Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
104. Side Story 3 Bulan Madu Yang Tertunda


__ADS_3

“Tapi kau menyukainya!?” hahaha.... “Empat jam lagi pesawat kita akan berangkat, aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan pakaianmu, jadi kita masih memiliki sedikit waktu untuk berdua.” Kakinya mulai bergerak melangkah duduk di kursi kebanggaan milik istrinya. “Kemarilah!” tangannya menepuk kecil paha, meminta istrinya duduk di pangkuannya.


Dengan senang hati Bunga menuruti permintaan suaminya, duduk di atas pangkuannya kemudian memeluk melingkarkan kedua tangan tepat di lehernya. Memeluknya erat sebagai tanda Bunga sangat-sangat tak sabar ingin segera berduaan dengannya.


“Sayang?” Davien berbisik lembut di telinganya, dia bisa merasakan pelukan istrinya yang begitu kuat.


“Hmm??” gumamnya, Bunga mendaratkan kecupan di lehernya. Mencium menghirup aroma wangi dari permukaan kulit suaminya.


“Tunggu! Ja.ummh.jangan... apa kau sengaja ingin membuatku tersiksa?” Davien mendorong tubuhnya ketika merasa istrinya mulai bersikap aktiif, melewati batas kewajaran.


“Kenapa?” wajahnya memerah dengan kedua mata terasa berat membuat pandangan matanya terlihat sendu.


“Sayang, kau?” ucapnya terhenti, pipinya merona melihat wajah Bunga sedikit terlihat er.otis baginya.


Perempuan itu tersenyum kemudian kembali memeluknya lagi. “Tidak Davien, kau tenang saja. Kau lupa? Aku ini perempuan... dan sangat mudah bagiku menahan keinginan ini. Aku akan menyimpannya untuk nanti saat kita bulan madu di Hawai!”


“Oh, sayangkuuu” Davien memeluknya gemas. “Aku ingin menciummu, tapi takut membuatmu semakin tegang.” Ucapnya.


“Kau bisa melakukannya Davien!”


“He?” lelaki itu terkejut.


Bunga menarik tubuhnya ke belakang menjauh dari Davien. “Kau bisa menciumku sekarang!”


“Ta.tapi bagaimana kalau kau–,”


“Tenang saja, aku bisa mengatasinya!” perempuan itu tersenyum, tangannya meremas dasi yang masih menggantung di leher suaminya. “Kalau kau ragu... biar aku saja yang menciummu!” tangannya menarik dasi, memaksa suaminya mendekat kemudian mencium bibirnya.


Semula Davien terlalu takut membalas ciumannya, namun Bunga sepertinya justru sengaja memancing membuat lelaki itu tak bisa hanya tinggal diam.


‘Sial!’ umpatnya dalam hati. Kedua telapak tangannya yang besar dan kokoh itu meraih pipi istrinya. Davien mulai aktif membalas ciuman Bunga, menyesap, mel.umat berkali-kali sampai merah dan basah. “Eh?” matanya terbuka merasakan gerakan tangan istrinya mulai aktif membuka kancing kemeja. Davien ingin menahannya tapi dia sendiri tak mampu menolak gejolak keinginan yang selama ini tertahan. Lagi pula siapa yang mampu menolak permainan yang akan berujung pada kenikmatan? Bunga telah berhasil melepas dasi dan membuka beberapa kancing bagian atas.


Instingnya bekerja dengan baik refleks memutar poros kursi membuat arah duduknya berubah. Mengarah ke kaca membelakangi meja agar ketika secara tiba-tiba ada orang masuk tak akan melihat kegiatan mereka. “Sayang haruskah kita berhenti? Kita berada di kantor sekarang, bagaimana kalau ada orang masuk?” sela Davien di tengah pagutan bibir.


Senyumnya nakal, Bunga mulai mengambil kendali. “Serahkan padaku... aku akan segera menyelesaikannya! Kau, hanya tinggal diam dan nikmati apa yang aku lakukan pada tubuhmu!” tangannya bergerak meraih ikat pinggang, belum sempat membukanya suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka.


Tok! Tok! Tok!


Pintu terbuka dari arah luar, terlihat Antonio melangkah masuk. “Nyonya?” sapanya tanpa melihat kearah depan. Antonio menundukkan kepalanya sopan.


Tak ada rona terkejut dari mereka berdua, hanya merasa canggung yang dengan mudah bisa teratasi. Setelah merapikan pakaiannya, Bunga segera beranjak berdiri, berjalan ke sisi meja.


“Antonio? Apa ada sesuatu?” sahutnya.

