Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#92 Sahabat


__ADS_3

Luna menatap sengit ke arah barack, seperti ada dendam kesumat diantara mereka.


"Kenapa dia malah duduk di situ? bukannya pergi!!" luna berbisik ke pada leo sambil melirik ke arah barack yang sedang duduk di sofa.


Leo tak menjawab, dia hanya melirik ke arah barack yang sedang menatapnya penuh rasa penasaran dengan apa yang baru saja di bisikkan oleh luna kepadanya.


Leo menelan ludahnya dengan susah payah.


Cici sadar kalau luna tidak menyukai keberadaan barack di ruang itu, makanya dia segera menghampiri luna dan menenangkannya.


"Kamu sudah baikkan?" ucapnya.


"Mm, , apa aku tidak sadar terlalu lama, hingga sepertinya banyak yang berubah denganmu" ucap luna dengan nada mengejek.


"Berubah?, , apanya?" ucap cici dengan penuh rasa penasaran.


"Tambah gendut" luna pun terkekeh.


"Oh ya, kenapa dia masih duduk di situ bukannya pergi dari sini?" tanya luna merujuk pada barack.


Tatapan cici menyelidik ke arah luna yang sedang melihat ke arah barack dengan sengit.


"Serius kamu tidak meningatnya?"


"Ingat lah!! dia kan laki laki yang aku ceritain ke kamu, yang mau di jodohin sama aku waktu itu" ucap luna dengan penuh keyakinan.


"Lalu, apa hubunganmu dengannya sekarang?" cici terus mendesak luna agar mengingat tentang dirinya dengan barack.


"Kami sudah tidak ada hubungan apa apa!" ucapnya ketus.


Mata cici mengerucut mengawasi setiap perubahan ekspresi pada wajah luna.


"Maksut kamu?"


"Yaaa, , waktu kemarin hari pernikahan kami kan dia lebih memilih pergi menemui klara aku memberinya dua pilihan antara mau bertahan denganku atau kembali sama perempuan itu dan dia lebih memilih meninggalkan aku sendiri di ruang make up, , makanya saat itu juga hubungan kita sudah berakhir, , dia pergi lalu aku tidak sadarkan diri, dan sekarang sadar sadar aku sudah di sini" ucapnya menjelaskan ingatan akan dirinya sebelum koma.


"Kamu tidak ingat kalau kamu koma karena kecelakaan?" ucap cici.


"Kecelakaan?" luna mengulangi kata itu dengan nada penasaran.


Cici melihat ke arah leo yang sedang menggeleng pelan ke padanya untuk tak memaksa luna mengingat kejadian sebelum dia koma.


Namun cici tak mau menghiraukannya.


"Iya, kamu terbaring lama di sini, karena kamu kecelakaan beberapa bulan yang lalu, dan barack itu sudah syah menjadi suami kamu, , jadi tidak ada acara dia pergi ninggalin kamu buat nemui klara, karena klara sekarang sudah bertunangan dengan leo" ucap cici dengan nada penuh penekanan, berharap sahabatnya itu mendapatkan kembali ingatannya.


"Apa kamu sudah gila!!, , mana ada aku nikah sama dia!" ucap luna dengan nada tinggi.


Barack bergerak mendekat ke arah cici, meraih pundaknya untuk tidak memaksa luna.


"Jangan memaksanya ci" ucapnya menenangkan.


"Tidak bisa!!" cici menghempaskan tangan barack yang ada di pundaknya.

__ADS_1


"Kamu dan barack sudah menikah lebih dari 4 bulan yang lalu, dan kamu juga sempat haaaa" cici kembali teringat akan ucapan barack kalau dia tidak boleh mengungkit kalau luna pernah mengandung.


Mata luna mengerucut ke arah cici.


"Ha apa??" tanyanya mendesak cici untuk meneruskan ucapannyaa.


"Ha, , honeymoon" ucap cici mencoba mengelabuhi luna.


"Aku?? honeymoon sama dia?, , serius kamu ci?" ucap luna sambil menunjuk ke arah barack yang berdiri di samping sahabatnya itu.


"Kamu ingat sama dia kan?? tapi kamu tidak ingat kalau dia suamimu?" cici terus berusaha mengembalikan ingatan sahabatnya itu.


Luna mengeleng cepat, dia seperti sedang berusaha memaksa otaknya untuk mengingat kembali semua ingatan tentang dirinya dan barack seperti yang di katakan oleh cici.


"Aku tidak ingat ci" ucap luna, nada bicaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya karena merasa kepalanya sedikit pusing saat berusaha mengingat semuanya.


Luna mendesis merasakan nyeri di kepalanya.


"Sudah cukup ci!, , biarkan luna istirahat dulu dia juga baru sadar dari komanya" ucap leo berusaha menenangkan.


Cici mulai cemberut.


"Istirahat apaan, selama ini dia tidur mulu apa itu kurang baginya?" gumamnya.


"Lebih baik kamu pulang, dari pada nambah masalah yang ada nanti luna bukannya cepat sembuh malah nambah darah tinggi karena kamu!" ucap barack sambil meraih pundak cici, menuntunnya ke arah pintu dan mengajaknya keluar dari ruangan.


