Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
61. Cemburu 2


__ADS_3

"Hentikan mobilnya!" Perintah Davien tak terbantahkan. Suara beratnya seketika membuat suasana di kabin mobil menggelap.


James kemudian menepikan mobilnya.


Davien meraih gagang pintu membuka pintunya melangkah keluar dari mobil dengan tidak sabar, namun kakinya terpaku ketika melihat mobil Marvel melintas tepat di depan mata.


Dia terlambat untuk mengambil Bunga dari tangan Marvel. Ujung matanya nampak mengawasi bagian dalam, matanya menajam melihat perempuan itu tengah sedang tersenyum bercanda gurau dengan Marvel.


Ekspresi wajahnya berubah semakin serius, urat halus muncul di sekitar rahangnya ketika membayangkan Bunga tersenyum bercanda gurau dengan sangat nyaman kepada lelaki lain.


Nyaris tak bisa menahan diri, Davien kemudian memilih masuk kembali ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras.


Brak!!!


Davien membuang tubuhnya ke sandaran kursi kemudian melepas jas, melemparkannya sembarangan hingga jatuh teronggok di ujung kursi.


James menggerakkan bola matanya ke arah spion depan, mengawasi ekspresi wajah Davien yang terlihat penuh dengan kekesalan.


Davien sedang merenggangkan otot lehernya dengan memutar kepala beberapa kali, namun urat halus yang terlihat di sekitar pelipis seakan menandakan bahwa laki-laki itu seperti sedang tak bisa menahan amarah. "Temani aku minum!!" ucapnya seketika.


James terpaku setelah mendengar perintah dari Davien. "Permisi presdir, Anda ingin minum?" tanyanya untuk lebih meyakinkan dengan apa yang dia dengar.


Lelaki yang sedang menyandarkan kepala menatap kabin mobil itu kemudian berucap santai. "Jangan sampai aku mengulangi perkataanku!"


"Ya, baik Presdir" James menganggukkan kepala. Tidak ingin memancing amarah Davien, James mengemudikan mobilnya menuju ke tempat di mana biasanya Tuannya itu menghabiskan waktu ketika sedang suntuk.


Mobil milik Marvel terlihat berhenti tepat di depan gedung apartemen di mana Bunga tinggal. Lelaki itu melangkah keluar berjalan ke sisi lain kemudian membuka pintu untuk Bunga.


Perempuan itu turun dengan ekspresi wajah sedikit gugup. "Terima kasih, Kak" ucapnya.


"Tidak perlu berterima kasih, ini seperti sebuah kewajiban bagiku. Aku melakukannya dengan senang hati."


Bunga memamerkan senyum kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Bunga, aku minta maaf sepertinya aku tidak bisa mengantarmu sampai ke dalam karena malam ini aku harus kembali ke rumah. Ibuku ingin membicarakan suatu hal denganku."


Mendengar Marvel membahas tentang ibunya seketika ekspresi wajah Bunga langsung berubah. Senyum manis yang semula nampak menghiasi bibirnya perlaha menghilang.


"Kau tidak apa-apa?" ucap Marvel melihat perubahan ekspresi pada wajahnya.


Bunga tersentak kaget. "Tidak apa-apa Kak, aku paham!" Bunga menganggukkan kepala.


"Ya sudah... aku permisi dulu. Kau masuk kedalam dan istirahat ya!" Marvel menggunakan tangan untuk mengusap lembut ujung kepalanya sebelum pergi meninggalkan perempuan itu.


Bunga berdiam diri seharusnya dia tak kembali ke apartemennya karena tak mungkin juga baginya meminta Marvel untuk mengantar pulang ke rumah Davien. Kini Bunga menghubungi taksi untuk menuju ke rumah Davien.


***

__ADS_1


Gemerlap lampu nampak menghiasi setiap sudut ruangan bahkan ada yang dengan lancangnya menyorot ke wajah Davin hingga lelaki itu memejamkan mata karena silau.


Sementara dentuman musik yang menggelegar di setiap ruangan terdengar menusuk sampai ke dalam gendang telinga.


Lelaki itu duduk di kursi tinggi tepat di meja bar. Pandangannya mulI kosong, tangannya tengah memegang sebuah gelas kecil dipenuhi dengan wine berkadar alkohol tinggi.


