
Perempuan berambut coklat itu sedang duduk di tepi makam mengingat hari itu adalah hari kematian neneknya.
Bunga sebenarnya ingin mengajak Davien tetapi karena suatu hal dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk pulang ke desa menemui neneknya sendiri.
"Nenek, ini aku. Kau tahu di kota aku bertemu dengan perempuan itu! Putrimu... perempuan yang sudah membuangku" Bunga terdiam matanya mulai berkaca. "Aku tahu nenek pasti sudah mengetahui semuanya ,kan? Dari atas sana? Aku mohon beri aku kekuatan ketika aku bertemu dengannya, bantu aku nek" seketika kilauan bening yang mencuat dari ujung matanya itu nampak mengalir membasahi pipi.
Tak lama setelahnya Bunga mengeluarkan kotak kecil yang sebelumnya sempat Davien berikan kepadanya malam di mana pertengkaran terjadi. "Nenek juga pasti sudah tahu kalau aku bertemu dengan seorang lelaki. Tapi aku masih sedikit ragu Nek, aku ragu dengannya. Tetapi dia memberikanku ini... untuk meyakinkan diriku" Bunga membuka kotak perhiasan itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari dalamnya.
Senyumnya melebar seolah benar-benar sedang berbincang dengan neneknya. "Katakan padaku Nek, apakah aku harus memakainya? Atau aku harus mengembalikannya?" Bunga mulai ragu, ingin sekali memakai cincin pemberian dari Davien tetapi masih ada rasa gelisah jauh di dalam hatinya entah karena apa, Bunga sendiri merasa bingung.
Dia memilih untuk menyimpan kembali kotak perhiasan itu kemudian mengusap pipinya yang basah.
"Aku yakin kau pasti ada di sini."
Bunga langsung menoleh saat mendengar suara Marvel. "Hei? Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?" dia beranjak berdiri.
***
Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari makam. "Aku tahu hari ini adalah hari kematian nenekmu dan aku yakin kau pasti ada di sini, tunggu!" Marvel menghentikan langkahnya. "Jadi... hari ini kau ijin tidak berangkat kerja?" tanya Marvel.
"Iya, aku ijin kalau aku ada keperluan tapi besok aku sudah mulai kerja lagi."
"Mau makan siang bersama?" Marvel membuka pintu mobil mempersilahkan Bunga masuk kedalam namun belum sempat perempuan itu masuk ada seorang ibu-ibu datang menghampirinya.
"Bunga?" serunya ketika melihat Bunga tengah berdiri di depan rumah lamanya.
"Ya? Hai bu... bagaimana kabarmu?" sapa Bunga ketika melihat tetangganya menghampiri.
"Ya Tuhan... kau kemana saja sudah lama tidak kelihatan" Ibu itu nampak mengawasi wajahnya. Dia melihat bahwa perempuan itu sudah berubah secara fisik. "Bunga, kau terlihat semakin cantik setelah tinggal di kota" sanjungnya.
Bunga tersipu, menunduk sambil memamerkan senyum manis. "Terima kasih atas pujiannya nek."
Marvel tersenyum melihat Bunga tersipu malu.
__ADS_1
"Oh ya, beberapa hari yang lalu aku sempat melihat ada 3 mobil hitam datang ke sini, sepertinya mereka mencarimu" ucap Ibu itu.
Bunga dan Marvel saling melempar pandang mereka terlihat bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh ibu itu. "Maksud ibu, apa mereka datang kesini memang sengaja untuk mencariku?" keningnya berkerut seakan Bunga tak percaya.
"Ya! Aku yakin mereka mencarimu karena waktu itu aku sempat melihat beberapa orang turun dari mobil lalu mereka memastikan keadaan rumahmu ini dan ketika mereka tak menemukanmu mereka langsung pergi. Sebenarnya aku ingin menemui mereka tapi melihat mereka sangat tinggi dan menyeramkan aku merasa ketakutan ingin menyapa mereka. Tidak lama setelah itu mereka pergi" dia mencoba untuk menjelaskan kronologonya.
Bunga bingung bahkan semenjak dia lahir dia tak pernah berhubungan dengan siapa pun termasuk orang luar dari desa kecuali Marvel.
"Apa kau tahu siapa itu??" tanya Marvel kepada Bunga yang masih melamun memikirkan semuanya.
"Ha? Aku tidak tahu Kak, aku juga bingung siapa yang mencariku. Ibu itu bilang mereka datang dengan 3 membawa mobil. Aku bahkan tidak pernah bermimpi mempunyai teman orang kaya kecuali dirimu" Bunga masih sempat bergurau padahal dia terlihat sangat kebingungan.
"Dasar, ya sudah kita lupakan kalau pun nanti dia mencarimu lagi pasti dia akan datang lagi. Lebih baik sekarang kita cari makan." Marvel menutup pintu mobil setelah Bunga berhasil duduk.
***
Di sisi lain Davien tengah sibuk dengan semua berkas yang ada di meja. Ujung matanya tertuju kepada pintu ketika mendengar suara ketukan dan pintu terbuka dari arah luar.
Terlihat kerutan kasar di sekitar kening saat melihat Loria masuk dengan membawa nampan dan secangkir kopi di atasnya. "Di mana Bunga?" ucapnya dengan nada dingin.