"Ini lagi, aku kan lagi membantumu barack, kenapa kamu malah menyuruh aku pulang si!" ucap cici mencoba memeberontak kepada barack.


Barack menutup pintu.


"Habisnya aku gemes tahu!!, , masak iya dia hilang ingatan sama suaminya sendiri!!, sama leo aja tidak tuh, gimana ceritanya bisa begitu" ucap cici dengan kesal.


"Mungkin selama ini aku lebih sering memberinya rasa sakit ketimbang bahagia, jadi trauma di otaknya lebih memacu untuk mengingat kejadian yang di bencinya" ucap barack sambil bergerak duduk di kursi.


"Lalu dia dapat ingatan dari mana soal tadi, dia bilang katanya di hari pernikahan kalian, kamu lebih memilih meninggalkan dirinya untuk pergi menemui klara, hingga akhirnya dia pingsan dan ketika sadar dia telah mendapati dirinya ada di ruang itu, dari mana coba dia dapat ingatan itu" ucap cici dengan nada tinggi.


Barack nampak bingung mendengar penjelasan cici, pasalnya apa yang di katakan cici baru saja tidak pernah terjadi di dalam hidup luna.


"Kenapa kalian malah bertengkar di sini?" ucapan aryo seketika meracau pikiran barack, dia baru saja kembali dari kantin dengan membawa dua buah minuman di tangannya.


Memberikan salah satu botol minuman yang masih utuh kepada barack.


"Buatku mana?" cici menyodorkan tangannya untuk meminta minum ke pada aryo.


"Tidak ada, aku hanya bawa dua, yang ini sudah aku minum!! emangnya kamu mau minum bekasku?" ucap aryo dengan nada sewot.


Cici meraih dan mengambil alih botol minuman dari tangan aryo.


"Ini juga tidak apa apa" ucap cici sambil membuka tutup botol minuman itu dan menegugknya dengan pelan.


Aryo melamun melihat ke arah bibir cici yang mungil itu saat menempel di ujung botol di mana ada bekas bibir aryo yang sebelumnya telah lebih dulu menempel di situ.


Aryo menelan ludah dengan pelan. Baginya itu seperti sebuah ciuman secara tidak langsung.

__ADS_1


Cici menutup kembali botol itu, dan mengembalikan botol yang isinya masih tinggal sedikit kepada aryo.


Aryo nampak melamun ketika cici menjilat bibirnya sendiri dengan menggunakan indra perasanya. Melihatnya memaksa aryo untuk menelan ludah.


"Kamu kenapa?, , ko ngelihatinnya gitu?" ucap cici saat mendapati aryo tengah melihat ke arah mulutnya.


Aryo bergidik menyadarkan dirinya.


"Tidak apa apa"


"Tolong kamu antar cici pulang, biarkan luna istirahat" ucapnya sambil beranjak dari kursi dan membuka pintu lalu masuk kembali ke dalam ruang inap.


Cici dan aryo hanya saling melempar pandang dengan sengit.


♡♡♡


Ruangan kini kembali hening ketika barack masuk dan mendekat ke arah luna, dan duduk di bibir ranajang.


Luna hanya diam, meringkuk memeluk lengan leo, seolah tidak ingin berdekatan dengan suaminya itu.


Barack meraih tangan luna namun luna menarik tangannya dengan cepat sebelum barack berhasil menyentuhnya.


Tatapan mata luna juga terlihat waspada saat barack duduk di dekatnya.


"Aku tidak akan menyakitimu" ucapnya dengan lembut.


Berharap luna tidak akan menjauh dan mau menerima dirinya lagi.


Tangan luna semakin erat saat memeluk lengan leo. Matanya beralih melihat ke arah leo seolah meminta saran darinya kalau barack benar benar tidak akan menyakitinya.


Leo mengangguk pelan.


"Benar apa yang di katakan cici, kalian memang sudah menikah" ucapnya seketika.


"Dengar lun, barack akan membantumu mengingat kembali semua ingatanmu, , jadi jangan bersikap seperti ini" leo berucap seperti sedang berbicara kepada seorang anak yang selalu membangkang.


"Tapi"


"Percayalah padaku, , dia sudah tidak berhubungan dengan klara lagi, lihatlah" leo mengangkat jari manisnya dan memamerkan cincin tunangannya kepada luna.


Mata luna melebar, tangannya meraih tangan leo yang berada di depan matanya.


"Serius kamu sudah tunangan sama klara?" ucapnya tak percaya.


"Mm" leo mengangguk pelan.


"Lalu" pandangan mata luna berubah ke arah barack yang masih terus melihat ke arahnya dengan penuh harap.


"Aku tidak pernah lari meninggalkanmu di hari pernikahan kita"ucap barack memotong pembicaraan.


"Kemungkinan yang ada di ingatanmu itu, hanya sebuah mimpi?" tambahnya dengan nada meyakinkan.


Luna terdiam tak menjawab ucapan barack, namun dia yakin kalau yang di ingatannya itu bukanlah sebuah mimpi.

__ADS_1


●●●


__ADS_2