Barack.
Sementara Barack hanya terkekeh senang melihat sikap Luna yang menggemaskan.
Akhirnya sebelum mandi dia melayani Istrinya sekali lagi.
♡♡♡
Barack melangkah keluar dari kamar mandi matanya tertuju pada tubuh Luna yang masih meringkuk di atas ranjang.
"Kamu belum mau mandi?" ucapnya sambil berjalan ke arah almari, mengeluarkan sebuah celana berwarna hitam lalu segera memakainya.
Melihat Luna tidak merespon pertenyaannya, Barack berjalan mendekat ke arahnya. Menarik ke dua kaki Luna beserta selimut yang menutupi tubuh Istrinya.
Barack membungkuk untuk mendekati wajah Istrinya.
"Hei, ayo mandi aku akan mengantarmu. Bukannya kamu sudah ada janji akan bertemu dengan Leo?" tangannya bergerak menekan hidung Luna.
__ADS_1
Istrinya itu nampak terlihat sangat kelelahan.
Bahkan untuk membuka matanya saja dia butuh tenaga ekstra. *author lebay* 😂😂
"Mmmmm" Luna hanya bergumam.
Dia sedikit membuka matanya untuk melihat wajah Barack yang sudah terlihat sangat segar.
"Kamu sudah mandi?, maaf aku tidak menyiapkan pakaian dan sarapan untukmu" Luna membuang senyum manis ke arah Suaminya.
"Tidak apa apa. Semalam kamu sudah melayaniku dengan sangat baik. Terima kasih" ucapnya sambil menghujani wajah Luna dengan kecupan.
Pipi Luna merona seketika. Bola matanya bergerak memgikuti Tubuh Suaminya yang berjalan ke arah almari untuk mengambil setelan jas, lalu memakainya.
"Kenapa masih di situ? ayo mandi!"
Luna hanya menatap ke arah Barack sambil tersenyum tipis.
"Apa kamu tidak bisa membatalkan janjimu hari ini? bagaimana kalau kita seharian ini tidur saja! kakiku sangat lemas"
Barack melihat ke arah Luna yang terlihat sangat tidak berdaya.
Dia menghela nafas sambil membenarkan kancing kemejanya lalu mendekat lagi ke arah Luna dan duduk di bibir ranjang.
Tangannya bergerak membelai lembut rambur Istrinya.
"Bukannya tadi kita sudah membahasnya?, ayo aku akan membantumu ke kamar mandi"
Barack akhirnya menggendong Luna dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Namun Luna tak mau melepas tangannya yang melingkar di leher Barack.
Bahkan dia menatap mata Suaminya itu dengan sangat nakal.
"Luna aku bisa telat" Berack berusaha menahan senyumnya.
"Tidak mau! aku tidak mau melepas tanganku! aku mau seperti ini terus" Luna semakin mengencangkan pelukannya.
Barack hanya menghela nafas panjang.
"Aku mau di sini!" ucapnya seraya meminta Barack melayaninya di kamar mandi.
"Gila!! Benar adanya jika nafsu seorang perempuan tidak akan pernah ada habisnya, sementara laki laki memang mudah terangsang namun jika sudah tersalurkan mereka bisa berhenti!!! semua ini karena obat sialan itu. Tapi aku akui karena obat itu membawa evek positif namun ada negatifnya juga! contohnya seperti ini, aku bisa terlambat untuk berangkat ke kantor"
"Ayolah sayang, nanti malam aku bisa melayanimu lagi " ucapnya dengan sangat lembut. Bahkan dia menghadiahi kecupan di bibir Luna.
Luna terkekeh.
"Kamu memanggilku apa??"
"Sayang. Kenapa? tidak suka?" Barack mengerucutkan matanya ke arah Luna.
"Mm, , hanya aneh saja ketika mendengar kamu memanggilku dengan sebutan itu"
"Mandi ya?, aku akan menunggumu di luar"
Barack menurunkan Luna dan meninggalkannya di dalam kamar mandir sendiri.
