
Berdua di apartemen dengan Davien, Juliet tidak pernah merasa canggung yang ada justru selalu dibuat nyaman berada di sisinya. Tetapi setelah Davien membahas tentang ayah kandungnya, Juliet mulai berubah murung dan pendiam sedikit bicara padahal sebelumnya anak itu sangat ceria.
“Juliet?” Davien mengusap kepalanya, muncul keraguan setelah melihat reaksi Juliet.
“Sejak dulu Juliet selalu ingin bertemu dengannya, tapi ibu selalu bilang kalau ayah sudah memiliki kehidupannya sendiri jadi ibu takut kalau ayah akan terganggu setelah mengetahui keberadaan Juliet!” suaranya lirih hampir kehilangan semangat. Tentu saja itu semua akal-akalan Bunga agar Juliet tidak melulu meminta bertemu ayahnya.
“Ha?” matanya terbelalak, kedua alisnya terangkat secara bersamaan. “Ibumu bilang seperti itu? Waah! Benar-benar!” Davien tersenyum tipis. ‘Bunga harus mendapat pelajaran!’
“Paman? Bolehkah Juliet bertanya sesuatu?”
“Hmm, katakan! Apa yang Juliet ingin ketahui tentang ibumu?”
“Tidak! Ini bukan tentang ibu. Ini... tentang paman.”
Davien terpaku seolah merasakan pembicaraan di antara mulai serius. “Tentang paman? Lalu... apa yang ingin Juliet ketahui tentang paman?”
“Apa sebelumnya, paman mengenal ibu?” mata bulatnya menatap Davien penuh harap, semenjak mereka dekat banyak kejanggalan yang membuat Juliet semakin ingin tahu. Tetapi baru kali ini dia memiliki kesempatan dan keberanian untuk menanyakannya. “Juliet merasa paman dan ibu pernah dekat jauh sebelum Juliet lahir. Dari apa yang Juliet lihat selama mengenal paman... Juliet yakin kalau kalian pasti pernah dekat. Mulai dari saat pertama kali bertemu di depan sekolah lalu restoran yang menjadi tempat favorit ibu, paman juga tahu tempat itu tanpa bertanya, apartemen ini juga... paman tahu alamatnya sebelum Juliet memberitahu dan lagi... Juliet sempat melihat paman memakai pasword untuk masuk ke apartemen ini, sama dengan pasword yang digunakan ibu saat dulu pertama kali kita datang ke tempat ini sebelum akhirnya ibu mengganti paswordnya.” Sejenak Juliet berhenti berucap, mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Davien yang masih belum merespons ucapannya. “Paman juga memiliki kartu akses masuk sama seperti milik ibu. Ibu pernah bilang kepada Juliet kalau kartu itu hanya ada dua... dan yang satunya lagi di simpan oleh kekasihnya yang memberikan apartemen ini kepada ibu. Benarkah orang itu adalah paman?” suasana semakin haru ketika Juliet meraih tangan Davien lalu menggenggamnya. “Paman? Kau... benarkah kau adalah lelaki yang sering ibu ceritakan?”
“He? Ibumu sering bercerita tentang paman?” sahut Davien seketika tanpa dia sadari secara tidak langsung mengakui bahwa orang yang sedang dibicarakan oleh Juliet memang benar dirinya. Wajahnya terpaku bibirnya kelu merasa telah tertangkap basah.
“Jadi benar, kalau kekasih yang sering diceritakan oleh ibu adalah paman Davien?” Juliet histeris, ekspresi wajahnya seketika kembali bercahaya. Seakan memiliki harapan untuk mengetahui siapa ayah kandungnya.
“E.i.itu sebenarnya... dulu paman dan–,”
“Kalau benar paman pernah dekat dengan ibu, berarti paman tahu siapa saja yang pernah dekat dengan ibu? Paman pasti juga tahu siapa ayah kandung Juliet! Benar, kan? Paman pasti tahu, kan? Bisakah paman memberitahu Juliet? Janji, Juliet tidak ingin merusak kebahagiaan ayah dan keluarga barunya, Juliet hanya ingin melihat wajahnya saja dari kejauhan!”
