
Barack terlihat sedang berbincang dengan Satya, Helena dan salah seorang lain lagi. Dia adalah Pengacara terbaik yang dipilih Barack untuk mendampingi Ernest di pengadilan nanti. Mereka sedang membicarakan langkah selanjutnya untuk membuka kembali kasus kematian Felis yang menyeret nama Adrian.
Barack mengambil ponsel miliknya yang ada di atas meja. Dia terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Hallo, , Nathan? pastikan David telah dijemput oleh supirnya. setelah itu ikutlah denganku menjemput Ernest" Setelah menghubungi Nathan Barack memutuskan untuk pergi dari kantor.
"Satya kamu urus semuanya aku harus keluar untuk mengurus hal lain" Barack berusaha menetralkan perasaannya, dia berusaha membuat dirinya setenang mungkin.
♡♡♡
Barack menghentikan mobilnya di depan rumah. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam.
Dia sana Luna menyambutnya dengan hangat, perempuan itu sebelumnya telah mengintai dari layar intercom. Dia bersembunyi di balik pintu, dan setelah Brack masuk Luna langsung melompat ke arah tubuh Barack dari belakang.
Perempuan itu tertawa senang, dia berhasil mengejutkan Barack. Kini kedua tangan Luna melingkar di lehernya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di belakang pintu?" Laki laki itu terkekeh geli dengan sikap Luna.
"Mengejutkanmu!"
"Dan kamu telah berhasil membuatku terkejut Sayang!, , turunlah. Aku harus mengambil beberapa berkas di ruang kerjaku!" Barack berjalan ke arah ruang kerjanya, sementara Luna masih bertahan di gendongan.
"Mmm, , aku tidak mau" perempuan itu malah menghujani tengkuk Barack dengan kecupan bertubi tubi.
Barack memalingkan wajahnya untuk mempermudah melihat Luna yang berada di balik punggungnya.
"Kamu sedang menggodaku?" ucapnya dengan nada lembut.
Luna tak menjawab, dia masih terus mengecup tengkuk Barack dan kini kecupannya berpindah ke arah telinga, pipi hingga akhirnya bibir Barack menjadi tujuan terakhirnya. Perempuan itu ******* bibir bawah Barack yang tebal itu dengan sangat lembut.
Mata Barack masih terbuka, dia mengawasi wajah Luna yang sudah terlebih dulu menutup matanya.
Barack merasa kesusahan dengan posisi seperti itu, dia memutuskan untuk meletakkan tubuh Luna di atas meja yang terdekat dengan mereka. Kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Luna. Memposisikan diri berada di sela kedua kali Luna yang terbuka.
Tangan Barack merangkup kedua rahang Luna Luna yang mungil. Dia membalas ciuaman dari Luna. Memainkan lidahnya dengan lincah, Barack menyesap dengan kuat bibir Luna.
Tangannya bergerak perlahan meraih tengkuk perempuan itu, mendorong kepala Luna ke arahnya untuk memperdalam ciuman hingga membuat Luna membuka matanya lebar, tangannya menepuk pelan dada laki laki itu.
Barack pun menarik kepalanya menjauh dari Luna.
Nafas Luna terdengar kasar, perempuan itu sedang berusaha memenuhi dadanya dengan udara, setelah baru saja dia kehabisan nafas saat Barack menciumnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kamu!!" Luna kembali menepuk dada Barack. Dangan satu tangan lainnya mencoba meraba bibirnya yang terasa sakit karena Barack menyesapnya dengan sangat kuat hingga terlihat memerah dan membesar.
Barack hanya terkekeh melihat sikap Luna saat itu. Dia mengecup kening Luna kemudian.
"Sakit tahu, , malah tertawa!!" Luna menekuk wajahnya karena jengkel.
Barack tersenyum, kedua tangannya mengusap lembut bibir Luna yang membengkak.
"Kenapa kamu sangat lucu dan menggemaskan!, , lagi pula, bukannya kamu yang memulainya. Giliran aku membalas, kamu marah"
"Iya tapi ini sakit, biasanya juga tidak sesakit ini!!"
"Oke, , aku akan membantumu untuk menyembuhkannya" Barack meraih tengkuk Luna, kemudian mengecup bibir perempuan itu dengan lembut.
"Nanti pasti sembuh, , atau mau nambah lagi sekarang?" ucapnya dengan nada menggoda kepada Luna.
"Iiiihhhhh!!!, , " Luna menghujani laki laki itu dengan pukulan di dadanya.
Sementara Barack tertawa penuh kegembiraan.
♡♡♡
Dan tak sembarang orang bisa masuk ke dalam.
Barack mengemudikan mobilnya untuk menemui Natahn.
Dari sisi lain nampak sebuah mobil berwarna gelap mengikuti Barack dari arah belakang.
