
Malam hari di kediaman keluarga Cokro, di meja makan mereka bertiga sedang menikmati makan malamnya sembari mengobrol masalah kegiatan sehari-hari.
Meja makan yang berbentuk persegi panjang itu penuh dengan segala macam lauk pauk, karena Nyonya Cokro tahu porsi makan Luna sangat banyak, dia begitu sangat menyukai segala jenis makanan tapi tidak tahu kenapa badanya masih tetap saja kurus.
Luna mulai mengaduk aduk sup ikan yang ada di mangkok, sembari sesekali membenarkan kacamatanya.
SRRUUUPP!
"Uuwwhh, , supnya gurih sekali Bu. Ibu memang paling the best kalau soal memasak" Luna penuh kebahagiaan sambil mengacungkan jempol ke arah Ibunya.
"Pastinya, Istri siapa dulu, hahahah...." Pak Cokro seraya membanggakan dirinya.
"Owh iya Lun, ada yang ingin Ibu dan Ayah bicarakan denganmu" mata Bu Cokro melirik ke arah Suaminya, dia mencoba memberi isyarat agar Suaminya terlebih dulu membuka pembicaraan.
"Apa?" tanya suaminya dengan nada lirih sambil terus memakan hidangannya sedangkan saat itu Luna tengah sibuk membuang duri yang ada di sup ikannya.
"Ayah katakan pada Luna, soal kemaren itu!" bisik Bu Cokro, dia bermaksud menendang kaki Suaminya namun malah kaki Luna yang tertendang.
"Aduh! Ibu... kenapa menendang kakiku?" sontak si Luna benar-benar terkejut karena dia sedang asyik menikmati sup ikannya.
"Iya Bu, lihatlah Luna dia sedang asik makan kenapa diganggu?" Pak Cokro menambahkan.
"Astaga! Ayah!" Bu Cokro mulai jengkel.
"Ayah, katanya mau membahas masalah kemarin? Luna pasti menunggu?!" tambahnya sambil terus berbisik pada Suaminya itu.
"Owh iya, Ayah lupa, saking keasyikan makan sup ikan buatan Ibu. Hehehe" Pak Cokro tertawa geli.
Luna mulai sadar bahwasannya ada yang aneh dengan sikap kedua orang tuanya. Luna pun berhenti makan dan meletakkan sendoknya. "Ibu dan Ayah kenapa? seperti ada yang aneh? hmmmm... ada yang di sembunyikan dari Luna, ya? hayooo" tanyanya sambil menyipitkan kedua mata curiga.
"Emmmm bukan begitu sayang, Ibu dan Ayah sebenarnya ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu" jawab Bu cokro penuh dengan nada lembut.
"Kalau dilihat dari aura Ibu sepertinya ini masalah serius, baiklah katakan saja, aku akan mendengarkan" ucapnya dengan nada santai sambil mengangkat sebuah gelas berisi susu putih murni dan meneguknya pelan.
"Ini soal pernikahan" Bu Cokro berucap dengan penuh keyakinan.
BYUUURRR!!
Karena saking kaget mendengar ucapan Ibunya, Luna tersedak hingga menyemburkan susu yang belum sempat di teguk ke arah Ayahnya.
Sementara pak Cokro hanya bisa diam, bengong saat mendapati dirinya tengah basah semua.
"Luna pelan-pelan sayang, Ayah jadi basah semua ini" Bu Cokro mengusap wajah Suaminya dengan tisu.
"Aduh maaf Ayah, soalnya Luna terkejut mendengar ucapan Ibu,maaf.Lagi pula siapa yang ingin menikah Bu?" tanyanya setengah bingung.
"Tentu saja kau, Luna. Memangnya siapa lagi? anak Ibu satu-satunya hanya kau seorang" Bu Cokro meyakinkan Luna.
__ADS_1
"Tidak! Luna belum ingin menikah!" Luna menolak keras perjodohan itu.
"Ayah hanya tidak ingin kau salah pilih, pokoknya kau harus menurut denga Ayah!"
