Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#150 Anakku


__ADS_3

Luna memaku tangannya di udara, keraguan masih melingkupi dadanya dengan kuat.


Sekali lagi dia menatap layar ponselnya, meyakinkan diri apakah David memang berada di sana. Ada harapan kecil di dalam hatinya bahwa GPS akan memberikan informasi lokasi yang salah tentang keberadaan Putranya.


Namun ponsel Luna menangkap, bahwa signal GPS ponsel milik David memang benar benar berada di tempat itu.


Jantung Luna semakin berdebar kencang, dia tidak tahu harus bagaimana ketika berhadapan dengan Barack.


Sejenak dia memantapkan hatinya, memejamkan mata, menghela nafas panjang sebelum tangannya kembali bergerak menekan tombol bel.


Ting tong!!!


Luna nampak gelisah, dia merasakan kecemasan yang teramat di dalam dadanya.


Malam itu angin terasa sangat dingin tetapi kedua tangannya basah karena keringat.


"Tidak Luna, kamu tidak bisa menemuinya!!"


Luna membalikkan tubuhnya, dia bermaksud pergi dari tempat itu.


Perempuan itu sampai tak merasakan udara malam yang terasa dingin hingga menusuk ke dalam tulang karena rasa gugub kini mengalahkan segalanya.


Tubuhnya yang gemetar karena merasa cemas, apa yang harus dia lakukan jika bertemu dengan Barack nanti.


Apakah harus menjelaskan bahwa Anak laki laki yang sedang bersamanya adalah Putranya. Atau, , entahlah.


Baru dua langkah dia berjalan, seketika langkahnya terhenti.


Luna memutar tubuhnya. Yang terpenting sekarang baginya adalah David.


Luna mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu tanpa David. Dia melangkah kembali mendekati pintu, menekan bel beberapa kali.


Setelah tadi dia sempat menekan sekali namun tak ada yang membukakan pintunya.


"Apa yang sedang mereka lakukan??, , kalau pun mereka tidur harusnya Barack bisa mendengar bunyi belnya!!"


Luna menekan bel lagi, dan berulang kali. Tetap sama tak ada sahutan dari arah dalam.


Dia meraih handel pintu mencoba membukanya, dan ternyata pintu terkunci.


Ujung matanya melirik ke arah tombol angka yang ada di pintu itu.


Dia ingin mencoba membuka pintu dengan menekan tombol di sana.


Bola matanya berputar, seolah dia sedang

__ADS_1


berfikir dengan keras.


Luna mengela nafas dengan cepat, setelahnya tangannya bergerak menekan tombol angka di sana, dia memakai tanggal lahir Barack untuk membuka sandinya.


Namun masin kecil itu menolak sandi yang di berikan oleh Luna.


Sekali lagi Luna memantapkan diri, dia merasa ragu ketika ingin memakai tanggal lahirnya untuk membuka pintu.


"Tidak mungkin dia masih memakai tanggal lahirku!!, , tapi semua harus di coba!"


Luna meyakinkan dirinya, berharap itu bisa berhasil membuka pintu.


Klek!!


Kunci pintu rumah Barack terbuka secara otomatis setelah Luna menggunakan tanggal lahirnya sebagai sandi.


Perempaun itu memaku tubuhnya sesaat sebelum masuk ke dalam. Dia tidak percaya ketika Barack masih memakai tanggal lahirnya sebagai sandi rumahnya.


Luna menatap waspada ke sekitar, ketika dia melangkah masuk ke dalam rumah Barack. Di dalam terasa sangat hangat berbeda jauh dari rumahnya, walau pun hangat namun tarasa seperti ada yang kurang. Berbeda dengan di sana. Semuanya terasa sempurna. entah karena bangunannya atau hanya perasaan Luna saja.


Dia melangkah lagi dengan perlahan menuju ruang dalam.


Matanya melihat tas milik David yang ada di sebuah kursi. Perempuan itu mempercepat langkah kakinya. Tangannya meraih tas milik David.