Mendengar semua itu hatinya serasa teriris sembilu, sangat perih mengetahui betapa rindunya seorang Juliet kepada sosok ayah yang ingin dilihatnya. Apa lagi janji yang terucap dari mulut Juliet kecil semakin menambah deretan panjang kesedihan dalam hatinya. Bagaimana bisa putri kecilnya itu berpikir untuk tidak merusak kebahagiaan ayahnya, padahal yang berhak mendapat kebahagiaan adalah Juliet. Davien tak sanggup menahan kesedihannya lagi. Nyaris Juliet melihat wajahnya yang memerah dengan kedua mata mulai berkaca nyaris menitikkan buliran bening, tapi sebelum itu terjadi Davien memeluk Juliet dalam dekapan.
Tepat saat tubuh Juliet yang mungil berada dalam pelukannya, air mencuat keluar dari salah satu matanya lalu menetes. Davien meluapkan segala bentuk emosi di dalam hatinya dengan memeluk erat Juliet, seolah tak ingin melepaskan putrinya barang sedetik saja. Ingin rasanya dia menyerap semua kesedihan Juliet selama ini agar putrinya bisa merasakan kebahagiaan yang belum pernah Juliet dapatkan.
“Pa.paman? Aduh! Ju, Juliet tidak bisa bernafas!”
Davien segera mengusap air matanya agar Juliet tak melihat wajahnya yang bersedih, kemudian memasang senyum sebelum melepaskan pelukannya. “Haha... maaf, paman terlalu erat memeluk Juliet!”
Hah! Juliet mengambil nafas dalam-dalam melegakan dadanya. “Tidak apa paman, Juliet senang akhirnya peluang untuk bertemu ayah semakin besar!”
Tidak ingin lagi membuat Juliet hidup dalam kesedihan yang selama ini dia rasakan sendiri tanpa seorang pun tahu, Davien menguatkan kembali tekadnya untuk mengatakan yang sebenarnya. “Juliet? Ada sesuatu yang ingin paman beritahu kepada Juliet. Ini tentang ayah kandungmu!”
“He? Serius paman Davien akan memberitahu Juliet? Katakan sekarang paman! Juliet sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya! Oh, tidak! Juliet sudah janji hanya ingin melihatnya dari jauh. Katakan paman! Di mana Juliet bisa menemui ayah?”
Sebelum mengakui semuanya, Davien mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Setelah merasa tenang dia pun berucap. “Sebenarnya, paman adalah ayahmu. Ayah kandung Juliet!”
Seketika hening, tak satu kata pun keluar dari mulut mungil milik Juliet. Senyumnya juga langsung menghilang setelah mendengar pengakuan dari Davien. Sekuat tenaga Juliet mencerna ucapannya, meskipun bibirnya terasa kaku dia berusaha untuk berucap. “Paman? Maksud paman... paman Davien??” tanyanya memastikan.
“Iya!” lelaki itu mengangguk.
__ADS_1
“Paman Davien adalah a.ayah kandung Juliet?” ucapnya tak percaya, masih dengan pandangan kosong Juliet mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukanlah mimpi.
Melihat reaksi Juliet yang benar-benar syok, Davien segera memeluknya memberi ketenangan tapi anak kecil itu justru berusaha menjauh. “Iya sayang, paman minta maaf sebelumnya karena tidak mengatakan dari awal kala–,”
“Tunggu paman!” sahut Juliet memotong pembicaraan. Dia berusaha mendorong Davien agar melepaskan pelukannya. Setelah itu beranjak berdiri dari sofa. “Tunggu sebentar!”
“Juliet??” Davien ketakutan setelah melihat reaksi Juliet. Bagaimana jika anak itu tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia ayahnya? Bagaimana jika setelah kejadian ini Juliet mulai menjauh? Semua kalimat itu memenuhi pikirannya.
“Juliet ke kamar sebentar!” anak kecil itu berlari menuju kamarnya, takut Davien mengejar Juliet sengaja menutup pintunya.
