
James membuka matanya lebar, ketika nalarnya berfikir bebas hingga bisa menyimpulkan sendiri dengan keanehan Davien beberapa hari ini.
"Jangan jangan Pres Dir??"
James membiarkan pikirannya menggantung di benaknya. Dia tak ingin lagi berfikir lebih jauh karena Davien pasti tak akan menyukainya jika dia telalu ikut campur.
Bunga menelan ludahnya dengan susah payah. Bergidik untuk mengembalikan kesadarannya setelah beberapa saat kembali mengingat kejadian semalam. Bunga lupa bahwa semua orang bisa melihat tanda itu.
Bunga tak ingin mengingatnya lagi, karena Davien pasti hanya akan mengingat di bagian mana Bunga menolaknya. Kini Bunga hanya ingin fokus membalas kebaikannya.
"Pres Dir?, apa kamu hari ini ada waktu untuk makan siang denganku?" ucap Bunga seketika tanpa terbata. Solah dia sudah merasa terbiasa dengan Davien yang notabennya adalah atasannya di tempat dia bekerja.
James menelan ludah nya dengan susah payah setelah mendengar pertanyaan Bunga, dia tak habis pikir bahwa Bunga dengan mudah bisa melontarkan ajakan itu kepada Davien seolah mereka telah menjadi sahabat dekat sebelumnya. Bahkan James yang sudah menjadi sekretarisnya selama beberapa tahun ini pun tak berani berucap lantang seperti itu.
James berdehem sengaja menaik perhatian bunga. Dan seketika perempuan itu menoleh menatapnya.
James menggelangkan kepalanya perlahan ke arah Bunga. Seakan dia mengingatkan perempuan itu agar tak lancang berucap kepada atasannya.
"James!" ucap Davien kemudian, Suara beratnya membuat James terperanjat kaget karena sesaat dia terlalu fokus dengan Bunga.
"Iya Pres Dir?" sahutnya cepat.
"Beri tahu kepada perempuan ini, apakah aku ada jadwal kosong untuk nanti siang?" Davien berucap dingin, pandangannya lurus ke depan menatap pintu lift.
"Mm, , maaf Nona, tetapi nanti siang Pres Dir ada jadwal untuk makan siang dengan rekan kerjannya" ucapnya mematahkan ajakan Bunga seketika.
"Oh, , , ,oke" Bunga tersenyum getir, dia sedang merasakan kekecewaan yang sempat di rasakan oleh Davien semalam. Mendapatkan penolakan sekali pun itu bukan sebuah ungkapan isi hatinya, Bunga tetap bisa merasakan rasa nyeri tepat di bagian dadanya.
"Sebenarnya aku hanya ingin membalas kebaikanmu semalam kerana sudah menolongku!"
"Besok hari minggu jadwal Pres Dir kosong sampai malam, kalau Nona ada waktu bisa saja mengajak Pres Dir makan siang besok?" ucapnya seketika, dia lupa bahwa seharusnya meminta izin terlebih dulu kepada Davien untuk memberikan informasi tentangnya.
"Benarkah James?" raut wajahnya kembali bercahaya.
"James!!" Davien menaikkan sedikit nada bicaranya. dia merasa taka suka ketika James berbincang dengan bunga.
__ADS_1
"Maaf Pres Dir" laki laki itu tertunduk ketakutan.
"Besok aku sudah ada janji dengan perempuan lain" Davien menolaknya terlebih dulu sebelum Bunga berucap.
"Oh, ,begitu ya" senyum tipis mewarnai bibirnya, raut wajahnya pun terlihat kecewa setelah mendengar Davien berucap.
"Pres Dir boleh kah aku mewakili Anda untuk makan malam besok dengan Nona Bunga?" James tersenyum lebar di belakangnya, seakan dia tahu jawaban apa yang akan Davien lontarkan saat itu. James hanya sengaja memancing perasaannya.
Bunga menatap menunggu jawaban dari Davien, entah kenapa dadanya berdebar kencang. Ingin mendengar penolakan ketika James meminta izin kepada laki laki itu.
"Silakan jika kamu mau!" ucap Davien tanpa ragu.
Bunga semakin tak karuan, jantungnya serasa mau meledak ketika Davien berucap. Merasakan betapa sakitnya ternyata ketika mendapat penolakan dari Davien.
