
Dia memutuskan untuk mencari Luna di rumah ke dua orang tuanya.
"Apa kalian sedang bertengkar?, , tapi Luna tidak ada di sini Barack" Bu Cokro berucap dengan nada khawatir.
"Aku tahu, mamah tenang saja aku pasti akan membawanya kembali" Barack beranjak keluar dari rumah Luna.
Dia kembali menyalakan mesin mobil dan menuju ke rumah tantenya Cici.
Barharap Istrinya ada di sana.
"Dia tidak datang kemari. Apa yang terjadi dengan kalian?" ucap Cici.
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Maaf aku harus pergi. Jika Luna menghubungimu, , tolong kabari aku"
Perempuan mengangguk.
Barack keluar dari rumah itu, dia menghentikan langkahnya sebelum masuk lagi ke dalam mobil.
Dia terlihat sangat putus asa. Pikirannya sudah buntu. Hari itu juga sudah larut malam.
Satu satunya yang belum dia kunjungi adalah rumahnya sendiri.
Barack memutuskan pergi ke sana, di sana dia juga tidak menemukan Luna.
"Ada masalah apa dengan kalian?" Bu Bowo meraih pundak putranya mencoba memberi ketenangan pada laki laki itu.
"Ini hanya salah paham Mah" ucapnya dengan lirih.
Barack membenankan punggungnya di dinding sofa. Memejamkan mata sejenak untuk menetralkan pikirannya yang kacau.
Sementara Ayahnya, dia nampak sedang berdiri sambil menatap ke arah Barack. Pak Bowo tak ingin ikut campur lagi ketika Barack sudah menikah, maka segala urusan rumah tangganya dia harus menyelesaiaknnya sendiri.
♡♡♡
Tengah malam lewat Barack kembali ke apartement. Dia melangkah masuk, duduk di sofa depan ruang tv. Membenamkan tubuhnya di sofa dalam dalam, sementara pandangan matanya selalu tertuju ke arah pintu berharap Luna akan kembali malam itu.
Hingga hari berganti, sinar matahari mulai mencuat masuk kedalam melewati sela sela kaca yang tak tertutup gorden.
Mata Barack membuka seketika, semalam dia tak bisa tidur dengan nyenyak.
Laki laki itu masih bertahan di sofa. Kepalanya menengadah dan bersandar di di sana.
Raut wajahnya terlihat muram, tak ada semangat sedikit pun untuk mengawali harinya seperti biasa.
Tin tong!!
Barack terkejut ketika mendengar suara bel berbunyi. Dia sudah mengira kalau itu bukan Luna. Jika memang benar itu adalah Istrinya maka tak perlu bagi perempuan itu membunyikan bel.
Barack melangkah, membuka pintu. Dia melihat Helena berdiri di sana.
__ADS_1
"Kamu baik baik saja?" Helena berucap memastikan keadaan laki laki itu, setelah melihat kondisi Barack yang berantakan.
"Dia tidak pulang semalam! bagaimana bisa kondisiku baik baik saja!" Barack kembali duduk di sofa. Dia nampak tak bergairah.
"Kamu tidak berusaha mencarinya?"
"Aku tidak tahu dia bersembunyi dimana!" nada bicara Barack terdengar berat dan sangat lemas.
♡♡♡
Hampir dua minggu Luna menghilang. Barack semakin terpuruk, setiap malam dia berkeliling mengitari jalan berharap bisa bertemu dengan Luna.
Laki laki itu hanya duduk termenung, memandang jauh dengan tatapan mata kosong, dia selalu menghabiskan waktunya untuk menyendiri.
Ke dua orang tuannya sering berkunjung ke apartement untuk memastikan keadaan Barack. Namun laki laki itu selalu menolak untuk membukakan pintu.
Dan tak ada hal lain yang bisa di lakukan Pak Bowo selain membiarkan Putrnya menyendiri.
♡♡♡
Hingga minggu ke tiga Barack mendapat kiriman surat dari pengadilan. Laki laki itu memaku tangannya di udara ketika membaca surat perceraian yang dikirim kepadanya.
Seharusnya Luna tidak bisa menggugat cerai Suaminya karena kondisinya yang sedang berbadan dua.
Namun Barack brfikir pasti ada orang di balik semua ini hingga pengadilan bisa menerima permintaan Luna untuk menceraikannya secara sepihak.
Barack segera berlari keluar apartement. Dia mengendarai mobilnya dengan kencang.