Kemudian meraih ponsel yang ada di samping tangannya. Ingin sekali menghubungi Bunga karena semenjak kemarin mereka perang dingin bahkan bertemu di rumah pun mereka tak saling menyapa satu sama lain. "Berani-beraninya dia tidak memberi kabar kepadaku! Bahkan dia tidak bilang mau pergi ke mana!" gumamnya kesal.
Loria ketakutan melihat Davien mengepalkan tangannya dengan kuat, perempuan itu kemudian berdehem menetralkan perasaan. Ghm! "Presdir sepertinya saya harus kembali bekerja, permisi" sekali lagi Loria menganggukan kepala sebelum dia keluar dari ruangan.
Bersamaan dengan itu James sang sekretaris masuk ke dalam, dia terlihat mempersilahkan Loria keluar kemudian menutup pintunya kembali.
James berjalan cepat mendekat seolah ada sesuatu yang ingin sekali dia beritahukan kepada Davien. Laki-laki itu menundukkan kepala memberi hormat.
"Apa ada sesuatu yang penting?" Davien berucap seolah tahu kenapa James tiba-tiba datang menemuinya tanpa ada perintah.
James memberikan hand held kepada Davien dia ingin memperlihatkan rekaman dari CCTV yang ada di ruang kerja anak buahnya.
"Apa ini?" Davien menengadah menatap tajam ke arah James.
__ADS_1
"Presdir bisa melihatnya sendiri" Davien pun menekan salah satu tombol di layar, kemudian melihat sebuah rekaman di mana Bunga tengah membantu pegawainya mengerjakan tugas.
Tatapan matanya semakin tajam sehingga kerutan halus terlihat di sekitar area matanya. "Jadi, secara tidak langsung kau ingin bilang bahwa orang yang yang mengerjakan materi untuk presentasi akhir bulan ini adalah Bunga?" Davien berucap sementara matanya masih tertuju ke layar digital yang ada di depannya.
"Ya presdir" ucap James membenarkan perkataan Davien.
Davien meletakkan hand-held ke meja sembarangan, dia nampak kesal sangat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh pegawainya. Terlihat Davien seperti sedang memikirkan suatu rencana setelahnya meminta James untuk mendekat. "Kau tahu, kan? Apa yang harus kau lakukan James!" ucapnya dengan nada tenang namun ekspresi wajahnya sangat mengerikan, seakan benar-benar seperti merasakan kekecewaan yang begitu dalam atas kinerja buruk pegawainya.
James menundukkan kepala mengiyakan perintahnya. Dia seakan tahu apa yang seharusnya dia lakukan sekarang.
***
Sore hari cuaca berubah gelap hujan sangat lebat membuat udara semakin dingin. Bunga dan Marvel menghabiskan waktunya untuk berbincang di sebuah kedai yang letaknya tak jauh dari desa di mana Bunga dilahirkan.
"Jadi apa kau tidak berencana untuk pindah kerja? Maksudku ke tempat yang lebih baik" ucap Marvel.
"Ke tempat yang lebih baik?" Bunga mengulangi pertanyaannya dengan nada kebingungan. "Perusahaan di mana aku bekerja sekarang itu juga tempat yang baik Kak, mungkin hanya saja maksudmu adalah kau ingin aku melamar pekerjaan yang lebih baik begitu, Kan?" Bunga seakan tahu apa yang dimaksud oleh Marvel.
"Jika kau mau... kau bisa datang ke perusahaanku. Sudah berapa kali aku memberikanmu tawaran untuk bekerja di tempatku, kau bahkan bisa memilih ingin ditempatkan di mana sesuai dengan yang kau mau" Marvel berucap penuh harap agar Bunga mau menerima tawarannya.
Tentu saja Bunga tak ingin meninggalkan Davien, baginya walaupun saat ini dia menjadi OB tetapi bisa dekat dengan Davien itu sudah membuatnya cukup nyaman. "Terima kasih Kak, tetapi sepertinya aku lebih nyaman di D Entertainment."
"Kau nyaman dengan pekerjaanmu? Apa kau nyaman karena ada Davien?"
Sekilas terlihat sekelebatan rasa terkejut di wajah Bunga karena sampai detik ini Marvel belum tahu hubungan mereka yang sebenarnya.
Belum sempat Bunga menjawabnya seorang pelayan datang dengan membawa makanan yang sudah dipesan. Pelayan itu menata rapih semua hidangan di atas meja. "Silahkan menikmati."
Marvel tahu bahwa Bunga sedang menghindar dari pertanyaannya, dia pun mencoba untuk memenuhi keinginannya. "Lupakan, kau makanlah dulu kita bisa lanjutkan percakapannya nanti lagi" Marvel tersenyum, dia tahu apa yang terjadi antara Davien dan Bunga. "Oh ya satu hal lagi" saat itu pandangan Marvel terlihat mengerucut ke Bunga sementara perempuan itu tengah sedang menikmati makanannya.
Marvel hanya mengacak-acak makanannya belum sempat dia melahap pikirannya dipenuhi dengan rasa penasaran.
"Apa?" Bunga menunggu pertanyaan darinya.
__ADS_1
"Apa... sebelumnya kau dan ibuku saling mengenal?"