Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
75. Apakah Ini Mimpi?


__ADS_3

Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Davien terdiam terpaku tak menyangka bahwa sosok perempuan yang berdiri di depannya adalah Bunga.


Sementara Bunga pun demikian dia tidak menyangka bahwa Davien akan menyusulnya sampai ke desa.


Bagaimana Bunga ada di sana, ataukah dia anak kecil waktu itu? Davien tidak menyangka teman masa kecilnya yang dulu sempat memberikan boneka matahari kepadanya itu ternyata adalah Bunga. Betapa bodohnya dia perempuan yang selama ini dicintainya, perempuan yang selama ini ada di sisinya adalah teman masa kecilnya.


"Bunga?" suaranya melemah dan bergetar.


"Berhenti!" Bunga berseru meminta Davien untuk berhenti di tempat ketika dia melihat lelaki itu melangkah maju.


Devien bingung keningnya berkerut kasar sementara matanya mengerucut ke arah Bunga. Pandangannya beralih ke tangan di mana luka itu masih ada. Sudah satu minggu, mungkin lukanya sudah mengering. "Tanganmu, bagaimana dengan–," ucapnya terputus karena Davien tak sanggup berucap lagi.


Namun dengan cepat Bunga menyembunyikan tangannya ke belakang. "Apa lagi?" ucap Bunga, dia sepertinya benar-benar masih sangat kecewa dengan Davien. Lelaki yang dicintai namun sanggup melukainya, jika mengingat hal itu sampai saat ini Bunga masih belum bisa memaafkan Davien.


Davien teringat akan misinya datang ke tempat itu, dia kemudian tersenyum sambil mengangkat tangannya memperlihatkan kepada Bunga boneka kecil yang ada di telapak tangannya. "Kau ingat ini?" Davien berharap Bunga masih mengingat boneka itu.


Bunga mengalihkan pandangannya ke arah boneka berbentuk matahari yang ada ditangan Davien, ekspresi wajahnya terlihat datar. Bunga seakan sedang mengingat masa lalu di mana dia masih kecil kemudian bertemu dengan Davien dan ketika saat dia memberikan boneka itu, semua kenangan terlintas bahkan Bunga bisa mengingatnya dengan jelas.


"Aku datang ke sini untuk mengembalikan ini. Aku tidak menyangka bahwa gadis kecil yang dulu selalu menghiburku ketika aku sedang terpuruk adalah kau Bunga, aku" ucapannya terputus.


"Aku tidak membutuhkan boneka itu! Kau bisa mengambilnya jika kau mau!" Bunga lebih memilih kembali menyelesaikan pekerjaannya, masuk ke dalam dengan membawa mangkuk dan gelas di tangan.


Davien melangkah mendekat kemudian berucap. "Bukankah kau dulu pernah meminta agar aku mengembalikan boneka ini?”


"Aku bilang aku sudah tidak membutuhkan boneka itu, kau bisa mengambilnya dan pergi dari sini!!" teriak Bunga dari arah dalam.


"Bunga aku mohon!”


Bunga merasa jengkel hidupnya yang sudah tenang kembali terusik karena kedatangan Davien. Dia kemudian berjalan keluar menemuinya. "Kemarikan boneka itu, berikan padaku bonekanya!" Bunga meminta boneka kecil darinya.


Dengan senang hati Davien memberikannya tetapi Bunga menyambar kasar kemudian membuangnya jauh ke depan dan hilang di semak-semak.


Davien menoleh ke arah di mana boneka itu di buang, dia terkejut tak dapat berucap kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bunga. "Kenapa kau membuangnya?”


"Sudah aku bilang aku tidak membutuhkan boneka itu, apa kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan!" Bunga menaikkan nada suaranya, dia benar-benar masih sakit hati setiap kali melihat wajah Davien. Tega melukai tangannya karena tidak sengaja merusak hadiah yang Davien dapat dari mantannya. Di saat itu Bunga merasa kalau dia bukan siapa-siapa baginya. Membuang boneka itu sudah cukup mewakili bagaimana sebenarnya perasaan Bunga kepadanya untuk saat ini. Bunga tak ingin lagi mendengarkan alasan atau apa pun dari mulutnya.


"Jika kau datang ke sini untuk mengembalikan boneka itu anggap saja misimu sudah berhasil! Sekarang kau pergi dari sini! Kedaiku sudah tutup, sudah tidak menerima pelanggan lagi!" Bunga masuk ke dalam kemudian menutup pintu dengan kencang.

__ADS_1


Brak!!!