Tak lama sayup sayup Luna mendengar tawa David dan Adrian secara bersamaan.


Jantungnya semakain berdebar kencang, Darahnya seakan mengalir dengan cepat hingga dua kali lipat di banding biasanya.


"David??" Gumamnya.


Dia berjalan ke arah suara itu berasal. Perempuan itu berdiri, kemudian tak lama dia memaku tubuhnya. Matanya menatap Senyum David yang selama ini tak pernah dilihatnya.


Anak itu sedang berlari lari mengejar Barack.


Mereka terlihat sedang saling melempar bola salju di sana.


Luna melangkah perlahan ke arah mereka, pandangan matanya terlihat kosong. Dia terus berjalan ke arah salju.


Barack berlari menjauh ketika David mengejarnya. laki laki itu kini berlari mundur hingga tak melihat bahwa Luna sedang berjalan ke arahnya dari arah belakang.


David menghentikan langkah kakinya, matanya menatap jauh ke arah Luna yang ada di belakang Barack.


"Ayo David!!, , kenapa kamu berhenti??" nafas Barack terengah engah, dia kini berjalan mundur dengan perlahan.


"Kamu lelah kah?" Barack tertawa, dia merasa menang dari Anak kecil itu.

__ADS_1


Barack tak menghentikan langkahnya, dia masih berjalan mundur dengan pelan.


"Mamah??" Ucap David.


"He??, , Mamah??" Barack mengulang ucapan David, dia melihat ujung mata Anak itu sedang melihat ke arah belakangnya.


Barack langsung memutar tubuhnya dan menabrak Luna hingga mereka berdua terjatuh di atas salju.


Salah satu tangan Barack meraih tengkuk Luna ahingga ketika terjatuh kepala perempuan itu terlindungi. Sekali pun jatuhnya di atas salju, namun laki laki itu merasa harus melindunginya.


Sementara satu tangannya lagi menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Luna yang bertumpu di salju.


Mata mereka bertemu. Luna menatap Barack dengan tatapan kosong, sementara Barack menatap perempuan itu dengan penuh tanda tanya.


"Mamah???" ucap Barack dengan lirih. Dia merasa tidak percaya ketika David memanggil Luna dengan sebutan Mamah.


Barack menarik tengkuk Luna, membantu perempuan itu bangun dari sana.


Laki laki itu masih menekuk ke dua lututnya di salju, tetapi tatapan matanya langsung tertuju kepada David.


Mata, Bibir bahkan hidungnya memerah kerena menahan air mata, dia kembali memalingkan wajahnya ke arah Luna yang masih terduduk.


"Mamah???, , dia memanggilmu Mamah???" ucapnya dengan nada berat.


Lagi, Barack menatap ke arah David. Antara senang dan sedih menyelingkupi tubuh laki laki itu. Barack beranjak berdiri.


Dia berjalan ke arah David, matanya menatap lekat Anak itu.


Hingga tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.


Ekspresi wajahnya pun terlihat datar, dia berusaha keras menyembunyikan rasa sedih karena tak bisa mengenali Anaknya sendiri.


Padahal beberapa kali mereka bertemu. Barack merasa dirinya seolah telah menjadi seorang Ayah yang sangat payah.


Barack semakin mendekat ke pada David. Anak kecil itu hanya berdiam diri, ke dua pipinya pun sudah terlihat basah.


David terlihat sesunggukan menahan tangisnya, dia tidak ingin terlihat sedih di mata Ayahnya.


"Bagaiman??? bagaimana bisa kamu melakukan ini kapada Ayahmu???" bibir Barack bergetar ketika di berucap.


Laki laki itu menekuk ke dua lututnya di depan David.


"David??, , David?? kamu Anakku??" Barack terus mengucap memanggil nama Putranya.


"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya??, , bagaimana bisa kamu melakukan hal ini sendirian. Kamu pasti sangat tersiksa!" Barack seolah tahu, kalau David sengaja tak membuka indentas asli di depan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2