
“Paman, aku akan pergi mengambil minuman” ucap Juliet sembari beranjak turun dari bangku.
“Biar paman saja yang ambil, Juliet mau minum apa?”
“Apa pun yang paman berikan Juliet menyukainya!” senyumnya tak pernah lepas, Juliet selalu menikmati waktu kebersamaan mereka.
“Baiklah kau tunggu di sini oke?” Davien beranjak pergi mengambil minuman yang sudah tersedia di meja.
Di sisi lain tak jauh dari bangku di mana Juliet berada, tampak seorang anak kecil perempuan sedang berjalan mengikuti kunang-kunang yang terbang menuju ke sebuah taman bunga. Jika dilihat dari postur tubuhnya mungkin lebih tua beberapa tahun dari Juliet.
“Eh... ke mana perginya kunang-kunang itu?” anak kecil itu terus mencari di sekitar, dia tak sadar kalau kunang-kunang bersembunyi di balik pohon besar. Karena tak berhasil menemukan kunang-kunang, dia akhirnya memilih kembali ke orang tuanya yang sedang berbincang. Anak kecil itu datang menemani ibunya yang diundang ke pesta pertunangan Bunga dan Marvel. Tetapi perhatiannya teralihkan ke sesuatu yang tampak berkilau di balik semak, untuk memastikan dia pun mendekat untuk melihat benda apa yang berada di sana. “Waaah... “ dia takjub melihat benda yang baru saja dia temukan. “Tapi... punya siapa kalung ini?” karena jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kalung yang dia temukan di semak-semak dekat pohon besar akhirnya dia bergegas menemui ibunya bermaksud ingin meminta ijin agar boleh menyimpan kalung itu.
Dia berlari kecil diselingi lompatan penuh bahagia layaknya sorang anak yang mendapat mainan baru. Saat menuju ke tempat di mana ibunya berada, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Juliet yang sedang bingung menjari keberadaan Davien.
Karena tidak fokus ke jalan Juliet tak sengaja menyenggol bahu anak kecil yang tergesa-gesa ingin segera menemui ibunya. Anak itu sempat menoleh menatap Juliet tapi karena terlalu bersemangat dengan apa yang baru saja dia temukan, maka dia langsung pergi meninggalkan Juliet yang sedang berusaha meminta maaf.
“Eh, maaf!” Juliet sampai membungkuk ketika mengakui kesalahannya, tapi saat tubuhnya kembali tegap anak perempuan tadi sudah menghilang dan ketika Juliet memastikan ternyata dia sudah bersama dengan orang tuanya. Setelah menghela nafas panjang Juliet berusaha mencari lagi keberadaan Davien tepat saat Juliet memutar tubuhnya tanpa sengaja dia menabrak seorang lelaki dewasa.
Brugh!
Tubuh mungil itu terjatuh duduk. “Au!” rintihnya. Juliet sadar malam itu dia sangat ceroboh. Tetapi perhatiannya justru tertuju pada sepasang kaki yang terbungkus celana putih bersih berdiri tepat di depannya. Perlahan pandangan Juliet bergerak naik, tepat saat kepalanya mendongak dia melihat lelaki yang ditabrak itu sedang mengulurkan tangan kearahnya.
“Kau baik-baik saja?” ucapnya lembut, dia lelaki tampan yang turut hadir di pesta.
Senyum dan wajahnya tampak tidak asing bagi Juliet. Lelaki itu mengenakan jas putih senada dengan celananya. Ketika menyambut uluran tangannya, pandangan Juliet terpaku pada senyum dan wajah lelaki dewasa yang membantunya berdiri. Juliet merasa familiar dengan suasana itu, seperti dejavu. Terutama dengan senyumnya dan juga wajahnya apa lagi ketika lelaki itu mengulurkan tangan. Tetapi Juliet bingung tak tahu di mana dia pernah mengalami hal itu.
“Paman rasa kau baik-baik saja. Tidak ada yang terluka, kan?” ucapnya sekali lagi memastikan keadaan Juliet. Suaranya lembut selembut sikapnya.
“Iya... uhmm, maaf!” ucap Juliet menyesal.
“Kalau begitu, paman tinggal oke?” lelaki itu mengusap ujung kepalanya.
“Terima kasih, paman” sahut Juliet.
Lelaki itu hanya tersenyum membalas ucapan Juliet setelahnya pergi.
Juliet terdiam dengan tubuh kaku seakan tak bisa bergerak, matanya mengikuti gerakan lelaki yang melangkah pergi menuju kearah belakang. “Siapa paman itu?” gumamnya.
“Paman? Paman yang mana?” sahut Davien tepat di telinga Juliet sembari melihat ke arah di mana anak itu menatap.
“Eh, paman?” Juliet tersadar dari lamunan.
