
Suara gedoran pintu semakin cepat seolah mendesak untuk segera meminta dibukakan pintunya.
"Iya!" Luna berteriak meminta orang yang di seberang sana untuk bersabar.
Wajah Luna dan Barack terlihat sangat terkejut mendengar bunyi gedoran pintu yang memekik rongga telinga mereka.
"Jangan!!, , " Barack berseru saat Luna beranjak dari kursinya.
Luna memaku langkahnya dan menoleh ke arah Barack.
Ada sedikit guratan kehawatiran di Barack.
"Aku yang akan membukanya" ucap Barack. Dia berdiri berjalan ke arah pintu dengan langkah cepat.
Ketika pintu di buka Aryo menerobos masuk dan berlari ke arah Luna untuk meminta perlindungan.
Barack terpelongo melihat keadaan Aryo yang bernatakan. Rambut acak acakkan bekas cakaran di dadanya dan bekas warna merah akibat adegan panasnya semalam bertebaran hampir di seluruh dada dan lehernya.
Pipi sebelah kiri Aryo tak kalah merah seperti habis di tampar dengan keras.
Dia bertelanjang dada hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah pinggangnya.
Seketika tawa barack pecah melihat Aryo seperti habus di hajar kucing garong.
Namun tawanya menghilang saat Aryo meraih lengan Luna dan memeluknya erat seperti seorang yang sedang ketakutan dan meminta perlindungan.
Barack berjalan ke arah mereka berdua tatapan matanya menajam ke arah Aryo yang meringkuk memeluk lengan Luna dengan erat.
"Lepas nggak!!" ucap Barack dengan nada setengah berteriak ke arah Aryo.
"Yaelah Barack, , ampun deh, tolong napa!! Cici lagi kesetanan di kamarnya" ucap Aryo dengan nada memohon.
Otaknya sudah buntu bagaimana caranya menghadapi Cici
Flash back on
Cici membuka matanya dia merasakan kehangatan di pipinya yang menempel di dada Aryo saat tidur di pelukannya, tangan satunya tengah mengelus dada laki laki yang masih tertidur akibat kelelahan setelah semalam suntuk tak di beri jeda istirahat olehnya.
Matanya terbelalak seketika dia duduk terbangun dan melihat wajah laki laki yang sedang telanjang dada di depannya.
"Aaaaaaaaa!!!" Cici berteriak membuat aryo terbangun dari tidurnya.
"Apaan sih ci!!, , mulutmu berisik" Aryo seakan cuek dengan apa yang semalam telah terjadi. Dia lebih memilih untuk mengubah posisi tidurnya memunggungi Cici.
Emosi Cici meluap dia menghujani Aryo dengan pukulan tangannya.
"Hentikan!!" Aryo menepis tangan Cici saat memukul kepala dan punggungnya.
Namun Cici tidak menghiraukan ucapan Aryo dia terus memukul Aryo dengan sekuat tenaga.
Aryo seketika meraih ke dua tangan Cici dan mencengkeramnya dengan erat.
__ADS_1
Dia berusaha bangkit dengan susah payah karena Cici terus meronta.
Kini dia berhasil menindih Cici, mengunci kaki Cici di selah lututnya yang bertumpu di atas ranjang.
"Apa yang kamu lakukan semalam!!!" ucap Cici menggeram marah.
Cici tidak sadar kalau dia sedang telanjang hingga dadanya terlihat jelas di mata Aryo.
Aryo tidak mendengar ucapan Cici, pipinya memerah padam dia lebih fokus ke pemandangan yang sangat indah tepat di depan matanga.
"Aku sedang berbicara dengan mu!!!, , matamu melihat ke arah mana! brengsek!" Cici berteriak.
Aryo tetap diam, dia hanya mengubah pandangan matanya ke arah mata Cici dan kini mata Aryo menurun lagi menuju ke dada Cici seakan memberitahu dan menuntun Cici kemana dia sedang melihat.
Cici mengurutkan mata Aryo kemana dia sedang melihat. Dia pun menunduk dan melihat ke arah dadanya sendiri yang sudah di penuhi dengan tanda merah di sana.
Aryo membuang muka karena malu.
"Aaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!" Cici berteriak lagi, dia menendang tepat di tengah tengah kelelakian Aryo hingga membuatnya tersungkur meringkuk memegangi bagian terpenting di tubuhnya, urat halus di pelipisnya terlihat saat menahan rasa ngilu sakit, panas dingin bercampur manyatu di sana.