Davien asli berdarah Indonesia tetapi sejak kecil dia hidup di Paris jadi dia terbilang sudah biasa dengan minuman beralkohol. Namun tetapi Devien hanya mengkonsumsinya ketika sedang dalam keadaan suntuk dan hal itu kini sedang rasakan.


Davien menghabiskannya dalam sekali teguk hingga tak tersisa. Kemudian meletakkan gelasnya ke atas meja dengan penuh penekanan hingga menimbulkan bunyi.


Tak!!!


Sssss! Davien mendesis ketika merasakan efek dari alkohol yang sangat keras memenuhi mulut hingga tenggorokannya. Keningnya berkerut saat menikmati rasa pahit bercampur dengan getir ketika saat wine itu membaur di dalam mulutnya.


James, lelaki yang senantiasa dengan setia duduk di sebelahnya tampak mengarahkan pandangannya ke Davien. Dia merasa kalau saat ini sepertinya lelaki itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Sempat melihat Davien tersenyum ketika mendapatkan pesan singkat dari Bunga, tapi entah kenapa saat ini semuanya berbanding terbalik. James tahu Davien akan pergi minum ketika dia menghadapi sebuah masalah yang membuatnya tak bisa berpikir normal.


Davien sudah dibawah kendali alkohol. Kini hanya ada bayangan wajah Bunga yang sedang tersenyum kepada lelaki lain di benaknya.


James ingat ada pernah di suatu kesempatan Davien berucap bahwa dia meminta kepada James untuk bersikap seperti seorang sahabat ketika di luar jam kerja. Dengan keberanian yang tinggi James kemudian menggunakan kesempatan itu untuk berbincang dengannya.


"Kalau gelas itu pecah tanganmu akan terluka, tapi mungkin rasa sakit di tanganmu nanti tak seberapa dengan rasa sakit yang sedang kau rasakan" James melihat Davien sedang menggenggam gelas di tangannya dengan erat. Uratnya sampai terlihat menguat.


James berucap dengan keras karena jika tidak suaranya akan tertelan oleh suara musik yang menggelegar di tempat itu.


Davien melepaskan gelas dan meminta bartender untuk kembali mengisinya.


"Lagi!" pintanya kepada bartender mengisi kembali gelasnya yang sudah kosong.


James hanya menghela nafas, dia sengaja tak memesan minuman yang mengandung alkohol karena dia sadar masih harus menyetir mengantar Davien pulang ke rumahnya dengan selamat. James kemudian meneguk perlahan Cocktail miliknya.


Entah untuk yang keberapa kalinya Davien meneguk kembali wine yang sudah di racik oleh Bartender khusus untuknya.


Dan untuk yang kesekian kalinya James akhirnya pun berani menghentikan lelaki itu. James meraih tangan Davien ketika tengah bersiap untuk meminum winenya.


"Cukup Davien!" James menaikkan Nada suaranya memaksa Davien berhenti minum.


Lelaki itu menoleh mengalihkan pandangannya ke James. James terkejut ketika melihat raut wajah Davien, ekspresi wajahnya terlihat begitu kental akan emosi yang menguat. Hingga matanya nampak memerah.


Davien menatapnya tajam seakan dia meminta James untuk tak ikut campur. "Aku... memintamu untuk... menemaniku minum! Bukan untuk berceramah, jadi kau lebih baik diam!" ucapnya dengan nada tak beraturan karena saat ini alkohol sudah menguasai dirinya.


Mendengar peringatan dari Davien, James akhirnya hanya bisa diam memilih untuk menghabiskan Cocktail miliknya.


Davien sempat terdiam sesaat sebelum meminum wine untuk yang terakhir kalinya. Dia mulai mengingat kembali kejadian di mana dia melihat Bunga sedang tersenyum untuk Marvel. Mungkin bagi orang lain itu adalah senyum biasa yang diperlihatkan seorang perempuan ke pada teman lelaki, tapi tidak bagi Davien.


Baginya senyum Bunga sangat berharga melebihi sebutir berlian.

