Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
3 S3: Loce's Romance Genderang perang


__ADS_3

Suasana pantri berubah dingin, ketegangan nampak jelas di wajah Kepala bagian OB. Melihat wajah yang tak bisanya berada di tempat itu membuat si pemilik nama Loria memaku tubuhnya karena ketakutan.


Davien tengah berdiri di tengah pintu sembari menghela nafas panjang untuk melegakan dadanya.


Loria tidak pernah sekali pun melihat Davien menginjakkan kakinya ke pantri, seumur umur dia bekerja, baru kali ini dia melihat Pres Dirnya berada di sana.


Dengan wajah pucat dan bibir bergetar ketakutan, Loria menanyakan maksud kedatangan Davien.


"M, mm, , ma maaf Pres Dir, , ada yang bisa saya bantu?" ucapnya terbata.


Davien menyelidik ke ruangan, dia masih belum puas jika belum melihat sosok asing di sana. Selama ini Davien tak pernah mencium aroma itu sebelumnya, jika tiba tiba aroma wangi itu ada di ruang kerjanya maka sesuai dengan dugaan bahwa pasti ada orang baru di bagian OB.


Davien tetap berusaha untuk tenang, menetralkan perasaan yang sempat kacau. Dia kemudian berucap dengan nada datar.


"Siapa yang membawa kopi ke ruanganku?"


Loria menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya berdebar karena rasa takut yang melingkupi tubuhnya. Dia sempat berfikir bahwa Bunga pasti telah melakukan kesalahan.


"Maaf Pres Dir dia masih orang baru, apa dia melakukan kesalahan? jika iya tolong maafkan dia. Saya janji akan"


Davien menatapnya dengan tajam, membuat Loria terpaksa memaku bibirnya.


Loria menunduk, menyembunyikan ekspresi ketakutannya.


"Dia masih ada di toilet Pres Dir." tambahnya.


Davien menoleh ke pintu dimana Bunga berada di dalam sana. Dia bersedekap sambil menyandarkan tubuh di gawang pintu menunggu Bunga keluar dari toilet.


Loria merasa tidak nyaman, takut, gugup gelisah menjadi satu. Dia masih setia berdiri sambil sesekali ujung matanya melirik ke arah Davien.


"Pres Dir, , sudah waktunya kita untuk rapat" James membuat Davien mengalihkan pandangan ke arahnya. Semula dia terus fokus kepada pintu di mana Bunga berada di dalamnya.


Davien kemudian mengangguk, dia lebih memilih untuk pergi meninggalkan pantri dan mengurus masalah itu nanti. Tetapi sebelum beranjak pergi Davien sempat berucap kepada Loria.


"Suruh dia menghadapku!" ucapnya merujuk kepada Bunga.


Davien kemudian melangkah pergi, diikuti oleh James yang ada di belakang. James sejak tadi mengawasi Davien saat berdiri di pintu pantri, dia hanya merasa aneh karena tidak biasa melihat Atasannya itu berada di sana.


"Bukan urusanmu!" ucap Davien seketika, dia sadar bahwa James sejak tadi terus mengawasinya, dia sengaja berucap untuk membuat James tak terus memikirkan tentang dirinya.


Tak lama setelah Bunga keluar dari toilet, Loria langsung bergerak cepat menghampirinya.


Raut wajahnya merasa sangat khawatir jika Bunga telah melakukan kesalahan.


Loria menarik tangannya dengan paksa, membuat Bunga kelimpungan mengikuti langkah cepatnya.


"Bunga, , apa kamu melakukan kesalahan?" bisiknya, agar tak seorang pun mendengar.


Bunga menatapnya dengan penuh tanda tanya, keningnya berkerut kasar karena tidak mengerti dengan pertanyaan Loria.


"Kesalahan apa??"


"Kenapa malah balik tanya!!" Loria menghela nafas kasar.


"Barusan Pres Dir datang kemari dan dia mencarimu!!, , kamu pasti telah berbuat kesalahan fatal!!"


Bunga memutar matanya, mencari cari ingatan tentang dirinya saat berbuat keasalahan.


