Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#67 Flash disk


__ADS_3

 


Barack masih terus menatap tajam ke arah mata luna, dia meletakkan mangkuk yang di pegangnya itu di atas meja.


 


"Sepertinya kita perlu bicara empat mata sebentar" barack berucap kepada luna sambil menahan emosi di dalam dadanya yang membara.


Barack bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah luna dan menarik tangannya dengan paksa.


Dia membawa luna keluar dari ruangan itu.


"Barack!!, , sakit!!" lenguh luna, ketika barack dengan kasar mengenggam tangannya.


"Kamu sudah tidak waras???, , apa sebenarnya yang ada di pikiranmu itu!!!" nada suara barack meninggi saat itu.


Dia mencoba mengntrol emosi yang ada di dalam dirinya untuk tidak berbuat hal yang tidak di inginkan.


Tangannya terlihat mengepal sampai otot di lenganya sedikit menonjol.


"Kamu berbicara seenaknya tanpa merundingkannya dulu denganku? kalau klara tinggal di apartementku, dan ayahku mengetahyuinya, , " barack terdiam sejenak untuk menghela nafasnya.


"Kenapa kamu tidak berfikir sampai ke arah sana???, , sampai disini, aku jadi meragukan perasaanmu terhadapku!!! apakah kamu benar benar menyukaiku?? kenapa kamu terus mendorongku kepadanya!!!"


"Aku sudah melakukan semua ke inginanmu!!! apa itu belum cukup?? jangan selalu memaksaku melakukan hal yang tidak aku suka lun!!!, , , , " barack kembali menghentikan perkatannya dia terlihat sangat emosi hari itu, dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Tidak tahu harus bagaimana menghadapi sikap luna kali ini.


Barack menghantam tembok yang keras itu dengan kepalan tangannya, hingga terlihat bercak darah di tembok yang berwarna putih itu.


Luna melebarkan matanya, mencoba meraih tangan barack yang terluka.


Dia meraba setiap ruas jari barack yang sedikit pecah karena kerasnya hantaman tangan barack ke tembok.


"Bukan begitu maksutku barack!" luna mencoba menenangkannya.


Namun barack tidak mau mendengar penjelasan luna.


"Kamu benar benar egois!!!, , kamu hanya memikirkan kesehatan klara dan perasaan rasa bersalahmu itu. Apa kamu pernah berfikir bagaimana perasaanku, ketika kamu semakin mendorongku kepadanya. Kenapa kamu juga tidak memikirkan perasaanmu sendiri??? ayolah lun, , , , kita akhiri semua ini" barack meraih ke dua lengan luna, ! memohon kepadanya, mungkin kali ini dia benar benar sudah merasa lelah dengan sandiwaranya itu.


Luna menatapnya dengan lembut.


"Kita baru saja memulainya barack, kita sudah berjanji kalau kita akan memberi tahu yang sebenarnya ketika dia benar benar sudah sehat" luna mencoba meyakinkan barack.


"Kamu pikir, aku ingin terus terusan seperti ini? di sini yang sedang tersakiti tidak hanya kamu, tapi aku, , , leo, , , bahkan juga klara, ketika dia tahu kita semua membohonginya, kamu pikir dia masih akan bisa tersenyum seperti sekarang??, , " nada bicara luna sedikit meninggi.


"Tunggu sampai dia benar benar pulih, baru kita kasih tahu yang sebenarnya" kata luna sambil meraih lengan barack.


"Bukankah kamu yang mengajariku??? ketika dulu kamu dihadapkan dengan dua pilihan antara aku yang kamu cintai atau klara yang masih membutuhkanmu di sampingnya, apa yang coba kamu lakukan saat itu??" luna menghentikan pembicaraannya sengaja memberi ruang berfikir untuk barack.


"Kamu menyuruhku untuk menunggumu kan? sambil memberinya waktu untuk menyadari bahwa cintamu bukan untuknya lagi.


Saat ini juga aku ingin kamu melakukannya sekali lagi, aku yakin dia pasti akan menerima semuanya, karena segala sesuatu butuh proses bukan?. Kalau kamu bisa mengatakan yang sebenarnya sekarang, silahlan, dia masih menunggumu di dalam sana dengan kondisinya yang menyedihkan , kalau kamu masih bisa bertahan, aku akan selalu berdiri di belakang untuk mendukungmu. Tapi kalau kamu ingin menyerah, maka aku juga akan berhenti sampai di sini" ucapan luna sedikit mengandung ancaman untuk barack.


Kata katanya itu membuat barack tidak bisa berfikir lagi. Dia benar benar sudah kehabisan akal.


"Dan jika kamu khawatir soal ayahmu, aku orang yang akan berdiri paling depan jika dia berusaha menyentuhmu" mendengar ucapan luna yang baru saja keluar dari mulutnya, membuat barack benar benar seperti laki laki yang tidak berguna.


Bagaimana bisa dia membiarkan luna memikirkan hal itu sendiri.


"Sekarang pilihan ada di tangan mu" luna beranjak pergi masuk ke dalam ruangan kamar pemulihan klara.


