
Barack tersenyum menyambut Adrian, dadanya sengaja di busungkan berharap laki laki di depannya itu bisa melihat dengan jelas bagian dadanya.
Ekpresinya terlihat santai namun tatapan matanya sangat terlihat menjengkelkan bagi Adrian.
Mata Adrian menyapu seluruh tubuh laki laki yang sedang berdiri di tengah tengah pintu. Tatapan matanya memaku di tanda merah yang ada di dada Barack, terlihat dengan jelas kalau kiss mark itu masih segar walau pun tidak terlalu merah.
Ke dua alisnya pun terangkat. Sepertinya dia nampak sedikit terkejut.
Adrian menyentuh ujung hidunya dan memijat kecil di sana. Kemudian dia terkekeh.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk mengganggu waktu kalian, aku datang ke sini untuk mengembalikan ponsel Luna yang tertinggal di mobilku" ucapnya sambil mengulurkan ponsel itu ke arah Barack.
Barack menatap ke arah ponsel Luna yang ada di tangan Adrian.
"Pantas saja sepanjang perjalanan aku menelponnya, tapi tak ada jawaban"
"Mm terima kasih" Barack meraih ponsel itu dari tangan Adrian. Kembali dia menatap Adrian dengan raut wajah datarnya.
"Apa masih ada yang lain?" ucapnya seolah dia sedang mengusir laki laki itu dengan cara halus.
Adrian menggeleng pelan setelahnya dia tersenyum ke pada Barack sebelum melangkah pergi kembali ke kamarnya.
♡♡♡
Barack duduk di sofa sambil menatap ke arah Tv yang menyala.
"Ponselmu, tertinggal di mobil Adrian" ucapnya, sementara tangannya mengulurkan ponsel ke arah Luna yang baru saja keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
"Loh, berarti tadi yang datang Adrian?" Luna merasa tidak enak karena saat itu membiarkan Suaminya yang membukakan pintu.
Barack mengalihkan pandangannya dari Tv dan melihat ke arah Luna.
"Kenapa? kamu merasa rugi karena bukan kamu yang membuka pintunya?" tatapan matanya terlihat sangat menjengkelkan saat itu.
Kening Luna berkerut setelah mendengar ucapan Barack. Dia pun berjalan mendekat ke arah Suaminya dan duduk di pangkuannya.
Dia tersenyum, pandangan matanya menyelidik ke arah Barack.
Sementara Barack menghindari tatapan mata Istrinya dengan terus melihat ke arah layar Tv.
"Coba lihat" Luna merangkup pipi Suaminya dengan ke dua tangannya. Mengarahkan wajah Barack agar menghadap ke wajahnya.
"Apa seperti wajahmu kalau sedang cemburu?"
Barack hanya diam sambil menepis lembut tangan Luna.
Luna berdecak jengkel, namun dia menahan senyum karena tahu kalau Suaminya itu sedang cemburu.
"Mmmmmmmuuuaahh!" Luna mengecup pipi Barack berharap Suaminya itu merespon dan mengalihkan pandangannya dari layar Tv.
Barack masih tetap diam, raut wajahnya masih sama seperti semula cemberut dan dingin.
Lagi, Luna mengecup sebelah pipi lainnya lanjut di kening, hidung dan terakhir bibir Barack. Luna mengawasi wajah Barack namun laki laki itu maalsih tetap diam.
"Kamu masih marah?"
"Aku tidak marah!"
__ADS_1
"Terus kenapa kamu diam saja?"
"Jengkel!"
"Bukannya sama saja?. Kenapa?"
Barack berusaha menggerakkan kepalanya karena kepala Luna menghalangi pandangannya. Sementara Luna juga ikut menggerakkan kepalanya mengikuti gerakan Barack sengaja untuk menghalangi agar tidak terus melihat ke arah Tv.
Barack menghela nafas panjang. Matanya beralih melihat ke arah Luna dan menajam.
"Aku tadi menelponmu berulang kali, namun tidak ada jawaban. Dan tahu tahu ponselmu ada di mobil Adrian. Apa yang kalian lakukan di sana" ucapnya dengan nada menuntut kepada Luna.
Laki laki itu mengalihkan pandangan matanya lagi, seolah dia tidak ingin melihat ekspresi Luna.
Mata Luna membulat seketika. Dia tidak percaya Suaminya itu tega melempar pertanyaan itu kepadanya. Pertanyaan sederhana namun sangat menyakitkan.
"Lihat mataku Barack!" ucapnya menuntut.
Barack masih tidak menghiraukan ucapan Istrinya.
Luna meraih dagu Suaminya dan memaksa Laki laki itu menatap ke dua matanya.
"Katakan sekali lagi, kamu meragukan diriku?" luna menggeleng tidak percaya kalau Barack mencurigai dirinya.
"Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di sana, makanya aku bertanya padamu?" percakapan mereka malam itu menjadi sedikit serius.
"Aku menemaninya ke kota S untuk bertemu temannya, hanya itu. Kamu pikir aku melakukan apa?? kamu berfikir yang tidak tidak denganku? kamu fikir aku melakukan sesuatu dengannya?"
Luna menatap tak percaya, dia langsung beranjak dari pangkuan Barack.
Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Barack menghela nafas panjang, berusaha menetralkan perasaannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Barack!!"
Dia beranjak dari sofa dan menghampiri Luna, tangannya menelusup ke dalam selimut meraih tubuh Istrinya dan memeluknya dari arah belakang.
"Maaf" Barack berbisik di balik selimut.
"Aku cemburu Luna, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak berkata kasar. Aku benar benar minta maaf, Aku tidak bisa melihatmu dekat dengan laki laki lain. Pikiranku sempat kacau saat adrian datang dan mengembalikan ponselmu. Saat itu otakku tidak bisa berfikir dengan jernih, , Maaf" Barack terus berucap, dan mengulang kata maaf berkali kali saat mendengar Luna sesunggukan dari balik selimut.
Iya, Luna sakit hati karena tuduhan Barack. Namun dia marah bukan karena itu, tetapi karena tidak mendapatkan kepercayaan Suaminya, itu yang paling menyakitkan baginya.
"Aku bukan perempuan yang mudah tergoda dengan laki laki lain, seharusnya kamu paham akan hal itu. Hatiku sakit saat kamu menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal!!. Bahkan kamu menuduh yang bukan bukan sebelum mengetahui kebenarannya!"
"Aku minta maaf Luna, , iya aku salah. Tapi semunya karena aku takut kehilanganmu. Aku takut kamu berpaling ke laki laki lain" Barack mendaratkan ciumannya di leher Luna. membenam wajahnya, menghirup aroma sabun yang masih tersisa di tubuh Istrinya.
"Mungkin aku terlalu kekanak kanakan. Tapi itu lah yang sebenarnya" suara laki laki itu semakon terdengar berat, seakan dia benar benar menyesal dengan ucapannya yang di tuduhkan kepada Luna. Barack menarik Tubuh Luna untuk semakin memeperdalam pelukannya.
Luna memutar tubuhnya menghadap ke arah Suaminya.
"Jangan lakukan itu lagi" Luna merengek sambil menahan tangis dan tawa secara bersamaan, suara yang keluar dari mulutnya pun sangat lucu dan menggemaskan.
"Iya" Barack mengecup bibir Luna.
"Maaf" sambungnya.
__ADS_1
"Mm" Luna menggeleng pelan.
"Kamu lapar?, mau makan?" Barack merapihkan rambut Luna yang menutupi mata dan menyimpannya di balik telinga.
"Aku tidak lapar"
Luna memeluk tubuh Suaminya memendam wajahnya di dada Barack. Mencium, mencicipi, membasahi dada Barack dengan lidahnya.
"Luna" Barack memanggil nama Istrinya dengan sedikit desahan karena menahan geli.
"Hmm?" Luna mendongak menatap wajah Suaminya.
"Apa yang kamu lakukan?" pipi Barack merona. Terlihat dia benar benar menahan senyumnya.
"Kenapa?, kamu tidak suka?" Luna mengangkat ke dua alisnya.
Barack menelan ludahnya susah payah. Dia malu untuk menjawab bahwa dia sangat menyukai perlakuan Luna terhadapnya saat itu.
Luna menggigit bibir bawahnya dan memamerkan tatapan sensualnya ke arah Barack.
Laki laki itu tersenyum, wajahnya mendekati wajah Luna namun tiba tiba terhenti karena Luna cegukan.
Barack terkekeh di butanya, dia mengurungkan niatnya untuk mencium bibir Luna.
Yang dia lakukan sekarang malah menggelitiki tubuh Luna dengan ke dua tangannya, membenamkan wajahnya di leher Istrinya lalu membuat gerakan di sana dengan kepalanya, dan laki laki itu berhasil membuat Luna berteriak saat menahan kegelian.
Seketika tawa Luna pecah dan memenuhi ruangan itu.
"Barack perutku sakit!" Luna berdahag, perutnya terasa penuh di bagian lambung atasnya.
Barack menghentikan aksinya, dia duduk dan mengawasi wajah Luna.
Luna pun mengubah posisinya mengikuti Barack, duduk di atas ranjang.
"Kamu baik baik saja?" Barack meraih wajah Luna yang tengah tertunduk.
Melihat dahi Luna basah karena keringat dingin membuat dirinya cemas seketika
"Luna?"
"Aku baik baik saja, , sepertinya tadi siang aku salah makan" wajah Luna terlihat sedikit memucat.
"Kenapa? perutmu sakit?" Barack mengusap keringat di kening Luna dengan tangannya.
"Bukan, , hanya terasa tidak nyaman saja" ucap Luna sambil memegangi dan memijat kecil perutnya.
"Aku belikan obat?, , atau"
"Tidak perlu" Luna memotong pembicaraan. Matanya menatap Mata Barack dengan lekat.
"Kalau begitu tidurlah, aku akan memijat pelan perutmu" Barack membantu Luna merebahkan tubuhnya.
Sementara laki laki itu tidur miring di samping Luna dan menopang kepala dengan salah satu tangannya, satu tangannya lagi mengelus, mengusap lembut perut Istrinya.
Mendaratkan kecupan di kening Luna.
"Tidurlah" Barack memaku bibirnya di kening Luna sambil terus memijat perut Istrinya.
__ADS_1