Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
94. Berniat Mengencani Ibu?


__ADS_3

“Bagaimana dengan paman? Apa paman juga sangat-sangaaaat rindu dengan Ibu?”


Mendadak suasana menjadi canggung, terutama untuk Bunga yang tiba-tiba berdebar menanti jawaban yang akan Davien berikan. Pandangan mereka bertemu, dari raut wajahnya saja Bunga seolah menangkap guratan keraguan di wajahnya. Tidak ingin suasana menjadi lebih canggung Bunga mencoba mengalihkan pembicaraan. “Sayang, turunlah paman Davien pasti lelah. Apa kau sudah makan?”


“Juliet tidak mau turun sebelum paman menjawab pertanyaannya!”


“Tentu saja!” sahut Davien, Bunga secara cepat mengubah arah pandangannya kembali menatap wajah lelaki yang tersenyum sembari menatap putrinya. “Paman sangat merindukan Ibumu!”


Bunga merona pipinya merah padam membayangkan bagaimana bisa dengan sangat mudah Davien mengatakan hal itu di depannya, padahal malam itu dia mengatakan pada Marvel tidak berniat menjalin hubungan lagi dengannya. ‘Kenapa? Apa maksudmu mengatakan kalimat semudah itu di depanku? Apa kau sedang memancingku? Aku yakin pasti tidak salah dengar kemarin malam... tapi, kenapa hari ini kau berucap seolah berbanding terbalik dengan apa yang aku dengar waktu itu!’


“Kalau begitu bagaimana jika kita pergi makan malam bersama? Bertiga pasti lebih seru!”


“He?” Bunga terkejut mendengar permintaan Juliet.


Melihat permintaan putrinya yang begitu sangat berharap, belum lagi raut wajah yang menggemaskan dengan memamerkan mata bulat dan bibir manyun, Bagaimana bisa Davien menolak. “Oke, sekarang katakan di mana Juliet ingin makan malam? Paman akan membawa Juliet ke sana!”


“Mmmmm” Juliet tampak berpikir sambil mengetukkan telunjuknya ke kepala.


“Juliet bukankah Bibi sudah menyiapkan makan malam? Bagaimana kalau kita makan saja di rumah?” Bunga sangat canggung maka dari itu dia berusaha membujuk putrinya.


“Tidak mau, makan hanya berdua saja di rumah kakek sangat membosankan, Bu! Juliet masih ingin berlama-lama dengan paman sebelum paman pulang. Juliet ingin makan malam bersama paman titik!”


Bunga tidak bisa menolak keinginan Juliet, terlebih lagi saat mengetahui Davien memenuhi keinginannya.


“Uhmmm... bagaimana kalau kita pergi makan ke restoran kesukaan ibu?”


“Ah! Hampir semua restoran ibu suka. Lagi pula paman Davien pasti lelah... kita bisa pergi sendiri Juliet! Biarkan paman Davien pulang dan istirahat di rumahnya!”


“Kenapa? Sepertinya kau keberatan makan malam denganku?” sahut Davien.

__ADS_1


“Em... seharusnya aku yang mengatakan itu padamu!” Bunga enggan menatap matanya, jelas dia kesal karena ucapan Davien malam itu tapi kini di depan Juliet lelaki itu seolah bersikap kebalikannya. Apa sebenarnya yang Davien inginkan?


Sesaat Davien menatap wajahnya, mencoba mencerna apa yang sedang Bunga pikirkan karena suasana seketika berubah tegang.


Du du du du.... Juliet bersenandung, dia justru menikmati suasana itu.


“Bunga! Kenapa denganmu? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?”


“Ha? Kau bertanya padaku seolah-olah kau tidak pernah mengatakan kalimat yang baru saja kau ucapkan! Jelas-jelas aku mendengarnya, aku yakin kau juga paham dengan maksudku!” gumam Bunga, sengaja karena tidak ingin berdebat di depan Juliet.


“Kau bilang apa, Bunga? Aku tidak mendengarnya!” samar-samar Davien mendengarnya, maka dari itu dia semakin penasaran.


“Lupakan!”


“Astaga paman! Perut Juliet sudah perih... haruskah menunggu kalian selesai berdebat?” aktingnya tidak diragukan lagi, sangat pandai Juliet memerankan kebohongannya di depan mereka berdua sembari memegangi perut dia bertingkah seakan-akan menahan sakit karena kelaparan.


Haha.... “Baiklah sayang, kita akan pergi makan!” Davien membuka pintu mobil bagian belakang lalu membantu Juliet duduk di sana. Setelahnya berjalan ke sisi lain membuka pintu bagian depan menunggu Bunga masuk ke dalam, tapi perempuan itu masih berdiri di tempat semula. “Kau tidak ikut?” ucapnya.


“Kalau begitu, haruskah aku membawa Juliet pulang bersamaku nanti selesai makan malam?” bibirnya mengembang tersenyum tipis, Davien sengaja memancing apakah perempuan itu akan membiarkan Juliet pulang bersama dengannya.