 


Luna melihat klara masih tengah duduk dengan termenung di atas kursi.


klara membuang pandangannya ke arah luna yang baru saja masuk.


 "Apa dia , , tidak setuju kalau aku sementara tinggal di tempatnya".


Luna hanya diam, tidak menjawab pertanyaan klara. dia hanya sedang menunggu keputusan barack.


Tidak lama kemudian barack kembali masuk sambil menyembunyikan tangannya yang terluka.


"Sampai kesehatamu membaik, kamu boleh tinggal di tempatku!" nada bicara barack terdengar dingin kali ini.


Terlihat leo mencoba mengela nafanya, dia hanya berfikir saat ini orang yang paling tidak berguna adalah dirinya.


"Aku akan membawamu ke mobil" leo menawarkan maksut baiknya kepada klara, namun dia menolaknya.


"Aku tidak mau, biarkan barack yang membantuku" jawab klara.


Dengan segera barack langsung menggendong klara dan membawanya ke kursi roda.


Nampak wajah barack tidak berekspresi kali ini, bahkan dia diam saja ketika mendorong kursi roda dengan pelan melewati luna yang terus saja berdiam diri sambil melihat ke arahnya.


Barack membawa klara menuju ke mobilnya.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju ke apartementnya, barack hanya diam, dia sama sekali mengunci mulutnya itu.


 


Saat sampai di basment apartementnya, dia memarkirkan mobilnya dan menggendong klara kembali di kursi roda.


 


 


Leo dan luna turun dari mobil mereka masing masing untuk membantu membawakan barang barang milik klara yang lain.


Di dalam lift barack terus saja melamun sambil memegangi gagang kursi roda.


Pintu lift pun terbuka dan membuyarkan lamunan barack saat itu.


Mereka segera keluar dari lift dan berjalan ke ara pintu masuk apartement barack.


Sampai di sana barack hanya berdiam diri melihat ke arah tombol angka yang ada di gagang pintu masuk.


Ketika akan memencet tombolnya terlihat dia sempat melirik ke arah luna yang ada di sampingnya.


Barack tidak yakin dengan sikap klara setelah mengetahui kalau sandinya sudah di ganti dan tidak memakai tanggal lahirnya lagi.


Namun dengan segera barack memasukkan sandi apartemennya.


Dan sepertinya klara tidak menyadari hal itu.


Barack mendorong klara sampai ke dalam kamar, dia membiarkan klara beristirahat di dalam kamarnya.


Terlihat barack sedang memberskan pakainnya dan memasukkan sebagian ke dalam tas yang sudah tersedia di dalam almarinya itu.


"Kamu???, , kenapa bajumu di masukkan ke dalam tas?" tanya klara dengan wajah di penuhi rasa keheranan.


"Untuk sementara kamu tinggallah di sini, aku akan kembali ke rumahku"jawab barack sambil terus mengepaki bajunya.


"Kamu ingin meninggalkanku di sini sendiri?" tanyanya.


"Aku akan mengirim pelayan untuk menemanimu, dan menyiapkan segala sesuatu yang kamu butuhkan. Ketika butuh bantuan ku, kamu bisa memanggilku kapan saja" entah mengapa bagi klara barack berbicara seperti sedang menjauhinya kali ini, Atau mungkin ini hanya perasaannya saja.


"Kamu istirahat saja dulu" barack mengambilkan selimut yang baru dari dalam almarinya, membawanya ke arah klara yang sedang duduk di atas tempat tidur.


"Aku akan mengambilkan minuman untukmu" tambahnya.


Barack beranjak dari kamar dan berjalan keluar menuju ke arah dapur, dan dia melihat leo tengah berdiri di depan pintu masuk kamarnya.


Wajah leo penuh dengan rasa bersalah, namun dia tahu rasa penyesalannya itu sama sekali tidak berguna.


 


 


Leo melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar barack untuk menemui klara.


Mendekat perlahan ke arah tempat tidur, di mana klara sedang melamun.


"Kamu baik baik saja?" tanyanya.


"Kenapa diam saja, apakah ada bagian yang terasa sakit? katakan padaku, yang mana?" tambahnya, mata leo menyapu seluruh tubuh dan wajahnya untuk memastikan bagian mana yang dirasa klara terasa sakit.


Klara hanya diam, menatap ke arah mata leo, kali ini tatapan matanya tak segalak biasanya.


Sedikit memerah dan terlihat berair.


"Kamu baik baik saja?" leo bertanya sekali lagi untuk memastikan keadaan klara.


Dia hanya terus menatap ke arah laki laki yang selalu di acuhkannya itu.


"Aku minta maaf, mungkin sikapku selama ini sudah berlebihan terhadapmu, makanya tuhan sedang menghukumku kali ini.


Sekarang aku sedang mendapat karmannya. Entah mengapa aku merasa barack sedang membuat jarak antara aku dengannya".


Leo duduk di bibir ranjang dan menarik tubuh klara ke dalam pelukannya.


 


Luna mengambil sebuah kotak dari laci bifet, dia mengambil kotak p3k dan membawanya ke arah dapur, dimana barack sedang menyiapkan air minum untuk klara.


