
Beruntung hotel dimana Roland membawa Bunga pergi adalah hotel di mana dulu David pernah mengikuti Aileen ketika menemani Kenzi saat datang ke Paris untuk menemuinya. Mengingat bahwa David memiliki saham di sanan Davien dengan mudah bisa mendapatkan kartu akses masuk ke dalam kamar.
Kini Davien tengah menggunakan jasnya untuk menutupi tubuhnya, kemudian bergerak duduk di tepi ranjang. Tangannya membelai lembut rambutnya.
"Bunga, , ada aku di sini. Sekarang kamu sudah aman" ucapnya dengan lembut.
Pandangannya mengamati Bunga yang masih sesunggukan sambil menyembunyikan wajahnya dari Davien.
Bunga tak tahu harus bagaimana ketika memperlihatkan wajahnya yang sangat menyedihkan saat ini. Dia benar benar merasa sangat malu sampai tak berani mengangkat wajahnya menghadap ke arah Davien.
Laki laki itu masih memandanginya dengan memebelai lembut rambutnya.
"Bunga?"
Bunga tak bergeming, dia hanya diam meringkuk menyembunyikan wajahnya. Dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri.
"Aku akan membawamu pulang"
Bunga mulai menggerakkan tubuhnya mengubah posisinya duduk di atas ranjang. Menunduk membiarkan rambut yang tergerai menutupi wajahnya.
Davien merapihkan rambutnya kebelakang telinga bersamaan dengan itu Bunga menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Bunga, "
"Jangan melihat ke arahku!!" suaranya terdengar parau. Sisa isakan tangis masih mewarnai suaranya yang sedikit serak.
Ketika Davien menarik paksa tangannya yang sedang menutupi wajah, Bunga memalingkan wajahnya dari laki laki itu. Kemudian Davien menggunakan salah satu tangannya merangkup pipinya dan meminta perempuan itu menghadap ke arahnya. Retapi Bunga terus mencoba menghindar.
"Bunga lihat aku!," Davien akhirnya memaksa perempuan itu menghadap ke arahnya. Matanya rerlihat sembab memerah hampir mulai membengkak di bagian kelopak matanya. Pandangannya menurun dan tepaku di bibir Bunga. Ekspresi wajahnya tak terbaca ketika melihat bibir Bunga memerah dan sedikit membesar karena Roland telah menciumnya secara kasar dan paksa.
Dabien menghela nafas panjang sementara rahangnya menguat ketika menggertakkan giginya menahan amarah. Davien mendorong tubuhnya mendekatkan wajahnya kemudian mengecup ujung kepalanya yang sudah tertunduk kembali. Setelahnya Davien menyandarkan kepalanya di sana lalu berucap dengan lembut.
"Maaf, , seharusnya aku datang lebih awal"
"Tidak perlu minta maaf ini bukan salahmu" Bunga menjauh dari Davien kemudian beranjak berdiri dari ranjang melewati sisi lain.
"Terima kasih karena sudah menolongku" Bunga menyembunyikan wajahnya dari Davien. Selalu menunduk menghindari tatapan matanya. Merasa tak sanggup melihat ke arah laki laki itu karena merasa sangat malu dengan keadaan dirinya saat ini.
"Maaf sudah merepotkanmu, aku harus pergi Davien. Aku akan mengembalikan jas ini nanti" Bunga melangkah menuju pintu kemudian keluar dari kamar. Dia tak sanggup lagi melihat Davien di saat seperti itu dengan keadaan dirinya yang sangat menyedihkan.
__ADS_1
Sementara Davien terdiam sesaat menghela nafas panjang menikmati rasa sakit bercampur jengkel yang melingkupi hatinya. Davien menenangkan perasaannya sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar mengejar Bunga.
♡♡♡
Perempuan itu tengah berjalan melewati lobi. Kedua tangannya mencengkeram erat setiap sisi jas yang menutupi tubuhnya agar tak terlepas.
Namun tiba tiba dari arah belakang Davien meraih lengannya, menarik paksa Bunga agar mengikutinya.
"Davien??" gumamnya.
"Ikutlah denganku, jangan membantah!" perintahnya dengan nada berat. Sebuah mobil hitam miliknya telah standbay di depan halaman lobi. Davien membuka pintun kemudian memaksa Bunga masuk ke dalam.
"Davien aku"
"Jangan membantah!, aku sedang tidak ingin bernegosiasi denganmu!" Davien menatapnya tajam. Seolah memperlihatkan kepada Bunga bahwa dia kali ini memang tak bisa memenuhi keinginannya.