“Juliet?!!” serunya, melihat putrinya pergi begitu saja membuat Davien semakin dihinggapi rasa menyesal. Hal inilah yang dia takutkan jika mengatakan yang sebenarnya kepada Juliet. “Seharusnya aku tidak perlu tergesa-gesa! Bodoh!” Davien beranjak berdiri mengejar Juliet ke kamarnya.
“Juliet? Bolehkah paman masuk ke dalam? Kau baik-baik saja sayang? Ayolah... kalau Juliet marah lampiaskan saja pada paman! Jangan menghindar dan menjauh seperti ini! Juliet?” Davien sangat ketakutan, terlihat jelas guratan penyesalan di wajahnya. “Apa yang harus paman lakukan agar Juliet mau memaafkan paman?”
Davien tak mendengar suara tangis dari arah dalam, untuk memastikannya lagi dia pun melekatkan telinga ke pintu berusaha menangkap suara yang teredam. “Apa yang terjadi pada Juliet?” gumamnya cemas. Takut sesuatu terjadi, Davien pun membuka pintunya. Beruntung Juliet tidak menguncinya dari dalam. “Juli–,” ucapnya terhenti, bersamaan dengan tubuhnya yang terpaku.
Seketika rasa cemas, ketakutan dan gelisah yang menguasai tubuhnya hilang sirna begitu saja. Pikiran buruk tentang sesuatu yang akan terjadi pada Juliet terpatahkah saat kedua matanya menangkap bayangan anak kecil itu sedang tertawa riang sembari melompat-lompat kecil di atas ranjang. Bukan kesedihan yang dia lihat, melainkan kegembiraan yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Bibirnya ikut tersenyum kala menyaksikan Juliet masih bersorak gembira tanpa henti, sampai Davien memutuskan untuk mendekatinya. “Juliet?”
Anak kecil itu sepertinya baru menyadari kalau Davien ternyata sudah berdiri di sana. Karena malu cepat-cepat Juliet mengambil selimut yang kemudian digunakan sebagai penutup saat dia bersembunyi dari Davien.
“Juliet?” lelaki itu duduk di bibir ranjang.
“Kenapa paman masuk ke kamar Juliet? Bukannya Juliet sudah bilang untuk menunggu sebentar di luar?” dibalik selimut terlihat wajah Juliet merona, malu karena Davien harus melihat dirinya tengah bersorak gembira.
“Tidak mau! Juliet malu! Ini semua karena paman!”
“He?? Kenapa dengan paman? Ayo buka selimutnya Juliet! Paman takut kau marah maka dari itu paman berusaha masuk ke kamar untuk memastikan keadaan Juliet. Benarkah Juliet marah? Tidak mau melihat paman lagi?”
“Marah???” secara cepat Juliet membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Memamerkan wajah ceria di depan Davien agar lelaki itu tak cemas lagi. “Bagaimana bisa Juliet marah dengan paman! Asal paman tahu semenjak Juliet melihat berita tentang paman Davien di televisi, Juliet selalu membayangkan memiliki ayah seperti paman saat itu. Juliet benar-benar tidak menyangka akan bertemu paman di desa saat kita bertemu pertama kali dan sejak saat itu Juliet putuskan untuk mendekati paman agar bisa mengenalkan Ibu kepadamu. Harapan Juliet agar paman Davien jatuh cinta pada ibu dan keinginan Juliet menjadikan paman sebagai ayah pun berhasil. Tapi kini mendengar penjelasan dari paman bahwa ternyata paman Davien benar-benar ayah kandung Juliet... ini rasanya seperti sebuah mimpi! Paman, katakan kalau ini bukanlah mimpi!” ucapnya lagi dengan wajah yang mulai kembali terlihat ceria, Juliet sangat bersemangat menyambut Davien yang ternyata memang ayah kandungnya.
“Iya Juliet, kau tidak sedang bermimpi!” Davien mengusap pipinya.