 


Luna berdiri di dekat barack dan meraih tangannya yang terluka dengan perlahan.


Menyapu bercak darah yang sudah mulai mengering dengan kapas yang sudah di basahi dengan alkohol.


Barack hanya diam dan membiarkan luna mengobati tangannya itu.


Matanya terus menatap ke arah mata luna yang berada tepat di depannya.

__ADS_1


Dia melayangkan sebuah ciuman lembut ke arah kening luna.


Barack menarik tangannya yang sedang di obati oleh luna untuk memeluk tubuh luna dengan erat.


"Aku minta maaf" nada bicara barack sangat rendah, sepertinya dia telah menyesal karena tadi telah memlerlihatkan sifat arogannya ketika berada di rumah sakit.


Luna hanya mengangguk dengan pelan.


"Aku akan pergi, , kamu temani dia dulu sebentar" katanya sambil melepas pelukannya kepada barack.


"Aku antar kamu ke depan?".


"Tidak usah" kata luna sambil berjalan pergi meninggalkan barack yang masih terus berdiri di dapur.


 


Di dalam kamar, klara melepas pelukan leo yang sedikit membuatnya merasakan kenyamanan di dalam hatinya.


 


"Bantu aku keluar dari sini" katanya.


Leo berusaha menggendongnya namun klara menolaknya lagi.


"Tidak usah, , aku ingin berjalan saja".


Leo membantu klara berjalan keluar dari dalam kamar dan membawanya ke arah ruang tv.


Klara melihat ke arah sekitar berusah mencari keberadaan luna, namun dia tidak menemukannya.


"Dimana luna?" tanyanya sambil melihat ke arah barack yang sedang berjalan dari arah dapur menuju ke arahnya.


"Kamu minum saja dulu, dia sudah pergi" kata barack sambil memberikan segelas air kepada klara.


"Aku akan membawa bajumu ke dalam kamar" kata leo sambil membawa tas klara ke arah dalam kamar barack.


"Sementara biarkan leo menjagamu hari ini, sampai menunggu pelayan yang aku siapkan untukmu, karena aku harus kembali bekerja, jadi tidak bisa terus berada di sini" kata barack.


Klara hanya diam dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Barack pun berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil tas berisi beberapa pakain yang sudah di siapkannya tadi.


"Kamu bisa jaga dia, karena pekerjaanku sudah menumpuk, jadi aku tidak bisa menemaninya" kata barack kepada leo yang sedang menata baju klara.


"Aku minta maaf" leo turus mengatakannya kepada barack, karena dia tahu selain kata terima kasih, kata maaf pun juga tidak bisa mewakili rasa bersalahnya.


"Kata maaf mu sudah tidak berguna lagi, ,


seharusnya kamu tahu itu, kamu harus perjuangkan cintamu sendiri, jangan sampai terlihat lemah dan tidak berdaya sepertiku!, , di mana sikap percaya dirimu itu? seperti saat pertama kali kamu datang ke sini" kata barack, dia seperti sedang membakar semangat yang ada di dalam diri leo, untuk terus berusah mendapatkan hati klara.


Dia pun meninggalkan leo sendiri di kamar itu.


Leo hanya diam dan terus memikirkan perkataan barack.


 


Barack berjalan ke arah ruang tv, sambil membawa tasnya.


 


"Kamu tidak apa apakan kalau aku tinggal" barack memastikan sekali lagi kalau klara akan baik baik saja ketika dia pergi meningglkannya.


"Mm, , " klara mengangguk dengan pelan.


"Aku akan menghubungimu ketika butuh bantuanmu" tambahnya.


Barack pun berjalan ke arah pintu dan ke luar dari apartementnya.


Wajah klara nampak murung, tapi dia bersyukur barack masih mengijinkan dirinya tinggal di apartemen miliknya.


Klara berusaha meraih remot yang ada di atas meja untuk menyalakan tv nya, namun tanpa sengaja dia menyenggol gelas yang tadi di bawa oleh barack ketika memberinya air minum.


Gelasnya terjatuh, namun untungnya tidak pecah karena lantai ruang tv barack terselimuti karpet bulu tebal berwarna putih.


klara berusaha meraih gelas itu sambil menundukkan setengah badannya ke arah bawah untuk mengambil gelas.


Namun pandangannya memaku ketika melihat sebuah benda kecil berbentuk kotak persegi panjang berwarna putih.


Diambilnya barang itu, dia membenarkan posisi duduknya seperti semula.


"Flash disk???" Klara terus menatap ke arah benda itu, sambil melihati bandul hati berwarna senada dengan warna flash disknya.


Dia hanya berfikir, kalau ini milik barack mana mungkin bandulnya berbentuk hati.


Wajahnya terus terlihat kebingungan ketika melihat flash disk itu dengan teliti.


"Kamu butuh apa lagi? biar aku siapkan untukmu" suara leo dari arah belakngnya membuat klara merasa kaget, dia pun menyimpan flash disk ke dalam kantong baju piyamanya.

__ADS_1


"Mm, aku tidak butuh apa apa lagi" katanya sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.


***


__ADS_2