♡♡♡
"Kamu tidak mau sarapan dulu? ini sudah jam 10 lo! bahkan sudah lewat jam sarapan"
Luna menawarkan Suaminya untuk turun dan makan sebentar saat mobil merka berhenti di depan sebuah restoran.
Dimana Luna dan Leo sudah berjanji akan bertemu di sana.
"Ke sini" Barack menggerakkan jarinya ke arah Luna.
Luna segera melepas sabuk pengaman dan mengikuti perintah Suaminya untuk mendekat ke arahnya.
"Apa?"
Tangan Barack bergerak meraih tengkuk Luna dan melumat bibirnya sejenak.
"Aku sudah kenyang" ucapnya kemudian.
"Ha?" wajah Luna nampak terkejut karena ucapan Suaminya.
"Aku baru saja memakan sarapanku!"
Pipi Luna bersemu kembali.
"Aku juga mau" ucapnya seraya meraih tengkuk Barack alih alih ingin mencium Suaminya.
Namun yang ada Barack menahan bibir Luna dengan jari telunjuknya.
"Khusus buat kamu makan malam saja, nanti aku terlambat kerja kalau meladani kamu lagi"
"Iiihh curang!!" Luna kembali ke kursinya dan menendang angin seperti anak kecil.
Barack tersenyum sambil mengusap kepala Istrinya.
"Ya udah, aku antar kamu sampai di sini saja" ucapnya sambil melirik ke arah jam tangan.
"Kenapa?? buru buru mau ketemu sama Klien kamu yang cuuuaannttikk itu ya!" cibirnya.
"Cemburumu tak beralaskan Luna" Barack kembali tersenyum melihat tingkah Istrinya yang menggemaskan.
"Emangnya lagu! cemburuku tak beralaskan!!" tangan Luna bergerak mengambil tas di kursi belakang
Namun sebelum keluar dari mobil dia meraih kerah kemeja Barack dan mencium leher Suaminya itu, bahkan dia berusaha dengan keras membuat tanda seperti apa yang di lakukan oleh Barack kepada tubuhnya.
Barack hanya tersenyum geli sambil menikmati ciuman Istrinya itu, bahkan tangannya membelai lembut rambut Luna seakan dia memberi waktu kepadanya untuk membuat tanda di sana.
Dia tahu kalau Luna belum ahli bahkan tidak tahu bagaimana caranya membuat tanda merah di sana.
Yang ada Barack meringis di selingi tawa saat Luna menggigit kecil kulitnya karena gemes tak bisa meninggalkan tanda di leher Suaminya.
__ADS_1
Luna mendengus kesal.
"Kenapa kamu tertawa! aku sedang bersusah payah membuat tanda merah di sana agar klienmu tahu bahwa tubuhmu adalah milikku!"
"Ya ampun Luna" Barack tertawa di buatnya.
"Segitunya kamu"
"Kenapa?? marah?? tidak suka kalau aku cemburu? aku tidak akan turun dari mobil sebelum aku berhasil membuat lehermu memerah!" ucapnya dengan nada jengkel.
Barack semakin geli mendengar ucapan Luna.
"Haduuuhhh ya ampun Luna"
"Cepat ajari aku jangan berlama lama, katanya kamu sudah terlambat" desaknya.
Barack kehabisan akal menghadapi Luna yang sangat menggemaskan. Namun Barack menyukai semua itu.
"Kemarikan tanganmu!"
"Untuk apa?"
"Cepat kemarikan" Barack meraih tangan Luna dan menyingkap lengan kaos yang menutupi tangannya.
"Jangan hanya dilihat, tapi coba di rasakan apa yang aku lakukan dengan dengan tanganmu oke!" Barack memberinya sebuah petuah.
Barack mencium punggung tangan Luna dan menyesap kulitnya beberapa detik di sana.
"Lihat??, ,apa kamu sudah mengerti?"
Dia memperlihatkan bekas ciumannya yang memerah di punggung Luna.