__ADS_1


Lelaki itu mengangkat kepala menatap Bunga. Bibirnya terpaku melihat sosok lelaki duduk di kursi yang membelakangi dirinya. Dapat dipastikan kalau itu adalah Davien, tapi pikirannya dibuat kacau setelah sekilas melihat lelaki itu dari arah samping sedang membenarkan kancing kemejanya.


Ghm! Dehemnya menetralkan perasaan. Antonio mengutuk diri sendiri karena merasa bersalah telah masuk ke ruangan di waktu yang tidak tepat. Pipanya merona merah. “E.mmm maaf! Mr.Rodrigo meminta saya untuk menemui Anda. Beliau meminta Anda secara khusus untuk datang ke Amerika menghadiri rapat penting mewakili beliau yang tidak bisa hadir karena harus melakukan cek up rutin.”


“He?” Davien beranjak berdiri terkejut mendengar ucapan Antonio. “Amerika?” tambahnya. “Bukankah Mr.Rodrigo sudah–,”


“Iya, Tuan... beliau meminta maaf karena telah mengganggu rencana bulan madu kalian, beliau tidak bermaksud melakukan itu tapi... berharap Tuan Davien akan mengerti. Jika Nyonya bisa menyelesaikan laporan sebelum rapat dimulai maka hanya memerlukan waktu semalam untuk tinggal di Amerika, setelahnya Nyonya bisa menemui Tuan Davien di Hawai.”


“Ta.tapi–,”


“Davien?” Bunga mencoba membuat suaminya mengerti, bahwa dia juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi tidak mungkin baginya melewatkan permintaan Ayahnya kali ini. “Seperti kata Antonio... aku hanya perlu menyelesaikan laporannya dengan cepat agar bisa segera menemuimu di Hawai.” Bunga mengusap pipinya lembut.


“Jadi maksudmu, kau ingin aku pergi ke Hawai terlebih dulu dan nanti kau akan menyusul?” tanyanya memastikan.


“Iya, Davien... aku mohon, setelah selesai pertemuan aku pasti langsung pergi menemuimu ke Hawai. Bukankah perjalanan dari Amerika ke Hawai hanya memerlukan beberapa menit?”


Lelaki itu memamerkan raut wajah kecewa, hanya diam tak berucap sepatah kata tapi terlihat jelas kalau Davien kesal mendengar Bunga harus pergi ke Amerika. “Aku tahu memang tidak terlalu jauh jarak ke Hawai dari Amerika... tapi, kau yakin Bunga? Setelah hampir satu bulan kita akhirnya bisa pergi bersama... haruskah kau ke Amerika saat ini juga?”


“Hanya semalam! Setelah itu kita masih memiliki 6 hari untuk bersama tinggal di Hawai!”


Davien menghela nafas panjang menundukkan kepala. Tidak mungkin juga dia meminta Bunga menolak perintah ayahnya, sangat di sayangkan karena bertepatan dengan hari cuti mereka. Ujung matanya melirik tangannya yang sedang digenggam oleh Bunga.


“Ayolah sayang? Aku mohon.” Bunga mengeluarkan jurus andalannya ketika memohon kepada suaminya, meskipun lelaki itu masih diam. “Sayaaang?”


“Apa sayang?” refleks Davien menyahut ucapannya, dia menjadi lemah ketika mendengar Bunga memanggilnya dengan sebutan sayang.


“Astaga! Oke oke... baiklah! Kita akan berangkat ke bandara bersama dan berpisah di sana. Janji! Setelah selesai kau harus segera menyusulku ke Hawai!”


“Janji!” Bunga tersenyum lega, karena akhirnya mendapat ijin dari suaminya.


“Dan lagi! Tidak boleh mengabaikan pesanku, harus memberiku kabar setiap 2 jam sekali. Satu lagi, tidak boleh mengabaikan panggilan dariku! Mengerti?”


Hehe.... “Aku rasa aku sudah hafal semua syarat itu di luar kepala!” Bunga tersenyum memeluk suaminya kemudian.


Antonio yang sejak tadi menyaksikan mereka berdua dibuat canggung dengan situasi saat itu.


***


Mereka berpelukan sebelum berpisah untuk naik ke pesawat masing-masing. Lagi-lagi Antonio merona harus berada di antara mereka berdua yang sedang kasmaran.


“Umm... Nyonya, saya akan menunggu Anda di pintu masuk!” ucapnya sebelum meninggalkan mereka berdua, sengaja memberi waktu dan ruang untuk menikmati waktu berdua.


