Ceo Galak Itu Calon Suamiku

Ceo Galak Itu Calon Suamiku
#131 Maaf


__ADS_3

Sesampainya di apartement Luna segera membersihkan diri. Selesai berganti baju perempuan itu duduk di sofa ruang tv.


Sesekali matanya melirik ke arah jarum jam yang terus bergerak dengan cepat.


Luna meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja. Dia mencoba menghubungi Suaminya lagi dan untuk yang kesekian kalinya Barack tetap tidak mengangkat panggilannya. Bahkan sekarang ponselnya sudah tidak bisa di hubungi lagi.


Luna menghela nafas panjang, perempuan itu semakin memperdalam tubuhnya di sandaran dinding sofa. Ada sedikit guratan kegelisahan di wajahnya.


Namun perempuan itu berusaha mengendalikan perasaannya.


Luna menghabiskan berjam jam untuk melihat acara tv, hingga dia tertidur di sofa ketika menunggu Suaminya pulang kerja.


♡♡♡


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Barack berjalan masuk ke dalam apartement. Langkahnya terhenti di ruang tv ketika ujung matanya melihat tubuh Luna yang terbaring di atas sofa.


Laki laki itu mendekati Istrinya, menekuk lututnya kemudian duduk di atas lantai dan bersandar di sofa.


Pandangan matanya menyapu wajah Luna yang sedang tertidur.


Tangannya bergerak meraih anak rambut yang ada di kening Luna.


Ujung bibirnya naik, laki laki itu tersenyum ketika melihat pergerakan tubuh Istrinya.


Luna membuka ke dua mata, pandangannya tertuju kepada wajah Barack yang berada tepat di depannya.


"Kamu baru pulang?" Luna mengubah posisinya menjadi duduk di atas sofa.


Barack menganggukkan kepalanya.


"Maaf aku tidak memberimu kabar. Aku tidak sempat membuka ponselku dan ketika ingin menghubungimu ternyata ponselku sudah mati"


"Tidak apa apa. Aku sempat khawatir ketika tidak mendapat kabar darimu seharian ini" Luna berusaha menerima alasan yang di berikan Suaminya.


Barack mendongakkan kepala, tangannya meraih pipi Luna yang jauh lebih tinggi darinya.


"Maaf aku tidak bisa menjemputmu tadi, apa adrian mengantarmu?" pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin di ucapkan Barack namun terlontar begitu saja dari mulutnya.


"Iya"


Barack mengangguk lagi, laki laki itu berusaha keras menerima jawaban dari mulut Luna.


Barack beranjak dari lantai, dia berdiri sambil melepas jasnya dan membuka kancing di lengan bajunya.


"Besok aku juga sepertinya akan pulang larut lagi, kamu tidak perlu menungguku seperti ini"


Luna hanya diam, perempuan itu tidak ingin menanyakan alasan kenapa Barack pulang terlambat. Dia hanya berusaha meyakinkan diri dengan menenangkan pikirannya.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" Barack berucap dengan lembut, ketika dia melihat ekspresi wajah Istrinya yang nampak tidak senang saat itu.


"Iya, aku sudah makan" Luna beranjak dari sofa. Perempuan itu kini melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar.


Ujung mata Barack bergerak mengikuti Luna hingga perempuan itu menghilang di balik pintu. Dia tahu Luna pasti sangat kecewa dengannya.


Laki laki itu menghela nafas panjang sebelum melangkah menghampiri Istrinya.


♡♡♡


Barack berdiri di sebelah ranjang, matanya terus mengawasi tubuh Luna yang sedang tidur sambil memunggunginya.


Laki laki itu naik ke atas ranjang menghampiri Luna.


Perlahan tangannya meraih pundak Luna dari arah belakang.


"Luna?" bisiknya dengan lembut.


Luna tidak bergeming, dari sisi lain terlihat perempuan itu nampak membuka sedikit matanya.


"Kamu marah?, , karena aku tidak memberimu kabar?" ucap Barack, dia masih berusaha mengajak Istrinya berbicara.


Laki laki itu tahu bahwa Luna masih terjaga malam itu.


Perempuan itu masih diam, bahkan dia tidak memalingkan wjahanya ke arah Barack.


Kini Barack beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.


Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, Luna langsung memalingkan wajahnya ke arah belakang.


Perempuan itu nampak melegakan dadanya dengan menghela nafas sembari menutup matanya rapat rapat.