"Jadi, , seperti ini kah yang dirasakan Davien malam itu?, , atau jangan jangan lebih sakit dari ini?"
"Apa perempuan itu Nona Keiko?" ucapnya lirih, tertunduk malu setelah sesaat menjadi perempuan yang tak punya harga diri karena telah mengajak seorang laki laki terlebih dulu untuk pergi makan siang. Tapi kembaki lagi, bagi Bunga itu tak menjadi masalah kerena dia melakukannya untuk membalas Davien.
"Itu bukan urusanmu!, , ,apa harus aku menceritakan kepadamu siapa perempuan yang akan pergi dengenku??" Davien menegaskan sekali lagi, bahwa Bunga tak berhak mengetahui semua yang dia lakukan dengan siapa, kapan dan di mana.
"Maaf Pres Dir jika saya lancang" James menyesalainya, dia bisa mendengar amarah dari ucapan Davien ketika berucap memberinya izin untuk menggantikan dririnya pergi makan siang dengan Bunga.
"Lupakan, anggap saja aku tidak pernah meminta Pres Dir untuk makan siang denganku" ucap Bunga kepada laki laki itu.
"Terlambat!, , aku sudah mendengarnya" sahutnya cepat. Dan seketika ruangan itu menjadi hening.
Setelah pintu lift terbuka, Davien segera melangkah keluar meninggalkan Bunga.
James yang mengikutinya dari arah belakang memaku tubuhnya sesat di depan Bunga. Tangannya meraih pundak kemudian menepuk kecil mencoba memberi ketenangan pada perempuan itu.
♡♡♡
"Kak?" Bunga memanggil Loria yang tengah sibuk membuatkan minuman untuk para atasannya.
"Apa??" perempuan itu menoleh,
__ADS_1
menatap Bunga yang juga sedang sibuk membuat kopi untuk Davien.
"Apa sebelumnya ada pemberitahuan dari pihak atas kalau gaji kita naik?" Bunga berucap dengan berhati hati, karena dia takut jika sampai salah bicara nantinya akan membuat Loria menjadi iri karena mungkin hanya dirinya yang mendapatkan gaji tinggi.
"Tidak!, , apa kamu berharap bahwa gajimu akan naik bulan ini?, , jangan bermimpi Bunga! aku yang bertahun tahun di sini saja naik gaji dalam setahun sekali. Itu pun hanya beberapa persen dari gaji kita"
Sesuai dengan perkiraannya, Loria pasti akan merasa cemburu jika Bunga mengatakan yang sesungguhnya, bahwa gaji bulan pertamanya kerja di tempat itu dia mendapatkan gaji 10 kali lipat dari yang seharusnya dia terima. Kini Bunga lebih memilih diam dan mengakhiri pembicaraan.
"Lupakan Kak, aku akan segera mengantar minuman ini untuk Pres Dir" Bunga mengangkat nampan dengan secangkir kopi panas di atasnya. Dia kemudian melangkah keluar dari pantri.
Sementara Loria masih menatap Bunga dengan pandangan aneh menyelidik.
"Apa apaan dia. Dia dulu yang memulai untuk membahas masalah gaji, dan ketika aku menjelaskannya kenapa dia yang seolah merasa keberatan" Loria menggelangkan kepalanya tak percaya. Kemudian kembali melanjutkan untuk menyelesaikan membuat teh hangat
♡♡♡
Bunga menghentikan langkahnya di depan meja kerja milik James. Dia nampak berdiri di seberang dengan tatapan menyelidik. Tangannya bergerak meletakkan nampan itu di atas meja.
"James?."
Laki laki itu menggerakkan kepalanya mengurutkan Bunga dari bagian bawah hingga ke atas mata.
"Nona apa yang sedang kamu lakukan di sini?" pandangan matanya beralih ke secangkir kopi di depannya.
"Bukankah kamu seharusnya membawa minuman ini ke dalam?."
"James?, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu terlebih dulu" Bunga menggunakan kedua tangannya menyangga tubuh di atas meja ketika sedang berucap lirih kepada James.
"Apa Nona?"
"Berhenti memanggilku Nona. Panggil saja namaku seperti kamu memanggil kak Loria" pintanya.
♡♡♡
Jangan lupa, yang belum kasih bintang lima di tunggu untuk memberikan ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
🙏🙏🙏😘😘😘