Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#46 Memilih salah satu


__ADS_3

 


Setelah sampai di depan galeri klara, barack segera mematikan mobilnya.


 


Sesekali klara melirik ke arah barack yang sedari tadi hanya diam saja di sepanjang perjalanan.


"Kamu sedang memikirkan apa?" kata klara menocaba memecah keheningan di dalam mobil.


", , "barack hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan klara.


Klara terus mencoba untuk mengajak barack berbicara.


"Owh ya, sandi apartement kamu, yang baru aku boleh tahu tidak? bukannya kamu sudah menggantinya?" tanya klara lagi.


Barack masih saja diam dan sesekali melihat ke arah klara sambil menghela nafas dengan pelan.


"Kamu kenapa sih? semenjak aku datang ke mari, sikap kamu berubah, kamu tidak pernah menghubungiku dulu, kamu tidak pernah menemuiku sebelum aku memintanya, kamu juga menemaniku setelah aku meminta itu, kamu tidak pernah berinisiatif terlebih dulu, seperti kamu yang waktu itu, jaman dimana kita masih duduk di bangku sma, sikap kamu, perhatian kamu, perilaku kamu, semuanya berubah, , , apakah karena aku menolak ajakan mu untuk menemui kedua orang tuamu?, , atau karena ada orang lain?" kata klara sambil meraih tangan barack dan menggenggamnya.


Barack hanya diam dan terus memandang ke arah klara, terlihat sekali di wajah klara bahwa dia berharap penuh, agar barack kembali seperti dulu kepada klara.


"Aku sedang tidak ingin membahas masalah itu, kamu masuklah, dan segera istirahat" kata barack sambil melepaskan tangan klara.


Dengan terpaksa klara keluar dari mobil barack, lalu dia pun menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan klara yang masih terus berdiri sambil melihat ke arahnya.


Klara berjalan perlahan menuju pintu masuk, di raihnya gagang pintu kaca galeri miliknya dan dia pun segera masuk ke dalam.


Dia meraih saklar untuk menyalakan lampunya dan dia telah mendapati leo yang sedang duduk di atas sofa.


Klara pun hanya diam dan melewati leo yang terus menatap ke arahnya.


"Kamu masih berharap kepadanya?" tanya leo.


Klara pun menghentikan langkahnya.


Sekilas klara hanya diam saja mendengar perkataan leo.


"Aku tidak bisa hidup tanpa dia" kata klara.


Diapun kembali berjalan menuju ke arah dalam galerinya.


Leo pun menarik tangan klara, dan menggenggamnya dengan erat.


"Ayolah, , jangan munafik kamu, kamu tahu kan kalau dia sudah tidak bisa kembali padamu?, , kamu juga tahu kan kalau sudah ada wanita lain di hatinya" kata leo.


"Cukup! cukup! cukuuuupppp!!!!" klara berteriak sambil menutup kedua telinga dengan tangannya. karena dia tidak mau mendengar kata kata leo tentang barack lagi.


"Aku tidak mau mendengarnya, aku hanya ingin dia, aku hanya mencintainya, aku hanya butuh dia" kata klara kepada leo dengan mata yang sudah mulai berkaca kaca.


"Lalu kenapa kamu dulu meninggalkan dia?" kata leo.


"Aku pergi karena mengejar cita citaku, namun waktu itu kamu menabrakku!, , kamu yang menolong tapi kamu juga yang sudah menabrakku!!! kalau kamu tidak menabrakku saat itu, sampai saat ini juga pasti aku masih akan terus bersamanya, semua ini gara gara kamu!, gara gara kamu!!" emosi klara meluap luap malam itu, dia terus melampiaskan amarahnya kepada leo sambil terus menangis.


Mendengar kata klara hati leo seperti di sambar petir pasalnya dia selama ini menyembunyikan kebenarannya, karena dia takut kalau klara mengetahui hal itu, dia akan semakin membenci leo.


"Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya leo memastikan.


"Aku mengingatnya, aku mengingat wajahmu sebelum kamu menabrakku! tapi aku aku hanya diam, berharap kamu akan mengatakannya dengan mulutmu sendiri" kata klara sambil terus menangis sesunggukan.

__ADS_1


"Kamu sudah mengingatnya?? Aku, , maaf, ,minta maaf klara" kata leo sambil meraih pundak klara.