Aarrghh! “Aku sungguh berat hati harus membiarkanmu pergi bersama Antonio!” Davien kumat, manjanya semakin menjadi. “Seharusnya kita sekarang pergi bersama ke Hawai, sayang!” rengeknya.

__ADS_1


“Bukankah kita sudah membahas ini, Davien? Perlahan Bunga melepaskan pelukannya. “Coba lihat wajahmu di kaca, kau pasti akan malu setelah melihat raut wajahmu ditekuk seperti ini!” Bunga tertawa, dia justru menikmati ekspresi Davien yang menggemaskan.


Huuufftt! “Lalu apa yang harus aku lakukan di hotel sendirian semalaman nanti?”


“Kau bisa menonton film, menghabiskan waktu untuk istirahat atau jalan-jalan sampai aku tiba di sana.”


“He? Kau... tidak takut aku dibawa kabur wanita cantik di sana?” Davien mulai memamerkan wajah tengil, bahwasanya akan banyak wanita cantik di sana yang akan dengan mudah menggoda dirinya.


Namun Bunga malah tersenyum mendengar ucapan suaminya.


“Apa yang lucu? Kenapa kau tertawa?”


“Tidak, tidak ada. Kalau kau bertanya apa aku tidak takut... maka jawabanku adalah, aku pasti takut jika ada seorang wanita cantik mendekati dan menggodamu saat aku tidak ada. Tapi... aku memiliki kepercayaan terhadapmu, Davien. Jika kau menginginkan wanita lain... maka kau bisa mendapatkannya sejak dulu selama kurang lebih 7 tahun belakangan ini. Tapi, kau tidak melakukannya. Kau tetap bertahan, dan terus menungguku... bagaimana mungkin dalam sehari kau bisa berpaling? Aku yakin kau tak akan bisa melakukannya!”


“Ah! Menyebalkan, kau pasti senang mengetahui aku benar-benar sangat tergila-gila denganmu! Tapi kenapa aku tidak bisa setenang dirimu?”


“Apa yang kau takutkan? Kau takut aku akan melirik lelaki lain?”


Davien mengangkat kedua bahunya. “I don’t know! Nyatanya kemarin kau menerima lamaran dari Marvel!”


Bunga terdiam tak dapat berucap untuk sesaat. “Kenapa kau harus membahas yang sudah berlalu?” Bunga mencubit pipinya gemas. “Baiklah aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu percaya, membalas pesanmu tepat waktu, mengangkat panggilan darimu dan akan selalu melapor tentang di mana pun dengan siapa dan sedang melakukan apa, aku akan selalu memberimu kabar oke?”


“Hmm!”


“Marah? Menyesal memberiku ijin pergi ke Amerika?”


“Tidak!”


“Kalau begitu, cium aku!” Bunga bersiap menerima ciuman dari suaminya. Sementara Davien justru terlihat malu, merona merah padam pipinya.


Dia terkejut mendengar permintaan Bunga yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. “Mm... pipi?” tanyanya memastikan.


“Uhm!” Bunga menggelengkan kepala kemudian mengarahkan telunjuk ke bibir. “Di sini!”


Davien salah tingkah menunduk sembari menggaruk tengkuknya. Apa lagi Bunga menatapnya lekat membuat pipanya semakin merona. Tak lama kemudian dia mengecup bibirnya, melakukan dengan cepat karena malu melihat keadaan sekitar yang sangat ramai. Belum lagi Antonio yang berdiri di pintu masuk sejak tadi selalu melihat kearahnya.


“Apa itu? Aku bilang cium, bukan kecup sayaaaang?!”


“Astagaaa!” gumamnya, menahan debaran dadanya yang semakin kencang.


“Kau malu? Oke kalau begitu biar aku yang melakukannya!” Bunga berjinjit, melingkarkan kedua lengan ke leher Davien lalu mencium bibirnya.


Davien terkejut membulatkan mata, tak menyangka Bunga akan bertindak berani di tempat umum. Banyak orang melihat kearah mereka tapi karena Bunga sendiri tak peduli dengan sekitar, maka Davien pun mulai berani membalas ciumannya.

__ADS_1


Salah satu tangannya berada di pinggang dan satunya lagi berada di tengkuk istrinya. Bibirnya mulai bergerak aktif mengimbangi ciuman.


Antonio memilih memalingkan wajahnya dari mereka. Dia sangat menderita karena dalam beberapa jam telah dibuat malu beberapa kali oleh mereka berdua. Pipinya merona tapi hatinya menangis melihat kemesraan yang selalu terpampang di depan mata.


__ADS_2