Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
30 CEO: Love's Romance Perhatian


__ADS_3

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, David melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan tangan.


Kemudian lali laki itu beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Sesuai yang sudah dia perkirakan bahwa istirahat makan siang dia akan kembali ke rumah untuk membantu Aileen mengganti perban di kakinya.


"Tuan?" Ucap seorang pelayan setelah membukakan pintu.


"Dia di kamar?" ucap David merujuk kepada Aileen. Sementara tangannya kini sedang melepas jas yang kemudian di berikan kepada pelayan itu.


"Iya, , Nona cantik ada di kamar"


David melangkah kearah kamarnya, tangannya bergerak membuka pintu kemudian laki laki itu melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam.


Dia melihat Aileen sedang duduk di sofa sambil menonton acara Tv.


Laki laki itu tersenyum ketika melihat Aileen tertawa saat sedang menikmati salah satu acara Tv. Bahkan dia sempat terpaku sambil terus memandang Aileen yang terus tertawa.


"Ai??" ucapnya kemudian dengan nada lembut.


Seketika Aileen langsung mengalihkan pandangannya kearah David, dia juga meraih remote lalu menekan tombol off untuk mematikan Tv.


"Kenapa di matikan?" David bergerak perlahan mendekati Aileen.


"E, , tidak apa apa. Aku juga sudah terlalu lama menonton TV" Aileen terlihat kesusahan ketika berusaha beranjak dari sofa.


"Tetap di tempatmu!" David membungkuk meraih kaki Aileen, mnggendong tubuh perempuan itu kemudian membawanya kearah ranjang.


"Aku bisa memiliki panyakit jantung kalau setiap hari seperti ini terus menerus. Wahai kaki cepat cepatlah kamu sembuh. biar aku bisa kembali berjalan dengan normal lagi!!"


David meletakkan tubuh Aileen di bibir ranjang, setelah itu tangannya bergerak membuka laci dan mengambil kotak P3K dari dalam sana.


"Aku akan mengganti perbannya" David mulai membuka perlahan perban yang melingkar di kaki Aileen.


Pandangan Aileen tertuju kearah wajah David yang ada di depannya, laki laki itu sedang tunduk menggunakan kedua lutut untuk menopang tubuhnya.


"Kenapa kamu mau melakukan ini?"


Ucapan yang keluar dari mulut Aileen seketika membuat David memaku tangannya.


"Apa maksudmu" dia kembali menggerakkan tangannya, melepas perban dan mulai membersihkan luka Aileen dengan kapas yang sudah di basahi dengan alkohol.


"Kenapa kamu bersikap baik terhadapku??, , bahkan kamu juga merawatku ketika aku sedang terluka. Kita bahkan juga baru saja dekat. Kenapa kamu sebaik ini kepadaku?" Aileen menghujani laki laki itu dengan pertanyaan.


"Apa untuk melakukan kebaikkan kepada seseorang juga harus membutuhkan sebuah alasan??, , aku sudah pernah mengatakan hal ini kepadamu, bahwa kamu adalah milikku!!, , dengan atau tanpa persetujuan darimu kita juga sudah berkencan. Lalu ketika aku merawatmu. Kamu masih menanyakan alasan kenapa aku malakukan hal itu???" David mengangkat wajahnya menghadap kearah Aileen.


"Karena kamu adalah milikku!" Ucapnya dengan tegas tanpa keraguan.


Aileen menghela nafas, dia sudah tidak bisa berkata apa apa setelah mendengar penjelasan dari David. Yang ada kini kedua pipinya bersemu.

__ADS_1


"Itu, , kamu membawa ponselku??, , aku ingin menghubungi Orang tuaku!"


Seketika David langsung kembali memaku tangannya, ujung matanya kini tertuju kearah wajah Aileen dengan tajam.


"Kamu ingin menghubungi Orang tuamu, atau laki laki yang bernama Kenzi??" ucapnya dengan nada menuduh.


"Kenapa kamu jadi mengekangku seperti ini? semalam sudah menyita ponselku. Dan sekarang aku mau menghubungi Orang tuaku saja tidak boleh!" Aileen sedikit menaikkan nada bicaranya.


Melihat Aileen yang sedikit tersulut emosi, David pun mulai melembutkan sikapnya.


Tangannya bergerak meraih pipi Aileen dan mengusap lembut di sana.


"Aku tidak melarangmu menghubungi Orang tuamu" dia berucap dengan nada lembut. Laki laki itu benar benar pandai dalam meluluhkan hati perempuan.


"Aku hanya tidak suka kalau" David menghentikan ucapannya.


Aileen mulai menyelidik kearah david.


"Apa??, , kenapa berhenti??, , tidak suka kalau apa?"


"Lupakan!!" David menghela nafas untuk menetralkan perasaanya. kemudian dia meraih ponsel milik Aileen dari saku celana bagian belakang.