"Ayah tidak bisa memaksa Luna!"
"Ooh ya tentu bisa dong! Kau anak Ayah, kalau tidak menurut dengan perintah Ayah dan Ibumu, mau menurut sama siapa lagi?" Pak Cokro menegaskan.
"Ayah... sekali ini saja, biarkan Luna memilih sendiri apa yang Luna inginkan, dari dulu Luna selalu ngikutin kemauan Ayah dan Ibu. Termasuk lulus kuliah nanti Luna harus meneruskan bisnis Ayah, Luna juga mau. Tapi please Ayah! Ibu! biarkan untuk yang satu ini Luna... ijinkan Luna yang menentukan sendiri" rengeknya sembari menangkupkan kedua tangan memohon kepada orang tuanya.
"Tidak bisa!" Pak Cokro dan Ibu Cokro menolak secara serentak.
"Aah! ya ampun kalian benar-benar kompak sekali, menyebalkan! Luna tidak mau membahas masalah ini lagi" dia beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan meja makan.
"Luna kau tidak boleh seperti itu, habiskan dulu sup ikannya!" seru Bu Cokro.
"Tidak mau, sup ikanya tiba-tiba rasanya berubah pahit" Luna mulai kesal.
Sementara Bu Cokro dan suaminya saling melempar pandang, Pak Cokro pun mengangkat kedua pundaknya. "Hmm anakmu tuh!" Pak Cokro meledek Istrinya.
♡♡♡
Paginya Luna bersiap-siap pergi ke kampus, setelah selesai mandi dia ganti baju dan memakai tas ranselnya tidak lupa juga dengan kacamata. Setelah itu keluar dari kamar menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tidak seperti biasanya, pagi itu Luna tak ikut sarapan.
"Luna tidak ikut sarapan, sudah telat Bu. Luna berangkat dulu" Luna terburu-buru.
Sebenarnya bukan karena telat, alasan Luna tidak mau sarapan karena malas kalau orang tuanya membahas masalah perjodohan itu. Luna lalu berpamitan kepada orang tuanya.
"Tidak Bu, santai saja memangnya Luna anak kecil apa!" gerutunya sambil memakai sepatu.
"Nanti siang kau bisa ke kantor Ayah? kita bahas masalah semalam" Pak Cokro menyinggung hal itu lagi saat menyantap sarapannya.
"Hmm!" Luna hanya bergumam, dia segera bergegas menuju garasi mulai menyalakan motor antiknya. Orang tuanya telah menyiapkan dua mobil sekaligus di garasi itu, tapi Luna masih tetap tidak mau memakainya.
♡♡♡
Beberapa menit kemudian Luna sampai di perempatan Lampu merah, kebetulan saat itu lampu merah menyala. Luna menghentikan motornya di sebelah mobil hitam. Dan jelas mobil itu milik Barack.
Di dalam mobil di kursi belakang Barack tengah sibuk dengan ponselnya terkadang sesekali dia melirik ke arah jam di tangan kanannya. Dia memasukkan kembali ponsel ke kantong jas slim berwarna abu abu yang dia kenakan hari itu.
Barack menghela nafas sembari membuang pandangan ke arah luar. Tanpa sengaja matanya tertuju di sebuah motor 'butut' menurutnya yang berhenti di sebelah kanan mobilnya.
Dia hanya melirik aneh ke arah motor itu, matanya mulai mengerucut, karena merasa tidak asing dengan motor itu. Seperti sedang mengingat di mana dia pernah melihatnya.
Barack mulai penasaran dengan orang yang menaiki motor itu, tetapi dia tidak bisa melihat dengan jelas karena hanya melihat dari arah samping dan sebagian wajahnya tertutup helem.
Saat lampunya menyala hijau, Luna menengok ke arah kiri untuk memastikan kalau lampunya sudah berganti warna, dengan begitu Barack bisa dengan jelas melihat wajah orang yang manaiki motor butut itu.
__ADS_1
Luna langsung menarik gas motornya hingga melaju dengan tinggi.