♡♡♡
Dengan sigap Barack berlari mencengkeram kerah kemeja Adrian. Tenaganya begitu kuat ketika menghadapi laki laki itu. Dia Mendorong tubuh Adrian hingga terpentok mobil.
Rahangnya menguat ketika Barack menggertakkan giginya hingga terlihat urat halus di pelipisnya.
Matanya menatap tajam Adrian, seolah ingin mencabik cabik tubuh laki laki itu.
"Katakan!! dimana Luna!!" ucapnya kemudian.
Adrian hanya diam, dia tak bergeming sedikit pun. Dia menatap malas ke wajah Barack.
"Katakan dimana kamu sembunyikan Istriku!!!" hanya Adrianlah yang menjadi tujuan terakhir Barack. Karena hanya laki laki itu yang terakhir terlihat bersama dengan Istrinya.
"Kalau pun dia ada bersamaku, seharusnya kamu tahu. Bukan kah beberapa hari ini kamu selalu mengikutiku!!"
Ucapan Adrian membuat Barack terdiam. Dia tahu selama beberapa hari ini Barack selalu mengikuti kemana pun dia pergi.
Tangannya bergerak melepas kerah laki laki itu. Dia mundur satu langkah menjauh dari Adrian.
Sengaja memberi jarak di antara mereka berdua.
__ADS_1
Adrian membenarkan kerah kemejanya, matanya masih melihat ke arah Barack dengan lekat. Laki laki di depannya itu terlihat sangat berantakan seperti orang yang hidup di jalanan dan tak terurus.
"Aku tahu kamu menyembunyikannya!, , aku juga tahu kamu dalang di balik semua ini!!"
Kening Adrian berkerut, seolah dia sedang mencerna ucapan Barack.
"Apa maksud ucapanmu!"
Barack terkekeh sinis kemudian.
"Aktingmu sungguh luar biasa. Kamu menggunakan cara kotor untuk mendapatkan Istriku?"
Adrian menggelang tak percaya.
"Bicaramu semakin ngawur Barack!, , aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan, , . Seharusnya kamu paham, kenapa Luna pergi menjauhimu. Dia sedang hamil. Kondisi kejiwaannya tidak stabil. Bagaimana kalau sesuatu hal buruk yang tidak kamu bayangkan sebelumnya, terjdi pada Istrimu setelah melihat orang yang dicintainya tidur dengan perempuan lain!"
Barack bergerak cepat mendekati Adrian. Dia mendaratkan sebuah pukulan keras ke arah pipi Adrian hingga laki laki itu tak dapat mengelaknya, ujung bibirnya pun pecah dan mengeluarkan darah.
Adrian menyentuh, merasakan pipinya yang hampir mati rasa setelah di hantam tangan Barack dengan kuat.
Laki laki itu tersenyum menjengkelkan ke arah Barack.
"Jaga bicaramu!, , aku tidak pernah tidur dengan perempuan lain!" Barack mengatur nafasnya yang memburu karena harus menahan emosinya.
"Luna mengambil keputusan yang benar, dia menjauhimu?? itu baik bagi kesehatan janin dan calon ibunya. Saharusnya kamu ingat, ini adalah kehamilan kedua baginya" Adrian seakan mengingatkan kejadian dulu. Saat Luna sempat hamil tetapi harus keguguran karena kecelakaan.
"Dia tidak akan bisa mengendalikan emosinya ketika melihatmu!, , dan itu akan berpengaruh pada janinnya"
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan!, , " Barack kembali menatap tajam mata Adrian.
"Aku tidak menginginakn apa pun. Aku hanya ingin Luna bahagia, dan itu akan lebih baik lagi ketika kamu tidak berusaha menemuinya lagi"
"Brengsek!!!" Barack kembali mencengkeram kerah kemeja Adrian.
Namun laki laki itu kini tak tinggal diam.
Adrian mendorong, berusaha melepas tangan Barack yang sempat mencengkeram kerah kemejanya.
Adrian pun memukul wajah laki laki itu.
"Kamu pantas mendapatkannya!" Ucap Adrian sambil berjalan meninggalkan Barack yang masih terdiam menikmati rasa nyeri di pipinya.
"Suatu saat semua yang kamu lakukan akan terungkap!!" ucapan Barack seketika membuat Adrian menghentikan langkahnya.
"Entah 2, 5 atau 10 tahun lagi. Kebenaran akan terungkap!!" tambahnya.
Adrian sedikit memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Aku sudah mengatakan semua yang ingin kamu dengar. Dan untuk masalah kebenaran seperti yang kamu maksud, aku berharap juga akan terungkap seperti keinginanmu!" Adrian kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Falash back off