"Pakailah sesukamu, terserah kamu mau menghubungi siapa pun" Setelah selesai mengganti perban David pun beranjak pergi keluar dari kamar.


"Ada apa dengan laki laki itu!!, , kenapa akhir akhir ini sering marah marah sendiri!"


Perempuan itu terlihat menganga ketika mengetahui nama Kenzi sudah berubah menjadi si bodoh di ponselnya.


"Iiihhh!!!, , ini pasti kerjaan laki laki itu!!!" Aileen kembali mengedit nama si bodoh menjadi Kenzi lagi di ponselnya.


♡♡♡


Setelah beberapa hari tinggal di rumah David, luka Aileen berangsur angsur membaik. Dia pun bisa menggerakkan kakinya seperti semula.


"Kenapa kakimu cepat sembuh??" David berucap tanpa rasa berdosa sedikit pun.


"Kenapa kamu berucap seperti itu??, , apa kamu tidak suka melihatku sepat sembuh dan bisa berjalan normal seperti biasa??" Aileen merasa jengkel ketika David seolah tak ingin luka di kakinya cepat membaik.


"Ee, , bukan. Aku hanya merasa luka di kakimu masih membutuhkan perawatan" David berusaha membuat Aileen untuk tinggal di rumahnya lebih lama lagi.


"Lukanya sudah mulai mengering, dan yang terpenting aku juga sudah bisa berjalan. Aku harus berangkat ke kampus. Karena sudah beberapa hari ini aku tidak berangkat. Pasti juga banyak tugas yang sudah menantiku!"


"Kamu yakin kakimu sudah baikkan?"


"Iya, aku harus kembali ke rumah sebelum berangkat ke kampus"


"Aku akan mengantarmu" David terlihat sangat tidak bersemangat, dia ingin Aileen tetap tinggal di rumahnya. Namun tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap membuat perempuan itu tinggal.


♡♡♡

__ADS_1


David menghentikan mobilnya tepat di depan tempat tinggal Aileen.


"Terima kasih karena sudah menjagaku selama aku sakit" Ailen memalingkan wajahnya kearah David.


"Aku sebenarnya tidak menerima ucapan terima kasih!" Laki laki itu tersenyum sambil mengalihkan pandangannya kearah Aileen


"Apa??, , oh ya aku lupa" Aileen teringat kalau David sering menyelesaikan segaala sesuatu permasalahn dangan uang. Dia pun mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana.


"Apa ini cukup!!" ucapnya sembari menyodorkan uang itu kearah David.


Laki laki itu terdiam sambil melirik kearah uang yang ada di tangan Aileen.


Kedua alisnya pun terangkat.


"Aku tidak percaya ini!!" David terkekeh jengkel kemudian.


"Apa kamu sedang menghinaku??" ujung matanya mengerucut kearah Aileen.


"Aku tidak sedang menghinamu, bukannya kamu sudah terbiasa menyelesaikan masalah dangan uang??, , aku pikir aku tidak akan memiliki hutang darimu setelah aku membayar semua kebaikanmu selama merawatku"


Dengan susah payah David menahan emosi yang membakar habis dadanya. Kini laki laki itu sedang mengusap lembut kepala Aileen.


"Dari pada memberiku uang, kenapa kamu tidak membayarku dengan yang lain?" David menarik tengkuk Aileen lalu mendekatkan wajah perempuan itu kewajahnya.


Dada Aileen langsung bergemuruh, pipinya merona seketika.


"Membayarmu dengan yang lain??, , apa maksudmu?"


Belum sempat menjawab pertanyaan Aileen darah David langsung berdesir. Dia merasa yakin ketika melanjutkan keinginannya untuk mencium bibir Aileen pasti dia tidak akan bisa menghentikan dirinya.


David seketika langsung menjauh dari Aileen.


"Turunlah aku harus segera pergi!"


"Ini orang apaan sih!!, , suka aneh kadang kadang!"


Aileen membuka pintu dan segera melangkah turun dari mobil. Tanpa basi basi David langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


Sementara Aileen yang terlihat kebingungan hanya menggelengkan kepal sambil menatap mobil david yang sudah menghilang di tikungan.


Belum sempat masuk ke dalam rumah ponsel milik Aileen berdering. Dia pun langsung mengangkat panggilan dari Koyoko.


"Hallo??" Aileen memaku langkahnya ketika tak mendapat sahutan dari seberang sana. Namun dia mendengar suara tangis yang keluar dari bibir Sahabatnya


"Kamu menangis??, , Koyoko ada apa??" Aileen langsung membalikkan tubuhnya. Dia berlari kearah jalan utama untuk menghentikan taxi.


Setelah mendapatkan taxi, Aileen melangkah masuk dengan tergesa gesa.


"Antarkan aku ke desa S" ucapnya kepada seorang supir.

__ADS_1


__ADS_2