"Aku tidak melakukan kesalahan, , "


"Hhhaaaaah!!" Loria mengacak acak rambutnya sendiri karena frustasi, dia sudah merasa takut jika Pres Dir akan memberikan sanksi kepadanya.


"Aku tidak mau tahu, selesaikan urusanmu sendiri. Jangan membawa namaku jika nanti Pres Dir marah atau menhukummu!"


"Memang apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya, dengan wajah muram dan penuh tanda tanya Bunga kembali bekerja.

__ADS_1


♡♡♡


Selesai mengikuti rapat Davien kembali ke ruang kerjanya, dia menghirup nafas dalam dalam. Ruat wajahnya terlihat sangat jengkel saat mencium aroma wangi Bunga semakin kental di ruangan itu.


Matanya menyelidik ke meja, di sana dia sudah tidak melihat secangkir kopi. Karena kini telah berganti sebotol air mineral dengan kandungan o2 yang tinggi.


Davien menoleh ke James yang masih berdiri di belakangnya.


"Carikan aku parfum dengan aroma yang paling menyengat" ucapnya seketika kepada James.


Laki laki itu sejenak terdiam mendengar perintah aneh dari Atasannya, James bahkan sempat terpaku sesaat.


Davien mengerucutkan matanya, menatap James dengan penuh kebingungan.


"Kenapa kamu masih ada di sini?, , kamu tidak mendengar perintahku??"


"Maaf Pres Dir, , parfum??" ucapnya mengulangi unuk memperjelas.


"Iya, , apa aku harus mengulanginya sekali lagi agar kamu bisa mendengar dengan baik!"


"Maaf Pres Dir, , saya akan segera membeli sesuai dengan permintaan anda!"


"Tunggu!!" ucapnya seketika membuat James memaku langkahnya dan kembali memutar tubuh menghadap ke Davien.


"Pergilah ke pantri, suruh orang yang membawa minuman ini untuk datang kemari"


"E, , baik Pres Dir" Dengan raut wajah bertanya tanya, James melangkah keluar. Dia menuju pantri dan meminta kepala OB untuk menyuruh orang yang membawa minuman Davien pergi menghadap.


♡♡♡


"Kamu bekerja di sini??" James menunjuk kepada Bunga yang tengah berdiri sembari membersihkan meja di pantri.


Bunga terpaku mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan wajah laki laki yang berdiri di depan matanya.


"Bukankah kamu yang waktu itu mau menabrakku??" ucapnya dengan tenang, tak sedikit pun Bunga menyelipkan nada emosi di dalamnya.


"Ķamu sudah mengenalnya??" bisiknya kemudian.


Bunga tidak menghiraukan pertanyaan Loria, dia lebih tertarik dengan keberadaan James, orang yang hampir menabraknya.


James tak mau berlama lama karena takut membuat Davien menunggu. Dia berdehem untuk menetralkan perasaannya sebelum kembali berucap.


"Loria, Pres Dir meminta orang yang mengantar minuman untuk datang ke ruang kerjanya" James melirik ke Bunga sebelum kudian pergi meninggalkan pantri.


Setelah James menjauh Loria bergegas mendorong Bunga keluar dari pantri.


"Cepat temui Pres Dir, , jangan sampai dia membuatmu menunggu!!" Loria telah berhasil mdorong Bunga hingga sampai ke depan lift.


"Memangnya kenapa denganku??, , aku tidak melakukan kesalaha apa pun. Kenapa dia memanggilku?" gumanya sembari menunggu pintunya terbuka.


♡♡♡


Bunga menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu, memantapkan diri jika memang atasannya akan marah ketika melihatnya. Tetapi Bunga pasti sudah menyiapkan berbagai alasan untuk membela diri.


Tok tok tok !!!


Pintu ruang kerjanya terbuka secara otomatis. Bunga langsung menatap kedepan untuk malihat Atasannya, tetapi laki laki itu tak duduk di bangkunya.


Davien tengah berdiri besedekap memunggunginya, melihat ke arah luar menatap pemandangan kota dari balik kaca yang membentang di sana.