__ADS_1


***


Bunga nampak sedang asyik membersihkan pantry setelah selesai mencuci piring dia membersihkan meja makan tak luput dengan tempat-tempat yang lain namun sampai detik ini Bunga masih sangat penasaran dengan 1 kamar yang dia sendiri belum tahu apakah itu kamar untuk tamu atau untuk pelayan.


Bunga ingin membukanya masuk ke dalam dan membereskan kamar itu tetapi dia mengurungkan niatnya karena hubungannya dengan Davien belum membaik.


Akhirnya tetap saja Bunga lebih memilih untuk tak masuk ke dalam kamar itu, takut kalau nantinya hanya akan mengundang amarah Davien semakin besar.


Dia melangkah menuju kamar mandi kemudian melepaskan pakaian satu per satu hingga tak ada satu helai benang pun yang menempel di tubuhnya. Bunga menyalakan keran menyiapkan air hangat untuk berendam agar sedikit menghilangkan rasa lelah yang hinggap di tubuhnya.


Mobil Davien berhenti tepat di depan rumah. James tak langsung turun membukakan pintu untuk Tuannya, dia terdiam sejenak kemudian menoleh kearah Davien yang terlihat sesangagdang terpuruk. "Aku akan mengantarmu ke dalam" ucap James, tetapi Davin menolaknya.


"Tidak perlu!" dia hanya sedang memejamkan mata sesaat, menikmati sisa-sisa pengaruh alkohol yang masih begitu kuat menguasai tubuhnya.


Davien menggerakkan tangannya menekan tombol agar sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya terlepas. Matanya terbuka namun pandangannya kabur, tak bisa sepenuhnya membuka matanya lebar.


Bola mata yang tadinya berwarna putih sampai berubah merah, memperlihatkan betapa kuatnya pengaruh alkohol pada tubuhnya. Davien hampir tak kuat membuka setelah memejamkannya beberapa saat, tetapi dia bersikeras untuk keluar dari mobil sendiri.


"Kau yakin kau bisa berjalan?" ucap James ketika melihat Davien membuka pintu.


Lelaki itu menoleh matanya yang sayu serta pandangan yang tak menentu memperlihatkan dengan jelas bahwa Davien sedang mabuk berat, tapi menolak bantuan James. "Aku bilang aku bisa jalan sendiri! Kau kembalilah besok, aku akan menghubungimu!" Davien melangkah turun menutup pintu mobil dengan keras.


Langkah kakinya terhuyung-huyung tak berirama namun dia masih dengan kuat bisa menahan tubuh tegapnya ketika berjalan menuju ke pintu.


Wajahnya berantakan, pakaiannya lusuh. Davien menggerakkan tangan meraih gagang pintu dan ketika mengetahui ternyata pintunya tak terkunci, dia yakin kalau Bunga sudah kembali ke rumahnya.


Davien melangkah masuk menuju ke kamar sembari menarik dasi kemudian melepas dan membuangnya ke arah lain.


Matanya nampak mengawasi setiap sudut ruangan berharap dia bisa menemukan Bunga tapi Davien tak menemukannya di pantry.


Seketika ujung matanya tertuju kepada pintu kamar yang sedikit terbuka, Davien melangkah masuk ke dalam lalu menutup pintunya. Sempat dia memaku langkah kakinya ketika merasakan kepalanya yang terasa sangat pening.


Tak lama kemudian Davien kembali melangkah sembari melepaskan jas dan membuangnya begitu saja hingga teronggok di lantai.


Langkahnya semakin lambat ketika mencium aroma wangi sabun yang meyeruak masuk ke dalam hidungnya. Pandangannya kini tertuju kepada pintu kamar mandi.


Samar-samar bayangan lampu kamar mandi yang menyala terlihat mengintip dari sela pintu yang tak tertutup rapat.


♡♡♡


Hei kalian, Miss u 😍😍


Maaf separuh nyawaku sempat bersemayam di gua bareng ama wiro sableng dan Kliwon temannya si buta dari gua hantu jadi lama gak nongol🤣


Aku lanjut besok ya 🙏


Jangan lupa mampir ke novel baru

__ADS_1


Judulnya : I LOVE YOU, UNCLE LUKE


🥰🥰🥰


__ADS_2