Davien masih berdiam diri di depan pintu tak menyangka kalau Bunga benar-benar sangat membencinya. Setidaknya bisa melihat wajah Bunga mengurangi sedikit rasa rindu yang begitu menggebu. Bunga sudah ada di depan mata tapi menyentuhnya saja dia tak memiliki kesempatan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Davien dia hanya diam menikmati rasa kecewa sekaligus sakit hati atas penolakan Bunga tetapi dia tak menyalahkan perempuan itu karena dia sadar dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.


Kini yang bisa dilakukan oleh Davien adalah pergi dan memberikan waktu kepada Bunga untuk menyembuhkan luka di dalam hatinya.


Setelah Davien pergi Bunga kembali membuka pintu, pandangannya terarah Ke mobil milik Davin yang semakin pergi menjauh hilang ditelan gelapnya malam.


Matanya merah berkaca kilauan bening nampak mengalir membasahi pipi. Tak sengaja dia melihat paperbag di atas meja. Setelah membuka dan melihat isinya Bunga semakin tak bisa menahan tangis. Davien membawa obat dan peralatan lain untuk lukanya. Setelah mengingat bahwa ada hal yang lebih pentinhg Bunga segerak beranjak mempercepat langkahnya menuju ke semak-semak di mana dia sempat membuang boneka itu.


"Di mana boneka itu!, di mana!" Bunga terus berusaha mencarinya. Dari satu sisi ke sisi lain membelah semak dan rumput yang lebat. Bunga sampai tak menghiraukan tangannya yang terluka itu kotor karena tanah, yang terpenting baginya saat ini adalah dia bisa menemukan bonekanya.


Bunga seketika memaku tangannya saat melihat benda yang dicari. Dengan cepat Bunga meraihnya lalu membuang nafas penuh kelegaan. "Hah! Syukurlah aku menemukannya" Bunga menggenggam erat mendekapnya kemudian.


Di sisi lain sebuah mobil hitam sedang menuju kearahnya berhenti tepat di depan rumah Bunga. Nampak dua orang lelaki bertubuh tegap tinggi keluar dari mobil. Mereka berjalan mendekati Bunga yang sedang berjongkok di semak-semak.


Perempuan itu tersadar bahwa ada sebuah mobil terparkir di rumahnya dengan cepat dia berdiri dan berseru. "Sudah aku bilang kau lebih baik pergi!" bibirnya seketika terpaku, dia mengira bahwa mobil itu milik Davien yang kembali menemuinya tetapi ternyata dia salah besar. Bunga bahkan tak mengenali mobil milik siapa yang ada di sana.


Glek!


Bunga menelan ludahnya susah payah, dia mulai ketakutan melihat dua orang lelaki yang ada di depan matanya. Bunga menatap waspada kearah mereka berdua. "Ka.kalian siapa?" ucapnya ketakutan.


Bunga semakin ketakutan melangkah mundur ke belakang penuh waspada.


"Nona tidak perlu takut, kami tidak akan melukaimu Nona!" kedua lelaki itu menggeser tubuhnya mempersilahkan Bunga untuk berjalan masuk ke dalam mobil.


Di sana tampak seorang sopir yang ternyata sudah membukakan pintu. Bunga menggelengkan kepala perlahan, tidak yakin bahwa orang yang ada di depan matanya itu adalah orang baik-baik. Pikirannya meracau entah ke mana tetapi saat ini yang bisa dilakukan oleh Bunga hannyalah melarikan diri.


“Aku tidak mengebal kalian!” Bunga sempat berlari menjauh tetapi dua orang itu dengan sigap menangkapnya memegang lengan Bunga di satu sisi dan sisi Lainnya.


Bunga terus berontak meminta mereka untuk melepaskan tangannya tetapi permintaan Bunga tak mereka hiraukan.


"Lepas! Kalau kalian tidak melepaskan aku, aku akan berteriak dan kau tahu semua penduduk desa akan keluar menghajar kalian!" Bunga berusaha memamerkan keberaniannya, padahal dia takut setengah mati.


"Kalau Nona tidak berontak kami tidak akan melakukan hal ini, jadi kami mohon kerja samanya Nona, ikutlah dengan kami. Kami akan menjelaskan nanti."


"Kau kira aku gila! Aku tidak mengenal kalian dan tiba-tiba kalian datang ke sini menangkapku lalu meminta aku bersikap baik? Bagaimana mungkin aku bisa berpikir kalau kalian tidak jahat! Wajah kalian saja terlihat seram!."

__ADS_1


Kedua lelaki yang ada di samping kanan dan kirinya itu terlihat saling menatap satu sama lain. "Kami jamin kami tidak akan melukai Nona, jadi untuk yang terakhir kalinya kami mohon bekerja samalah dengan kami. Kami jamin kami akan mengantar Nona kembali dalam keadaan utuh."