Barack hampir tak percaya dengan apa yang dia lakukan, saat harus mengajari Istrinya itu untuk sedikit berbuat nakal.
Luna nampak antusias saat melihat bekas merah di tangannya
Seperti anak kecil yang baru saja di beri tahu suatu rahasia sulap.
"Sudahkan?, , sekarang ayo turun?" ucap Barack seolah sengaja menyuruh Luna untuk turun dari mobil, di saat Istrinya lupa akan mempraktekkan hal itu pada lehernya.
Seketika ujung mata Luna langsung melirik ke arah Barack.
Dia mencengkeram dan menarik kembali kerah leher Suaminya dengan erat.
Lalu mencium menyesap dan meninggalkan bekas di sana seperti yang sudah di ajarkan oleh Barack.
Barack hanya menggeleng pelan, menikmati rasa geli di leher untuk yang ke dua kalinya.
"Lakukan sampai memerah ya" cibirnya.
Luna menarik tubuhnya menjauh dari Barack
"Jahat! udah tahu aku tidak bisa melakukannya juga!"
"Baguslah, kalau sampai ada bekas di sana kan aku bisa malu kalau ketemu sama mereka" ucapnya sambil membelai lembut rambut Luna.
Barack melirik ke arah leher dan dada Luna yang penuh dengan bekas merah di sana.
Namun sepertinya Luna tidak menyadari hal itu.
"Biar saja! biar mereka tahu kalau kita semalam be" ucapannya terputus.
"Kenapa tidak di teruskan?"
Luna menelan ludahnya dengan susah payah. Seakan dia merasa malu ketika harus mengucapkan hal itu dengan lantang di depan Barack.
"Be, apa??" Barack mendesak Luna untuk meneruskan ucapannya.
"Bukan apa apa!"
"Maksutmu bercinta bukan?" Barack berbisik di telinga Luna.
"Aduuuuhhhh ya ampuuunnn, telingaku merasa ngilu mendengarnya!" Pipi Luna merona bahkan kali ini memerah padam.
"Aku akan turun, nanti tidak usah menyuruh surpir untuk jemput ya. Aku akan pulang bersama Cici"
"Kamu melupakan sesuatu??" ucap Barack dengan nada menuntut. Saat melihat Luna akan turun dari mobilnya.
Luna kembali menoleh ke arah Suaminya.
Dia melihat Barack sedang menunjuk ke arah keningnya.
Luna mendorong kepalanya mendekat ke arah Barack untuk memudahkan Suaminya itu mencium keningnya.
Setelahnya dia keluar dan membuang senyum ke arah Barack sebelum pergi meninggalkan dirinya.
Luna masih merasa sedikit kesusahan saat berjalan ke arah pintu masuk.
Karena ke dua lututnya masih sedikit bergetar sehingga membuatnya tak bisa berdiri dengan tegap.
Dengan cepat tangannya meraih pintu kaca untuk membantu dirinya berdiri dengan sempurna.
Sejenak dia menghela nafas panjang untuk memantapkan diri dan mempersiapkan kakinya agar bisa melangkah dengan sempurna.
Dia merasa malu karena beberapa kali dia melihat orang menatap aneh ke arahnya. Bahkan sambil berbisik kepada teman di samping mereka.
Luna memilih untuk tak menghiraukan semua itu. Dia kembali berjalan namun saat dia menghindari pelayan restoran yang ada di depannya, ke dua kakinya tak bisa bekerja sama dengan baik.
Lututnya bergetar tubuhnya goyah dan dia pun terjatuh.
"Aduh!!, , mamalukan" gumamnya.
"Maaf, saya menghalangi jalan anda" ucap pelayan itu kepada Luna.
"Tidak apa apa" Luna menampik kenyataan bahwa kakinya kini malah terkilir.
"Kamu baik baik saja?" Suara berat seorang laki laki menarik perhatian hingga membuat Luna mengalihkan pandangannya ke arah laki laki yang ternyata telah mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
__ADS_1