"Pergi dari sini, pergi!!! aku tidak ingin melihat wajahmu lagi" kata klara sambil menepis tangan leo yang ingin menyentuh pundaknya.


Leo pun menarik tangan klara dan menarik tubuh klara ke dalam pelukannya. Dia terus memeluk klara dengan erat.


Namun klara berusaha melepas pelukan leo, akan tetapi kekuatnnya tidak ada sejumput jumputnya dengan kekuatan lengan leo yang dengan erat memeluknya.


Klara terus meronta ronta di oelukan leo.


"Aku minta maaf, aku benar benar tidak sengaja saat itu, aku mohon tenanglah" kata leo meraih kepala klara dan membelainya dengan lembut, dia terus berusaha menenangkan klara saat itu.


Klara yang tadinya terus mencoba berusaha melepas pelukan leo pun akhirnya luluh ke dalam pelukan leo.


Namun tiba tiba tangannya jatuh seperti kehabisan tenaga.


Dan leo mendapati tubuh klara melemas saat itu juga, dan ternyata klara sudah pingsan di pelukannya.


Saat di perjalanan menuju rumah luna, di dalam mobil aryo, cici mendapat telepon dari seseorang.


drreeet drreeet, , ponsel cici bergetar.


Dia melihat ke arah layar ponselnya, kemudian melirik ke arah luna dengan wajah sedikit ketakutan, dan mengangkat telepon itu.


"Hallo" kata cici menjawab telepon itu dangan nada lirih.


"Aku masih di jalan , , sekarang??, , oke oke aku akan segera kesana" cici mematikan teleponnya.


"Siapa ci? ko ngumpet ngumpet begitu jawabnya?" tanya luna.


"Hanya teman, biasa pengen ketemu mau ngajak ngobrol, oh ya yo, aku berhenti di sini ya" kata cici dengan wajah sedikit pucat saat itu.


"Serius kamu mau turun di pinggir jalan? apa kita antar saja ke tempat teman kamu itu?" kata luna yang merasa khawatir dengan cici.


"Tidak usah tenang saja, lagi pula sudah dekat kok, kalian pulang saja dulu" kata cici sambil turun dari mobil.


"Lagi pula siapa sih teman kamu itu? kok aku tidak memberi tahuku?, teman kamu yang mana?" kata luna mencoba menghujani cici dengan berbagai pertanyaan.


"Nanti aku ceritakan, kalian pulang saja dulu ya" kata cici dia pun menutup pintu mobil.


Dengan segera aryo melajukan mobilnya kembali dan meninggalkan cici.


"Bukanya kalian sahabatan ya, kok kamu tidak tahu siapa temannya?" tanya aryo.


"Aku juga tidak tahu, teman yang mana!, biasanya dia memberi tahu aku kok, , siapa ya?" luna mulai bertanya tanya.


Di sebuah kafe, di deretan tempat duduk depan bartander terlihat sosok laki laki yang tidak asing bagi cici sedang menikmati segelas minumannya.


"Hei?!" kata cici sambil menepuk pundak laki laki itu, dan saat menoleh ke arah cici yang baru saja datang, terlihat wajah barack sudah sedikit memerah karena minumannya.


"Kamu kenapa menyuruh aku datang ke sini? biasa juga cerita lewat telepon?" kata cici.


Barack memang selalu bercerita kepada cici semenjak dia tahu kalau dia di jodohkan dengan luna, dia merasa kalau cici bisa mendengarkan ceritanya.


Selain kepada cici kepada siapa lagi dia bisa bercerita, bahkan orang tuanya saja tidak mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Kamu kenapa lagi? kamu mabuk ya?" tanya cici melihat wajah barack yang memerah.


", , " barack tidak menjawab.

__ADS_1


"Kenapa menyuruhku kemari?" tanya cici.


"Beri tahu aku, bagaimana aku harus bersikap? aku tidak ingin kehilangan luna, tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya kepada klara agar tidak menyakiti perasaannya?, beri tahu aku bagaimana caranya?" kata barack sambil sesekali menegug minumannya.


