
"Aku tidak merindukanmu!!" Bunga menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Sementara Davien masih berusaha mengganggunya dengan terus mengikuti gerakan kepalanya ketika Bunga menghindari tatapan matanya.
"Hampir 30 panggilan tak terjawab darimu setiap hari!! ketika aku sedang rapat!!" Davien berhenti berucap, dia sedang menyelidik raut wajah Bunga yang terlihat semakin memerah.
"Kenapa kamu melakukan panggilan sebanyak itu??, kamu merindukanku bukan??" Davien menggunakan tangannya meraih dagu Bunga memeksa perempuan itu untuk menghadap kerahnya.
Bunga menengadahkan kepalanya, namun tak berani menatap mata Davien yang jauh lebih tinggi darinya.
"Lihat aku Bunga!!" Davien menelan ludahnya dengan susah payah ketika Kini wajah mereka saling berdekatan. Nafanya terasa hangat ketika menyapu permukaan kulitnya.
Bunga terdiam, bibirnya terpaku tak dapat berucap.
"Jika bukan karena ingin mendengar suaraku, lalu apa lagi yang kamu inginkan dengan menghubungiku sebanyak itu??hampir setiap hari setelah aku menginjakkan kakiku di Negara orang, ponselku tak pernah padan karena ulahmu" Davien berucap dengan lembut, bola matanya bergerak ketika secara bergantian memandangi kedua mata Bunga yang kemudian bergerak turun ke arah bibirnya.
"Karena, , , " Bunga seketika terdiam, bibirnya terasa kaku tak bisa berucap lebih jauh lagi.
"Karena apa??" Davien berusaha memaksanya untuk meneruskan kembali ucapannya.
"Kamu tidak mau mengakuinya!!"
Bunga berusaha dengan kuat mencoba mengendalikan perasaannya, tak bisa di pungkiri bahwa kenyataannya dia benar benar merasa sangat senang karena Davien telah kembali. Aroma wangi tubuhnya yang selama hampir 5 hari tak tercium olehnya itu kini dengan bebas bisa dia rasakan kembali. Ketika berada di dalam ruangan sempit hanya berdua dengan Davien, Bunga merasa gugup hebat. Jika saja di antara mereka tak ada batas yang memisahkan, .mungkin saat ini Bunga akan berlari dan memeluk tubuhnya erat.
Tetapi hanya dengan mengetahui jika laki laki laki itu baik baik saja, Bunga sudah merasa sangat bersyukur. Bunga berharap setelah kepulangan Davien dia bisa menahan perasaannya, tak ingin terjun terlalu dalam yang nantinya akan menyakitkan jika Bunga tak bisa menjangkau laki laki itu karena perbedaan status di antara mereka.
Bunga masih belum bisa merasa nyaman ketika di dalam hati, perasaannya kepada Davien masih terasa mengganjal.
Bunga kini memberanikan diri mentap matanya, dan ternyata laki laki itu sedang melihat ke arah tangannya.
Bunga teringat bahwa jarinya kini terdapat sebuah cincin yang melingkar di sana hadiah ulang tahun dari Davien. Tangannya bergerak ke arah belakang, menyimpan menyembunyikannya dari Davien.
"Kamu memakainya??" ucapnya merujuk kepada cincin itu.
"Apa maksudmu!, aku tidak mengerti!" Bunga berucap sembari menolah memalingkan wajahnya dari Davien.
Senyum tipis menghiasi bibirnya ketika mengetahui Bunga menerima hadiah pemberiannya.
"Cincin itu!" Davien berucap mengingatkan. Saat masih tak mendapatkan respon positif dari Bunga.
Bunga terlihat malu dan gugub. Manundukkan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Aku, aku hanya mencobanya!, , dan waktu mau aku lepas lagi ternyata tidak bisa!" ucapnya membela diri.
"Cincinnya tidak mau lepas dari jariku!"
"Benarkah??, tidak ada alasan lain?"
