
Davien melamun di kursi kebanggaannya, dia terlihat begitu sangat frustasi dengan masalah yang sedang di hadapi. Tubuhnya bergerak ke belakang bersandar di kursi memejamkan matanya rapat menikmati rasa hampa, kesal, penyesalan yang menyelinap masuk sampai dalam relung jiwanya.
Tok tok tok!!!
James membuka pintu dari luar, lelaki itu masuk ke dalam lalu menundukkan kepala. "Presdir ini sudah waktunya Anda untuk pulang" James mengingatkan kepada Davien bahwa lelaki itu harus kembali ke rumah untuk istirahat. Dia mengalihkan pandangannya ke pecahan kaca yang masih berserakan di lantai.
James terkejut matanya sedikit menajam tak mungkin bagi Davien untuk merusak hiasan bola kristal itu, tetapi James sendiri tak tahu kenapa hiasan itu bisa pecah. Melihat kondisi Davien yang sangat memprihatinkan James tak ingin membahasnya saat ini.
"Kalau kau ingin pulang pergila terlebih dulu" Davien berucap dalam keadaan mata yang masih terpejam.
"Jika presiden berkenan saya akan menunggu di sini sampai Presdir bersedia untuk kembali ke rumah" James mempertahankan posisinya berdiri di tempat, menunggu Davien berubah pikiran.
Laki-laki itu membuka mata mendorong tubuhnya maju kemudian beranjak berdiri dari kursi. "Aku akan pulang" Davien melangkah menuju pintu kemudian keluar, diikuti oleh James dari arah belakang.
***
Malam itu Marvel membantu Bunga mengepak semua barang-barangnya. Marvel sebenarnya sangat penasaran tetapi melihat wajah Bunga yang masih sembab dengan kedua mata nampak membengkak, hidung merah bahkan kadang air mata dengan sendirinya masih ada yang menetes. Melihat semua itu Marvel tak sanggup menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Malam itu juga setelah selesai berkemas Bunga tetap bersikeras untuk pulang ke desa. Mau tak mau Marvel mengantar Bunga kembali ke kampung halaman.
***
Dalam perjalanan menuju ke rumah, Davien terlihat melamun tak berdaya bahkan James yang melihatnya seolah mengingatkan pada kenangan buruk masa lalu di mana Davien terpuruk beberapa tahun itu seakan kembali menghampiri Tuannya.
Ini kali kedua James melihat Davien sangat frustasi, bahkan Davien seolah sudah tak bergairah untuk melanjutkan hidupnya ekspresi wajahnya sangat datar pikirannya juga kosong.
"Antarkan aku ke apartemen, aku ingin menemuinya!" ucap Davien dengan nada lemah.
James kemudian memutar balik arah mobilnya menuju ke apartemen di mana Bunga tinggal. Setelah sampai di sana Davien menaiki lift menuju lantai atas.
Setelah pintu lift terbuka Davien melangkah keluar berjalan perlahan. Dia telah berdiri di depan pintu. Ingin memakai kartu akses khusus yang dia miliki untuk membuka pintu tetapi dia mengurungkan niat karena hubungannya dengan Bunga sedang tidak baik maka dari itu Davien lebih memilih untuk menekan tombol bel.
Ting tong!
Hampir beberapa kali Davien menekan Belnya tetapi tak ada sahutan dari arah dalam. Bahkan pintu masih tertutup rapat. Karena tak sabar Davien akhirnya memakai kartu akses khusus untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Tubuhnya terpaku semua ruangan nampak gelap tak ada satu pun lampu yang menyala. Davien menggerakkan tangannya menyalakan lampu di setiap sudut ruangan.
Lelaki itu berjalan perlahan masuk lebih dalam. Pandangannya menyelidik setiap tempat di mana dia menginjakkan kaki. Davien menghela nafas kasar dia yakin Bunga sudah meninggalkan apartemennya.
Davien terkekeh jengkel menertawakan diri sendiri karena sadar telah melakukan kesalahan. Tak bisa menahan emosi Davien menghancurkan segala macam barang yang ada di depan matanya.
Segala yang dilihat langsung dihancurkan tak ada satu pun yang tersisa. Nafasnya terengah-engah semua telah hancur. Namun Davien masih belum puas dadanya terasa sesak dan panas dia kemudian menghantam sebuah kaca dengan kepalan tangannya.
Krak!!! pyaarr!!!
Ka hancur berkeping-keping tapi dia tak merasakan sakit di tangannya. Dia bahkan tak sadar darah keluar dari punggung tangannya yang terkena pecahan kaca.
Semuanya hancur berserakan di lantai, Davien hanya diam menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai menikmati rasa nyeri di dadanya. Tangannya bergerak meraih dasi menariknya agar sedikit longgar dan tidak sesak ketika bernafas.
Memandangi semua barang yang hancur di depannya, Davien mengibaratkan itu seperti perasaan dan hati Bunga yang sengaja dia hancurkan hingga berkeping-keping. Tak mungkin bagi Davien mengembalikan hatinya yang telah hancur dan kecewa.
Tubuhnya meringkuk memeluk kedua kaki menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Menyadari kesalahan yang seharusnya tak sampai sejauh ini, Davien sesenggukan tak bisa menahan kesedihannya.
***
"Presdir ini file tentang nona Bunga yang presiden minta" ucap James sambil meletakkan sebuah map di atas meja.