Davien memberikan orange juice kepada Juliet. “Maaf membuat Juliet harus menunggu lama, tadi sempat ada panggilan masuk dari James.”
“Hmm, iya paman tidak apa-apa” Juliet mulai menikmati minumannya.
“Enak?” tanya Davien saat melihat eksptesi Juliet ketika menahan rasa asam dari minumannya. Anak itu hanya menganggukkan kepala.
“Oh, iya... tadi yang dimaksud oleh Juliet, paman siapa? Yang mana?” Davien penasaran.
__ADS_1
“Ooh, entahlah paman, dia sudah pergi mungkin salah satu teman dari Ibu atau paman Marvel. Tapi... Juliet merasa seperti pernah bertemu dengannya, tapi dia tidak mengenal Juliet... mungkin hanya perasaan Juliet saja!”
Davien sangat paham, maka dari itu dia penasaran siapa lelaki yang dibicarakan oleh Juliet.
***
“Ibu! Ibu! Lihat ini ibu... lihat apa yang aku temukan di semak-semak tadi!” ucap anak kecil yang tadi sempat berpapasan dengan Juliet.
“Juliet kau dari mana saja sayang? Wah bagus ya kalungnya” ibunya yang sibuk berbincang dengan beberapa teman sesaat meluangkan waktu untuk menanggapi putrinya.
“Bolehkah aku menyimpan kalungnya, Bu?” ucap anak kecil yang baru saja di panggil dengan nama Juliet, dia memiliki nama sama seperti nama putri dari Bunga dan Davien.
“Iya Sayang, kau boleh menyimpannya!”
“Asyiiik!”
***
Ketika sedang menikmati waktu berdua, Davien dan Juliet yang sedang tertawa gembira saling berbagai cerita mulai terganggu setelah mendengar suara pembawa acara yang mulai mengambil alih pesta.
“Ayo paman, kita harus mendekat!” ajak Juliet yang ingin melihat puncak acara. Davien pun tersenyum menuruti ajakan Juliet untuk mendekat. Perhatian mereka tertuju pada pembawa acara yang berdiri di tengah taman menyambut para tamu.
“Di mana Ibu dan paman Marvel?” Juliet tak melihat keberadaan mereka berdua padahal acara tukar cincin akan segera dimulai.
“Mungkin mereka sedang bersiap-siap” Davien mencoba menenangkan.
“Untuk para tamu yang sudah hadir, saya selaku pembawa acara pesta malam ini membawa kabar yang baru saja saya dapatkan infonya langsung dari Tuan Marvel. Sebelumnya beliau meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian yang sudi hadir malam ini. Termasuk juga saya, memohon maaf yang teramat dalam.”
“Apa yang terjadi?” tanya Juliet.
“Entahlah sayang, paman juga tidak tahu.” Mereka berdua kembali fokus mendengarkan ucapan pembawa acara yang belum selesai.
“Tuan Marvel telah membatalkan pertunangannya dengan Nona Bunga!”
Pesta semakin riuh, ramai membicarakan apa yang baru saja diucapkan oleh pembawa acara.
“Apa? Mereka berdua batal bertunangan?”
“Aku tidak percaya, jangan-jangan ini hanya candaan mereka.
“Sebagai karyawannya, aku benar-benar sudah senang melihat mereka berdua akhirnya memutuskan untuk bersama.”
“Iya, aku juga! Mereka terlihat serasi... kenapa Tuan Marvel membatalkan pertunangan mereka?”
“Aku pasti sedih kalau jadi presdir!” ucapnya merujuk pada Bunga yang menjadi presdir di perusahaan tempatnya bekerja.
“Hah... aku juga. Kenapa Tuan Marvel membatalkan pertunangan mereka, aku tidak bisa membayangkan bagaimana presdir akan menghadapi hari esok saat bertemu orang. Karena pasti mereka membicarakan kejadian ini!”
Semua yang hadir membicarakan Bunga, Davien yang masih terdiam mematung di sana mendengar semua percakapan mereka. Raut wajahnya datar tak tahu apa yang sedang lelaki itu pikirkan, tapi melihat tangannya mengepal kuat seakan terlihat jelas kalau Davien sedang menahan kesal.
__ADS_1
Davien melirik kearah Antonio lalu menganggukkan kepala seperti memberi isyarat, dan benar saja lelaki yang sejak tadi berdiri di sisi taman itu bergerak mendekat.
“Saya Tuan?”
Davien kemudian berucap kepada Juliet. “Sayang, pergilah bersama Antonio. Paman tahu kamu mengkhawatirkan Ibumu, paman akan menemui mereka dan menanyakan tentang masalah ini!” Daviem memberinya pengertian agar Juliet mendengarkan ucapannya.
Juliet murung dapat dipastikan kalau dia sangat khawatir dengan Bunga.
“Baiklah... Antonio, tolong bawa dia masuk!”
“Baik Tuan, Nona... ayo!”