Bunga sempat berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya Davien berucap dengan nada datar untuk menghentikan langkahnya.


"Tetap berdiri di posisimu!!, , jangan mendekat"


Bunga terhuyung sempat memaku satu kakinya di udara ketika mendengar Davien berucap. Bunga pun tetap berdiri di tempat sesuai dengan perintah atasannya.

__ADS_1


Pandangannya menyelidik ke arah punggung laki laki yang masih berdiri tegap membelakanginya. Bunga sempat berfikir jika laki laki yang berdiri itu adalah orang yang telah meminjaminya uang kemarin.


"Jika dia sekretarisnya, , bernarkah ini laki laki yang kemarin???, , apa yang harus aku ucapkan jika bertatap muka dengannya??"


Bunga menghela nafas panjang untuk menenangnkan diri. Entah keberapa kalinya dia melakukan hal itu.


Davien menoleh menatap tajam Bunga yang sedang tertunduk. Dia sempat terkejut, tetapi Davien sanggup mengontrol dirinya dengan baik hingga seolah tak pernah terjadi apa apa di antara mereka sebelumnya.


Laki laki itu melangkah mendekati kursi kemudian duduk, menyandarkan punggngnya sembari menyilangkan salah satu kaki di atas kaki lainnya. Dengan caranya yang elegan tangannya yang bertumpu di samping kursi kemudian menggunakan jarinya untuk menutupi hidung ketika bernafas. Mencoba untuk tidak menghirup banyak aroma yang mencuat dari tubuh perempuan itu.


Bunga perlahan mengarahkan pandangannya ke Davien, tatapan mereka sempat bertemu sesaat sebelum akhirnya Davien memilih untuk mengalihkan pandangannya ke ponsel yang ada di atas meja.


Bunga tak sedikit pun memiliki rasa takut karena dia memang merasa tidak bersalah. Dia berdehem untuk mencairkan suasana sebelum kemudian berucap untuk memulai pembicaraan.


"Maaf, , Pres Dir"


"Apa aku menyuruhmu berbicara!!" Davien memotong pembicaraan, suaranya terdengar sangat berat, seketika ujung matanya pun kembali mengarah ke Bunga.


Tangannya bergerak meraih remot untuk memperbesar Ac, agar lebih cepat menyerap aroma Bunga yang semakin menyerbak memenuhi ruangan.


Davien membenci ada orang lain yang memiliki aroma itu, tidak boleh ada satu orang pun di sekitarnya yang memiliki aroma sama dengan Essie. Karena itu pasti akan sangat mengganggu pikirannya.


Perempuan itu memaku bibirnya tak berucap sepatah kata pun sesuai perintah Davien. Tubuhnya mulai sedikit merasa kedinginan karena ruangan itu mulai di penuhi oleh udara dingin yang keluar dari Ac.


"Ada apa dengan laki laki ini!!, , aneh!"


Tak lama James mengetuk pintu, Bunga menoleh ketika laki laki itu membukannya dan melangkah masuk dengan membawa sebuah paperbag berwarna hitam.


"Berikan parfum itu kepadanya!" ucapnya seketika membuat James yang ingin meletakkan paperbag di atas meja memaku tangannya di udara. James menarik tangannya kembali dan mengarahkan paperbag itu kepada Bunga.


Perempuan itu terkejut, matanya sedikit membulat saat menatap paperbag berwarna hitam tepat berada di depannya.


"Ambillah, ,Pres Dir memberikannya untukmu"


Bunga nampak ragu saat ingin menerima barang itu. Dia sempat menyelidik ke arah dalam untuk memastika isinya.


"Untuk apa dia memberiku parfum?"


Keningnya berkerut melihat botol kaca berbentuk bulat dengan cairan bening senada dengan kaca yang membungkus parfum itu dengan elegan.


"Maaf"


"Pakai parfum itu ketika kamu masuk ke dalam ruanganku!!" sekali lagi Davien menatap tajam ke arahnya.


