
Mata Aileen menatap kearah David dengan lekat, tangannya mencengkeram dengan kuat lengan jaket milik laki laki itu.
"Kita mau kemana??" ucapnya.
Laki laki itu menoleh, menatap mata Aileen yang tersirat akan sebuah ketakutan di sana, kemudian David mengulas senyum manis di bibirnya, menikmati rasa ketakutan yang menyelingkupi perempuan itu.
"Kenapa??" David mendekatkan wajahnya ke wajah Aileen hingga hampir menempel hidung mereka.
"Kamu takut jika aku membawamu pergi jauh??" David menggerakkan kepalanya miring mencoba untuk mengecup bibir perempuan itu. Tetapi Aileen langsung menoleh menghindari David.
Sementara David tersenyum setelah mendapat penolakan dari Aileen. Dia masih menatap mengawasi ekspresi wajah Aileen. Raut wajah perempuan itu terlihat sedikit tegang dan merona pipinya.
Aileen memalingkan wajahnya menatap keluar dari balik kaca. Sengaja menghindari tatapan David yang masih bertahan terus menatapnya.
♡♡♡
Tangan Iris terpaku, sambil memegang sendok dan garpu di masing masing tangannya. Dia melihat Kenzi yang sedang melamun. Iris tahu apa yang sedang dipikirkan oleh laki laki dihadapannya itu.
Perempuan itu berdehem mencoba membuat suasana yang sempat kaku diantara mereka mencair seketika.
Kenzi mengangkat wajahnya menghadap Iris, mereka sempat saling memandang sebelum akhirnya perempuan itu memilih untuk memalingkan wajahnya.
Kenzi tahu ada sedikit rasa kecewa di raut wajah Iris. Kemudian dia berusaha memecah keheningan diantara mereka.
"Kamu tidak menghabiskan makananmu??" Kenzi berucap setelah melihat Iris meletakkan sendok dan garpu di atas piring tanpa menghabiskan makanannya.
"Aku sudah kenyang, aku akan kembali kekamarku!" ada sedikit rasa kecewa di dalam ucapan Iris dan Kenzi menyadari akan hal itu.
"Iris??" Kenzi menahan tangan perempuan itu ketika Iris bernjak dari kursi.
Perempuan itu menoleh, kemudian berucap.
"Seharusnya bukan aku yang duduk di sini dan menemanimu makan. Maaf sudah membuat moodmu menjadi jelek!" Iris menepis pelan tangan Kenzi. Kemudian dia melangkah menuju pintu.
Kenzi menatap punggung Iris, ada sedikit perasan aneh yang hinggap di dalam hatinya ketika mendengar ucapan Iris.
"Apa aku menyakiti perasaannya??"
Kenzi kemudian beranjak dari kursi dan mengejar Iris. Laki laki itu menyapu setiap sudut lobi hotel. Pandangan matanya terhenti ketika melihat Iris berdiri di depan pintu lift. Tanpa berfikir panjang dia berlari mendekati perempuan itu.
"Iris" David berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
Perempuan itu tak bergeming pandangan matanya masih tertuju kearah pintu lift yang belum terbuka.
"Iris??" Kenzi meraih tangan perempuan itu.
"Apa ada ucapanku yang menyakitimu?" pandangannya mulai menyelidik kearah wajah Iris dari arah samping.
Perempuan itu hanya tersenyum lalu menoleh menatap mata Kenzi. Detik itu juga senyumnya semakin melebar seperti dipaksa untuk tersenyum.
"Tidak, , kenapa kamu berfikir bahwa ucapanmu menyakitiku??, , jangan terlalu memikirkan aku. Kamu tenang saja!" Iris menghela nafas panjang, agar membuat dadanya sedikit merasa lega karena sesaat tadi sempat terasa nyeri di sana.
"Iris" ucap Kenzi tersirat akan sebuah permohonan di sana, dia melepaskan tangannya ketika Iris melangkah masuk kedalam setelah pintu lift terbuka.
Iris hanya diam dan membiarkan pintu menututup kembali tanpa melihat kearah Kenzi sedikit pun.
Kenzi sudah merasa ada yang aneh dengan sikap Iris. Perempuan itu bersikap tak seperti sebelumnya.