Mobil itu di lengkapi dengan kaca gelap senada dengan warna mobilnya, sehingga tidak terlihat siapa orang yang berada di dalam mobil itu.
Barack menghentikan mobilnya di sisi jalan, di sana Nathan tengah berdiri menunggu sebelumnya, dan kini laki laki itu masuk ke dalam mobil bersama dengan Barack.
Mereka pergi menuju rumah Anak buah Barack karena ingin menjemput Ernest. Mereka berencana untuk membawa Ernest ke kantor polisi, mungkin dengan dia berada di sana itu jauh lebih aman ketimbang di tempat lain.
Mobil sedan yang masih terus mengikuti Barack pun terus menjaga jarak agar tak terlalu dekat dengan mobil Barack hingga menarik perhatian mereka. Mobil itu terlihat sedang mengawasi Barack yang tengah keluar dari mobil.
Sebelumnya juga telah ada sebuah mobil yang berjaga di depan rumah Anak buah Barack dan sepertinya satu komplotan dengan mobil yang mengikuti Barack sejak dari rumahnya.
Barack masuk ke dalam rumah itu, setelah beberapa saat dia terlihat keluar dengan seseorang yang mengenakan hoodie dengan menutup bagian kepala dengan tudungnya.
Mobil yang terus mengawasi dari tadi akhirnya bergerak, mengikuti mobil Barack yang sedang menuju ke arah jalan utama.
__ADS_1
Mobilnya melaju dengan sangat kencang NNathan yang sedari tadi mengawasi arah belakang dari kaca sepion pun mengetahui kalau ada dua mobil yang mengikuti mereka.
Laki laki itu mengalihkan pandangannya ke arah Barack yang duduk kursi sebelah. Mereka saling bertatap mata, seolah tahu bahwa ada sesorang yang telah mengikuti mereka sejak dari tadi.
Di pertengahan jalan, salah satu mobil itu samakin mempercepat laju kendaraaannya, hingga berhasil menyalip mobil milik Barack.
Mobil itu membanting stirnya hingga membuat posisi mobilnya kini malang di tengah jalan dan menghadang mobil Barack.
Nathan terkejut hingga secara mendadak dia menghentikan mobilnya. Bermaksud untuk mundur mengambil ancang ancang untu menghindari mobil yang ada di depannya, tetapi mobil satunya lagi telah berhasil mengepung dari arah belakang.
Hingga kini mobil yang Barack tumpangi tak bisa bergerak.
Barack dan Nathan hanya saling melempar pandang. Sebelum akhirnya ujung mata mereka tertuju ke arah pintu mobil yang terbuka.
Mata Barack mengerucut ke arah Adrian yang sedang melangkah keluar dari mobil. Laki laki itu tengah berjalan mendekat dan berdiri depan mobil Barack.
Tangan Barack bergerak meraih tombol sabuk pengaman dia bermaksud ingin membukanya.
"Aku akan keluar" ucapnya.
"Tunggu!!" Nathan terlihat sedang menyelidik ke arah Adrian yang berdiri dengan sangat tenang di depan sana.
"Dia memiliki senjata!, , dan kamu??, , tangan kosong? dia bisa saja menlukaimu"
Barack menatap mata Nathan dengan ekspresi wajah yang tarbaca. Jika memang dia harus mati setidaknya harus memastikan kalau Luna dan Davud akan hidup dengan aman. Tetepi kalau dia mati dengan konyol itu malah akan menambah pendiritaan bagi Luna dan Putranya.
Tangan Nathan bergerak meraih sebuah pistol dari belakang punggungnya dan mengarahkan benda berat itu ke arah Barack.
Barack tak pernah berfikir untuk menyentuh benda itu sebelumnya. Karena selama ini hidupnya sangat damai dan tentram hingga akhirnya dia harus berurursan dengan benda itu hanya karena orang yang kini masih berdiri di depannya.
"Keluarlah!!, , sampai kapan kamu akan membuatku menunggu seperti ini?" Adrian berteriak ke arah Barack yang masih barada di dalam mobilnya.
Nathan menatap wajah Barack yang terlihat meragu ketika matanya terarah ke pistol di tangannya.
Dia seolah tidak yakin Barack bisa melakukannya.
"Lupakan!!, , aku akan ikut denganmu!!, , ayo" Nathan meraih pistol dari tangan Barack dan menyimpannya kembali ke arah belakang tubuhnya, dia memutuskan untuk turun dari mobil untuk melindungi Barack.
Mereka berdua akhirnya turun dari mobil, dengan perlahan berjalan mendekat ke arah Adrian yang sedang menyeringai dengan senang di sana.
Kini mereka bertiga sedang bertatap mata dengan pandangan saling menyelidik satu sama lain.
__ADS_1