Tak menunggu lama Bunga melangkah mendekati Davien yang tengah berdiri sambil memegangi pintu mobil yang sudah dibuka sejak tadi. Tetapi Juliet justru bersiap-siap membuka pintu mpbil belakang. “Aku akan duduk di belakang dengan Juliet!”


Sempat Bunga membuka sedikit pintunya tapi Davien dengan cepat, refleks menahannya hingga pintu langsung tertutup lagi. “Maaf, tapi aku bukan sopir pribadimu! Jadi... kau harus duduk di depan!” ucapnya penuh senyum lebar.


***


Juliet tampak mengawasi keadaan sekitar tapi tak lama setelah itu pandangannya teralihkan ke Davien yang tengah membantu Bunga menyiapkan kursi. Merasa aneh saat lelaki itu membawa ke sebuah restoran yang menjadi tempat favorit Bunga bahkan seingat Juliet, Davien belum menanyakan hal itu kepada ibunya.


Tak mau ambil pusing Juliet kini mulai sibuk melahap semua makanan yang suda tersaji di atas meja. Di tengah-tengah makan malam lagi-lagi perhatiannya teralihkan ke Davien, lelaki itu tampak sibuk melarang Bunga memilah-milah makanan.

__ADS_1


“Kau masih saja memilih-milih makanan? Aku masih ingat jelas kau tidak boleh mengonsumsi udang... jadi tenang saja aku tidak mungkin memesan makanan yang mengandung udang! Semua ini aman untukmu, makanlah.”


Bunga menghela nafas panjang sempat juga dia melirik dengan pandangan malas ke Davien yang duduk di sampingnya. Tetapi tak selang beberapa detik kemudian ketika matanya tertuju ke Juliet, Bunga terenyak kaget melihat anak itu sedang menyipitkan mata kearahnya. Ghm! Dehemnya menetralkan perasaan.


Seolah sedang membaca chemistry antara mereka berdua, Juliet memicingkan mata penuh tanda tanya dan keingintahuannya yang sangat besar. ‘Mereka berdua mencurigakan! Terlebih lagi paman Davien, apa mereka memiliki sesuatu yang tidak Juliet ketahui?’


“Juliet kau ingin menambah sesuatu?” tanya Davien.


“Tidak paman! Ini saja mungkin tidak masuk semua ke dalam perut Juliet yang kecil!” mulutnya penuh makanan saat menjawab pertanyaan Davien.


“Sayang, habiskan dulu makanan di dalam mulutmu baru setelah itu kau bicara. Kau bisa tersedak nanti!” Bunga mengambil lap yang sudah tersedia di sana, menggunakannya untuk mengusap bibir Juliet yang kotor.


Suasana hangat di antara mereka berdua terasa begitu kental penuh dengan kebahagiaan, Davien menikmati pemandangan mereka berdua sembari menyangga kepala di atas meja dengan salah satu tangan. Terulas senyum tipis saat melihat Juliet menolak ibunya yang mencoba membersihkan sisa makanan dan menyuruhnya minum. Tetapi setelahnya pandangan Davien tertuju ke Bunga, terus fokus ke perempuan itu. Melihat tawanya mengingatkan Davien pada momen mereka dulu yang sudah berlalu.


Bagi Davien tidak ada yang berubah sedikit pun dari perempuan itu. Baik mata, bibir dan juga senyumnya. Bunga masih selalu menawan di matanya mungkin saat ini perempuan itu terlihat jauh lebih berkarisma, bisa jadi karena adanya Juliet atau karena telah bertemu lagi dengan Davien.


“Cantik!” gumamnya tanpa sadar, bibirnya tiba-tiba berucap sesuai dengan apa yang terlintas dan terekam di otaknya.


“He? Kau bilang apa?” Bunga menoleh karena dia tak begitu jelas mendengar ucapan Davien. Tapi yakin kalau lelaki itu sepertinya mengatakan sesuatu.


“Uhm... tidak ada. Aku hanya bilang habiskan makananmu sebelum dingin!” Davien gugup, seketika mulai kembali fokus dengan makanannya.


Sejak tadi Juliet secara diam-diam memperhatikan mereka. Setelah pertemuan pertama mereka di depan sekolah sikap Davien yang dianggap tak biasa membuat Juliet semakin penasaran. “Paman?” sahut Juliet di tengah perbincangan mereka.


“Ya, kenapa Julietku?” seperti biasa, Davien menanggapi dengan panggilan Juliet dengan mengarahkan semua perhatian disertai senyum lebar yang menghiasi bibirnya.


“Apa paman berniat mengencani ibu?” ucap Juliet secara tiba-tiba.


Bunga yang tengah makan langsung tersedak, sementara Davien terdiam sesaat sebelum lamunannya ter buyarkan oleh suara batuk.

__ADS_1


Uhuk!


__ADS_2