"Seharusnya bukan aku yang duduk di sini dan menemanimu makan. Maaf sudah membuat moodmu menjadi jelek!"
__ADS_1
Ucapan Iris masih terngiang ngiang di telinga Kenzi. Laki laki itu masih berdiri di depan lift sambil melamun menatap pintu yang mulai bergerak menutup.
♡♡♡
David mengulurkan tangannya kearah Aileen setelah dia berhasil turun dari mobil.
"Ayo"
Aileen mendengus kesal, karena David selalu membuat keputusan sendiri tanpa berunding terlebih dulu dengannya.
"Mau apa kita ke sini??"
David membungkuk memasukkan setengah badannya ke dalam mobil. Laki laki itu langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Aileen.
Karena Aileen sudah terbiasa dengan kebiasaan David yang sering mengecup bibirnya tanpa ijin terlebih dulu membuat Aileen seketika membungkam mulut dengan tangan sebelum David mengecup bibirnya.
Dan benar sesuai dugaannya David mengecup punggung tangan Aileen yang berusaha menutupi bibirnya.
"Satu pertanyaan, satu kecupan!!, , teruslah bertanya maka aku akan dengan senang hati untuk mengecup bibirmu!" Laki laki itu kemudian mengulas senyum di bibirnya.
David kembali mengulurkan tangannya dan tanpa ragu Aileen pun menyambut uluran tangan David.
Laki laki itu membawa Aileen ke salah satu tempat yang sering di kunjungi orang ketika mereka berada di Korea. Menara seoul N, tempat itu terlihat sangat indah ketika malam hari. Lampu lampu berwarna warni menghiasi tower itu seperti pelangi.
Aileen yang sempat ingin marah tiba tiba rasa itu hilang musnah ketika melihat keindahan Menara itu dari arah bawah.
David memalingkan wajahnya kearah Aileen, dia tertegun melihat wajah Aileen yang terlihat sangat gembira malam itu. Senyum Aileen sangat menawan hingga membuat David tak mampu memalingkan pandangannya kearah lain.
"Bolehkah aku naik keatas sana??" ucap perempuan itu dengan wajah gembiranya.
Tanpa berucap David langsung menarik tangan Aileen, membawa perempuan itu berjalan menuju pintu masuk.
Di dalam lift senyum Aileen tak pernah hilang dari bibirnya. Namun setelah sadar bahwa tangannya masih digenggam erat oleh David, seketika senyumnya menghilang perlahan. Perempuan itu berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan David. Tetapi laki laki itu malah semakin mengeratkan genggaman tangannya, seolah dia tak mau melepas tangan Aileen.
Perempuan itu terdiam dan akhirnya membiarkan David terus menggenggam tangannya.
Sesampainya di atas laki laki itu baru melepaskan tangan Aileen. memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk mengekspresikan diri saat melihat keindahan kota seoul dari atas Menara.
David tersenyum bahkan senyumnya terlihat sangat lebar ketika memandangi Aileen yang sedang berlompot lompat kegirangan karena merasa senang bisa melihat lampu lampu berwarna warni yang menghiasi kota seoul di malam hari.
"David ini sangat indah!!, , kamu melihat apa yang aku lihat kan?"Aileen menarik tangan David membawa laki laki itu berdiri di sampingnya untuk menikmati kindahan itu bersama.
David masih bertahan menatap Aileen, bahkan dia tak sempat untuk menyaksikan lampu warna warni kota seoul malam itu.
"Sangat indah" ucapnya merujuk kepada senyum Aileen.
"Kamu lihat??" Aileen menunjuk kearah jauh di sana.
"Lampunya seperti pelangi di siang hari, setelah turun hujan dan muncul matahari. Bahkan ini terlihat jauh lebih menawan. Aku sangat menyukainya!" Aileen menangkupkan kedua tangannya, dia tidak percaya bahwa malam itu dia bisa melihat moment yang tak akan pernah dia lupakan nantinya.
"Iya, , aku juga menyukainya!" David melamun, tatapan matanya masih tertuju kearah Aileen.
Perempuan itu tiba tiba menoleh kearah David.
