
Waktu menunjukkan pukul dua siang, selepas pulang sekolah David masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruang keluarga.
Dia duduk di sofa dan menaruh tasnya begitu saja.
Setelahnya anak itu meraih laptop yang ada di atas meja.
Dia membuka sabuah situs dan mengetik 'pont des arts' di sana.
Beberapa detik kemudian dia melihat gambar gambar yang berkaitan dengan tempat itu.
Matanya nampak menyelidik ke arah sebuah gambar jembatan yang terpampang di layar laptopnya.
"Mas David sudah pulang?" Lilis berjalan dari arah dapur, perempuan itu mengambil tas milik David dan mengembalikan pada tempatnya.
Lilis merasa penasaran dengan apa yang sedang di lihat oleh David, karena anak kecil itu nampak terlihat sangat fokus ketika memandangi laptopnya.
Lilis pun memutuskan untuk mendekati anak itu.
Matanya menyelidik ke arah gambar dan David secara begantian.
"Mas David kenapa melamun sambil melihat gambar itu?, , memang ada yang aneh ya?"
David memalingkan wajahnya ke arah Lilis, tatapan matanya terlihat malas ke arah perempuan itu.
"Mbak Lilis kenapa si, selalu ingin tahu urusan orang. Mending sekarang buatin aku makanan. Perutku lapar" David mengusap perutnya.
"Iya sayaaanng!, , Mbak Lilis buatin makanan dulu ya" ketika Lilis ingin beranjak dari sofa, matanya masih berusaha melirik ke arah layar laptop itu.
Ketika David keluar dari sebuah situs, layarnya memperlihatkan foto laki laki di sana. Dan mata Lilis pin membulat lebar.
Dia mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur dan memilih kembali duduk di sofa.
"Mas David!" teriaknya.
"Apaan si Mbak Lilis!" ucap David yang terkejut karena perempuan itu ternyata masih berada di sana.
Tangannya bergerak cepat menutup layar laptop.
Lilis menatap mata David dengan lekat.
"Mas David dapet dari mana foto itu?"
"Foto apaan sih Mbak? foto jembatan tadi?" David seolah sedang bersikap acuh ke pada Lilis. Padahal dia tahu kalau perempuan di sampingnya itu sedang membicarakn foto Barack yang sempat dilihatnya tadi.
"Mas!!, , " ucap Lilis dengan penuh harap.
"Mas David tahu siapa dia?" Lilis mencoba menebak bahwa selama ini seperti dugaannya, kalau David sudah mengetahui siapa Ayah kandungnya.
Karena sempat beberapa kali dirinya memergoki ada foto Barack di laptop David.
"Kalau aku tahu kenapa?"
Lilis pun tak bisa menahan tangisnya ketika, anak kecil itu bisa menahan persaannya dengan sangat baik. Bahkan dia tak pernah memperlihatkan kesedihan di depan Orang tuanya.
Lilis memeluk tubuh David dengan erat dari arah samping. Air matanya tak terbendung lagi.
Bagaimana bisa anak kecil itu menahan rasa sakit di dalam hatinya sendiri tanpa berbagi kepada orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Kenapa jadi malah kamu yang nangis Mbak" David mengusap pelan rambut Lilis, seolah dia sedang memberi ketenangan ke pada perempuan itu.
"Kalau Mamah tahu, dia pasti akan marah besar Mas. Jadi mending fotonya di hapus saja" Lilis melepas pelukannya dan mengusap pipinya yang basah
David tahu kalau sampai Luna melihat foto Barack di laptopnya pasti perempuan itu akan marah besar.
"Oke!, , lagi pula aku sudah tidak membutuhkan foto ini lagi" David pun menghapus semua foto Barack yang tersimpan di laptopnya.
Lilis nampak tak percaya kalau anak kecil itu dengan mudahnya menghapus foto itu.
"Kenapa?, , kenapa kamu malah menatapku seperti itu?" David tak maslah kalau harus menghapus foto itu, karena baginya kini dia bisa dengan mudah melihat Ayahnya. Jadi dia tak membutuhkan foto itu lagi.
