Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
65. Tak Ada Ampun


__ADS_3

Pikirannya dibuat kacau Bunga tak bisa membedakan lagi antara kesal, marah dan nikmat yang sedang dia rasakan saat Davien mengentakkan tubuhnya berkali-kali. Dan akhirnya Bunga membiarkan Davien menguasai tubuhnya.


Berkali-kali Davien telah mencapai titik puncak tertinggi yang membawanya ke dalam sebuah kenikmatan tak bertepu. Yang terakhir kali lumayan cukup lama Davien melakukannya. Hingga ketika merasa tubuhnya sudah tak bertenaga lagi Davien membiarkan tubuhnya jatuh tengkurap tepat di samping Bunga.


Hah! Hah! Hah!


Nafas mereka tak beraturan saling beradu menguar diudara, permukaan kulitnya terlihat berkilau basah oleh keringat akibat pergulatan yang terjadi berkali-kali tanpa henti.


Setelah merasa nafasnya sedikit kembali normal, Bunga nampak meringis menahan sakit. Dadanya terasa sesak seakan sulit untuk bernafas terlebih lagi di bagian bawah sana Bunga benar-benar merasakan perih bercampur sakit yang tak terkira sesudahnha.


Tangannya bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian memejamkan matanya rapat berusaha menggeser tubuhnya menjauh dari Davien. Di pojok ranjang Bunga terisak menangis di balik selimut, mungkin rasa sakit yang ada di tubuhnya tak seberapa, dibandingkan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.


Tubuhnya bergetar ketika menahan isakan tangis, Bunga menggunakan selimut sengaja digigit kuat untuk membungkam mulut agar tangisnya tak pecah. Ingin rasanya menjerit tetapi dia takut menarik perhatian Davien yang mungkin sudah terlelap karena kelelahan.


Berjam-jam Bunga menghabiskan waktu menangis sendirian. Tubuhnya yang lemah akibat perlakuan Davien terhadapnya serta otak yang sudah tidak bisa berpikir membuat Bunga merasa sangat kelelahan hingga akhirnya dia pun tak sanggup menahan matanya yang mulai terpejam, Bunga akhirnya terlelap di samping Davien.


***


Pagi hari Davien terbangun dari tidur lelapnya, rasanya seperti baru saja bangun dari tidurnya yang berabad-abad lamanya. Davien membuka mata perlahan kemudian mengubah posisinya duduk di atas ranjang.


Dia sempat menemukan keadaan dirinya yang bertelanjang dada namun perhatiannya teralihkan karena rasa sakit yang teramat di bagian kepala, Davien menggunakan kedua tangan yang bertumpu di atas paha menyangga kepala sementara jari-jemari mulai meremas rambutnya kuat berharap pening itu akan segera menghilang.


Davien mulai kembali mengingat apa yang terjadi semalam, dia menoleh ke samping tapi tak mendapati Bunga ada di sana. Kini pandangannya teralihkan kepada sebuah bercak merah samar nyaris tak terlihat tapi dia yakin bahwa itu adalah noda darah.


Davin semakin terlihat frustasi kemudian menggeram marah. "Aaarrrgghhh!!!" Lelaki itu melangkah turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Di sisi lain Bunga tengah sibuk di pantry, perempuan itu terlihat tengah menyiapkan sarapan. Kelopak matanya masih bengkak karena sisa tangisnya semalam. Meskipun tubuhnya terasa sangat sakit seakan remuk dan linu di semua bagian tulangnya, terlebih lagi di bagian pangkal paha dan juga kedua kakinya masih sedikit terasa lemas semu itu tak mempengaruhinya Bunga tetap memaksakan diri.


Pandangannya terlihat kosong namun tangannya sibuk mengaduk sup yang sudah mulai mendidih hingga mengeluarkan kepulan asap berwarna putih.


Dari arah belakang Davien menyelusupkan kedua tangannya melingkar ke pinggang, lalu menyimpan wajahnya di pertengahan leher dan bahu perempuan yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Bunga terkejut. Tetapi dia pandai mengendalikan diri, Bunga terdiam tak melakukan gerakan perlawanan sedikit pun.


"Mungkin kata maaf tidak akan cukup untuk menebus perbuatanku semalam" Davien berhenti berucap mencoba menghela nafas sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, mulai saat ini kau sepenuhnya menjadi milikku. Mungkin ada sedikit rasa penyesalan di hatiku tapi, dengan begini aku bisa mengikatmu dan yakin kau tidak akan pergi meninggalkanku."


Bunga memutar tubuhnya bersamaan dengan itu Davien menarik kedua tangannya. "Mengikatku?" suaranya terdengar serak, semalam Bunga sudah kehilangan suaranya karena lelah berteriak dan menangis begitu lama.


Davien semakin tidak tega ketika melihat wajahnya yang sembab, bibirnya sangat merah seakan memperlihatkan betapa kasarnya semalam perlakuan Davien dan juga cara dia mencium perempuan itu.


Kini pandangannya menurun ke arah leher dan dada di mana dia bisa melihat bekas merah sisa ciumannya semalam. Sangat merah hingga hampir terlihat kehitaman. Davien menggerakkan tangannya perlahan menyentuh bekas merah itu. "Aku pasti melakukannya dengan kasar semalam" matanya merah kemudian berkaca-kaca.