Bibirnya terpaku ketika menatap Davien yang sedang melihat ke arah wajahnya. Bunga mengalihkan pandangannya menghindari tatapan matanya, dia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk manis sesuai dengan keinginan laki laki itu.
Davien menuntup pintu setelah Bunga masuk ke dalam, berjalan ke sisi lain untuk masuk dan segera mengemudikan mobilnya pergi dari tempat itu
♡♡♡
Davien sesekali menoleh, menatap ke arah Bunga.
Bunga sadar bahwa laki laki itu sedang melihatnya dia lebih memilih menghindar dan tak menghiraukannya.
Davien akhirnya kini lebih memilih fokus ke arah jalan. Mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju ke apartement milik Bunga.
Tak lama mobilnya terlihat masuk kemudian berhenti di halaman lobi. Bunga terdiam sementara tangannya sudah memegangi sabuk pengaman yang melekat di dadanya.
"Davien" ucapnya dengan lirih. Pandangannya terlihat kosong ketika menatap ke depan.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tetapi, , , aku benar benar sangat berterima kasih" Bunga menghela nafas panjang. Melepas sabuk pengaman kemudian.
Davien menatapnya dengan lembut, seakan belum bisa melepas Bunga sendirian di apartementnya.
"Kamu baik baik saja?" dia berusaha mengulur waktu agar Bunga berlama lama di sana.
Bunga menganggukkan kepalanya perlahan.
__ADS_1
"Aku tak sengaja mendengar percakapan teman temannya di club" Davien memulai percakapan.
Perempuan itu kini berani memalingkan wajahnya ke arah Davien.
"Club??" Bunga seakan tak suka saat mendengar Davien menyebut tempat itu.
"Kamu pergi ke tempat semacam itu?, untuk apa, dengan siapa? apa yang kamu lakukan di sana" tatapannya menyelidiki raut wajah Davien. Bunga lepas kendali hingga tak sadar saat ini perempuan itu terlihat seakan khawatir dengan Davien yang sepertinya selalu bersenang senang di tempat itu.
Wajahnya terpaku ketika sadar bahwa tak seharusnya dia mengkhawatirkannya.
Laki laki itu tersenyum tipis. Merasa sangat senang ketika Bunga melontarkan berbagai pertanyaan kepadanya. Tahu bahwa Bunga mengkhawatirkannya.
"Kenapa?, , kamu tak munyukainya? kamu tidak senang aku pergi ke tempat semacam itu?" dia mengangkat kedua alisnya secara bersamaan.
"Ee aku, ," jantungnya berdegup kencang.
"Jika tebakanku benar maka aku tak akan pergi ketempat semacam itu lagi" sahutnya memotong pembicaraan.
Bunga merona, merasa senang ketika Davien bereaksi ketika mendengar ucapannya. Akan tetapi Bunga berusaha mengontrol perasaannya dengan baik.
"Ikutlah denganku pulang ke rumah" lanjutnya.
Dengan cepat Bunga kembali memalingkan wajahnya menatap Davien. Jantungnya semakin berdetak kencang tak karuan mendengar berucapnya.
"Aku akan mengurusmu" pandangannya beralih ke bibir Bunga. Bibir mungil itu masih sedikit memerah namun tak seperti awal saat Davien menemukannya.
"Tidak perlu Davien, aku bisa mengurus diriku sendiri" Bunga semakin merasa malu, ketika mengingat kejadian buruk yang sebelumnya terjadi kepadanya.
"Aku benar benar sangat berterima kasih karena kamu datang di waktu yang tepat. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Tapi aku pastikan aku akan bersikap baik mulai saat denganmu untuk membalas semuanya" perempuan itu menganggukkan kepala sebelum melangkah keluar.
"Bunga!" Davien berucap untuk menghentikan perempuan itu.
"Terima kasih Davien" Bunga menutup pintunya, sesaat terdiam sejenak sebelum melangkah masuk menuju pintu lobi maninggalkan Davien.
Laki laki itu hanya bisa diam, terus berfikir apa yang membuat Bunga selalu mencoba untuk terus menolaknya. Dia sadar memang dari awal telah memperlakukan Bunga dengan buruk, tetapi Davien sudah berusaha keras mencoba untuk memperbaikinnya. Davien menghela nafas panjang melegakan dadanya yang terasa sakit ketika mengingat kembali bahwa Bunga selalu menolaknya.
Keningnya berkerut halus ketika harus memikirkan hal itu yang selalu mengganggu pikirannya.
Kini Davien memilih menyalakan mesin mobilnya lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang masih terasa perih.
__ADS_1