"Tidak!"
"Lalu kenpa dua hari terakhir kamu sama sekali tidak menghubungiku??" Davien merasa kehilangan ketika beberapa hari saat dia berada di Indonesia, Bunga telah berhenti untuk tak menghubunginya.
"Itu hakku Pres Dir!!" jawabnya tanpa rasa ragu.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan!, , kamu lah yang memaksaku melakukan ini!" Davien melangkah mundur ke belakang menjauhi Bunga. Pandangannya masih mengawasi ekspresi wajahnya sebelum berucap.
"Mulai besok selama satu minggu kamu harus membereskan rumahku!" ucapnya seketika sembari menahan senyumnya.
"Apa??" keningnya berkerut kasar hingga terlihat dalam di sekitar area mata.
"Itu sebagai hukuman yang aku berikan kepadamu karena telah berbohong!!" Davien bertolak pinggang satu tangannya, sementara satu tangannya memainkan bibirnya.
"Memang apa yang aku lakukan sampai harus memberiku hukuman!, , perasaan aku tidak melakukan kesalahan!" Bunga terlihat jengkel karena Davien mulai seenaknya saja memerintahnya.
"Ak" mengingat jika Davien akan menghukumnya semakin berat, Bunga seketika memaku bibirnya. Tak berani membantah lagi
"Hukuman macam apa ini?, , ya lakukanlah semaumu! mungkin ini yang terbaik untukku! memendam perasaanku sendiri itu jauh lebih baik!"
Pintu lift terbuka, Bunga segera melangkah keluar. Tetapi dengan sigap Davien meraih pinggang dengan salah satu tangannya sementara satu tangannya lagi telah merangkup rahangnya dengan jari yang menelusup di balik rambut coklatnya.
Tanpa aba aba laki laki itu seketika mengecup bibirnya.
"Kecupan untukmu sebelum mulai bekerja hari ini"
Bunga yang melemah hanya bisa menerima apa yang lakukan oleh Davien. Tubuhnya terpaku dadanya berdesir ketika Davien kini menciumnya. Dengan lembut dan penuh kehati hatian Davien memainkan bibirnya mencercap melum**nya.
Davien membuka matanya, ada guratan senyum tipis mewarnai raut wajahnya ketika mendapati Bunga tak menolaknya lagi.
Bunga selalu terhipnotis ketika Davien menyentuhnya, dia menggerakkan tangannya meremas kuat lengan jas, menikmati kelembutan ciuman yang diberikan oleh Davien. Seakan mengobati rasa rindunya selema beberapa hari ini karena tak bisa bertemu dengannya. Masa bodoh dengan semuanya, perasaan yang tadinya ingin menolak laki laki itu kini Bunga malah terjebak dengan ciumannya.
Davien memaku bibirnya ketika mendapati Bunga kini aktif dalam ciuman itu. Davien yang sedikit menundukkan kepalanya itu terlihat lebih pasif saat ini. Membiarkan Bunga menegambil alih ciumannya.
Kedua tangan Bunga perlahan bergerak naik hingga kini akhirnya telah merangkup rahang Davien di sisi kanan dan sisi kiri. Sementara tangan Davien berada di pingganganya. Mendorong tubuh perempuan itu agar semakin mendekat bahkan menempel ke tubuhnya.
__ADS_1
Tak sadar sejak dari tadi pintu lift yang sudah terbuka kini telah tertutup kembali.
"Masa bodoh dengan semuanya! aku benar benar sangat menyukai laki laki ini! menyukai aroma wangi tubuhnya, menyukai bibirnya, menyukai setiap apa yang dimiliki laki laki ini!"
Bunga yang masih memejamkan matanya terlihat tersenyum tipis ketika merasakan bahwa Davien saat itu juga sedang tersenyum lebar.
Dalam keadaan bibir yang masih berpagutan Davien kemudian berucap.
"Kini kamu semakin pandai" ucapnya merujuk kepada ciuman yang saat ini masih mereka lakukan.