♡♡♡
Luna membenamkan punggungnya di dinding sofa, kini dia menghela nafas panjang untuk menetralkan pikirannya yang kacau.
Perempuan itu sudah menghabiskan berlembar lembar kertas di sana. Beberapa kali dia mencoba mendesain gaun baru untuk Barack namun, ide yang briliant tak kunjung datang hinggap di benaknya.
Luna meletakkan kertas dan pensil di sampingnya. Merasakan putus asa ketika tidak bisa menggambar saat itu juga
Otaknya buntu dan tak bisa bekerja dengan baik.
"Apa yang harus aku lakukan?? kerja kerasku selama berbulan bulan saja di tolak. Apa lagi ini, yang hanya dalam hitungan jam. Bagaimana bisa aku menyelesaikannya dengan sangat sempurna"
Dengan berat hati Luna mengambil kembali selembar kertas dan pensil yang ada di sampingnya.
Sejenak dia terdiam sebelum mendesain lagi.
♡♡♡
"Aku juga tidak tahu! semuanya terjadi begitu cepat. Hingga aku tidak bisa menolaknya" Barack meraih secangkir kopi dan menyesapnya perlahan.
Malam itu di pesta, Luna nampak sangat marah wajahnya tak bisa menyembunyikan seberapa besar rasa kekecewaan yang dia rasakan ketika melihat kalung yang berada di leher Helena sama persis dengan kalung yang Barack berikan padanya.
"Bagaimana bisa kalung yang sama juga berada di lehernya"
Luna berusaha untuk bersikap biasa seolah tak merasa terjadi apa apa. Namun dadanya terasa sesak ketika melihat kalung yang menggantung di leher Helena sama persis dengan kalungnya.
"Lalu, apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Luna seolah sedang menunggu Helena untuk memberitahu maksud dari sikapnya setelah memamerkan kalung itu.
"Apa kamu tidak penasaran kenapa aku juga memiliki kalung yang sama denganmu!" senyum Helena nampak sangat menjengkelkan saat itu. Dia seperti dengan sengaja ingin membuat Luna marah.
Dari kejauhan Barack yang sedang mengambil segelas minuman untuk Luna pun melihat ke arah Istrinya yang sedang bercakap dengan Helena dengan ekspresi wajah yang nampak terlihat menegang.
Barack pun mengurungkan niatnya untuk memberikan minum itu kepada Luna dan meletakkan kembali gelasnya ke tempat semula. Kini Barack berjalan melangkah mendekat ke arah mereka berdua.
Ujung mata Luna melirik ke arah Barack yang sedang berjalan mendekatinya. Perempuan itu nampak dengan susah payah nenahan emosi yang mulai mencuat dari dadanya.
"Luna?, , kamu kenapa?" Barack memandang ke arah Luna dengan tatapan mata menyelidik.
Perempuan itu hanya diam, dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Barack bisa menebak bahwa Luna sedang tidak dalam moodnya dari raut wajah Istrinya yang terlihat sangat marah saat itu. Namun dia merasa bingung kenapa Luna bisa berubah dalam sekejap.
"Helena??, , apa yang terjadi? apa yang kalian bicarakan sebelumnya hingga Luna tak menghiraukanku!" Barack akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Helena.
"Aku tidak membicarakan apa pun dengannya" Helena seolah bersikap cuek.
__ADS_1
Hingga membuat Luna menatap ke arah perempuan itu dengan sengit.
"Luna?" Barack berucap dengan nada memohon. Tangannya bergerak meraih lengan Istrinya dengan lembut.
Akhirnya Luna mengalihkan pandangannya ke arah Barack.
"Kamu juga membelikan kalung itu padanya?" Luna berbisik kepada Barack, namun penuh dengan penekanan di nada bicaranya.
Barack melihat ke arah kalung yang berada di leher Helena.
"Aku tidak tahu kalau Helena membeli kalung sama denganmu" Barack berusaha menjelaskan kepada Luna kenapa bisa kalungnya sama dengan kalung yang juga di pakai oleh Helena.