"Aku tidak mau!" percuma Bunga berontak kedua lelaki itu dengan mudah mengangkat tubuhnya dan membawa Bunga masuk ke dalam mobil secara paksa.


Sementara di dalam mobil Bunga masih berteriak histeris karena dia merasa bahwa dirinya sedang diculik. Dia bahkan sempat memanggil nama Davien berharap lalaki itu akan kembali dan menolongnya tetapi usahanya sia-sia.


Bunga tak bisa melakukan apa-apa karena dua orang lelaki itu duduk di samping kanan dan kiri. Bunga mencoba untuk tenang dan percaya dengan apa yang mereka ucapkan.


Akhirnya Bunga berhenti berontak tak tahu ke mana mereka akan membawanya. Mobil itu melaju dengan kencang pergi jauh ke kota.


***


Setelah beberapa jam dia melihat mobil tengah berhenti di depan sebuah pintu gerbang yang menjulang tinggi di depannya, ketika sopir membunyikan klakson dengan sendirinya pintu itu terbuka.


Mobil melaju kembali dengan kecepatan rendah masuk ke arah dalam. Kini Bunga melihat pepohonan di samping kanan dan kiri yang tertata rapi di tepi jalan. Entah itu tempat apa karena Bunga belum melihat rumah selain pohon. Dari kejauhan nampak terlihat cahaya yang sangat terang. Cahaya itu berasal dari sebuah rumah, bukan! lebih tepatnya seperti sebuah Istana.


Bunga dibuat menganga melihat rumah itu sangat besar dan megah, berkali-kali dia menelan ludahnya. "Permisi, paman! Rumah ini... ini sebenarnya rumah siapa? Kalian siapa sebenarnya?" Bunga nampak menyelidik kearah lelaki yang duduk di samping kanan dan kirinya secara bergantian.


Laki-laki itu menundukkan kepala. "Tenang Nona sesuai janji kami dari awal kami tidak akan melukai Nona, sekarang saya mohon Nona untuk turun dari mobil" dia membuka pintu kemudian turun dan mempersilahkan Bunga untuk keluar dari mobil.


Pandangannya menyapu ke semua arah, Bunga sangat ketakutan sekaligus waspada.


"Silakan Nona" ucap seorang perempuan dengan mengenakan setelan seragam pegawai, dia adalah kepala pelayan di rumah itu. Mempersilahkan Bunga untuk mengikutinya. "Mari Nona ikut saya masuk ke dalam" tambahnya, dia berjalan memberi petunjuk kepada Bunga untuk terus mengikutinya.


Bunga terlihat sangat gugup dia selalu waspada kepada orang di sekitar. Setelah melangkah masuk di ruangan pertama di mana dia menginjakkan kaki, matanya sudah dimanjakan dengan furnitur mahal yang menghiasi seluruh ruangan. "Rumah siapa ini? Ah! Tunggu... se.sebenarnya ini kenapa? Apa aku sedang bermimpi? Aku merasa seperti masuk ke dalam dongeng!" gumamnya.


"Nona, bisa ikut dengan saya?" kepala pelayan berucap dengan nada tenang namun tegas, dia meminta Bunga mempercepat langkahnya.


"Mmm... Iya" sesuai instruksi, Bunga mempercepat langkahnya mengikuti kepala pelayan.


Tak lama mereka berhenti di sebuah ruangan di depan pintu yang menjulang tinggi tepat di depan mata.


"Per.permisi sebenarnya... Ini rumah siapa?" bisik Bunga. "Jadi sebenarnya dari tadi... bahkan salah satu dari kalian tak ada yang menjelaskan kepadaku sama sekali" Bunga berucap gugup, dia berusaha menggali informasi dari pelayan perempuan.


Tetapi tetap sama, kepala pelayan itu tak memberikan jawaban yang Bunga inginkan dia hanya diam dan tersenyum. "Silakan masuk Nona, semua jawaban yang Nona inginkan akan Nona dapatkan nanti di dalam" ucap kepala pelayan setelah pintu terbuka.


“Oh!” Bunga menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu sangat besar dan terasa sunyi. Tak lama hanya ada suara alat monitor pendeteksi detak jantung yang menggema di rongga telinga. Seketika ujung matanya tertuju kepada seorang lelaki yang terbaring lemah di atas ranjang.

__ADS_1


Bunga gugup sekaligus gelisah, mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini dan lagi siapa orang itu? Banyak alat-alat medis menyala yang terhubung ke tubuhnya.


__ADS_2