Sementara Cici memeluk dirinya sendiri untuk menutupi dadanya. Melihat Aryo masih kesakitan di atas ranjang dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Kini Cici berdiri di atas ranjang berloncat loncat kecil dengan ke dua tangannya mengepal seolah sedang menunggu lawan tinjunya bangun setelah jatuh tersungkur saat terkena pukulan telaknya.
"Ayo bangun!!, , aku akan menghabisimu!!! cepat!!" ucap Cici kakinya pun mulai menendang bokong Aryo dengan keras.
"Ampun ci!! ampuuun!!, , ini telurku bukan pecah lagi tapi sudah remuk ambyar menjadi bubur, kayaknya nggak bisa di benerin lagi deh" Aryo merengek seperti anak kecil.
"Ampun ci!! semalam kamu yang memeprkosaku, bukan aku yang melakukannya, ,meskipun begitu aku akan bertanggung jawab!" teriak Aryo.
Mendengar ucapan Aryo membuat Cici berdiam diri dan menghentikan lompatan lompatan kecilnya.
Mata Aryo mengawasi wajah Cici yang sepertinya sedang tidak fokus dia langsung berputar menjegal kaki Cici hingga jatuh di atas ranjang dan memeluk tubuhnya dengan cepat sebelum Cici kembali menyerangnya.
Cici meronta meminta Aryo melepas pelukannya.
"Lepaaaaas!!!"
"Nggak akan!, ,kalau aku melepasmu yang ada hancur lebur ini barangku sama kamu!!" Aryo masih bertahan memeluk tubuh Cici, namun kini wajahnya nampak terkejut saat tiba tiba tubuh Cici berhenti melakukan perlawanan.
Cici masih teridam menunduk suara sesunggukan terdengar dari mulutnya di selingi dengan gerakan punggungnya saat menangis.
Aryo melepas pelukannya dengan perlahan, ke dua tangannya bergerak meraih rambut Cici yang menutupi seluruh wajahnya kemudian meraih wajah Cici dan mengangkat kepalanya.
Mata Cici terpejam seolah tidak ingin melihat wajah Aryo di depannya.
Airmatanya mengalir deras melewati ujung matanya hingga membasahi ke dua pipinya.
Hati Aryo terasa perih dan panas seperti di sayat sayat oleh sembilu yang memerah karena panas seolah sebelumnya telah sengaja di bakar seblum di gunakan untuk menyayat Hatinya.
"Maaf!" ucapnya seketika.
__ADS_1
Cici langsung menarik tubuhnya menjauh dari aryo. Dia mengepal dan menamparkannya ke pipi aryo.
Dan rasanya lebih sakit ketimbang saat di tampar.
"Maaf"
plak!!
Cici menampar pipi aryo lagi dan di tempat yang sama.
"Aku akan tetap minta"
plak!!!
"Lalukan sesu"
plak!!!
Aryo menghela nafas dan menggertakkan giginya untuk menahan rasa panas dan sakit yang teramat di pipinya
"Ci"
plak!!
Aryo meraih tangan Cici setelah berhasil menamparnya lagi.
Dia menyeret Cici turun dari ranjang.
"Lepas" Cici meronta.
Setela Aryo berhasil menarik Cici turun dari ranjang, dia meraih vas bunga di atas nakas membuang bunga dan airnya kemudian memecah sebagian vas bunga itu dan memberikan sisa pecahan vas yang runcing ke pada Cici.
Aryo melepas tangan Cici setelah Cici menggenggam pecahan vas itu.
"Pakai ini sekalian, biar kamu puas!"
Cici menyeringai.
"Buat?" Cici menedekatkan pecahan vas itu ke arah muka Aryo.
Seketika Aryo langsung mundur.
"Kamu menyuruhku memakai ini untuk melukaimu? sedangkan baru saja aku mendekatkan vas ini ke mukamu, kamu sudah ketakutan!!" Cici tertawa melihat raut Wajah Aryo yang ketakutan.
Kening Aryo berkerut kebingungan.
"Kamu sehat kan?, , tadi menangis, sekarang tertawa" ucap Aryo seolah tidak merasa berdosa karena secara tidak langsung mengatakan kalau Cici sudah tidak waras.
"Iya Aku menjadi tidak waras karenamu!!" Cici melempar pecahan vas ke arah tubuh Aryo, nemu dengan cepat Aryo mundur dan langsung menghindar.
"Aaaaaaaa" Cici berteriak lagi saat menyadari bahwa Aryo tidak memakai apapun untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1