Bunga melepaskan ciumannya kemudian. Tetapi Davien masih menyandarkan keningnya di kening Bunga. Mencoba menikmati sisa sisa ciuman terlama yang baru saja terjadi di antara mereka berdua. Nafas mereka masih memburu karena detak jantungnya yang meningkat cepat dua kali lipat dari biasanya.
Bunga membuka kedua matanya perlahan, menatap Davien yang tepat berada di depan matanya.
"Itu ciuman dariku sebagai rasa terima kasih karena telah kembali dengan selamat" Bunga terdiam sejenak, sebelum akhirnya kembali mencium Davien. kali ini ciuman itu terjadi dengan singkat.
"Dan ini ciuman untuk semangat mengawali pagi ini sebelum memulai perkejaanmu" pipinya merona, senada dengan bibirnya yang memerah karena sempat tadi Davien mencercapnya dengan kuat.
Bunga menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya ke dada Davien.
"Aku menyukaimu!" seakan tak menghiraukan apa yang akan terjadi nanti, Bunga akhirnya mengakui perasaannya. Tak ingin lebih tersiksa lagi menahan perasaannya terhadap Davien Bunga meluapkan apa yang dia rasakan semenjak kepergian Davien.
"Iya aku merindukanmu!!, , selama beberapa hari terakhir sengaja tak menghubungimu karena aku pikir percuma! yang aku dengar bukan suaramu tetapi suara James. Dan itu sama sekali tak mengobati rasa rinduku!" ucapnya dengan lirih, hampir tak terdengar jelas karena saat itu Bunga masih menyembunyikan wajahnya di dada Davien.
Laki laki itu terlihat menahan tawanya dengan tangan yang mengepal kuat dan di arahkan ke mulutnya. Ingin rasanya saat itu juga membawa Bunga pulang kerumahnya dan memberinya sambutan yang tak akan pernah Bunga lupakan. Tetapi Davien lebih memilih untuk menahannya dan sengaja memberinya pelajaran karena telah mempermiankannya.
Davien berdehem mentralkan perasaannya, berusaha keras memperlihatkan kepada Bunga bahwa dia tak semudah itu luluh dengan kata katanya. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam Davien bersorak gembira menyambut Bunga akhirnya menyatakan perasaannya.
Dengan sikap angkuh dan bijaksana Davien kembali berucap.
"Mendengar pengakuanmu bahwa kamu menyukaiku!! itu tidak lantas membuatku menarik kembali hukuman yang sudah aku berikan kepadamu!"
"Apa!" Bunga seketika menarik kepala, mendorong tubuhnya menjauh dari Davien. Pandangannya nampak menyelidik. Laki laki itu terlihat memamerkan ekspresi wajah yang tak terbaca.
"Ada apa dengannya!! selama ini getol mengejarku, tetapi ketika aku berusaha kuat menyatakan perasaanku kenapa dia seolah mengganggap bahwa semua ini tak penting!"
"Hukumanmu aku tambah, membersihkan rumahku, merawat dan melayaniku selama satu bulan penuh! tidak ada hari libur! dan tidak diperbolehkan pulang ke rumah!!" Davien berucap dengan nada tenang, ekspresi wajahnya terlihat sekali kalau laki laki itu benar benar sangat dengan kuat menahan tawanya.
"Apa??, , hukuman macam apa itu! bekerja ikut kompeni saja masih ada hari libur" Bunga terus mencoba melawan membela diri. Berharap Davien menyambut pengakuan cintanya namun apa yang terjadi justru malah sebaliknya.
Davien tertawa puas di dalam hatinya, sengaja memberi sedikit pelajaran kepada Bunga karena selama ini selalu mengabaikan perasaannya. Bukan karena ingin balas dendam tetapi lebih kepada arah menggemaskan ketika melihat Bunga jengkel hingga marah seperti anak kucing yang nakal di matanya.
__ADS_1