“Yeeeeee!!!! Juliet punya ayah! Juliet punya ayah!” serunya lagi-lagi dengan melompat kecil di atas ranjang. “Jadi... bolehkah Juliet memeluk paman sekarang?” Juliet berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
“He?” Davien terkejut mendengar permintaan putrinya, dia kemudian beranjak berdiri. “Paman sepenuhnya milikmu sayang, Juliet tidak perlu lagi meminta ijin jika ingin memeluk paman!”
Tak perlu menunggu lama Juliet menghamburkan tubuhnya ke Davien yang terlebih dulu merentangkan kedua tangan. Senyum menghiasi wajah Juliet tak memudar sedikit pun. Tapi wajah ceria yang sangat bahagia itu berubah memerah dengan mata mulai berkaca. Terlihat jelas Juliet tengah menahan tangisnya, tentu saja tangis karena bahagia. Tak ada hal yang lebih menggembirakan dari pada bertemu dengan ayah kandung yang sejak dulu ingin dia temui.
“Maaf, karena paman tidak ada di sisi Juliet sejak dulu. Paman juga berterima kasih karena Juliet tidak membenci paman atas apa yang telah terjadi!”
Anak kecil itu menggelengkan kepala, seolah sebagai tanda bahwa Davien tak perlu meminta maaf padanya. Dalam dekapan Juliet menyembunyikan tangisnya sampai tak mampu lagi berkata. Hanya suara isak tangis yang kemudian berubah rengekan hingga akhirnya tangis Juliet pun pecah. Bertahun-tahun menahan rindu pada sosok lelaki yang kini tengah memeluknya erat membuat dadanya terasa sangat sesak, kini perlahan dia bisa bernafas lega melepas kerinduan kepada ayahnya.
“Maaf sayang!” Davien terus berucap memohon maaf sembari mengecup kening putrinya berkali-kali. Tapi hal itu justru membuat Juliet semakin sedih dan tak mampu berhenti menangis untuk sesaat.
__ADS_1
***
Tangisnya mereda Juliet pun tertidur karena lelah, merasa tenaganya telah habis dipakai untuk menangisi momen mengharu biru antara dirinya dan Davien.
Di ruang tv anak kecil itu terlelap tepat di sebuah sofa dengan kepala bersandar di pangkuan Davien. Penuh perhatian dan kelembutan tangannya terus membelai rambut Juliet sampai putrinya tertidur pulas. Membiarkan Juliet tetap tidur di pangkuannya membuat Davien lama-kelamaan ikut mengantuk. Entah berapa puluh kali dia menguap tapi tetap bertahan agar tetap terjaga. Namun pada akhirnya Davien tak sanggup lagi, matanya yang semakin berat terpejam rapat.
Selang beberapa menit Bunga pulang ke apartemen. Dia dikejutkan dengan sepasang sepatu lelaki yang ada di sana, sudah dipastikan oleh Bunga siapa pemiliknya. Dengan membawa barang belanjaan Bunga melangkah masuk. Sempat dia tepaku sejenak melihat pemandangan langka di ruang tv tepatnya di sofa. Bisa dibilang ini pertama kali baginya melihat Juliet yang tertidur di pangkuan Davien. Sementara Davien juga tertidur dengan posisi duduk dengan kedua tangan bersedekap.
Setelah meletakkan barang belanjaan di lantai, Bunga mendekati mereka berdua. Seakan tak ingin kehilangan momen itu, Bunga pun mengabadikannya menjadi sebuah foto yang tersimpan di ponsel. Merasa tidak puas Bunga juga mengambil foto Davien yang tertidur dengan posisi kepala sedikit miring. ‘Wah! Bagaimana mungkin para perempuan bisa berpaling darinya. Dalam keadaan tidur seperti ini saja dia terlihat sangat berkarisma! Aku penasaran kapan lelaki ini terlihat jelek? Tapi... sepetinya itu hal mustahil.’