Luna seharusnya juga sudah mempersiapkan hatinya ketika menikah dengan Laki laki yang notabennya adalah seorang pebisnis. Maka suatu saat ketika dia di duakan dengan semua kerjaan kantor maka seharusnya dia sudah bisa menerima itu.


Namun kembali lagi, Luna masih awam dalam menata hatinya untuk itu. Tapi setidaknya harapan Luna adalah Barack bersikap adil dengan dirinya mau pun pekerjaannya.


♡♡♡


Cici berjalan ke arah ruang rapat dengan beberapa map yang ada di dekapannya.


Perempuan itu berjalan dengan cepat, berharap dia sampai terlebih dahulu di ruang rapat ketimbang atasannya.


Tubuhnya terpaku ketika membuka pintu dia mendapati Rosa dan Aryo telah berada di sana terlebih dahulu.


Rosa membuang senyum ke arah Cici, namun tidak dengan Aryo, laki laki itu nampak cuek dan lebih memilih fokus dengan map yang ada di depannya.


"Maaf aku terlambat" ucapnya, Cici segera duduk di bangku yang berseberangan dengan Rosa.

__ADS_1


Cici berusaha menetralkan perasaannya ketika melihat Aryo mengajak Rosa untuk mendiskusikan masalah materi yang akan di presentasikan.


Sesekali ujung matanya nampak melirik ke arah Rosa dan Aryo yang saling berdekatan, hingga membuat perasaannya sedikit terganggu.


Beberapa detik kemudian ruang rapat di penuhi oleh orang orang. Aryo pun lebih memilih Rosa untuk memulai membuka rapatnya, karena posisi Cici di kantor itu masih sebagai pagawai magang. Dan perempuan itu juga menyadarinya.


♡♡♡


Selesai rapat Cici membereskan beberapa map yang ada di atas meja, dia mengumpulkan semua map itu dan menumpuknya menjadi satu dengan rapih.


"Ci! biar ku saja yang merpihkannya, kamu bisa kembali ke ruang kerjamu?" Rosa berusaha mengambil alih pekerjaan yang sedang di lakukan oleh Cici.


"E, tapi" ujung mata Cici melirik ke arah Aryo, laki laki itu tengah sibuk menandatangani beberapa lembar berkas di sana.


Niat hati ingin berlama lama di ruang itu bersama Aryo namun Rosa merusak semuanya.


"Tidak apa apa, kamu bisa meninggalkan itu untukku. Nanti aku akan membereskan semuanya" Rosa berucap lagi seolah dia ingin segera Cici pergi dari ruang rapat, dan itu pun berdasarkan perasaan Cici.


Sebenarnya kalau dari sisi pemikiran Rosa, dia hanya tidak ingin membuat Cici melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya.


Karena dia tahu hubungan kedekatannya dengan Aryo membuat Rosa menjadi tidak enak saat itu.


Namun tentu saja Cici menanggapinya dengan spekulasi lain. Dia berfikir Rosa ingin berada di ruang rapat hanya berdua bersama dengan Aryo.


"Oke" ucap Cici. Perempuan itu nampak murung ketika meletakkan semua map di atas meja dan melangkah keluar dari ruang rapat.


Sementara Aryo mengalihkan pandangan matanya ke arah punggung Cici setelah perempuan itu berhasil keluar dan menghilang di balik pintu.


Dia ingin mengejar Cici saat itu juga, namun mengingat kejadian semalam membuat laki laki itu mengurungkan niatnya.


Flaah back on


"Kapan kamu akan menikahiku?" ucapnya kemudian.


Bibir Cici terpaku, dia tidak mengira Aryo akan menanyakan hal itu.


"Kenapa kamu diam saja?, , kamu bilang akan menerimaku?. Lantas kapan??? apa masih lama?" Aryo menghujani perempuan itu dengan pertanyaan.


"Jika aku bisa menerimamu. Belum tentu aku mau menikahimu!"


Aryo nampak terkejut mendengar jawaban dari mulut Cici.


Flaah back off


Aryo menghela nafas panjang, dia menarik tubuhnya kebelakang dan membenamkan punggungnya ke dinding kursi


"Pak Aryo baik baik saja?" ucap Rosa, dia berusaha memecah pikiran Aryo saat itu. Dia juga berusaha berinteraksi dengan Aryo ketika melihat laki laki itu sedikit tidak bersemangat dan terlihat sering melamun ketika rapat tadi.

__ADS_1


__ADS_2