Setelah melihat Juliet masuk ke dalam rumah, Davien segera menemui pembawa acara itu dan menanyakan keberadaan Marvel. Tak perlu menunggu lama setelah mendapatkan info, Davien segera pergi menemui Marvel.
Suasana hatinya malam itu berubah, tadinya memang sempat sedih karena akan menyaksikan Bunga bertunangan dengan Marvel tapi kini semakin memburuk karena mendengar Marvel membatalkan pertunangan itu secara sepihak. Tak hanya sakit, kini Davien juga merasa marah dan kecewa karena telah mempercayakan Bunga pada Marvel, tapi lelaki itu justru memancing amarahnya.
***
“Marvel!!”
Lelaki yang tengah berdiri di gazebo taman itu langsung menoleh setelah mendengar suara Davien saat memanggil namanya.
“Davien??”
Bugh!! Sebuah pukulan keras mendarat di pipinya.
Marvel hanya diam menikmati kesakitan di wajahnya tanpa perlawanan atau membalas pukulan kepada Davien, dia tahu kenapa lelaki itu merah.
Memang Davien marah dan kecewa kepada Marvel tapi sikap tubuhnya terlihat tenang karena amarahnya tersalurkan sepenuhnya saat dia memukul Marvel. Lelaki itu berdiri santai dengan menyimpan kedua tangan di saku celana. “Aku tidak peduli dan tidak mau tahu alasan kenapa kau membatalkan pertunangan ini! Yang harus kau tahu adalah... kau telah membuatku kecewa!” ucap Davien dengan nada rendah setenang gestur tubuhnya.
Marvel masih diam, tapi kini tangannya mulai mengusap pipinya yang masih terasa nyeri. ‘Gila! Lelaki ini begitu kuat ketika sedang marah! Gigiku serasa mau lepas semua! But It’s oke... mungkin ini harga yang harus aku bayar’ setelah menghela nafas Marvel menanggapi Davien tanpa emosi sedikit pun. “Lalu... kau ingin aku bagaimana? Selama ini aku memang berada di sisinya... tapi perasaan Bunga bukan untukku. Kau ingin aku tetap bersama dengannya? Bukankah itu artinya sama saja dengan menyiksa perasaan Bunga yang bahkan jelas-jelas kau juga tahu untuk siapa hatinya.”
Davien membuang muka saat Marvel menyinggung perasaan Bunga yang masih tertuju pada dirinya, di sisi lain saat itu Bunga yang bermaksud ingin menemui Marvel justru terdiam melihat mereka berdua berada di gazebo. Akhirnya Bunga mengurungkan niat menemui Marvel dan memilih mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Bukankah kau seharusnya senang, Davien?”
Matanya langsung menajam ke Marvel. “Menurutmu?? Apa yang harus aku banggakan? Aku hanya berharap Bunga akan bahagia denganmu... tapi kau!”
“Kita hanya ditakdirkan untuk menjadi saudara... aku tidak mungkin membiarkan Bunga berada di sisiku karena akan ada banyak hati yang tersakiti, termasuk dirimu!”
Haha.... tawanya terlihat palsu, Davien berusaha menutupi perasaannya. “Kau benar... tapi aku tidak bisa lagi membiarkan Bunga di sisiku, itu sebabnya aku sangat berharap padamu, Marvel!”
Keningnya berkerut saat mendengar ucapan Davien. “Kenapa kau bicara seperti itu? Kau... tidak berniat kembali bersama dengannya? Bagaimana dengan Juliet?”
“Ya, keinginan itu ada... tapi aku terlalu takut melakukan kesalahan lagi yang nantinya berujung dengan menghilangnya Bunga seperti dulu! Kau bahkan tahu Marvel... tak mudah bagiku melewati semuanya setelah Essie pergi. Dan lagi beberapa tahun kemarin aku kehilangan Bunga, dia menghilang tanpa kabar. Iya, aku tahu dari awal semua ini salahku... tapi rasanya aku tidak sanggup lagi merasa kehilangan untuk ke sekian kalinya. Menyembuhkan lukaku saja aku belum mampu, bagaimana bisa aku menyembuhkan luka di hatinya?”
“Davien?” Marvel berharap lelaki itu tidak menyerah untuk kembali mendapatkan Bunga.
“Dan untuk Juliet, membuatnya bahagia tidak harus dengan kami bersatu kembali. Meskipun aku tidak tahu bagaimana nantinya... tapi untuk saat ini, mungkin ini yang terbaik kami!”
__ADS_1
Bunga mendengar semua pembicaraan mereka, tak satu pun kalimat yang dia lewatkan. Semua itu sudah masa lalu, Bunga bahkan berharap dengan adanya Juliet dia bisa kembali bersama Davien tapi sepertinya lelaki itu masih trauma dan belum siap kehilangan lagi.