Di dalam mobil, Barack masih terus berfikir dan mengingat ingat wajah gadis yang tadi naik motor, karena dia merasa tidak asing dengan wajahnya itu.
FLASH BACK
Bruggghh!!!
"Addduuuhhh..." Luna hanya diam tertegun melihat wajah lelaki yang berdiri tegap di depannya
Kejadian itu sekilas melintas di benaknya.
FLASH BACK OFF
Barak mulai ingat di mana dia pernah bertemu dengan gadis itu, dalam pikirannya perempuan dan motor itu sama-sama butut.
***
Sesampainya di kampus, Luna buru-buru melepas helem dan berjalan menuju perpustakaan dengan raut wajah yang begitu lesu. Dia terus melamun sepanjang jalan bahkan saat Cici menyapa, Luna sama sekali tidak menghiraukannya.
"Hei! tumben sepagi ini kau sudah sampai di kampus?" sapaan Cici tak mendapatkan balasan. Dia melihat aneh sikap sahabatnya sambil berjalan mengikuti Luna di sampingnya tapi Luna hanya diam tidak menjawab sepatah kata pun. "Ini anak obatnya habis ya? Hei! Lun! Luna!" bentaknya sambil melambai lambaikan tangan di depan wajah Luna.
Luna langsung menghentikan langkahnya di depan pintu masuk perpustakaan menangis sejadi-jadinya di depan Cici. Tangisan Luna pecah membuat semua orang yang ada di dalam perpustakaan heran.
Cici langsung menutup mulutnya yang masih menangis keras, menariknya ke arah kantin. "Kau kesambet setan di mana Lun? Bisa-bisanya menangis teriak-teriak seperti itu, orang sampai melihat aneh kearahmu!" Cici heran bercampur bingung melihat kelakuan Luna pagi itu.
"Kenapa jadi kesambet! Kau tidak lihat kalau aku sedang menangis Ciii!!" Luna masih terus merengek.
"Kau ini benar-benar menangis? coba lihat? Kenapa aku tidak melihat air matamu?" Cici memastikan.
"Benarkah?" Luna menyentuh kedua kelopak mata dengan tangannya. "Tapi serius ini aku sedang sedih Ciii. Tolong aku Ci" Luna terus merengek sambil memeluk sahabatnya itu.
"Tenang Lun, tenangkan dirimu. Setelah ini kau bisa cerita padaku. Sebenarnya ada apa, pagi-pagi kau nangis bombay seperti ini" Cici mencoba menenangkan sahabatnya.
"Ayah ingin aku menikah, ayolah Ciii... tolong aku. Aku harus bagaimana?" Luna frustasi, pikirannya seperti benang kusut.
"Kau di suruh menikah? bukankah itu berita bagus?" Cici penuh semangat.
"Bagus?? Kau sudah gila apa?!!" Luna menggerutu.
"Ya baguslah, kalau kau disuruh menikah. Bilang saja kau memiliki lelaki yang kamu sukai, katakan kalau kau cinta mati dengan Aryo. Aku yakin orang suruhan Ayahmu akan memaksa Aryo menikahimu," sebenarnya masukan dari Cici benar, tapi permasalahannya tak sepele itu.
"Otakmu sableng atau eror, Ci? aku disuruh menikah dengan lelaki pilihan mereka, kau paham maksudku, 'kan?!!" Luna mulai emosi.
"Tahu... maksutmu kau sudah dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuamu begitu, 'kan?" jawab Cici.
"Iya Ci, maka dari itu sekarang aku harus bagaimanaaaaa??" Luna masih saja merengek.
__ADS_1
"Mmm... kita pikirkan jalan keluarnya nanti, sekarang kau tenang dulu, tidak usah rempong. Kita masuk kelas sebentar lagi jadwal dosen sadis itu, ayo cepat!" Cici mencoba menenangkan Luna, sambil beranjak dari tempat duduk.
Dengan wajah yang lusuh Luna pun mengikuti Cici masuk ke dalam kelas.