"Berfikir realistis saja deh, kamu tidak bisa memiliki kedua duanya secara bersamaan, kamu harus pastikan dulu kemana arah perasaanmu itu? kamu tidak ingin kehilangan luna, tapi kamu takut menyakiti perasaan klara, kamu tidak memikirkan perasaan luna? kamu juga harus memikirkan perasaan mu sendiri, kalau kamu terus seperti ini, yang ada mereka berdua akan terus tersakiti! kamu harus memilih salah satu, tapi kamu juga harus mau kehilangan salah satu di antara mereka" kata cici terus meyakinkan barack.


"Aku, , tidak ingin kehilangan luna" kata barack sambil terus menegug minumannya.


"Ya sudah, bilang dan jelaskan sama luna! yang pasti dia juga menunggu kepastian darimu, dai awal kalau kamu tidak menyukainya, harusnya bilang, jangan hanya diam dan selalu membuat dia salah paham " kata cici.


"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan semua ini pada klara, aku tidak ingin menyakiti perasaannya" kata barack.


"Haaaaaaaah, , ke situ lagi ke situ lagi, sepertinya percuma saja aku bilang sama kamu tadi panjang lebar! kalau kamu takut menyakiti perasaan klara selamanya kamu akan stuck di situ situ saja, dan tidak akan pernah maju selangkahpun, yang ada kamu akan kehilangan luna, atau malah ke duanya" kata cici terus meyakinkan barack.


Terlihat barack menghabiskan minumannya dengan sekali tegug.


Barack hanya diam dan terus berfikir, apa yang harus dia lakukan agar semuanya tidak ada yang tersakiti, namun barack tahu kalau semua itu tidaklah mungkin.


Dia harus memilih salah satu diantara luna, atau klara.


Cici mencoba membuang pandangannya ke arah sekitar, sambil terus berfikir bagaimana caranya mayakinkan barack agar bisa memilih salah satu.


Pasalnya klara adalah cinta pertamanya di masa lalu dan dia tidak bisa mengabaikan perasaan klara begitu saja sedangkan luna adalah orang yang selalu mengisi kekosongan di hati barack dan selalu menemani hari harinya.


Cici pun melirik ke arah barack, namun dia mendapati tubuh barack sudah jatuh tersungkur di lantai.


Dia segera membangunkan barack namun barack sudah tidak sadarkan diri.


"Aduuuhh, kenapa malah pingsan segala lagi, kalau aku antar pulang, , tapi tidak tahu tempat tinggalnya, kalau aku telepon luna, nanti dia salah sangka lagi, haaadduuuhhh, bagaimana ini, sudah lah, aku telepon luna saja, masalah dia mau membunuhku pikir nanti saja" kata cici mencoba mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Di rumah luna, dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, dia mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk, dirasa masih basah rambutnya maka luna mengambil hairdryer di dalam laci, dan memakainya untuk mengeringkan rambutnya lagi.


Sesekali nampak luna sedang meregangkan otot otot lehernya yang terasa kaku.


Sekilas dia teringat saat barack menciumnya di ruang ganti tadi, namun tiba tiba lamunannya terganggu karena ponselnya bergetar.


dreet, , dreeet, , luna meraih ponselnya yang ada di atas meja rias.


Terlihat di layar ponselnya cici memanggil.


"kenapa ini anak, jam segini telepon?" kata luna dalam hati, sambil melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Hallo?" luna mengangkat telepon dari cici.


"Lun?, , bisa datang ke kafe seberang tidak? sekarang?" suara cici terdengar agak panik dari ujung ponsel luna.


"Ha???, , gila kamu? sudah jam berapa ini? lagi pula kamu kenapa masih di situ?" kata luna menolak ajakkan cici.


"Sudah buruan cepat kesini!" kata cici terus memaksa.


"Ci ini sudah malam ya!!, kenapa coba menyuruh aku datang ke situ malam malam?" kata luna.


"Pliss lun, ini si barack mabuk, dia sudah tidak sadarkan diri, cepat kemari!" kata cici membuat mata luna terpelongo.


"Haaaaa??????, , mabuk? sejak kapan dia suka minum? oke oke aku kesana" kata luna, dia pun segera mematikan ponselnya.


Kemudian dia bergegas mengganti bajunya lalu segera pergi ke arah garasi mobil dan kemudian dia pergi menemuiui cici di kafe seberang.


***

__ADS_1


__ADS_2