"Aku sedang membicarakan warna lampunya" ucapan Aileen seketika membuat laki laki itu mengalihkan pandangannya kearah lampu jauh di bawah sana.
"Iya aku juga sedang membicarakan lampu itu" David sedikit merasa jantungan ketika hampir saja dia tertangkap basar karena terus memandangi Aileen.
David melirik kearah teropong yang ada disana. Kemudian dia membawa perempuan itu mendekati benda itu.
__ADS_1
"Mau mencobanya??"
Aileen menjawab dengan anggukan cepat.
David menuntun Aileen untuk melihat kejauhan melewati teropong itu. Laki laki itu berdiri di belakang Aileen memastikan agar dia bisa melihat dengan benar.
"Kamu menemukan sesuatu yang jauh lebih indah??" ucap David sembil menahan teropong itu agar tetap bergerak sesuai dengan keinginannya.
Aileen menggelengkan kepalanya.
"Semuanya sama seperti yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri"
David kemudian menggeser teropong itu kearahnya, dia membungkuk untuk mempermudah dirinya melihat kearah jauh melewati teropong itu.
Dia tersenyum ketika mendapati sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Aku mendapatkan sesuatu, sesuatu yang sangat menarik, kamu ingin melihatnya??" David menoleh kearah Aileen.
"Iya" perempuan itu tersenyum lebar, dia seolah sudah tak sabar ingin segera melihatnya.
David menuntun Aileen untuk melihat kembali kearah teropong.
Kemudian tangannya menggerkan teropong itu memutar hampir seperempat lingkaran.
David menjauh dari Aileen kemudian dia berdiri memposisikan diri tepat di depan ujung teropong.
Dia tersenyum kearah terpong itu kemudian.
Aileen menarik kepalanya menjauh dari teropong.
"Apa maksudmu sesuatu yang menarik itu adalah dirimu??" Aileen mengerutkan keningnya.
David mengangguk kemudian mengerjapkan satu matanya kearah Aileen untuk menggoda perempuan itu.
"Astagaaaa!!, ,aku tidak percaya ini!!" Aileen berusaha menahan senyumnya. Sementara tangannya memutar teropong agar kembali menghadap kearah semula.
"Kenapa??, , bukankah aku yang paling bersinar dari semua lampu yang ada di sana??" David melangkah mendekati Aileen dengan perlahan.
"Kamu benar benar sangat narsis!!" Aileen membuang wajah malasnya.
David merangkup kedua pipi Aileen, memaksa perempuan itu mengahadap kearah wajahnya. Memandangi wajah Aileen dengan lekat, tatapan matanya pun semakin terlihat dalam.
"Kenapa??" Aileen berusaha menghindar, namun laki laki itu masih terus memaksa dengan kuat menahan pipi Aileen agar tak berpaling.
"Ai!!" David berucap dengan lirih agar perempuan itu mau melihat kearahnya, tetapi Aileen menolak. Perempuan itu memutar matanya dengan malas.
"Ai, lihat mataku!" lagi, David bahkan menggoyang goyangkan pelan kepala Aileen.
Memejamkan mata, itulah yang dilakukan Aileen untuk menghindari tatapan mata David.
David menghela nafas panjang, hingga nafasnya terasa hangat ketika menyapu wajah Aileen.
"Aaaiii!!" David menggertakkan giginya sambil menahan senyum karena gemas dengan sikap Aileen
"Hmmm??" akhirnya Aileen mau membuka kedua matanya, kemudian menatap mata David yang tepat berada di depannya.
"Kamu ," suara David terdengar lembut di telinga Aileen. Dia semakin memandangi kedua mata Aileen dengan tajam namun melembut.
"Mau menjadi milikku??" tambahnya, kalimat terakhir yang keluar dari bibir David membuat dada Aileen terasa sesak, dia hampir tak bisa bernafas karena debaran jantungnya samakin menguat hingga terasa nyeri di bagian sana.
__ADS_1
Sudah beberapa kali sebenarnya David mengatakan bahwa Aileen itu adalah miliknya. Tetapi dia tak pernah meminta persetujuan Aileen sebelumnya. Tetapi malam itu, David sengaja bertanya kepada Aileen untuk memastikan perasaan perempuan itu terhadapnya.