Bunga terbawa suasana, terlalu menikmati ketampanan Davien yang membuatnya tak sadar sampai-sampai menekuk kedua lututnya berjongkok di depan lelaki yang masih terlelap. Pikirannya sesaat jauh melayang membayangkan betapa bahagianya lelaki tampan di depannya itu pernah menjadi miliknya, “Hah... aku rindu menghabiskan waktu berdua denganmu!” ucapnya lirih. Melihat alis Davien bergerak sampai terdapat keriput halus di keningnya, Bunga terkejut langsung beranjak berdiri. Setelah mengambil barang belanjaannya bergegas dia pergi ke pantry. Buru-buru takut Davien menangkap basah dirinya.
***
Mendengar suara bising dari arah pantry, Davien yakin kalau Bunga sudah pulang.
Perempuan itu terlihat sibuk memasak, Bunga bahkan belum sempat mengganti pakaiannya. Masih menggunakan setelan rok sepan berwarna nude.
“Maaf aku tidak bermaksud mengganggu tidurmu!” ucap Bunga setelah melihat Davien berdiri di tengah pintu.
“Seharusnya aku yang minta maaf, tanpa sadar sampai tertidur di sofa. Oh ya, aku sudah memindahkan Juliet ke kamar... karena kau sudah pulang, aku... akan pergi!”
Bunga terdiam melihat Davien melangkah pergi, tapi jauh di dalam lubuk hati Bunga merasa ingin sekali menahannya. Keinginan itulah yang akhirnya memberikan keberanian kepada Bunga berseru kearahnya. “Kau sudah makan?” ucapnya.
Tetapi pertanyaan itu lebih terdengar seperti sebuah kalimat permintaan bagi Davien yang mendengarnya seperti, ‘maukah kau tinggal di sini lebih lama lagi?’
“Aku sengaja memasak banyak malam ini, apa kau tidak keberatan membantuku menghabiskan makanan ini? Duduklah sebentar lagi juga siap!” Bunga kembali fokus menyelesaikan saus buatannya.
Davien tak mungkin menolak dia kembali ke pantry tapi tak langsung duduk di meja makan. Sekilas dia tampak memperhatikan Bunga, kepiawaiannya mengolah masakan mengingatkan pada momen bahagia mereka terdahulu. “Kau butuh bantuan?” ucapnya setelah melihat Bunga kesusahan membuka botol saus.
“Uhm... boleh!” Bunga memberikan botol sausnya kepada Davien.
Ghm! Davien sudah mencoba dua kali membukanya, tapi ternyata memang tutup saus itu sangat kuat susah untuk dibuka.
“Susah ya?” Bunga mulai canggung, segera dia menyibukkan diri mengaduk-aduk saus keju buatannya sembari menunggu Davien membuka saus ekstra pedas yang rencananya akan dicampur ke saus keju nantinya.
“Lumayan berat saat diputar tutupnya! Usahakan besok lagi carilah botol yang mudah dibuka!” dia masih berusaha membuka tutupnya.
“Hmm! Iya!” Bunga mengangguk patuh mendengar perintah Davien.
“Eh!” sebagian saus mencuat keluar mengenai kemeja yang dikenakan Davien saat tutupnya berhasil dibuka paksa.
“Astaga ya ampun! Davien kau seharusnya lebih hati-hati!” Bunga mengambil alih botol saus dan tutupnya dari tangan Davien. Setelah itu bergegas mengambil tisu rencananya akan dia gunakan untuk membersihkan saus yang menempel di kemeja. “Tapi kalau aku membersihkannya, noda saus akan semakin melebar.” Bunga mulai bingung karena kemeja yang dikenakan Davien berwarna putih, takut kalau noda bekas saus bukannya menghilang malah akan semakin bertambah lebar ke mana-mana.
“It’s oke aku masih memiliki banyak kemeja putih di rumah! Aku akan membersihkannya sebentar karena aku harus memakainya saat pulang nanti” ucapnya sembari melepas kancing kemeja satu-persatu.
__ADS_1
Deg!
Bunga refleks menunduk, mengalihkan pandangan dari Davien. Tangannya sibuk meremas gelisah tisu yang ada di tangannya ketika melihat Davien tengah fokus melepas kancing kemeja tepat di depan matanya.