"Helena!! ini bukan waktunya untuk bercanda!!" Brack berucap pada perempuan itu, berharap Helena akan menjelaskan yang sebenarnya.
Helena terkekeh kemudian setelah melihat raut wajah sepasang Suami Istri di depannya itu menegang.
Luna nampak kesal dia ingin sekali pergi dari pesta malam itu, namun Adrian yang baru saja datang langsung bergabung dengan mereka bertiga dan menenangkan Luna.
"Dia memang suka bercanda" ucap Adrian merujuk kepada Helena. Laki laki itu seolah tahu apa yang sedang terjadi sebelumnya di sana. Adrian sedari tadi ternyata telah mengawasi mereka bertiga dari kejauhan.
Barack menatap ke arah Adrian dengan tajam dia nampak tak menyukai kedatangan laki laki itu di antara mereka.
Luna pun mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu karena merasa tidak enak dengan atasannya yang baru saja datang.
"Maaf Luna aku hanya bercanda, lagi pula Barack tidak mungkin membelikan kalung ini untukku. Jadi sebenarnya kemarin waktu aku bertemu Barack di galeri, aku duluan yang melihat kalung yang sekarang kamu pakai. Namun Barack terus memohon padaku agar memberikan kalung itu padanya. Dia juga bilang kalu akan memberikan itu sebagai hadiah permintaan maafnya karena sudah seharian membuatmu menunggu" sejenak Helana berhenti berucap, sengaja memberi waktu kepada Luna untuk berfikir.
"Maka dari itu aku sengaja memesan kalung yang sama denganmu. Dan aku tidak bermaksud untuk membuatmu cemburu, hanya saja tadi ketika melihat raut wajahmu yang nampak sangat cemburu dengan kedatanganku, aku semakin ingin membulimu" Helena kembali terkekeh dengan ucapnnya sendiri.
"Itu nggak lucu Helena!" Ucap Barack dengan nada jengkel.
"Jangan hiraukan dia Luna, Helena memang selaku bercanda. Jadi, , kamu sudah tidak marahkan?" Barack berucap dengan nada menuntut ke pada Luna.
"Maafkan aku Luna" ucap Helena.
Luna terlihat lebih tenang ketika sudah mendapat penjelasan dari Helena tentang kalung itu yang sesungguhnya.
Kini Luna nampak menangkupkan ke dua bibirnya dalam dalam, seolah dia menahan rasa malu karena baru saja dia memperlihatkan sisi cemburunya di depan banyak orang.
"Maaf kalau aku mengganggu kalian, tetapi bisakah aku meminjam Luna sebentar" Adrian berucap dengan nada memohon kepada Barack.
Dia bermaksud mengajak Luna untuk menemui rekan kerjanya yang datang ke pesta itu.
Luna nampak ragu, pandangan matanya tertuju ke pada Barack, perempuan itu seakan sedang meminta ijin terlebih dulu kelada Suaminya.
Barack sebenarnya tidak ingin membiarkan Luna pergi jauh darinya namun, kini situasinya berbeda. Mau tidak mau dia menganggukkan kepala.
Dia memberikan ijin kepada Istrinya untuk ikut dengan Adrian menemui rekan kerjanya.
Adrian pun mempersilakan Luna untuk jalan terlebih dulu.
"Hmmmmm!! adakah di sini seseorang yang menjual es batu, hatiku serasa terbakar saat ini" Helena berucap untuk mengejek Barack.
Barack pun melirik sinis ke arah perempuan itu.
"Jangan mulai lagi!" ucapnya kemudian.
"Iya iya, lagi pula aku cuma bercanda kali" Helena memang selalu bersikap kekanak kanakkan namun, ketika sedang di ruang kerja dia nampak terlihat begitu serius.
__ADS_1
Barack sesekali melirik ke arah Luna yang tengah tersenyum ke pada rekan kerjanya. Malam itu Luna terlihat begitu sangat cantik di matanya.
Luna pun mengalihkan pandangan ke arah Barack, seolah dia tahu kalau Suaminya itu sedang menatap ke arahnya, hingga akhirnya mata mereka bertemu di sana dan saling melempar senyum satu sama lain.