Davien seakan mengutuk dirinya sendiri jika mengingat kembali apa yang semalam dia lakukan kepada Bunga memang tanpa perasaan, merasa bersalah setelah sadar bahwa dia memperlakukan Bunga secara tidak manusiawi.


Tanpa terasa Bunga pun kembali menitikkan air mata. "Jika itu bisa membuktikan bahwa aku menyesal dengan apa yang sudah aku katakan kemarin, jika itu bisa membuktikan bahwa aku memang benar-benar menyukaimu, jika memang itu bisa membuatmu percaya bahwa aku tidak mempermainkanmu... maka aku berusaha untuk tidak menyesal dengan apa yang semalam kau lakukan kepadaku. Dengan begitu aku berharap kalau kau bisa yakin padaku bahwa aku sama sekali tidak mempermainkan perasaanmu Davien!" Suaranya bergetar, Bunga mampu menahan tangis namun dia tak mampu menahan air mata yang terus mengalir dengan sendirinya


Lelaki itu juga berusaha keras agar air matanya tak mengalir, dia bahkan sempat menengadah menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru berusaha untuk tak menangis di depan Bunga. Tetapi usahanya sia-sia ekspresi wajah Davien tak terbaca tapi dilihat dari air matanya yang menetes seolah memperlihatkan bahwa dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya.


Bunga tak ingin memperpanjang masalah itu dia kemudian meminta Davien untuk duduk di kursi menghabiskan sarapan. "Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu" Bunga memutar tubuhnya memunggungi Davien kemudian mengusap pipinya yang basah.


"Setelah ini kita akan menikah, Bunga!" Bisiknya di selingi kecupan di ujung kepala.


"Keiko?" ucap Davien memastikan.


Bunga terdiam kemudian mengambil mangkok menyiapkan sup untuknya. Meskipun besar keinginan Bunga bahwa ucapan Davien akan menjadi kenyataan, dia takut hal itu akan menyakiti orang lain.


Lelaki itu melangkah meraih kursi kemudian duduk. "Jika malam itu kau mau sedikit saja bertahan untuk mendengarkan semua percakapanku dengan Keiko mungkin kesalah pahaman ini tidak akan terjadi" Davien mencoba menjelaskan apa yang dia bicarakan dengan Keiko malam itu.


Bunga meletakkan sup di atas meja kemudian meraih gelas menuangkan air ke dalamnya lalu duduk di samping Davien. "Apa? apa yang tidak aku dengar malam itu?"


Davien meraih tangan Bunga menggenggamnya erat. "Terima kasih kau sudah memakai cincin ini" ucapnya sembari mengecup cincin pemberian darinya yang melingkar di jari manis Bunga. "Dan... untuk malam itu Keiko sudah melepaskanku” tambahnya.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Keiko sudah merelakanku, dia menerima keputusanku untuk hidup bersamamu. Dia sadar bahwa tak bisa memaksa perasaannya. Apa kau masih marah karena mendengar percakapanku dengan Keiko malam itu?"


Mendengar penjelasan dari Davien, ada rasa senang di hatinya tetapi masih ada juga sisa-sisa kekecewaan yang bergelayut di hatinya.


Bunga khawatir hubungannya dengan Davien tak akan berjalan mulus. Tetapi setidaknya dia senang karena Davien selalu berusaha meyakinkannya.


Lelaki itu tengah menatapnya dengan lekat, pandangan yang dipenuhi rasa penuh penyesalan membuat Bunga tak berani membalas tatapan matanya. "Bunga, tentang semalam... aku minta maaf atas perlakuan kasarku" Davien berucap dengan lembut.


"Aku paham, kau marah denganku karena melihat aku bersama dengan kak Marvel. Sekarang lebih baik makanlah sebelum supnya dingin." Bunga jelas tidak ingin memperpanjang masalah itu.


Davien mulai melahapnya namun tak lama dia kembali menggenggam tangan Bunga. "Aku penasaran" Davien merona pipinya memerah seketika.


"Apa?"


"Itu... apa itu sakit?"


Bunga paham ke mana arah pembicaraannya, karena merasa malu Bunga pun menunduk menyembunyikan wajahnya.


Hahahaha.... Davien tak bisa menahan tawa.


"Apanya yang lucu!!!" Bunga menghadiahi pukulan bertubi-tubi di lengannya.


"Iya, iya... aku minta maaf" Davien berdehem menetralkan perasaan. "Kepalaku masih sedikit pusing" Davien memijat pelan keningnya, sementara Bunga telah berdiri dan mengambil segelas minuman yang sengaja dibuat olehnya untuk mengatasi sisa mabuk semalam.


"Aku sudah menyiapkan ini untukmu, hari ini kau harus bekerja menemui klien jadi kau tidak boleh sakit" dengan lembut dan penuh perhatian Bunga berucap membuat Davin semakin dimabuk kepayang.


Lelaki itu tersenyum kemudian menghabiskan minuman yang sudah disiapkan oleh Bunga. Gelas telah kosong minuman habis tak tersisa. "Bunga?"


"Hmm?"


"Karena kita sudah baikkan... itu, mmm... bagaimana kalau... mmm kalau, kita melakukannya sekali lagi?" godanya.

__ADS_1


"DAAVIIIEEEENNNN!!!" teriaknya kesal.


Hahahaha....


__ADS_2