"Aku tidak suka dengan aroma tubuhmu yang akan meracuni udara di ruangan ini!!, , sebisa mungkin gunakan parfum itu sebanyak banyaknya untuk memutupi bau tak sedap yang keluar dari tubuhmu!!" Davien berucap dengan tegas, menjabarkan apa maksudnya memanggil Bunga untuk datang ke ruangan.


Bunga menggertakkan giginya menahan emosi ketika mendengar ucapan Davien yang seolah benar benar mengatakan bahwa tubuhnya mengeluarkan aroma busuk. Ingin rasanya saat itu dia memilih untuk melempar botol parfum ka wajahnya. Tetapi Bunga masih bisa mengontrol dirinya dengan baik, perkerjaan itu jauh lebih penting ketimbang harga dirinya yang diinjak injak oleh Davien.


Ya, suatu saat Bunga pasti akan membalasnya. Tetapi mungkin saat ini dia lebih memilih diam menerima kekalahan dengan menelan mentah mentah hinaan yang terlontar dari mulut Davien.


Bunga memasang ekspresi gembira di selingi senyum tipis saat inging berucap.


"Terima kasih Pres Dir, hatimu sungguh sangat baik. Kamu bahkan mamikirkanku yang baru saja mulai bekerja hari ini. Aku pasti akan menggunakannya dengan sebaik mungkin" Bunga berucap denga penuh penekanan di setiap kalimat.


Davien tersenyum sinis menatap Bunga dengan pandangan sengit bercampur jijik. Terlebih lagi ketika mengingat bahwa perempuan itu menerima uang yang dia berikan kemarin, seolah menambah nilai mines Davien terhadapnya.


"Jika parfum itu habis, katakan kepada James. Perusahana akan menanggung biaya untuk membeli parfum khusus untukmu" Davien sejenak berhenti berucap, memberi waktu kepada Bunga untuk mencerna ucapannya.


"Mengingat bahwa kamu adalah seorang OG di sini, aku yakin kamu tidak akan sanggup untuk membelinya!" nada bicaranya memang terdengar santai, tetapi sangat menjengkelkan bagi Bunga yang mendengarnya.


Dadanya terasa seperti di sayat sayat hingga meninggalkan bekas luka yang tak akan pernah hilang saat mendapatkan hinaan bertubi tubi dari Davien.


Bunga sanggup untuk melewati kepahitan hidup yang selama ini dia lewati, kenapa hanya untuk sebuah hinaan yang sangat tak berdadar itu dia harus merasa hampir putus asa?.


"Tidak bisa Bunga!!!, , laki laki ini tidak bisa menggoyahkan keberanianmu!, , kamu pasti bisa melewatinya. Anggap saja ucapannya sebagai batu kerikil yang akan membawa menuju ke atas puncak!"

__ADS_1


"Terima kasih Pres Dir, , anda sungguh sangat bijaksana. Sebagai seorang atasan yang terlalu sangat memikirkan bawahan sepertiku! terlebih lagi Anda sangat perhatian denganku yang baru masuk bekerja mulai hari ini, aku hanya takut akan mengundang rasa cemburu pegawai lain yang mendengarnya!. Aku yakin aku tidak salah memilih perusahana ini karena memiliki Atas yang sangat pengertian, tahu bahwa aku tidak mampu membelinya dan Anda langsung memberikan fasitas yang di mana perusahaan lain tidak akan memberlakkukan hal yang sama dengan pegawai rendahan sepertiku. Anda tentu paham, orang sepertiku akan lebih memilih untuk berfikir bagaimana caranya bertahan hidup ketimbang harus memikirkan parfum yang tidak akan membuatku kenyang" Bunga berucap dengan tenang, namun kalimat yang keluar dari mulutnya seperti ujung tombak yang siap bertempur saat melihat lawannya.


Bunga tidak akan mundur hanya karena hinaan yang tak berarti. Meski pun saat ini harga dirinya sedang diinjak injak, Bunga tetap berdiri tegak menatap Davien dengan tatapan tajamnya. Dia sadar bahwa apa yang dia katakan seperti genderang yang sangaja di bunyikan untuk memulai awal perang.


__ADS_2