Davien hanya menatapnya, belum sempat dia menyentuh map itu James kembali berucap. "Tapi presdir file ini juga penting, saya harap presdir mau membaca terlebih dulu... ini mengenai pembebasan tanah yang terletak di sebuah Desa, sebagian penduduk di sana tidak mau meninggalkan rumah mereka" James kembali meletakkan sebuah map di atas map milik Bunga.
"Ini mengenai proyek perumahan itu?" Ucap Davien setelah membacanya, dia bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk mendirikan sebuah perumahan mewah di daerah pedesaan, dengan pemandangan yang masih bernuansa alami, desa itu menarik para pengusaha untuk membangun perumahan di daerah sana.
Tetapi Davien tak sadar bahwa desa yang di maksud adalah desa di mana Bunga tinggal.
"Kenapa kau tidak membayar mereka saja dan meminta mereka pergi meninggalkan rumah. Kalau perlu berikan berapa pun yang mereka minta. Kau mengurus izin ini lebih dari 3 bulan dan sampai detik ini kau belum menyelesaikannya??" Davien hampir tak bisa membagi waktunya tetapi saat ini dia harus turun tangan karena James tak bisa menyelesaikan masalah sekecil itu. "Kau siapkan semuanya, besok kita akan pergi ke desa, aku yang akan menemui penduduk di sana!" Davien kembali menyandarkan punggungnya di kursi senyaman mungkin.
"Baik presdir" James menundukkan kepala setelahnya pergi keluar.
Sejenak Davien memejamkan mata menyusun rencana untuk menemui para penduduk desa. Tak lama dia teringat dengan teman masa kecil yang pernah ditemuinya. Davien mendorong tubuhnya maju mendekati meja sementara tangannya bergerak membuka laci.
Matanya tertuju pada sebuah boneka matahari kecil yang ada di dalamnya. Boneka itu pemberian teman masa kecilnya..Davien mengingat kembali di mana dia bertemu dengan gadis itu, tiba-tiba keinginan untuk menemui teman masa kecilnya itu terbesit di benaknya.
__ADS_1
Davien menyimpan boneka kecil berbentuk matahari ke dalam saku jas setelahnya beranjak melangkah keluar dari ruangan.
Langkahnya sempat terpaku menoleh ke map berisi data tentang Bunga. Sepertinya Davien bermaksud untuk mengembalikan boneka matahari kepada pemiliknya setelah itu dia baru akan pergi menemui Bunga.
***
Di sisi lain Bunga ternyata telah membuka kembali kedai soto milik neneknya dulu. Perempuan itu terlihat sibuk memasak, meracik kuah soto.
Di samping itu dia juga melayani beberapa pelanggan yang baru saja datang.
"Waah sudah lama aku tidak menikmati soto buatanmu Bunga, dulu sebelum nenekmu meninggal dia selalu bilang kalau kau akan meneruskan usaha nenekmu ini dan ternyata sekarang terbukti. Setelah kau lebih memilih pergi ke kota akhirnya kau kembali dan meneruskan usaha nenekmu ini" ucap seorang Ibu paruh baya.
"Silakan menikmati Bu" Bunga meletakkan semangkuk soto di atas meja. "Iya sepertinya aku lebih nyaman tinggal di desa ini dari pada di kota" senyum tipis sempat menghiasi wajahnya, sebelum akhirnya perlahan menghilang ketika Bunga masuk ke dalam. "Mungkin memang sudah seharusnya aku tinggal di desa" gumamnya dalam hati.
Hari sudah sore, Bunga membereskan kedainya. berhubung rumah dan kedai soto miliknya menjadi satu sehingga bunga tak perlu untuk bersusah payah pindah tempat.
Dari kejauhan nampak sebuah mobil hitam sedang menuju ke arah rumahnya.
Ternyata mobil itu milik Davien, dia berhenti tak jauh dari kedai. Dari arah dalam Davien melihat bayangan seorang perempuan yang sedang memunggunginya, terlihat sibuk membersihkan meja dengan sebuah lap.
Karena hari semakin gelap dan lampu di sekitar tak terlalu tarang membuat jarak pandang semakin terbatas. Davien merasa senang karena dia berharap perempuan itu adalah teman semasa kecilnya.
Davien membuka pintu lalu melangkah turun dari mobil. Pandangannya masih mengawasi sosok perempuan yang masih memunggunginya. Davien mengambil boneka matahari dari dalam saku jas sembari berjalan mendekat dia terus memandang boneka di tangannya.
"Permisi?” Davien berdiri tepat di belakang Bunga.
Mendengar suara berat dari arah belakang, Bunga seketika memaku tubuhnya. Dia langsung mengenali siapa pemilik suara itu. Bunga gugup, jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat.
"Permisi, benarkah pemilik toko ini seorang nenek?” lagi, Davien mencoba menyapa ketika tak mendapatkan sahutan dari perempuan yang masih berdiri mematung di depannya.
Bunga semakin yakin bahwa lelaki yang kini ada di belakangnya adalah Davien, apa lagi setelah mencium aroma parfum yang terbawa angin kearahnya. Bunga masih ingat jelas itu parfum milik Davien.
“Permisi?? Apa kau mendengar suaraku?”
Tak mungkin Bunga menghindar, akhirnya dia memutuskan untuk menyapa lelaki itu.
__ADS_1